Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pertikaian 2



Merasa rindu akan Aisyah, Rebecca yang biasa mencari kabar tentang putri yang satunya itu dengan Feng pun menjemput Feng ke sekolah.


Rebecca mendapat kabar, jika Yue tidak bisa menjemputnya karena sedang pergi bersama dengan Hamdan. Dan, ini pertama kalinya Rebecca bertemu dengan Chen, putranya yang hilang.


"Mereka ini, selalu saja begitu. Bertemu, tapi belum juga menikah. Mau mereka ini apa?" umpat Rebecca.


Sesampainya di sekolah, pertemuan antara ibu dan anak akhirnya terjadi. Namun, Chen sangat dingin dengan Rebecca, bahkan terkesan sekali seperti tidak menyukainya. (Mungkin karena tidak kenal)


"Bibi, anda datang kemari?" tanya Feng.


"Iya, ibumu memintaku untuk menjemputmu. Apa yang sedang kamu lakukan, Feng?" Rebecca melihat Feng dan Chen tengah memegangi kantong sampah dan juga kail pemungutnya.


Feng hanya tersenyum tipis. Ingat sekali, waktu Rebecca kecil ia pernah melakukan itu bersama dengan Yue. Ketika dirinya harus menjalani hukuman melayani masyarakat karena berantem.


Bruk!


Tak sengaja Chen menabrak Rebecca.


"Maaf," ucap Chen membungkukkan badannya.


Hati Rebecca berdesir, suara yang sama dengan suara lelaki yang selalu ia cintai, yakni Yusuf.


"Suara ini, aku merasa jika Mas Yusuf ada di sini bersamaku," batinnya.


"Dimana kau meletakkan matamu? Bibiku sebesar ini, apakah kau tidak melihatnya?" sulut Feng.


"Aku sudah minta maaf kepadanya, lalu aku harus apa?" tegas Chen.


Suara Chen membuat hati Rebecca merasa sakit. Sakit itu akibat dirinya sangat merindukan Yusuf.


"Hm, sudahlah. Bibi memaafkanmu, em … siapa namamu?" tanya Rebecca.


"Apakah itu penting? Permisi!" Chen pergi begitu saja.


"Woy! Apakah orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun kepadamu? Dasar Tuan Muda Wang yang meresahkan!" teriak Feng.


Teringat suatu hal, Rebecca melihat jika Chen menggunakan softlens berwarna gelap pekat. Diameter softlens tersebut sedikit besar, jadi Rebecca heran.


"Feng, dia keturunan Tuan Wang? Mafia tingkat pertama?" tanya Rebecca.


"Iya, kenapa Bibi?"


"Bukankah, generasi terakhir keluarga Wang itu nggak bisa punya anak, ya?" Rebecca mengingat-ingat hal tersebut.


Tak sengaja Chen mendengarnya, ia memberhentikan langkahnya. Kemudian berjalan mundur mendekat, dan mendengarkan dari balik gerbang.


"Maksud bibi apa?" tanya Feng.


"Seingat bibi, keturunan terakhir keluarga Wang sudah tak lagi bisa memiliki keturunan, apakah dia anak angkat?" celetuk Rebecca.


"Entahlah, tapi katanya dia anaknya Tuan Wang. Ibunya orang Indonesia, tapi sombong sekali," jelas Feng.


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Ini bukan pemikiran anak kecil, sebaiknya kita segera pulang!" ajak Rebecca.


Chen mengepalkan tangannya. Apa yang dikatakan Rebecca membuatnya curiga dengan keluarga yang telah membesarkannya sendiri. Bahkan, anjing di sampingnya yang sedang berjalan saja, mampu ia bunuh karena emosinya yang berlebihan.


"Wanita itu bilang, kalau Ayahku adalah keturunan terakhir keluarga Wang. Jika dia tidak bisa memiliki keturunan, lantas aku ini anak siapa?" batinnya.


Chen pulang dengan wajah penuh dengan amarah, semua pelayan yang menyambutnya ia pukul sampai kesakitan. Membuat Cindy yang sedang bermesraan dengan Tuan Wang menjadi murka.


"Chen, apa yang kamu lakukan ini …


--kau ingin ibu menghukummu?" gertak Cindy.


"Aku lapar, aku ingin makan!" desisnya.


Chen masuk ke kamarnya, mengganti pakaian dan membanting pintu kamar dengan keras.


"Apa kalian tuli? Cepat sajikan makanan untuk Tuan Muda!" teriak Cindy.


"Sayang, tenanglah. Kenapa kamu juga ikut emosi? Anak ini sungguh mengejutkan, dia akan menjadi penguasa hebat suatu hari nanti," ucap Tuan Wang menggrepe tubuh Cindy yang sintal. (Uhuy)


Beberapa saat kemudian, terdengar suara peralatan dapur jatuh. Piring yang disajikan oleh pelayan rumah dibanting oleh Chen dengan keras.


Pyar!


Pyar!


"Dimana otak kalian? Apakah kalian orang baru di rumah ini, hah?" teriak Chen.


"Maafkan kami Tuan Muda--" pelayan itu nampak sekali ketakutan.


"Aku sudah sering kali katakan, aku vegetarian. Aku tidak makan pigky!" (Maaf aku ganti ntar kena sensor pula)


"Apa ini? Sayur yang kalian tumis juga menggunakan minyak pigky? Apa kalian ingin mati sekarang, hah!"


Emosi Chen menggebu-gebu. Dirinya tak pernah dididik agama oleh Cindy maupun Tuan Wang. Namun, saat dirinya berusia 7 tahun, Chen bermimpi bertemu dengan sering pria yang sangat lembut. Pria itu meminta Chen untuk tidak makan daging sampai dirinya paham dunia dengan dunia remaja-dewasa.


"Chen … Chen, kamu kenapa, sayang?" tanya Cindy.


"Aku akan makan di luar!" jawab Chen pergi.


"Dasar pelayan bodoh! Aku sudah katakan, jangan beri dia makan yang mengandung minyak itu, apalagi dagingnya. Kalian di pecat!" kesal Cindy.


"Apa karena anaknya Yusuf, jadi dia menghindari makanan seperti ini? Tapi, dulu saat kecil, dia sangat suka makanan seperti ini." batin Cindy.


Takdir memang ingin mempertemukan mereka lagi. Ketika Chen berjalan dengan amarahnya, ia melihat Rebecca dan juga Feng tengah memasak di dapur restoran milik keluarga Hao.


Restoran itu berdiri atas modal Yusuf, cabang dari restoran Yusuf yang ada di Jogja. Meski Yusuf jarang sekali ke Tiongkok, tapi Rebecca selalu mengunjungi restoran tersebut.


"Wanita itu, kenapa setia kali aku melihatnya, aku merasa sangat sedih?"


Dari dalam, Rebecca melihat Chen yang ada di depan restorannya. Kemudian, ia meminta Feng untuk mengajaknya masuk.


"Aku? Aku mengajak dia masuk? Haram baginya masuk ke sini, Bibi. Dia Non muslim, aku malah menyediakan makanan untuknya!" desis Feng.


"Feng, ayolah. Kamu masih kecil, gunakan waktu kalian bermain. Membenci seperti orang tua seperti ini tidak baik," tutur Rebecca.


"Tapi, Bibi … klan Hao dan Wang itu tak bisa berteman. Sejarah--" ucapan Feng terputus.


Rebecca tak ingin generasi mereka menjadi kacau karena masalah di masa lalu. Ia tetap memaksa meminta Feng untuk membawa Chen masuk.


"Haih, baiklah. Aku akan membawanya masuk, hanya demi bibiku yang cantik ini." sanjung Feng.


Feng menghadiri Chen yang masih berdiri di sana. Awalnya Chen menolak dengan keras, tapi ketika Feng mengatakan bahwa Rebecca lah yang menginginkan dirinya masuk, akhirnya Chen setuju.


"Bibiku yang memintamu masuk, pecundang!" ujar Feng.


"Jika dia yang memintaku, aku akan mempertimbangkannya." celetuk Chen masuk begitu saja.


"Hey, apakah kau tak diajari sopan santun? Lihat saja bagaimana aku akan memberimu racun nanti!" sulut Feng mendorong tubuh Chen.


"Kau berani mendorongku?" pekik Chen.


"Bukan hanya mendorong, membunuhmu saja aku sangat ingin." desis Feng masuk lebih dulu.


Ketika Chen masuk, Rebecca tersenyum kepadanya. Rebecca melambaikan tangannya, menarik Chen untuk ikut ke dapur.


"Ada apa denganku, saat melihat wanita ini. Aku merasa tertarik, padahal dia juga seorang wanita, bukan anak seusiaku." batin Chen.


Kedekatan mereka dimulai dari dapur. Rebecca mengajak Chen memasak makanan yang menurut kesukaan Chen. Lagi-lagi, Rebecca tertarik dengan softlens di kornea mata Chen.


Uh, mereka udah ketemu.