
Malam itu, baik Aisyah dan Asisten Dishi melakukan salat istikharah di kamarnya masing-masing. Memohon petunjuk, agar bisa memutuskan keputusan yang sebaik-baiknya esok hari.
Di pagi hari setelah salat subuh, Aisyah mendapat pesan dari Ayahnya untuk melakukan pernikahan secara agama dulu dengan Asisten Dishi. Begitu juga dengan Asisten Dishi mendapat pesan yang serupa.
"Apa kamu menerima pesan dari Ayah?" tanya Aisyah sambil menyiapkan sarapan untuk Ilkay.
"Iya," jawab Asisten Dishi sembari menyiapkan bekal untuk Ilkay.
"Lalu, apakah isinya sama?" tanya Aisyah.
"Sepertinya begitu," jawaban Asisten Dishi masih sepatah.
Kecanggungan itu di pecahkan oleh datangnya Ilkay yang sudah siap pergi ke sekolah. "Mama, Ayah, Assalamu'alaikum, selamat pagi. Kay sarapan apa pagi ini?" sapanya dengan keimutannya.
Memang, adanya anak bisa menyelesaikan pertengkaran, perselisihan atau kesalahpahaman orang tuanya. Aisyah dan Asisten Dishi mampu mengesampingkan masalahnya demi Ilkay.
"Ilkay sarapan sama terlur mata sapi pagi ini. Mama nggak sempat masak, Ayahmu juga semalam bekerja sampai hampir pagi, jadi kesiangan, maafkan kami, ya~" ucap Aisyah sembari memberikan sepiring masi dan telur ceploknya.
"Bekal hari ini juga hanya nasi dan nugget. Sayurnya masih mentah," timpal Asisten Dishi dengan senyuman merasa bersalah.
Ilkay memeluk kedua orang tuanya. Sekecil Ilkay sudah bisa bersyukur atas apa yang ia miliki saat itu. Terbayang ketika dirinya masih ada di dalam penjara bawah tanah yang dingin dan gelap. Makan saja, Ilkay selalu kekurangan. Tak pernah mendapatkan kasih sayang. Membuatnya bahagia bisa memiliki orang tua seperti Aisyah dan Asisten Dishi yang menerimanya dengan ikhlas hati.
"Kay makan apa yang Ayah dan Ibu siapkan. Itu jauh lebih baik dari pada Kay masih tinggal di rumah lama (penjara)," celetuk Ilkay, semangat memakan nasi dan telur ceplok yang Aisyah buat.
Ada hal yang membuatmu Aisyah tersadar saat itu. Ia meminta Ilkay untuk segera habiskan sarapannya, sementara itu, ia mengajak Asisten Dishi untuk bicara berdua.
"Ada apa?" tanya Asisten Dishi dengan lembut.
"Maafkan aku," ucap Aisyah lirih. "Tak seharusnya aku mendesak kamu kemarin malam. Itu semua karena aku takut dengan kejadian ini--" ucapannya terhenti, tak mampu lagi mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Mail, kamu jangan memikirkan sampai sejauh itu. Percayalah, kita tetap akan menikah, aku tidak akan meninggalkanmu. Percaya kepada Allah dan percaya pada cinta kita," tutur Asisten Dishi dengan senyumannya.
"Tapi, kenapa Tuan Yusuf meminta kita segera menikah? Bahkan malah menikah dulu secara agama, bagaimana ini?" tanya Asisten Dishi heran.
"Aku juga heran kenapa Ayah meminta itu. Tapi, aku takut jika ada sesuatu yang akan menimpa Ayah, Ibu dan Rifky di sana, Ail," sahut Aisyah khawatir.
Asisten Dishi menelpon Willy, Ayah angkat Gwen. Ia meminta tolong untuk memeriksa situasi Yusuf dan Rebecca di Australia. Jackson Lim sudah membuat perkara antara keluarga Wang dan Hao. Asisten Dishi tak ingin keluarga Lim juga akan ada kerusuhan.
"Tuan, saya dengar Anda sedang ada di Australia. Bisakah saya bertanya tentang keadaan Tuan Yusuf dan Nyonya?" tanya Asisten Dishi.
"Aku merasa ada sesuatu yang buruk. Makanya aku datang ke mari. Ada apa, Dishi?" tanya Willy kembali.
"Kediaman Tuan Jimmy yang lama dalam bahaya. Banyak anak kecil di sana, Tuan. Jika Jackson Lim bertindak--" ucapan Asisten Dishi terhenti.
"Kamu tenang saja. Aku sedang dalam perjalanan. Katakan kepada Chen, Aisyah dan yang lainnya untuk tetap tenang." Willy menutup telponnya.
Aisyah mempertanyakan, bagaimana keadaan orang tuanya. Sayang, sebelum Asisten Dishi menjawab, Ilkay datang menemui mereka. "Um, Mama, Ayah, Kay sudah selesai. Ayo, kita berangkat!" serunya.
Selama di perjalanan ke sekolah, suasana di dalam mobil menjadi hening. Ilkay tahu jika orang tuanya sedang ada sesuatu, ia memilih untuk diam dan tidak ikut campur dalam masalah orang dewasa.
Sesampainya di sekolah, Ilkay segera pamit dan masuk ke kelasnya. "Ayah, Mama, sampai jumpa nanti. Jangan lupa jemput, Ilkay!" teriak Ilkay sembari melambaikan tangan.
"Jangan keluar jika Mama dan Ayah belum menjemput, Nak!" balas Aisyah dengan lambaian tangannya.
Ketika Aisyah hendak masuk ke mobil, ada dua orang dengan pakaian rapi berkemeja hitam menghampiri Asisten Dishi. "Selamat pagi, Tuan!" sapanya.
"Pagi, ada apa? Kenapa kalian menghampiriku?" tanya Asisten Dishi.
"Ada hal yang ingin kami katakan kepada, Tuan Dishi. Jika memungkinkan, sekarang juga kita harus bicara," ucap orang itu menggunakan bahasa Mandarin.
Aisyah tidak mengerti apa yang dikatakan oleh kedua orang itu. Tapi, ia paham jika situasi sedang buruk. Jadi, Aisyah meminta Asisten Dishi untuk pergi bersama kedua orang itu, lalu dirinya akan berangkat sendiri ke kampus.
"Ail, jika kamu sibuk, aku bisa berangkat sendiri," ujar Aisyah dengan lirih.
"Tidak! Aku tetap akan mengantarmu!" tolak Asisten Dishi dengan tegas. "Laporan kalian kirim saja ke nomorku, jaga Ilkay, jangan biarkan ada orang asing yang mendekat, terutama wanita itu, paham?" perintahnya.
"Baik, Tuan."
Asisten Dishi meminta Aisyah untuk segera masuk ke mobil. Aisyah tak menanyakan apa yang ingin dua orang itu katakan. Akan tetapi, Aisyah menanyakan masalah keselamatan kedua orang tuanya di luar sana.
"Tuan Willy belum memberiku kabar lagi. Kita berdoa saja, semoga Allah selalu melindungi kita semua," ucap Asisten Dishi dengan lembut.
"Aamiin," ucap Aisyah. Tentu saja hatinya masih ketar-ketir.
Mendengar orang tuanya dalam bahaya, membuatnya tidak tenang sama sekali dalam belajar. Di tambah lagi, keselamatan Ilkay juga sedang dalam situasi rumit. Ibu kandungnya kembali dengan maksud dan tujuan yang belum jelas.
"Apakah menikah siri itu jalan terbaik? Jika iya, aku akan melakukan itu dengan ikhlas, Ail," ucap Aisyah tiba-tiba.
"Astaghfirullah hal'dzim. Kenapa kamu masih membahas hal ini? Aku sudah bilang, aku tetap akan menikahimu tapi tidak dengan cara seperti ini, Aisyah!" tegas Asisten Dishi memberhentikan mobilnya.
"Syarat sah menikah itu harus ada wali. Kita lihat posisi kita saat ini, Ayah kandungmu, Kakak kandungmu, semuanya tidak bersamamu, Mama Ilkay," lanjut Asisten Dishi.
"Tapi, jika kamu ingin melindungi aku dan Ilkay, bukankah kita harus menikah? Kita orang dewasa Ail. Tak baik bagi kita sering bersama, tapi belum ada ikatan apapun. Jika suatu saat kita harus bersentuhan kulit bagaimana?" Aisyah tak ingin mendesak, hanya saja keadaan yang memang harus mendesak keduanya bersama.
"Kita pikirkan lagi nanti, ya. Saat kamu belajar, jangan ada hal lain yang mengganggu belajarmu, oke?" tutur Asisten Dishi, turun dan membukakan pintu mobil untuk wanita yang dikasihinya.
"Assalamu'alaikum," salam Aisyah dengan lirih.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, fighting!"
Asisten Dishi tidak akan meninggalkan Aisyah dalam keadaan apapun. Ia sudah mantap ingin hidup bersama dengan Aisyah. Hanya saja, dengan cepat-cepat menikah, itu hanya akan membuat penyelidikan Ibu kandung Ilkay gagal.