
"Siapa wanita itu?" tanya Gwen mendesak.
"Apa urusanmu?" cetus Chen.
"Nanya, doang!" bentak Gwen.
"Sudahlah, itu tidak penting. Ini yang lebih penting," ucap Paman Chris menyodorkan bukti tertulis bahwa orang tua Syifa menerima uang dari Gwen sebagai bentuk pelunasan uang pembangunan yang menjadi sumber perkara itu.
Rencana yang diusulkan Chen sangat menggiurkan bagi Gwen. Namun, hal itu mendapat pertentangan dadi Paman Chris karena akan membahayakan keselamatan Gwen sendiri.
"Apa kalian berdua ini ingin bercanda dengan nyawa? Apakah tidak ada cara lain, hah!" sulut Paman Chris emosi.
"Paman, ini satu-satunya cara supaya aku bisa menggagalkan pernikahan itu," jelas Gwen.
"Jika Mami-mu tau, Pamanmu ini yang akan di salahkan. Kenapa kamu terlalu percaya diri, Gwen. Ayolah, biarkan mereka menikah saja!"
Kekhawatiran Paman Chris bukan tanpa alasan. Gwen dan Chen memiliki rencana gila yang bisa membuat Gwen terluka. Semua itu tidak menghalangi niat Gwen meski memang cara itu sangat efektif baginya.
Cara apa yang dilakukan Gwen sehingga membuat Paman Chris marah?
Meninggalkan bagaimana cara Chen dan Gwen merencanakan sesuatu, Aisyah sedang pergi bersama Leo ke taman kota sepulang dari perpustakaan Negara. Leo selalu menemani Aisyah dari pendaftaran kuliah hingga mencari beberapa materi untuk ujian masuk enam bulan yang akan datang.
"Oh, iya. Besok, Kak Leo jangan anterin aku lagi, ya. Aku bisa sendiri, kok, serius!" ujar Aisyah. Sebelumnya, ia hanya tidak enak hati menolak.
Semakin lama, Aisyah juga tidak nyaman karena terus pergi berdua sana dengan Leo. Hal itu hanya akan semakin membuat Aisyah merasa bersalah kepada Asisten Dishi, meski mereka belum memiliki ikatan resmi apapun.
"Loh, kok, kakak lagi manggilnya. Aku juga susah bilang, aku akan menemanimu sampai kamu lulus nanti," sahut Leo.
"Ayden Oppa bisa membantuku. Maaf, tapi aku jauh lebih nyaman pergi bersamanya," terang Aisyah dengan jujur.
"Tapi buktinya, aku kan yang ada di sampingmu saat ini? Tenang saja, aku tidak merasa keberatan, kok," sambung Leo, ucapannya itu membuat Aisyah semakin malas bersamanya.
"Hih, kalau kamu nggak maksa, aku juga ogah jalan berdua begini. Mending aku pergi bersama dengan Ilkay," gumam Aisyah dalam hati. "Ilkay, kamu sedang apa, Nak, Mama merindukanmu," lanjutnya dengan mengetuk ponselnya, memandang foto Ilkay yang ia jadikan wallpaper layar ponselnya.
Leo memang anak dari sahabat kakeknya Aisyah dulu, namun semua itu tidak mengharuskan Aisyah dekat dengannya. Ia ingin menjadi diri sendiri, yang mandiri dan tidak terlalu bergantung dengan orang lain.
"Aisyah, bagaimana kalau kit--"
"Assalamu'alaikum, Aisyah kamu juga ada di sini?" salam Raza yang tiba-tiba keluar dari salah satu toko di samping taman kota.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Pak Raza. Anda disini juga?" tanya Aisyah.
"Haih, kita sudah sepakat untuk tidak bicara formal di sini, 'kan? Kenapa sekarang begini lagi?" sahut Raza.
"Oh, iya. Kak Raza, hehehe. Masih belum terbiasa, maaf …," ucap Aisyah sembari tertawa kecil.
Leo kesal jika Raza sudah datang diantara dirinya bersama dengan Aisyah sedang berdua. Raza selalu saja menyela pembicaraan kala dirinya bicara dengan Aisyah. "Apaan dia ini? Selalu saja datang dan pergi tanpa di undang!" Leo menggerutu.
"Bukan apa-apa, kak. Hanya mencari angin saja, kakak sendiri?" tanya Aisyah kembali.
"Bagaimana jika kita mengobrol sambil makan siang saja. Kebetulan aku menemukan restoran halal di daerah sini. Sekalian kita bisa jalan-jalan nantinya, bagaimana?" ajak Raza.
Sebelum Aisyah menjawab, Leo langsung menolaknya dengan membawa nama Ilkay sebagai alasannya. "Untuk apa kau mengajaknya makan siang sekaligus jalan-jalan? Aisyah sudah meninggalkan Ilkay begitu lama, apa kau tidak kasihan jika Ilkay dititipkan terus kepada neneknya?" sulut Leo.
Raza menatap Aisyah, seolah menanyakan bagaimana pendapatnya ajakannya itu. Raza juga berkata, "Jika kamu keberatan, kita akan makan siang dan jalan-jalan lain kali saja,"
"Um, aku akan telpon dulu Paman Hamdan atau kakekku. Sebentar~"
Aisyah meninggalkan dua pria yang sedang mencari perhatiannya berdua saja. Ia menelpon orang rumah, untuk memastikan jika putranya masih nyaman bersama keluarga yang baru ditemuinya.
Tatapan mata antara Leo dan Raza begitu tajam, menusuk, seolah memancarkan laser berwarna putih dan biru, kemudian bertemu dan meledak diantara tatapan itu.
"Pria ini, dia ancaman besar bagiku. Siapa dia sebenarnya? Dia~ seolah lebih tahu Aisyah kesehariannya. Aku yakin dia adalah seorang playboy," Leo bergumam dalam hati.
"Haih, ini siapa lagi? Kenapa banyak sekali pria yang mendekati Aisyah ini?" Raza pun juga bergumam tentang Leo.
Sampai akhirnya, Leo memberanikan diri untuk menanyakan siapa Raza bagi Aisyah. Tentu saja Raza menjawab jika dirinya adalah seseorang yang dekat dengan gadis berusia 22 tahun itu.
"Kau … aku yakin kau mendekatinya hanya menyalurkan tujuan burukmu saja, 'kan?"desis Leo.
"Terserah mau bicara apa. Hanya saja, jika kamu hendak bersaing, maka bersainganlah secara sehat, jangan curang dengan dalih, kau adalah anak dari sahabat neneknya. Itu terlalu kekanak-kanakan, Tuan Leo!" tegas Raza.
Raza selalu menangani semua masalah dengan tenang. Meski Leo selalu saja menyulut, Raza tetap berusaha tenang agar tidak terpancing emosi. Bukan Raza jika masih bisa terpancing emosi sederhana seperti itu.
Sampai pada akhirnya Aisyah datang dan mengiyakan ajakan Raza untuk makan siang dan jalan-jalan sebentar. Itu juga berkat izin dari Asisten Dishi, agar tidak ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Ai, kamu yakin pergi dengan pria asing yang baru saja kamu kenal ini?" tanya Leo.
"Kak Leo, Kak Raza ini bukanlah orang asing. Untuk apa kak Leo berekspresi seperti itu? Kami sudah cukup lama saling kenal, jadi … jika kak Leo mau ikut, ayo. Jika tidak, maka jangan banyak bicara seperti ini. Itu sangat membuatku tidak nyaman, Kak!" jelas AIsyah sejelas-jelasnya.
Tak lepas dari semua itu, Aisyah memang sedikit tidak nyaman jika ada di dekat Leo sendirian. Berbeda di saat bersama dengan Raza yang mampu menjaga jarak meski hanya jalan berdua saja. Raza juga selalu menjaga jarak ketika bersama Gwen dulu, meskipun ia juga sempat menerima kecupan dari Gwen.
"Baiklah, aku akan ikut kalian," akhirnya Leo mengalah, ia mengikuti kemana Aisyah pergi bersama dengan Raza.
Sepanjang perjalanan, Raza terus saja mengajak Aisyah mengobrol sampai Leo merasa terasingkan. "Awas saja kau Raza. Aku akan membuatmu menjauh sejauh mungkin dari Aisyah!"
Tanpa keduanya ketahui, jika Aisyah sendiri sudah memiliki hati yang harus ia jaga. Membuat dua pria dewasa ini merasa konyol mengejar wanita yang hatinya sudah ada yang menjaganya.
Tetap saja, tak ingin melukai hati siapa pun, Aisyah hanya bisa menerima Raza dan Leo di sisinya sebagai teman saja kala hidup di Negri orang.
Chen saat bersama Aisyah, penuh kasih sayang dan kelembutan. Chen dengan Gwen, penuh dengan pertengkaran dan argumen lucu yang membuat keduanya selalu berdebat. Aisyah dan Gwen, penuh kasih sayang dan cinta lahir maupun batin. Meski begitu, ketiganya saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.