
"Apa yang terjadi kepada Aisyah?" tanya Chen kepada Asisten Dishi.
"Ini hanya efek dari ramuan yang diberikan oleh Tuan Hao saja, Tuan," jawab Asisten Dishi.
"Kau yakin?" tanya Chen lagi.
"Saya pastikan, Nona Aisyah memang sedang dalam efek ramuan saja. Tuan Hao bilang, ingatannya akan segera pulih jika Nona Aisyah banyak istirahat," jelas Asisten Dishi.
Chen menyesal memberitahu masalahnya kepada Aisyah malam itu. Chen keluar dari kamar dan meminta Asisten Dishi untuk menjaga adiknya.
Setelah Chen keluar, Asisten Dishi menemui Aisyah dan menanyakan tentang keadaannya. Aisyah hanya menjawab bahwa dirinya masih baik-baik saja dan ingin istirahat.
"Baiklah, kalau begitu aku tinggal dulu. Selamat malam dan selamat istirahat," ucap Asisten Dishi dengan lembut.
"Kamu juga," jawab Aisyah singkat.
Tak ada hal yang dicurigai oleh Asisten Dishi meski Aisyah hanya menjawab ucapannya dengan singkat dengan mimik wajah datar. Asisten Dishi mengira, itu karena ramuan yang diminum oleh Aisyah untuk menyembuhkan penyakitnya.
Selang beberapa menit kemudian, Aisyah menyusul Asisten Dishi keluar meninggalkan kamarnya dengan tatapan wajah yang datar dengan mata berapi-api. Dia berjalan menuju kamar Cindy dan masuk begitu saja.
"Nyonya Cindy, bangunlah," lirih Aisyah sembari menyodorkan belati yang entah darimana dia dapatkan ke wajah Cindy.
Cindy membuka matanya secara perlahan. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat Aisyah berdiri di depannya dengan menyodorkan belati ke arah wajahnya. Bahkan sampai menyentuh kulit wajahnya yang dipenuhi dengan masker berwarna hijau.
"A__"
"Diam dan jawab pertanyaanku dengan jujur, nyonya Cindy," desis Aisyah. "Lima tahun lalu, sekitar sembilan bulan setelah itu ada seorang gadis yang melahirkan anak dari Tuan Muda Wang. Dimanakah, kau menyembuhkan anak itu?" lanjut Aisyah dengan suara datar.
"Maksud kamu apa!" teriak Cindy.
"Jika kau berteriak, aku akan pastikan wajah mulusmu ini akan robek, Nyonya Cindy," ancam Aisyah menggores sedikit kulit wajah Cindy.
Cindy mengeram kesakitan. Ia tak menduga jika Aisyah mengetahui tentang kejadian yang bahkan dirinya belum hadir di kehidupan Chen. Alih-alih mengakui, Cindy malah menyangkal dan tidak mengatakan kebenaran itu kepada Aisyah.
"Jadi, kau tidak mau jawab dengan jujur pertanyaan dariku? Maka jangan salahkan aku, jika aku merobek wajah mulusmu ini, dan akan mendapatkan free cekikan dariku, bagaimana?" hardik halus Aisyah rupanya membuat Cindy takut.
"Sial! Aku pikir dia sama dengan Rebecca. Aku bahkan percaya jika dia anggun dan tenang seperti Yusuf," batin Cindy waspada.
Tak tanggung-tanggung, Aisyah kembali melukai wajah Cindy dengan belati tersebut. Hal itu rupanya mampu membuat Cindy berkata jujur dan mau menunjukkan dimana anak Chen berada.
Masih dengan menodongkan belatinya, Aisyah mengikuti langkah Cindy ke ruang bawah tanah yang hanya dia yang tau jalan masuk pintasnya. Cindy sendiri memiliki niat terselubung dalam keadaan itu.
"Lihat saja nanti. Saat aku membuka gerbang penjara anak itu, aku juga akan mendorong Aisyah masuk ke dalamnya. Kau main-main dengan orang yang salah, anak tengik!" umpat Cindy dalam hati.
Melewati banyak anak tangga, juga melewati banyak gerbang penjara dengan tawanan yang menyeramkan. Aisyah masih berusaha untuk tetap tenang, dan bersiap jika sewaktu-waktu Cindy menyerangnya, ia akan menggunakan ilmu bela dirinya di waktu dan tempat yang tepat.
"Apakah masih jauh lagi?" tanya Aisyah.
"Ha-hampir sampai, li-lihatlah, di sana, nomor sembilan itu. Aku menyembuhkan anak kecil itu dari bayi sampai saat ini di sana," tunjuk Cindy dengan gugup.
"Ayo, jalan cepat!" perintah Aisyah.
Aisyah sampai meneteskan air matanya melihat rambut anak itu di potong secara acak-acakan. Segera mungkin Aisyah menyeka air matanya dan meminta Cindy untuk segera membuka gerbang penjara tersebut.
"Dia seorang ibu, bisa-bisa dia melakukan hal sekeji ini!" umpat Aisyah dalam hati.
"Buka, cepat!" perintah Aisyah.
"I-iya, ini baru mau aku buka," jawab Cindy ketakutan.
Aisyah mengancam Cindy untuk tidak kabur jika ingin tetap hidup. Kemudian, segera menghampiri anak itu dan mulai menanyainya.
"Hey, siapa namamu?" tanya Aisyah dengan mengulurkan tangannya.
Akan tetapi, ketika anak itu melihat belati di tangan sebelahnya Aisyah, anak itu lari ketakutan dan menyembunyikan diri di balik jerami besar yang diketahui tempat untuknya buang air besar maupun kecil.
"Kenapa anak ini seperti ini. Katakan apa yang telah kau lakukan padanya!" tegas Aisyah kepada Cindy.
Bukannya menjawab, Cindy malah berusaha mendorong Aisyah dan berniat mengurung Aisyah di dalamnya juga. Sayang sekali, bukannya rencananya berhasil, Cindy malah terkena belatinya Aisyah dengan menusuknya ke lengannya sendiri.
"Aw, sakit sekali," rintih Cindy.
Segera Aisyah menutup gerbang penjara itu. Aisyah benar-benar memiliki hati nurani yang sangat bagus. Segera Aisyah membalut luka dilengan Cindy agar tidak infeksi. Sebab, ada kabar baik, bahwa Aisyah telah mengingat jika dirinya adalah seorang Dokter.
Tak hanya itu saja, Aisyah juga perlahan mengingat apa yang telah terjadi beberapa bulan terakhir. Ketika ia memegang belati, dirinya masih saja ketakutan menyakiti orang lain. Namun, demi mengancam Cindy, ia melakukan itu dengan tenang.
Anak Chen yang belum diketahui jenis kelaminnya oleh Aisyah ini mengintip dan memasang wajah yang lucu.
"Hey, kemarilah!" Aisyah memanggil anak itu dengan ramah.
"Apakah kamu orang baik?" tanya seorang wanita yang ada di sebelah penjara sebelahnya keponakan dari Aisyah itu.
"Aku adalah Bibi dari anak ini. Kenapa Anda bertanya seperti itu? Siapa Anda?" Aisyah tetap waspada, takut jika wanita itu adalah orang jahat.
Wanita itu ternyata adalah adik kandung dari Asisten Dishi yang dipenjara oleh Cindy karena ingin membeberkan kejahatan yang pernah dilakukan kepada Chen ketika Chen berusia sembilan tahun waktu lalu.
"Tapi Asisten Dishi tidak pernah mengatakan jika dirinya memiliki seorang adik perempuan. Dia hanya mengatakan bahwa dia memiliki keponakan yang masih kecil dan itu saja tinggal di panti asuhan," jawab Aisyah tidak semudah itu percaya padanya.
"Bahasa inggrismu sangat bagus. Tapi, jika kau tidak percaya aku adalah adiknya Kak Dishi, maka ... Tunjukkanlah gelang ini kepadanya. Dia akan mengingat siapa pemilik dari gelang ini," wanita itu memberikan gelang yang ia sembunyikan selama dipenjara di lengannya.
"Aisyah, kamu jangan percaya dengannya. Dia pembohong, yang memasukkan dia ke penjara adalah Nyonya kedua Wang. Percayalah kepadaku!" sahut Cindy membela diri.
Aisyah tidak ingin di bodohi siapapun. Ia membawa keponakannya dan meminta Cindy untuk mengantar kembali sampai ke kamarnya. Meninggalkan wanita itu dengan tatapan kecurigaan.
Aisyah mendekati anak itu, dan hendak mengajaknya pergi bersamanya. Tak disangka, setelah melihat mata Aisyah, keponakannya langsung jatuh cinta padanya. Membuat Aisyah semakin mudah membawanya keluar dari tempat suram itu.
"Pekerjaan yang begitu mudah. Tapi, aku tak ingin lagi berbuat seperti ini. Ini di larang oleh agama, menyakiti orang? Hm, aku tak tega melihat wajah Nyonya lucu ini memiliki codet," gumam Aisyah menahan tawanya.
Lalu, apa yang akan dilakukan Aisyah kepada Cindy?