Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Gwen (Bertemu Dengan Ayah)



"Tuan Muda Wang, apa makanan kesukaanmu?" tanya Rebecca dengan lembut.


"Namaku Chen, aku lebih suka dipanggil dengan nama itu!" dengus Chen.


"Baiklah, Chen. Apa makanan kesukaanmu?" lanjut Rebecca.


"Asalkan vegetarian, aku akan memakannya. Ingat, jangan menggunakan minyak pigky, atau alkohol. Aku tidak makan itu!" ketus Chen.


"Tak tau diri, ngomong dengan orang tua itu yang sopan, lembut. Nih anak lahirnya kebentur apa otaknya?" sahut Feng kesal.


"Feng, tidak baik bicara seperti itu. Chen anak baik kok, hanya saja … dia tidak tahu harus bersikap lembut yang bagaimana. Bukan begitu, Chen?" tutur Rebecca.


Chen mengangguk pelan. Matanya terus tertuju dengan Rebecca yang tengah mengolah makanan. Cinta anak dan Ibu ini akan tumbuh di dapur juga.


Sementara, Rebecca akan menetap di Tiongkok sampai ia menemukan dimana keberadaan putranya.


"Kenapa kamu tidak makan daging dan minyaknya?" tanya Rebecca.


"Apakah itu penting?" lagi-lagi Chen belum bisa melunak.


"Hey, bibiku nanya dengan baik. Seharusnya kau juga bisa menjawabnya dengan santun!" Feng mengetuk kepala Chen menggunakan sodet.


"Huft, dulu aku suka makan daging itu. Tapi, suatu aku bermimpi. Ada seorang pria, menyentuh kepalaku dengan lembut. Pria itu memintaku untuk tidak makan daging sampai aku tau arti kehidupan remaja," jelas Chen.


Rebecca tersenyum, makanan siap makan dan mereka bertiga makan bersama. Chen ingat wajah siapa pria dari mimpinya itu. Namun, saat ini Chen belum mengatakannya karena dirinya masih belum tahun siapa lelaki itu.


"Kamu pakai softlens, ya?" tanya Rebecca lagi. "Maaf bibi banyak tanya, tapi buat apa anak sekecil kamu memakai softlens, bukankah itu malah akan merusak matamu?" imbuhnya.


Chen hanya menatap Rebecca dengan tatapan tajamnya.


"Haha, dia kecil-kecil katarak bibi. Jadi jangan heran, dan la--" belum juga Feng menyelesaikan celotehnya, Chen memukulnya menggunakan tangannya.


"Sakit woy!" teriak Feng.


"Aku harus memakainya, jika tidak … aku tidak boleh keluar dari rumah. Atau ibuku akan menghukum diriku lagi," jelas Chen.


Rebecca tak menanyakan hal lain lagi. Raut wajah Chen berubah ketika menyebut nama ibunya. Pada dasarnya, Chen memakai softlens untuk menutupi mata birunya dari semua orang.


Mata itu terlihat mirip dengan mata Rebecca dan Shinta. Jadi, Cindy tak ingin ada keluarga kandung dari Chen yang menyadari hal itu. Meski tak hanya Chen, anak di dunia ini yang memiliki mata biru.


"Bibi jadi merindukan Aisyah, andai saja ketiga anak bibi bisa berkumpul. Dan bibi tak akan meminta perpisahan itu," ucap Rebecca ditengah Feng dan Chen yang sedang makan.


"Kenapa begitu?" tanya Chen.


"Bibi melahirkan tiga anak kembar, satu laki-laki dan dua bayi perempuan. Setelah beberapa jam, bayi laki-laki bibi di culik,"


"Bibi mencarinya sampai sekarang tapi belum ketemu juga. Lalu, perpisahan antara bibi dan suami bibi terjadi, kami membawa masing-masing putri kami,"


"Kedua putri kami juga terpisah, agar suatu saat jika putra kami ketemu, bukan hanya dia yang merasakan perpisahan itu," jelas Rebecca dengan air mata yang masih ia tahan di matanya.


"Aku yakin, putra bibi pasti akan paham meski kalian tidak berpisah. Aku berharap, putra bibi segera ditemukan, dan kalian bisa berkumpul kembali." tukas Chen.


"Kamu manis sekali, melihatmu … bibi menjadi ingat dengan putri yang ikut dengan bibi, namanya Gwen. Dia dingin sepertimu, tapi … dia kalau sudah konyol, akan membuat semua orang tertawa." Ucap Rebecca mengusap kepala Chen.


Anehnya, Chen merasa nyaman ketika di usap kepalanya oleh Rebecca. Berbeda ketika Cindy menyentuhnya. Perlahan, senyuman Chen terukir di bibirnya. Senyuman yang sama seperti milik Rebecca waktu kecil dulu.


Chen membawa makanan yang sisa di dapur. Ia pulang dengan senyuman yang tak pernah ia tunjukkan kepada siapapun juga.


"Apakah itu Tuan Muda? Baru saja dia tersenyum?"


"Iya, dia tersenyum. Siapa yang membuatnya seperti itu?"


Pelayan rumah mulai bergosip.


"Chen, kamu sudah pulang? Ibu membuatkan makanan kesukaanmu, makanlah Ibu menaruhnya di meja dapur," sambut Cindy.


"Aku sudah kenyang, terima kasih!" jawab Chen.


"Jawaban apa itu? Kenapa kamu tidak bisa menghargai usaha Ibu, Chen?" emosi Cindy memuncak.


Chen menjadi emosi kembali, Cindy merusak perasaannya. Merasa emosi juga, Chen membanting vas bernilai ratusan juta di depannya.


"Chen!" Terima Cindy.


"Aku Ibumu, kenapa kau tak pernah menghormatimu, Chen?" sulut Cindy.


"Anda bukan ibu kandungku, lalu ayah juga bukan ayah kandungku, 'kan? Sudahlah, aku malas membahas semua ini!" Chen masuk ke kamarnya.


Sejak Chen umur lima tahun, Chen mengetahui bahwa Cindy bukanlah Ibu kandungnya. Ia menemukan gelang rumah sakit bernama Nyonya Ali. Yang besari istri dari Yusuf Ali.


Gelang berliontin khusus dari Adam juga berhasil ia temukan 4 tahun lalu di meja rias Cindy. Mulai saat itu, Chen yang dulunya patuh menjadi pemberontak.


"Aku memang bukan yang melahirkanmu, tapi aku yang membesarkanmu sampai sekarang, Chen! Jangan lupakan itu!" teriak Cindy.


"Aku tidak butuh itu!" semakin Cindy teriak, Chen semakin kesal juga.


Sifat kerasnya Chen diturunkan oleh Ibunya, Rebecca. Masih teringat betul, bagaimana masa kecil Rebecca menjadi pemberontak dan harus menjadi dewasa sebelum waktunya.


"Aku harus cari tau. Ibuku, bukanlah ibu kandungku, lalu ayahku … divonis tak bisa memiliki keturunan. Lantas, aku ini anak siapa?"


"Siapa Nyonya Ali? Rumah sakit mana ini?" gumam Chen menggenggam gelang bayinya.


"Gelang ini, aku rasa gelang ini juga bukan gelang sembarangan. Apakah aku bisa menemukan jawabannya lewat gelang ini?" Chen mengangkat liontin yang diberikan oleh Adam.


"DNA?"


"Menggunakan rambut? Apa aku harus melakukan ini, supaya aku tahu aku anak kandung ayahku atau tidaknya?"


Pemikiran Chen begitu cerdas, ia mampu memikirkan semuanya dengan baik. Tes tersebut akan ia lakukan tanpa sepengetahuan dadi Cindy maupun Tuan Wang.


Di Jogja, Aisyah membawa Gwen ke restoran untuk menemui ayahnya. Betapa senangnya hati Gwen saat itu. Hatinya sampai berdebar tidak beraturan.


"Apa ini, jantungku berdebar seperti mendapat ujian dari Mami. Apakah … ayahku juga galak seperti Mami?" batinnya.


"Tidak! Ayah angkat bilang jika ayahku sangat baik dan murah hati."


Sesampainya di depan restoran, Aisyah membawa Gwen masuk ke dapur, karena Yusuf sedang ada di sana.


"Itu ayahku, suara benturan pisau dan talenan bagai musik yang indah dalam hidupnya. Ayahku seorang chef, ayo masuk!" ujar Aisyah.


"Assallamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokaktuh, Ih anak ayah datang?"


Ini kali pertama bagi Gwen melihat ayah kandungnya secara langsung. Nafasnya mulai sebak, jantungnya terus saja berdebar hebat. Air matanya tak terasa sudah membanjiri pipinya.


"Ayah--"


"Ayah, ini kau?"


"Aku putrimu, ayah. Aku juga ingin di peluk seperti itu,"


"Ayah, aku ingin di peluk juga."


Gwen sedang berperang dengan hatinya. Selama 9 tahun, seumur hidupnya, ia baru bisa bertemu dengan ayah kandungnya.


Akan tetapi, hal menyakitkan yang ia dapatkan saat itu. Ia sudah melihat dan bertemu dengan ayah kandungnya. Ayahnya ada di depan matanya, namun ia tak bisa meraih dan memeluknya.


"Rifky! sini!" teriak Aisyah melambaikan tangannya mengajak Gwen untuk menghampirinya.


Aisyah memperkenalkan Gwen sebagai Rifky. Nama yang sudah ia berikan kepada sadari kembarnya. Gwen pun mendekat secara perlahan, menatap dengan jeli pria yang merupakan ayah kandungnya tersebut.


"Nama aslinya Siswanto, eh … canda," celetuk Aisyah.


"Nama asliku, Lim. Tapi, aku tidak pernah menyukai nama itu, jadi aku minta Aisyah memberi nama baru untukku … paman." jelas Gwen.


Terlintas, dalam ingatan Yusuf, ia mengingat suatu hal dengan nama Lim. Yakni, ucapan Rebecca ketika dirinya berusia 11 tahun, bahwa dirinya juga membenci marga tersebut. Jadi, selalunya menganggap dirinya hanya bernama Rebecca Anastasya.


"Anak ini mengingatkanku kepadamu, Sayang. Oh, bukan. Rere, Rebecca mantan istriku. Bagaimana kabarmu di sana?" batin Yusuf.


Yusuf menundukkan di depan Gwen, menanyakan tentang dirinya dan kedua orang tuanya. Awalnya, Gwen hanya tertunduk juga, sama akan dirinya. Namun, karena terus di desak Aisyah agar bisa jujur, akhirnya Gwen mulai bicara.


"Wanto … eh, Rifky, dimana orang tuamu? Apakah kamu kabur dari rumah?" tanya Yusuf ramah.


"Ibuku menikah lagi, aku tidak menyukai ayah tiriku. Ibuku juga meninggalkan aku di rumah sendirian. Makanya aku kabur dan aku malah tersesat. Bisakah Tuan memberiku tumpangan hidup? Aku bisa bekerja, kok. Aku akan membantu Anda masak, aku juga bisa memasak … air." jelas Gwen panjang lebar.


Baik Yusuf dan Aisyah hanya diam. Menurut Yusuf, Gwen sangat pandai berbicara, ia tak memiliki rasa gugup sedikitpun ketika bicara dengan orang yang lebih dewasa. (Ya iyalah anak mafia)


"Nama aslimu Lim siapa?" tanya Yusuf.


"Hm, kenapa? Aku menyukai nama Rifky, tak bisakah aku tetap memakai nama itu?" Gwen mengajukan negosiasi.


"Baiklah, Rifky. Berapa usiamu?" lanjut Yusuf.


"Sembilan tahun,"


"Dimana asalmu?"


"Jauh dari sini,"


"Tepatnya?"


"Itu rahasia, aku hanya ingin tinggal di sini," jawab Gwen.


Yusuf terdiam, ia memberikan Gwen beberapa makanan manis dan meminta Aisyah untuk mengajaknya bermain lebih dulu.


Teringat akan suatu hal, ketika bicara dengan Gwen, Yusuf merasa jika dirinya tengah berdebat dengan Rebecca. Namun, ketika melihat wajah Gwen, Yusuf seperti berdiri di depan cermin dan melihat wajahnya ketika kecil dulu.


"Rifky," panggil Yusuf.


"Iya, paman?"


"Kau mau aku pekerjakan apa? Kamu bilang kamu bisa memasak, bukan? Bagaimana jika kamu menjadi chef di sini?" usul Yusuf.


"Boleh saja, paman. Aku sangat pandai memasak … air." jawab Gwen.


"Jika itu, Aisyah pun bisa. Baiklah, paman akan mencari tau identitasmu besok, agar kami bisa sekolah!" ujar Yusuf.


"Aisyah, ayah sholat ashar dulu. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Gawat, jika ayah tau identitas asliku. Aku bisa dibunuh oleh Mamiku sendiri. Aku harus cari cara agar ayah tidak mengenali diriku dulu!" batin Gwen panik.


Sementara Yusuf sholat ashar, Gwen mengirim pesan lewat smartwatchnya kepada Willy untuk meminta bantuan. Namun Willy malah sedang sibuk berkencan dengan wanita lain.