
"Aku marah, aku kesal, aku kehilangan Mami dan kakakku. Tapi aku tidak ada di posisi Kak Aisyah kemarin. Pasti dia sangat terluka, ditambah dengan ucapanku," ucap Gwen lirih.
"Aku menyesal, Mas. Memang tidak seharusnya aku mengatakan itu. Alangkah baiknya, aku memeluk dia dulu, dan baru membuatnya menceritakan apa yang terjadi. Dengan begitu, pasti aku bisa paham," lanjutnya.
"Kamu tidak salah, Sayang. Wajar kamu emosi, semua juga sudah terjadi, 'kan? Tidak ada yang perlu di sesali lagi. Lebih baik, sekarang kamu istirahat. Sebelum itu, kita berdoa untuk almarhumah Ibu, Puspa dan juga istri Kak Chen," tutur Agam dengan lembut.
"Begitu juga dengan almarhum Kak Chen, dan berdoa untuk keselamatan suami Aisyah supaya bisa segera mendapatkan kabar keberadaannya." tukas Agam, membelai wajah istrinya dengan lembut.
Gwen mengangguk. Dia ingin sekali meminta maaf kepada Aisyah karena sudah melukai hatinya dengan ucapannya. Agam mengantar Gwen sampai di depan pintu kamar Aisyah.
"Masuklah, Mas akan menunggu di sana dengan yang lain. Ingat, kamu sedang hamil. Jaga agar emosi kamu tetap stabil, ya--" tutur Agam.
Gwen hanya mengangguk. Kemudian mengetuk pintu kamar Aisyah setelah Agam pergi. Namun, ketukan yang dibuat oleh Gwen tak kunjung menerima balasan dari Aisyah. Gwen mulai berfikir negatif. Dia pun langsung menerobos masuk karena pintu tersebut ternyata tidak dikunci.
"Kok, tidak dikunci ya? Apakah Kak Aisyah sudah tidur?" gumamnya dengan langkah, membuka pintu.
"Kak,"
"Kak Aisyah,"
"Gelap gini? Kak, Kak Aisyah lagi apa, sih? Kok, gelap-gelapan?"
Gwen pun menyalakan lampunya. Dia melihat kakaknya sedang duduk di pojokan di samping gorden jendela kamarnya. "Kak Aisyah!"
"Kak Aisyah, kenapa duduk di lantai, sih? Ini dingin, Kak. Kak, ayo aku bantu Kakak berdiri dan duduk di ranjang," ucap Gwen memaksa Aisyah berdiri.
"Untuk apa kamu datang kemari? Apakah kamu masih belum puas menyalahkan aku tentang … apa yang terjadi?" kata Aisyah dengan suaranya yang lemah.
"Gwen, tidak ada yang mau kejadian ini terjadi. Aku memang tidak dibesarkan oleh ibu, tapi dalam setiap harinya, sejak kecil, aku selalu merindukan sosok ibu. Aku mencintainya, sama dengan aku mencintai ayah," lanjut Aisyah.
"Aku juga sangat menyayangi Kakak Chen. Kamu tahu kan, cinta Kak Chen kepadaku dan kepadamu itu sama besarnya. Harusnya juga kamu tahu, bagaimana perasaan aku saat ini. Aku jauh lebih hancur daripada dirimu, Gwen--"
"Aku melihat mereka saling melawan, aku melihat Puspa dan juga Lin Aurora meninggal di depan mataku. Ada peluruh yang masuk di dada Lin Aurora, dan … dan itu--" ucapan Aisyah terhenti.
"Cukup! Jangan ceritakan lagi!" Gwen pun memeluk Aisyah. Dia memeluk kakaknya dengan pelukan erat.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepadamu, Kak. Aku sangat emosi, sedih dan juga bingung," ucap Gwen. "
"Aku, aku seb … Ah, kakak!" Gwen merasa sakit pada perut bagian bawahnya. "Kakak, sakit … sakit banget, kak!" rintih Gwen.
"Gwen!"
Aisyah panik, kemudian meminta Gwen berbaring di ranjang. Peralatan medisnya masih ada di kamarnya, sehungga dia bisa langsung memeriksa kondisi adiknya. Aisyah juga meminta Gwen untuk tarik napas dalam-dalam serta diiringi dengan istighfar.
"Kamu tarik napas, tahan … Gwen, berapa usia kandunganmu?" tanya Aisyah mulai panik.
"8 bulan," jawab Gwen dengan menahan sakit.
"Kita harus segera ke rumah sakit. Ayo, pelan-pelan kamu duduk, kakak akan angkat kamu dampai ke mobil," ucap Aisyah perlahan membantu Gwen duduk.
Tanpa rasa ragu lagi, Aisyah langsung mengangkat tubuh Gwen. Memang berat, tapi Aisyah harus segera membawanya ke rumah sakit.
"Ayah!"
"Ustadz Agam!"
"Tuan Jin!"
"Ko Feng!"
"Ah iya, kamu benar," sahut Aisyah.
"Siapkan mobil! Kandungan Gwen bermasalah, dia pecah air ketuban. Cepetan!" teriak Aisyah.
Semuanya menjadi panik. Aisyah semakin pusing kala mereka malah merubung dirinya yang kesusahan menggendong Gwen keluar.
"Allahu ya Kareem, Kenapa kalian malah merubung kayak gitu, sih? Ini pasien, nanti kekurangan oksigen. Berat banget, tolonglah kerja samanya!" sentak Aisyah.
"Mas Tama, siapkan mobil!"
"Ustadz, giliran kamu menggendong istrimu,"
"Tuan Jin, Bang Faaz, kalian periksa koper kuning di kamarku. Malam ini juga, aku ingin kalian membereskan semuanya,"
"Yang lainnya, tinggal di rumah! Jangan ada yang menyusahkan, paham!"
Semuanya pun mengangguk kala Aisyah sudah memerintah. Aisyah, Agam Tama dan juga Feng membawa Gwen ke rumah sakit. Gwen mengalami pecah ketuban dini, padahal usia kandungannya yang masih menginjak 8 bulan. Itu bisa jadi akan menjadi kelahiran prematur, karena usianya masih kurang untuk dilahirkan.
"Sakit, Mas. Sakit sekali, apakah aku akan menyusul Mami dan Kak Chen?"
"Astaghfirullah hal'adzim, tidak boleh bicara seperti itu. Ayo, istighfar. Kamu dan anak kita pasti akan baik-baik saja," tutur Adam sembari mengusap perut istrinya.
"Aisyah Bagaimana dengan denyut nadinya?" tanya Feng.
"Alhamdulillah, masih aman. Tapi alangkah baiknya, kita harus cepat sampai ke rumah sakit karena air ketubannya terus merembes," jawab Aisyah.
Tama mempercepat kemudiannya. Malam itu memang sudah sangat larut. Kendaraan tidak banyak yang berlalu lalang di waktu selarut itu. Hingga mereka sampai ke rumah sakit tepat waktu.
"Ko, kau turun dulu dan panggil perawat keluar membawakan hospital bed," tegas Aisyah.
"Baiklah,"
Aisyah membersihkan kaki Gwen yang sudah basah dengan air ketubannya. Tak lama kemudian, Feng keluar bersama dengan beberapa perawat. Salah satu perawat itu mengenali Aisyah.
"Dokter Aisyah, kapan anda pulang?" tanyanya.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Kalian semua, tolong lah adikku. Kemungkinan akan segera melahirkan, karena sudah pecah ketuban," jawab Aisyah panik.
"Baiklah, semuanya mohon tunggu di luar, ya--"
Pemeriksaan langsung dilakukan. Aisyah, Agam dan Feng begitu panik. Datanglah Tama yang baru saja memarkir mobilnya. "Bagaimana?" tanya Tama.
"Masih diperiksa," jawab Feng.
"Suami, atau wali dari pasien di mohon mengisi data, ya,"
"Um, baik suster,"
Setelah beberapa waktu, dokter keluar dan harus diadakan operasi secepatnya. Kondisi Gwen untuk melahirkan normal sungguh tidak memungkinkan. Mau tidak mau, harus melakukan operasi caesar.
Operasi caesar (sesar) adalah proses melahirkan bayi yang dilakukan dengan cara menyayat bagian perut hingga rahim ibu.
Sayatan pada perut tersebut merupakan jalan keluarnya bayi dari dalam rahim. Dokter biasanya membuat sayatan memanjang dengan arah horizontal tepat di atas tulang ********.
Saat harus memilih persalinan caesar, ada beberapa risiko yang muncul untuk ibu dan si kecil. Selain luka operasi, Ibu cenderung akan merasakan trauma yang akan mengarah pada post partum depresi.