
BYURRRR
Suaranya begitu jelas hingga keduanya menoleh dan menyebut nama lengkap Chen.
"Chen Yuan Wang!"
"Apa? Itu namaku, kenapa? Tidak terima, kah?" ketus Chen dengan wajah tanpa rasa bersalah.
"Ash, orang ini--" kesal Lin Aurora. "Sudahlah! Aku mau mandi dulu! Dasar laki-laki tidak bermoral!" umpat Lin Aurora, yang kemudian merebut handuk di leher Chen, lalu masuk ke kamar mandi sembari membanting pintu.
BRAK!!
Jovan dan Chen menatap pintu kamar mandi ketika pintunya terbanting. "Apa dia sudah gila?" desis Chen.
"Ya, istrimu memang sudah gila. Aku kesal padanya, bisa-bisanya dia tidak tahu jika kakaknya mau menikah lusa," Jovan pun menggerutu.
"Apa kau sedang membicarakan istriku di depan suaminya sendiri. Nyalimu ternyata kuat juga ya, Jovanca__"
"Heh, jangan menatapku dengan mata bulat dan kornea mata birunya itu, Chen! Itu membuatku mual, sangat mual!" Jovan sampai menunjuk-nunjuk ke wajah Chen karena tingkat kekesalannya, sudah mencapai level tertinggi.
Perdebatan dengan Lin Aurora sudah usai, kini Jovan membuat keributan lagi dengan Chen. Benar-benar cinta mampu membuat orang gila. Jovan begitu kehilangan Lin Jiang ketika perpisahan itu terjadi.
*****
***
Sepulang dari belanja bulanan, Aisyah dan Bora membeli makanan di pinggir jalan. Mereka juga duduk di sana sembari berbincang masalah magang. Masih lama memang, tapi Aisyah tidak ingin semua rencana belajarnya sampai gagal.
"Jadi, kamu dari dokter umum, menjadi ke bagian emergency? Wah, apakah kau siap sibuk, Ai?" tanya Bora.
"Siap tidak siap, ya harus siap. Bukankah memang itu pekerjaan yang aku inginkan? Lagipula, anak-anak dari orang tuaku, yang melanjutkan pendidikan sampai sejauh ini, hanya aku saja," jawab dan jelas Aisyah.
"Dua saudaramu yang satu plasenta itu, benar-benar terjun di dunia begitu, ya? Bukankah, menjadi Mafia itu, tanggung jawab di hari kebangkitan nanti akan berat, ya? Apakah, saudarimu dan Ibumu, tidak menyayangi Ayahmu? Aku baca di artikel islami, begitu adanya," celetuk Bora sembari makan daging ayam bakarnya.
Aisyah tidak menyangka jika Bora membaca artikel seperti itu. Bora memang sengaja memperdalam wawasan tentang keyakinan yang di yakini oleh sahabatnya. Guna, dia bisa tahu apa yang harus dan tidak harus dilakukan oleh Aisyah. Bora juga ingin, bisa mengingatkan Aisyah, di kala Aisyah lupa dengan tugasnya.
"Daebak!" seru Aisyah.
"Ya, Bora. Kau mempelajari itu demi diriku? Baik sekali kamu," sanjung Aisyah kepada sahabatnya.
"Selain menambah wawasan, aku jadi tahu … ternyata kebanyakan makan daging pink juga tidak baik. Haih, padahal aku sangat suka kaki si pink," lenguh Bora.
"Sungguh?" tanya Bora. Aisyah pun mengangguk, sembari mengangkat kedua jempol tangannya.
"Aaa, so sweet. Aku sangat menyayangimu, muach!" saking girangnya, Bora sampai mencium pipi Aisyah sampai lipstik Bora luntur.
Mereka pun tertawa bersama. Bora juga berjanji akan selalu menjadi sahabat yang paling baik untuk Aisyah. Lain Bora, Aisyah juga tidak memiliki sahabat lain di Korea selain Bora. Teman Aisyah memang banyak, namun Bora lah yang mampu membuatnya nyaman dan semangat belajar ketika di kampus.
"Ah iya. Jalan kita masih panjang, bukan? Lalu, bagaimana jika nanti kau memiliki anak? Bukankah, kau jadi harus fokus mengurus anak, ya?" lanjut Bora.
"Sebenarnya aku sudah membicarakan ini dengan suamiku. Kami memang tidak menunda memiliki momongan, tapi setelah Ilkay tiada, aku baru menyadari jika aku belum layak menjadi seorang ibu," jawab Aisyah menjadi sedih.
"Aaaa, hentikan! Jangan bahas ini lagi, aku tidak suka melihatmu sedih, Ai! Mianhae, kita cari topik lain saja!" Bora sampai memeluk Aisyah dan meminta maaf karena tak sengaja membuka ingatan tentang Ilkay.
Aisyah menjelaskan kepada Bora, jika dirinya juga ingin memiliki seorang anak. Namun, saat itu dirinya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan suaminya dan pendidikannya. Menurut Aisyah, menikah bukan hanya melulu memikirkan tentang keturunan saja. Meski tidak pernah menunda, Aisyah hanya berharap jika dirinya tidak hamil dulu sebelum pendidikannya selesai.
"Apa kau trauma dengan meninggalnya, Ilkay?" tanya Bora.
"Jujur saja, benar. Aku memang tidak melahirkannya. Aku sangat menyayanginya seperti anakku sendiri. Mungkin karena itu, aku merasa jika Ilkay benar-benar putraku dan aku sedih ketika dia pergi," jawab Aisyah dengan senyuman.
"Apakah suamimu benar-benar setuju dengan apa yang kamu harapkan itu? Bukankah dalam keyakinanmu, memperbanyak keturunan itu jauh lebih baik, ya?" Bora memang tidak pernah berhenti bicara jika dia masih makan. Dia akan berhenti bicara ketika belajar saja.
Aisyah tertawa. "Ya, sudah sejauh mana kau belajar ini, hah? Aku jadi takut padamu__" Aisyah sampai menyentil kening Bora.
"Memang benar, dalam keyakinanku, menikah itu suatu ibadah. Kemudian menambah anak juga bisa memperbanyak keturunan umat kami. Tapi, jika memang Tuhanku belum memberikan, mau bagaimana lagi?" jelas Aisyah.
"Suamiku juga orangnya tidak pernah menuntut. Apa yang membuatku nyaman, ya sudah pasti membuatnya nyaman juga. Soal keturunan, kami berdua normal-normal saja, loh. Kami juga tidak pernah menunda, tapi …."
Bora pun menganggukkan kepalanya perlahan sembari mengusap-usap dagunya. Seolah dia tengah berkhayal memili janggut yang panjang dan berlagak seperti kakek tua pertapa. Aisyah sampai tertawa puas di buatnya.
Dishi dan Aisyah juga sudah mulai berbisnis di bisnis yang di luar dari dunia hitam. Dishi juga sudah keluar dari perusahaan dimana dia bekerja bersama Chen dahulu, lalu fokus dengan perusahaan miliknya sendiri yang berada di Amerika.
Benar-benar Dishi tidak ingin memberi nafkah istirnya dengan uang di zaman dirinya selalu mengotori tangannya dengan mencari uang yang tidak halal. Semua uang yang Dishi punya ketika bekerja dengan Chen, ia sumbangkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan dan memulai hidup baru setelah mengucapkan ijab qobul hampir satu tahun lalu.
"Oh, iya. Bagaimana bisnis baru suamimu? Sudah tidak menjadi Asisten pribadi kakakmu, apa kakakmu tidak merasa ditinggalkan?" Bora masih saja ingin tahu.
"Kau ini bawel sekali. Kakakku mana berani marah padaku. Dia hanya bisa berani dengan Gwen saja," jawab Aisyah.
"Benar, dan Gwen juga tidak berani melawanmu, hahaha. Ai, kau ini memang layak di sebut ratu di dalam istana keluargamu. Meski kau anak kedua, tapi kau yang mampu menghandle semuanya," Bora masih saja kuat bicara.
Terkadang, memang anak perempuan pertama, atau anak perempuan kedua dari seorang adik anak laki-laki selalu seperti itu. Mereka selalu akan menjadi penengah dan menjadi tameng bagi keluarganya, menjaga supaya keharmonisan keluarga selalu utuh. Meski tak semestinya anak perempuan kedua, tapi bagi si bungsu Gwen, dirinya juga sama-sama berkorban banyak.