
Semuanya terdiam.
"Sebelumnya aku mau bilang, dia hanya anak yatim. Ibunya ada di sampingnya astaga bapak!" seru Gwen.
"Bapak nyumpahin saya mati?" kesal Ibunya Bella.
"Maaf Bu, bukan begitu. saya hanya terbaik emosi saja, maaf ya …." ucap bapak pedagang tersebut.
"Bapak, Ibu, alangkah baiknya tidak membawa nama orang tua anak ini. Bagaimanapun juga, kita tidak tahu tentang rumah tangga anak ini, bukan?" sahut Ayanna.
Gwen semakin jidat karena bapak pedagang dan si A gendut tetap menyalahkan dirinya. Ditambah lagi, gadis kecil yang bernama Bella tersebut masih nangis tak mau berhenti nangisnya.
"Cukup!" teriak Gwen lagi.
"Lihatlah, di ujung sana ada cctv. Kita semua bisa lihat, aku mencubitnya atau tidak. Huft, kalian orang dewasa kenal terus saja bertengkar, menuduh orang tanpa bukti. Kan aku capek jelasinnya,"
Semua orang di sana melongo, mendengar celotehan Gwen yang sangat bijak diusianya. Ayanna mengajak semua orang untuk masuk ke ruangan CCTV.
"Woy gendut! Mau kemana kamu? Ikut masuk!" bentak Gwen.
"Sory, aku sibuk!" alasan si Gendut.
"Jangan kabur! Aisyah, kita tarik dia! Dia berdusta!"
"Baiklah! Cepat bawa dia masuk sekalian." aja Aisyah menarik anak gendut tersebut.
Semua sudah jelas dalam video tersebut, Gwen terbukti tidak bersalah mencubit Bella. Tiba-tiba saja Bella menangis, Gwen juga mengalami bahwa dirinya menanyakan tentang ayahnya hanya maksud menggodanya saja. Gwen juga mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak tahu jika ayah dari Bella Swan meninggal dunia.
"Maaf, ya. Saya memang salah, tapi awalnya saya cuma mau mengenal Bella saja. Sejak kecil, saya juga tidak dibesarkan oleh ayah saya, mana tega saya mengganggunya dengan menyebut ayahnya yang sudah tiada," jelas Gwen.
"Saya juga dibesarkan tanpa seorang ibu. Jadi, mari kita kurangi berpikiran negatif kepada orang tua. Maaf, bapak-bapak, ibu-ibu, bukannya saya suka dewasa. Tapi, sebagian dari anak-anak kecil seperti kami memang sudah tidak memiliki orang tua lengkap," imbuh Aisyah.
Semuanya sudah jelas, Gwen tidak bersalah. Namun, si Gendut itu berusaha kabur setelah memfitnah Gwen. Namun, berhasil Ayanna tahan dengan menarik kerah bajunya.
"Dan kamu, kamu harus bertanggung jawab atas keributan ini juga, gendut!" hardik Ayanna.
"Ih, body shaming. Aku bisa aduin kalian ke komnas HAM!" terus anak gendut tersebut.
Gwen membungkam mulut anak itu menggunakan kain yang ada kardus di samping ia berdiri. Melihat aksi dari Gwen, Aisyah langsung menariknya dan meminta Gwen untuk minta maaf kepada Bella.
"Kamu apaan, sih? Anak orang asal kamu sumpal aja mulutnya!" tegur Aisyah.
"Dia dulu yang mulai, Aisyah. Dia bohongi semua orang dengan mengatakan jika aku mencubit si Bella yang nangisan tadi," pembelaan dari Gwen.
Ayanna berhasil membereskan masalah Gwen dengan Bella dan beberapa orang yang terlibat. Kemudian, meminta Aisyah menjelaskan siapa Gwen sebenarnya. Lalu, untuk si anak gendut, Ayanna menghukumnya dengan menyapu halaman toko sampai bersih.
"Siapa dia?" tanya Ayanna.
"Dia temenku, udah nggak diinginkan orang tuanya. Jadi, sementara tinggal di rumah bersama aku dan ayah. Maaf belum memberitahu kakak," jawab Aisyah.
"Oh, baiklah! Kalau begitu, siapa namanya?" lanjut Ayanna.
"Namanya--"
"Yang kakak minta jawab dia. Kenapa kamu jawab mulu, Aisyah! Hey, kamu jawab, dong!" kesal Ayanna.
"Dih, penting banget ya namaku? Sory, rahasia!" jawaban yang akan membuat Ayanna kesal.
Sibuk dengan urusan Gwen yang enggan belajar, di Tiongkok Rebecca kembali bertemu dengan Chen di suatu toko mainan anak-anak. Chen sedang menemani sepupunya membeli mainan baru di sana. Saat itu, Rebecca juga sedang bersama dengan Yue baru saja selesai menutup restoran.
"Anak itu … ngapain ada di toko mainan di jam segini? Bukannya toko akan tutup sebentar lagi, ya?" gumam Rebecca.
"Kalau mau tau, aku bisa saja mencari tau un--, astaghfirullah hal'adzim kenapa tuh anak! Woy, ayo buruan, dah malam ini!" teriak Yue. "Ada apa, sih?" sambungnya menghampiri Rebecca.
Yue menatap apa yang dilihat Rebecca. Dia putra dari keluarga Wang yang Yue ketahui. Rebecca berjalan mendekati Chen dan sepupunya yang masih berdiri di depan toko mainan tersebut.
"Kamu ngapain, sih?" tanya Yue di campakkan.
Rebecca memanggil nama Chen dengan lembut. Ia selalu merasakan kehadiran Yusuf jika bertemu dengan Chen dalam situasi apapun. Itu kali kedua mereka bertemu, tapi Rebecca sudah merasa jika dirinya telah lama mengenal Chen.
"Chen, kamu ngapain di sini?" tanya Rebecca.
"Becca, kamu apaan, sih? Manggil nama anak orang langsung namanya, mereka berdua ini dari keluarga Wang tau," bisik Yue.
"Kamu tau juga?" tanya Rebecca.
"Eh, pertanyaan macam apa ini? Kamu sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Yue kembali.
Tatapan mata Rebecca menjadi berubah datar, ia menjawab, "Kemarin dia dihukum bersama dengan putramu. Selama semingguan atau lebih, mereka berdua harus melakukan pelayanan sosial!"
Yue langsung menepi, menelpon Hamdan untuk mengatakan semua itu. Sementara Rebecca, kembali menanyakan mengapa sudah hampir larut, Chen masih ada di luar rumah.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Rebecca.
"Sa, Aku mau membelikan mainan untuk sepupuku, tapi tenyata tokonya sudah tutup. Jadi, kami mau pulang saat ini juga. Bibi, juga masih ada di luar?"
Sepupu dari Chen merasa heran mendengar tutur sapa yang lembut dari mulut Chen. Biasanya, Chen bersikap dingin kepada semua orang di rumah, termasuk Ibunya. Bahkan, mata Chen juga berbinar ketika melihat Rebecca, berbeda ketika melihat Cindy yang selalu dengan kemarahan yang berapi-api.
"Kalian mau makan malam di rumah Bibi nggak? Malam ini, kalian mau makan apa saja, bibi akan masakin buat kalian berdua," Rebecca menawarkan diri untuk melayani mereka makan.
Tanpa pikir panjang lagi, Chen langsung mengiayakan tawaran dari Rebecca. Sepupu Chen yang bernama Jovan sampai memperingati Chen untuk tidak bersikap sembrono. Tapi Chen tidak peduli karena memang mereka sudah mengenal satu sama lain.
"Re, aku akan pulang dulu, ya. Aku masih harus mendengar klarifikasi dari kulkas kecilku itu, assalamu'alaikum!" pamit Yue terburu-buru sambil meneriaki taksi yang sedang lewat.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati!"
Rebecca segera mengajak Chen dan juga Jovan pulang bersamanya. Mereka bak anak dan ibu yang sangat serasi berjalan bersama di trotoar dengan disinari cahaya lampu jalanan.
Sesampainya di rumah Rebecca, Chen membantu Rebecca memasak malam itu. Jovan semakin tak mengerti dengan sepupu kulkasnya tersebut. Tak seperti biasanya Chen tersenyum sumringah seperti itu juga.
"Ada apa dengan, Chen?" batin Jovan. "Mengapa dia terlihat seperti Chen yang berbeda pada malam ini?" imbuhnya.
Rebecca juga menanyakan makanan kesukaan Jovan juga, kemudian Jovan menjawab jika dia akan makan apapun yang Rebecca siapkan. Sembari menunggu Jovan melihat-lihat seisi ruangan di rumah Rebecca.
"Ini foto bibi?" tanya Jovan.
"Iya, itu foto bibi saat kecil," jawab Rebecca menatap fotonya yang masih berusia 9 tahun.
"Mengapa mata birunya sama dengan mata birunya Chen? Sekilas jika aku menatap wajah bibi masa kecil ini, aku juga melihat Chen. Apakah mereka …." dugaan kuat Jovan hanya akan ia pendam sendiri sampai semuanya terbukti.
Jovanca Wang adalah anak dari sepupu Tuan Wang, ayah angkat Chen. Antara Chen dan Jovan memang sangat akrab, bahkan rahasia Chen yang bukan anak kandung dari keluarga Wang saja ia bisa mengetahuinya. Jovan juga tidak menyukai Cindy, dan selalu mengadu domba antara Cindy dan istri pertama dari Tuan Wang.
Apakah Jovan akan membantu, atau malah akan mempersulit Chen? Aku jawab, Jovan tetap akan membantu Chen karena Jovan membenci Cindy.