
Misi penyelamatan Leo tuntas. Mereka juga tidak menyangka akan dapat bonus menemukan Feng di tempat yang sama. Meninggalkan berhasilnya menyelamatkan Leo, Gwen dan Xia juga berhasil menemukan kamar dimana Ilkay ndak Rifky di kurung.
"Xia, bagaimana? Apa kau telah menemukan kamar mana yang ada Ilkay dan Rifky?" tanya Gwen.
"Aku rasa ada di dalam sini. Tapi, pintunya terkunci, Kak," jawab Xia. "Bagaimana dengan pria dan wanita itu?" tanya Xia kembali.
"Semua sesuai dengan apa yang kamu arahkan. Hmph, kau bahkan sudah tak ingin memanggilnya dengan sebutan, Ibu? Mengapa?" jawab Gwen.
"Aku malas membahasnya. Kak, bagaimana cara membuka pintunya? Aku takut jika anak kecil di dalam akan terkejut," ucap Xia mengalihkan pembicaraan.
Gwen mundur beberapa langkah, kemudian dengan satu tendangan, ia mampu mendobrak pintu. Ia melihat seorang pelayan membekap mulut Rifky. Tanpa pandang bulu lagi, Gwen menendang pelayan itu sampai tersungkur di tepi ranjang.
"Xia, kamu bawa mereka ke bawah. Ilkay, jangan takut, ikut Bibi Xia dan bawa Paman kecilmu bersamanya," perintah Gwen dengan wajah kesalnya.
"Baik, Bibi Gwen. Ayo Bibi Xia!" seru Ilkay. Kemudian Xia menggendong Rifky dan membawanya keluar.
Gwen hendak mengurus pelayan yang telah menyakiti adiknya. Sebelum Xia membawa kedua balita itu pergi, Gwen juga memintanya untuk menutup pintunya.
"Tangan mana yang kau buat untuk membekap adikku tadi, hah? Tangan mana!" bentak Gwen.
"Nona, kami hanya di suruh oleh Tuan. Kami tidak melakukan kesalahan apapun," dua pelayan itu bahkan sampai berlutut di hadapan Gwen.
"Cih, Tuan? Tuan yang mana yang kau maksud? Kau bekerja sudah lama di sini dengan di gaji dari Nyonya besar Lim, bukan dengan Jackson Lim. Mengapa kau sakiti anak dari Nyonya kalian sendiri, hah?" emosi Gwen sudah tidak bisa terkontrol lagi.
Baginya, tak ada yang boleh menyentuh sedikitpun adiknya dengan tangan jahat mereka. Gwen mencekik keduanya, "Kalian perempuan, mengapa setega ini dengan perempuan lain!"
"Jika Tuan mu menyuruhmu masuk sumur, apakah kalian juga akan melakukannya? Ini anak kecil, bayi! Mengapa kalian membekap nya dengan tangan dan kakinya juga diikat? Dimana hati nurani kalian!" Gwen terlanjut emosi, cekikan di leher kedua pelayan itu semakin kuat.
"Uhuk, uhuk, Nona, maafkan kami,"
"No-nona, tolong maafkan kami,"
Terlintas, seorang Agam berada dalam ingatannya. Gwen melepaskan cekikikan tangannya dengan melempar kedua pelayan itu di tepi ranjang.
"Astaghfirullah hal'adzim. Aku tidak boleh membunuh orang, aku tidak boleh membunuh orang," gumamnya.
Gwen kembali membuka matanya yang sebelumnya terpejam sesaat Agam melintas dalam pikirannya. Ia mengeluarkan belatinya yang masih ada noda darah Jackson Lim. Lalu, mengarahkan kepada dua pelayan itu.
"Berikan tangan kalian," desis Gwen, aura pembunuhnya keluar. Sehingga membuat kedua pelayan itu merasa ketakutan.
"Berikan!" bentak Gwen.
"Nona, maafkan kami,"
"I-iya, Nona. Tolong maafkan kami,"
Percuma kedua pelayan itu memohon. Gwen tak ingin mendengarnya karena mereka telah berbuat jahat kepada adik dan keponakannya.
"Aku akan memotong lidahmu jika kalian tidak memberikan tangan kalian masing-masing. Berikan!" tegas Gwen.
Dengan gemetaran, kedua pelayan itu memberikan satu tangan kanannya masing-masing. Dengan satu sayatan, Gwen melukai lengan keduanya. Kemudian menuangkan cuka di luka mereka.
"Shh, sakit--"
"Tolong, Nona. Hentikan semua ini, ini sangat sakit sekali," mohon kedua pelayan itu.
"Mengerti, Nona!"
Kedua pelayan itu pergi begitu saja. Mereka ketakutan, bahkan menurut mereka, Gwen lebih menakutkan daripada Jackson Lim sendiri.
***
Di bawah, Xia berhasil membawa Ilkay dan Rifky keluar. Saat memasuki mobil, ia melihat Jackson Lim dan Ibunya ada di depannya membawa orang-orangnya.
"Kak Chen, Kak Jovan, Kak Gwen! Cepat kemari!" panggil Xia sembari berteriak.
Segera ketiganya datang setelah selesai membereskan semua orang di dalam. Xia menggenggam tangan Ilkay dengan erat, juga menggendong Rifky dengan kencang.
"Xia, berikan penawar racun itu. Atau--"
"Atau apa? Kau sangat jahat! Aku membencimu!" sela Xia dengan emosinya.
"Anak kecil! Jangan main-main atau aku akan menembak anak laki-laki itu!" ancam Jackson Lim mengarahkan pistolnya ke arah Ilkay.
"Jangan berani! Atau aku akan membuat kalian hidup selamanya berdampingan dengan racun itu!" tantang Xia dengan berani.
"Xia," panggil Chen, Jovan dan Gwen secara bersamaan.
"Ambil mereka, Kak Gwen. Bawa mereka jauh-jauh dari orang jahat seperti mereka itu!" Xia memberikan Rifky dan Ilkay kepada Gwen.
Chen meminta Gwen memberikan Ilkay dan Rifky kepada Jovan untuk di bawa pulang terlebih dahulu. Namun sayang, mereka sudah terkepung oleh orang-orang suruhan Jackson Lim.
"Sial, mereka mengepung kita, Chen. Orang yang dikirim oleh keluarga Lim sangat sedikit, apa kita bisa menghadapinya?" bisik Jovan.
"Aku tidak ingin berkelahi di depan Ilkay. Tapi, jika kita tidak membereskan semua ini, bagaimana kita akan lolos?" sahut Chen.
"Tunggu apa lagi, ada Xia yang yang akan menjaga mereka," timpal Gwen. "Xia, kemarilah!" panggilnya dengan lirih.
Rifky kembali di pelukan Xia. Nampak bayi mungil itu nyaman dalam pelukan Xia. Tetap saja, Xia tidak tega melihat bayi sekecil itu menjadi korban keegoisan orang dewasa. Ia meminta susu yang ada di tangan Ilkay untuk diminum bayi mungil itu.
"Jangan biarkan semuanya lolos, kalian mengerti!" tegas Jackson Lim. "Hidup dan mati pun aku tidak peduli lagi, segera tangani mereka!" perintahnya dengan menahan sakit di lengannya.
Xia terus menatap Ibunya. Selama itu, Xia merasa bodoh terus mematuhi apa yang Ibunya katakan. Padahal, Jovan dan keluarga lainnya bisa menerimanya dengan baik jika dirinya berperilaku dengan baik. Hanya saja, Xia dibutakan oleh manjanya terhadap Ibunya.
Di saat semuanya berkelahi, ada seorang pria dengan memakai pakaian serba hitam dan mengenakan masker. Pria itu juga menggunakan topi, ia membantu Gwen dalam berkelahi. Ketika Gwen mengarahkan belatinya ke arahnya, pria itu menepisnya dan mampu merebut belati itu dari tangan Gwen.
"Sial, siapa kamu? Kenapa kamu mampu merebut belatiku?" sulut Gwen.
"Itu karena kamu tidak fokus!" jawab pria itu.
Pria misterius itu terus menyerang Gwen tiada henti. Namun tak sama sekali menyakitinya, bahkan ketika ada musuh lain saja pria itu membantu Gwen. Hanya saja, ia terus menyerang Gwen. Sampai Gwen memahami sesuatu, "Gerakan seni bela diri ini sama persis seperti Kak Aisyah. Meski memakai topi dan masker, dia adalah seorang pria. Bagaimana mungkin gerakannya sama persis?" gumam Gwen dalam hati.
Saat Gwen lengah, pria itu tiba-tiba menarik telinganya hingga membuat Gwen menjerit. "Aw, sakit tau!"
Mendengar Gwen menjerit, bukan dihentikan, pria itu malah tetap menjewernya dengan sedikit tenaga. Menarik Gwen dengan cepat menepi dan meminta Xia mengikutinya dengan kode tangannya.
"Hih, sakit! Lepaskan aku!" teriak Gwen.
Kesal, Gwen meronta agar pria itu melepaskan tangannya dari telinganya. Mendapat celah, Gwen berusaha meraih masker pria itu dan membukanya. "Mas Agam?"