
###Back to 18 Years Ago#
Aditya dan Cahya baru saja tiba dari berkunjung ke tempat tinggal baru Elea dan Danist. Cahya membawa banyak oleh-oleh untuk mereka dan merasa sangat senang karena Elea menemukan suami yang sangat baik seperti Danist dan mereka terlihat sangat berbahagia. Cahya baru tahu jika Ariel juga tinggal di depan rumah mereka, bahkan tadi dia sempat memarahi Aditya karena tidak memberitahjnya tentang hal itu.
Liburannya kemarin selama beberapa hari juga membuat Cahya sangat bahagia. Dia dan Aditya hanya menghabiskan waktunya di villa saja seharian, dan hanya akan keluar ketika ingin membeli makanan atau bahan makanan. Mereka menghabiskan waktu untuk berenang, berjalan-jalan di pantai, menonton film, bermain bersama Kyra dan Kyros.
Cahya selalu bersyukur memiliki Aditya yang begitu mencintainya. Dan berharap agar selalu bisa bersama Aditya selamanya hingga maut memisahkan mereka. Selalu berbahagia dan membesarkan Kyra dan Kyros sampai kedua bayi itu dewasa nanti. Cahya tidak bisa hidup tanpa Aditya walau hanya sehari saja, dan ingin selalu bersamanya saat Aditya kembali dari kantor. Cahya merasa saat ini hidupnya sangatlah bergantung pada Aditya, karena lelaki itu selalu mengerti apa keinginannya dan berusaha membuatnya selalu bahagia setiap detiknya. Cahya ingin kebahagiaannya dan Aditya bertahan selamanya dan tidak ada lagi yang berusaha menghancurkan kehidupan mereka.
Selama perjalanan kembali dari rumah Danist dan Elea, Cahya tidak melepaskan pegangan tangannya pada jemari Aditya yang ada disampingnya dan sedang fokus mengemudi. Sementara Kyra dan Kyros ada di car seat mereka di belakang. Aditya mendapat panggilan dan mengambil earphone kemudian mengangkatnya.
"Ya....!" Jawab Aditya.
"Apa....!!!!? Bagaimana bisa??? Oke aku akan kesana sekarang tetapi aku akan mengantar istri dan anakku pulang lebih dulu, akan sampai dalam beberapa jam" Aditya kemudian menutup teleponnya.
Wajah Aditya berubah menjadi kesal, membuat Cahya menanyakan apa yang terjadi. Aditya memberitahu jika ada permasalahan dan dia harus menemui seseorang untuk menyelesaikannya, setelah ini dia harus berangkat ke luar kota.
"Apa harus sekarang??? Ini sudah malam sayang, tidak...!! Aku tidak akan mengijinkanmu, kita juga baru sampai disini siang tadi, kau pasti lelah sekali"
"Tidak bisa, aku harus menyelesaikannya sekarang, aku akan mengantarmu dan anak-anak pulang, kau langsung istirahat ya???"
"Apa kau benar-benar tidak bisa menundanya sampai besok???" Tanya Cahya lagi.
Aditya justru menggelengkan kepalanya dan tersenyum meminta pengertian istrinya. Cahya menyarankan agar Aditya menghubungi Marco agar bisa mengantarnya, tetapi Aditya menolak karena tidak ada waktu untuk menunggu kedatangan Marco.
Sampailah mereka dirumah, Aditya memanggil asisten rumah tangganya agar membantu Cahya membawa Kyra ataupun Kyros masuk ke dalam rumah. Aditya memegang kedua bahu Cahya dan tersenyum dengan sangat manis menatap wajah cantik istrinya. Sementara Cahya tidak berekspresi apapun, entah kenapa dia memiliki firasat yang sangat buruk. Cahya memasang wajah memelas agar Aditya tidak pergi sekarang dan pergi besok saja, tetapi Aditya tetapi tidak bisa melakukannya karena ini sangat urgent.
"Jangan khawatirkan apapun, aku akan segera kembali nanti, kau istirahat dan jaga anak-anak, aku sangat mencintaimu" Ucap Aditya lalu mengecup kening Cahya dan memeluknya sangat erat.
Ada perasaan aneh yang menggelayuti Cahya, entah kenapa dia merasa tidak rela melepaskan Aditya pergi, bathinnya menolak keras tetapi suaminya itu tetap memaksa harus pergi dan tidak bisa di tunda. Cahya tidak bisa berbuat banyak selain membiarkan Aditya pergi.
Aditya mencium kedua bayinya dan mengusap kening mereka kemudian masuk ke dalam garasi dan menyalakan mobil kantor yang sementara ini dibawanya pulang. Keluar dari garasi, Aditya menurunkan kaca pintu mobil itu dan melambaikan tangan ke Cahya yang tengah menggendong Kyros dan Kyra ada di gendongan asisten rumah tangganya. Tiba-tiba airmata Cahya menetes di pipinya, dia menyekanya dengan cepat dan tidak mengerti kenapa dia menangis saat Aditya pergi, padahal biasanya tidak seperti ini.
******
Setelah menempuh perjalanan hampir 2 jama, Aditya akhirnya sampai di sebuah restoran untuk menemui kliennya yang tiba-tiba ingin memutuskan kerja sama dengan cabang perusahaannya yang ada di kota inj tanpa alasan yang jelas. Tentu Aditya tidak bisa membiarkan itu terjadi begitu saja, dia harus bisa meyakinnya agar tetap menjalin kerjasama dengannya. Ternyata direktur dari cabang perusahaannya disini tidak bisa meyakinkan orang itu dan meminta agar Aditya datang sendiri menemuinya karena jika tidak, besok perusahaan itu akan menghentikan kontrak kerjasamanya.
Aditya turun dari mobilnya dan bergegas masuk ke restoran itu dengan terburu-buru. Saat Aditya sudah masuk, muncullah seorang laki-laki dari arah lain dan berjalan menuju mobil Aditya dengan mengendap. Dia telah ditugaskan untjk melancarkan aksinya dengan memutus rem mobil Aditya sehingga membuat lelaki itu mengalami kecelakaan. Setelah mendekati mobil Aditya, dia duduk berjongkok dan masuk ke kolong mobil Aditya dengan membawa gunting di tangannya. Dengan bantuan senter dari ponselnya lelaki itu akhirnya menemukannya dan tanpa pikir panjang langsung memotongnya setelah itu dia keluar dari kolong dan berjalan menyebrang ke sisi jalan raya dimana disana dia sudah ditunggu oleh seseorang yang akan membayarnya.
****
Setelah bernegosiasi dengan cukup alot, akhirnya pria itu membatalkan niatnya untuk mengakhiri kerjasama dengan perusahaan Aditya. Aditya merasa sangat senang sekali, dan mereka saling berpamitan untuk pulang. Aditya masuk ke mobilnya lalu teringat bahwa dia harus memberitahu Cahya kalau dia akan segera pulang. Aditya mengirim pesan pada istrinya itu agar tidak terlalu khawatir, setelah itu Aditya mulai menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan area restoran itu.
"Sepertinya aku harus sampai rumah lebih cepat, mungkin lebih baik aku mencari jalur alternatif saja daripada harus menembus kemacetan, Cahya pasti akan sangat khawatir jika aku tidak lekas sampai dirumah" Aditya membelokkan mobilnya ke arah jalan lain yang nanti akan tembus ke jalur alternatif walaupun dia tahu bahwa jalur itu dikelilingi oleh jurang dan hutan tetapi akan lebih cepat sampai.
Aditya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, walaupun ingin sampai rumah tetapi dia harus fokus ke jalan dan berhati-hati. Ada tikungan yang cukup tajam di depan dengan turunan juga , perlahan Aditya membelokkan mobilnya tetapi tiba-tiba ada sebuah mobil di depannya yang berhenti mendadak membuat Aditya terkejut dan langsung mencoba menginjak rem mobilnya. Aditya panik saat menyadari rem mobilnya blong, karena sudah dekat dan sisi kanan sedang ramai kendaraan membuat Aditya membanting stir ke kiri dan mobilnya otomatis menabrak pembatas jalan. Sayangnya karena ini jalan turunan, mobil Aditya melaju dengan sangat kencang. Tak disangka justru pembatas jalan itu putus dan membuat mobil Aditya terjun bebas ke jurang.
Aditya berusaha melepaskan seat beltnya dan keluar dari mobilnya saat berhasil keluar, tubuhnya justru terlempar. "Cahya.....!!!!!" Teriak Aditya lalu seketika mejadi gelap dan tubuh Aditya berguling-guling jatuh ke dalam jurang.
###
Cahya yang tengah duduk di tempat tidur terlonjak saat frame besar yang berisi foto pernikahannya dengan Aditya jatuh dari dinding. Saat itu pula Kyra dan Kyros yang sedang tidur dikamar mereka menangis dengan sangat keras. Cahya bergegas menyusul mereka dan mencoba menenangkannya. Saat itu juga Cahya menjadi teringat akan Aditya, dan hatinya semakin tidak tenang.
Tangisan Kyra dan Kyros semakin menjadi-jadi, membuat Cahya bingung harus bagaimana, biasanya Aditya selalu membantunya menangkan mereka berdua. Untungnya Asisten rumah tangganya masuk ke kamarnya dan mencoba membantunya. Sayangnya sudah cukup lama mereka berdua menangis tetapi tetap tidak mau berhenti membuat Cahya semakin gusar. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Ibunya agar bisa datang karena dia tidak bisa menghentikan tangisan kedua bayinya.
Cahya juga berharap Aditya bisa segera sampai di rumah mengingat suaminya itu sudah memberitahunya bahwa sedang dalam perjalanan pulang. Cahya mencoba menepis pemikiran buruknya tentang Aditya walaupun hatinya masih tidak tenang.
Kurang dari satu jam, Ibu Cahya datang dan membantu putrinya. Beruntungnya Kyra dan Kyros mau menghentikan tangisan mereka setelah berbagai bujukan dilakukan oleh Cahya, kedua bayi itu akhirnya kembali tidur. Sambil terisak Cahya mencurahkan isi hatinya bahwa sejak kepergian Aditya, dia merasa cemas sekali. Dengan lembut Ibunya mencoba menenangkannya bahwa semua itu hanya sebuah ketakutan dan Aditya pasti akan segera pulang.
Sayangnya hingga dini hari tidak ada kabar dari Aditya. Cahya mencoba terus menghubunginya tetapi ponsel Aditya tidak aktif. Cahya sama sekali tidak bisa tidur dan merapalkan doa bagai mantra agar Aditya bisa segera pulang.
******
Pagi menjelang, Aditya masih belum juga kembali. Cahya semakin gusar dan terus menangis membuat Ibunya sangat khawatir. Ibu Cahya kemudian berinisiatif menghubungi Randy menanyakan apakah tahu dimana Aditya karena sejak semalam menantunya itu tidak kunjung pulang dan Cahya tidak berhenti mengkhawatirkannya. Randy berjanji akan mencoba menghubungi Aditya dan akan mencaritahu dimana keberadaan sahabatnya itu.
Usaha Randy juga tidak berhasil untuk menghubungi Aditya, dia langsung berganti menghubungi Ariel dan memberitahunya tentang Aditya. Akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke rumah Aditya dan mencaritahu apa yang sebenarnya terjadi, mungkin setelah itu mereka bisa menemukan petunjuk keberadaan dari Aditya.
Ariel membuka garasi mobilnya dari dalam, dan sedikit terkejut melihat Elea sedang menggendong Gienka berjalan memasuki halaman rumahnya. Ariel kemudian menghampiri mereka. "Hai sayangnya Papa..! Ada perlu apa pagi-pagi sudah kesini???" Tanya Ariel sambil mentoel pipi Gienka.
"Dia sejak tadi menunjuk ke arah rumahmu membuatku harus mengantarnya kesini, kau mau pergi kemana sepagi ini???" Tanya Elea.
"Aku akan ke rumah Aditya, tadi Randy memberitahuku bahwa sejak semalam Aditya tidak pulang dan Cahya sangat mengkhawatirkannya"
"Adit tidak pulang?? Memangnya kemana dia pergi?? Semalam dia dan Cahya datang kesini dan mereka pulang bersama"
"Aku tidak tahu El apa yang terjadi, itu sebabnya aku akan kesana dan mencaritahu, ponsel Aditya sama sekali tidak bisa di hubungi"
"Cahya pasti khawatir sekali, ya sudah kau berangkat saja, aku akan menyusul kesana"
"Ikut saja denganku, kita pergi bersama, biarkan Gienka di rumah bersama Mama"
Elea mengangguk dan membawa Gienka pulang juga memberitahu Danist agar bisa ikut ke rumah Aditya bersamanya juga Ariel.
*****
Mobil Ariel memasuki gerbang rumah Aditya dan mobil Randy ternyata sudah berada disana. Saat itu juga Randy keluar dari dalam rumah Aditya sambil meletakkan ponselnya di telinganya menandakan bahwa dia sedang sibuk menghubungi seseorang.
"Apa yang terjadi Ran???" Tanya Ariel.
"Adit pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan tetapi dia tidak memberitahu detailnya pada Cahya kemana dia pergi, dan dia sempat mengirim pesan bahwa dia sedang ada di jalan menuju pulang tetapi tidak kunjung datang sampai sekarang!"
"Kemana perginya Adit???" Gumam Ariel.
Belum sempat berpikir, security terlihat membuka gerbang lagi dan ada sebuah mobil polisi yang memasuki halaman rumah ini. "Apa kau yang menghubungi polisi??" Tanya Ariel lagi.
Randy menjawab belum sempat untuk menghubungi polisi, dan sebenarnya baru akan. Tetapi jika melihat kedatangan mereka pasti telah terjadi sesuatu dan mereka akan menginfokannya. Ariel dan Randy menyambut mereka. Salah seorang polisi itu memberitahu bahwa telah terjadi sebuah kecelakaan tunggal yang menyebabkan sebuah mobil terjatuh ke jurang. Setelah melakukan pencarian ditemukan dompet berisi identitas atas nama Aditya. Polisi itu menunjukkan sebuah foto pada Randy dan Ariel dari ponselnya dan mengiyakan bahwa itu adalah milik Aditya sahabat mereka.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Adit???" Tanya Randy.
"Itu sebabnya kami datang kesini pak, sampai detik ini kami tidak menemukan seorangpun yang ada di dalam mobil itu, sepertinya pengemudinya berhasil keluar dari dalam mobil, jurang itu cukup dalam mungkin yang bersangkutan terlempar dan saat ini sedang dalam pencarian"
Detik itu juga Randy, Danist dan Ariel saling berpandangan dalam diam. Aditya kecelakaan dan belum ditemukan membuat mereka bertiga tidak bisa mengatakan apapun karena shock. Polisi siap mengantar mereka ke tempat kejadian untuk melihat kondisi yang ada disana, dan juga ingin mendapatkan informasi dari pihak keluarga tentang ciri-ciri Aditya, seperti pakaian apa yang dipakainya sebelum pergi.
Randy kemudian mengajak polisi itu untuk masuk ke dalam dan menemui Cahya selaku istri dari Aditya. Cahya sedang duduk diruang tamu ditemani oleh Ibunya dan Elea juga Chitra. Melihat kedatang polisi, Cahya semakin ketakutan dan cemas.
Dengan berat hati Randy menyampaikan maksud dari kedatangan polisi kesini dimana mereka ingin memberitahu bahwa Aditya semalam mengalami kecelakaan dan mobilnya jatuh ke jurang. Cahya berteriak histeris dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Randy tentang Aditya.
****###****
Seperti kegiatannya sehari-hari, langkahnya pelan dan kepala nya mendongak ke atas, melihat ke pohon, setelah itu melihat kondisi di bawah untuk menemukan burung-burung. Memasang jebakan dan menangkap burung adalah pekerjaan Hamdan sehari-hari. Kali ini dia akan menyusuri sekitaran telaga untuk memasang jebakan burung. Dia biasa mencari burung di hutan untuk kemudian dia bawa ke pasar dan menjualnya. Butuh berhari-hari bagi nya mencari burung, jika sudah terkumpul baru dia kembali pulang. Letak rumahnya dengan hutan berkilo-kilo meter karena masuk ke dalam bahkan dia juga membuat bivak untuk tempatnya bermalam di hutan. Pekerjaan ini sudah dia lakukan bertahun-tahun jadi dia tidak pernah merasa kesulitan dan ini sudah jadi kebiasaannya.
Dia berjalan dengan berhati-hati karena kondisi tanah di sekitar telaga cukup lembek sehingga kaki nya juga terendam lumpur saat berjalan. Perlahan menyusuri tepian telaga sambil memasang beberapa perangkap. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika dia mendapati ada sesuatu yang besar seperti orang-orangan sawah atau boneka. Dia mengira mungkin itu boneka orang-orangan sawah tetapi bagaimana bisa ada disini, mengingat tidak ada perkebunan atau persawahan yang ada disini. Hamdan mencoba mendekatinya.
Ketika sampai disana, betapa terkejutnya dia karena itu bukan boneka atau orang-orangan sawah melainkan manusia. Posisi nya terbaring, kepala nya ada di tepian telaga, setengah badannya terendam di dalam air. Bergegas dia menolong lelaki itu dengan menyeret tubuhnya ke tepi. Dia sempat mengira bahwa lelaki itu sudah meninggal tetapi ada napas yang keluar dari hidungnya yang mengartikan bahwa lelaki itu masih hidup. Banyak luka di tubuhnya dan entah bagaimana lelaki itu bisa berada di dalam telaga yang ada di tengah hutan seperti ini.
Hamdan mencoba menyadarkan Aditya tetapi tidak ada reaksi sama sekali. Seluruh pakaian Aditya basah kuyup, dan luka juga ada dimana-mana. Hamdan harus segera membawa Aditya menjauh dari telaga agar tubuhnya tidak semakin kedinginan. Doa berusaha keras menarik Aditya, dan dia harus membawa nya ke bivak, dimana disana lebih aman dan dia bisa membuat api unggung untuk menghangatkan tubuh Aditya yang saat ini dingin sekali.
Setelah sampai di tepian, Hamdan berusaha menggendong Aditya sekuat tenaga nya mengingat tubuh Aditya yang tinggi dan badannya kekar dan berisi. Langkahnya pelan dan sesekali harus berhenti untuk mengatir napas karena Aditya cukup berat. Butuh hampir satu jam untuk sampai di bivak yang menjadi tempat istirahat Hamdan. Dia meletakkan Aditya di luar bivak untuk sementara agar nanti bisa membuat api unggun di dekat tubuh Aditya agar hangat. Sebelum membuat api unggun, Hamdan melepaskan pakaian Aditya yang basah kuyup dan memakaikan pakaian ganti miliknya kemudian menyelimuti Aditya. Setelah itu Hamdan baru membuat api unggun sambil merebus air untuk membersihkan tubuh Aditya dari kotoran yang menempel di sekitar luka nya sebelum nanti memberikan Rivanol dan Betadine di luka-luka itu. Dia memang selalu membawa Betadine, Rivanol dan plester saat mencari burung di hutan, itu sangat berfungsi ketika dia tidak sengaja terluka karena duri dari tumbuhan. Ada juga plester yang dia bawa.
Api sudah menyala, dan Hamdan berharap tubuh Aditya menghangat dan tidak pucat seperti sebelumnya. Kemudian dia merebus air dalam teko lalu mengambil obat-obatan yang di bawa nya seperti cairan rivanol, betadine, plester dan kapas. Selain luka, Aditya juga mengalami patah tulang di bagian punggungnya serta bengkak di lengan kanannya. Entah apa yang terjadi sehingga Aditya bisaseperti itu.
Hamdan nengangkat Air yang sudah mendidih, kemudian menuang ke sebuah mangkuk dan mengipasi nya agar jadi hangat, baru kemudian membersihkan kotoran di sekitar luka luka Aditya baru kemudian memberi nya cairan anti bakteri dan betadine.
******
Hari berlalu, sudah seminggu kejadian itu terjadi, dan masih tidak ada kabar apapun tentang keberadaan Aditya. Saat kesana dan melihat secara langsung kondisi mobil Aditya yang sudah ringsek parah. Tidak ada satupun petunjuk yang bisa menemukan keberadaan Aditya. Bahkan polisi juga sudah menerjunkan anjing pelacak untuk membantu mereka menemukan Aditya, sayangnya itu juga gagal.
Kedua orangtua Aditya juga langsung pulang bersama dengan Adri saat mereka mendengar kabar buruk itu. Kondisi Cahya begitu buruk, kantung matanya menghitap karena tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak dan terus menangis ketika ingat Aditya. Bahkan tubuhnya juga terlihat lebih kurus karena Cahya menolak makan apapun. Begitu juga dengan Nyonya Harry, walaupun dia terlihat kuat diluar tetapi sebenarnya dia juga merasa sangat hancur, mencoba bertahan untuk merawat kedua cucunya bersama dengan Ibu Cahya, karena Cahya sendiri larut dalam kesedihannya dan hanya berdiam diri ruang kerja Aditya dan menatap kosong ke arah meja kerja suaminya itu. Psikiater juga datang setiap hari untuk memeriksa keadaan mental Cahya, mengingat Cahya pernah mengalami riwayat tentang mentalnya yang terjadi karena dia terlalu sedih akan suatu hal.
Randy dan Ariel juga berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan petunjuk sekecil apapun tentang keberadaan Aditya. Bahkan mereka berdua pasrah dengan kenyataan paling terburuk tentang Aditya, bagi mereka yang terpenting adalah Aditya bisa ditemukan dalam keadaan apapun. Randy dan Ariel juga terpaksa tinggal sementara di rumah Aditya sambil terus memantau kabar tentang sahabat mereka itu. Sayangnya masih tetap tidak ada kabar apapun tentang keberadaan Aditya. Bahkan hal yang paling menyakitkan adalah saat mendengar kabar bahwa mungkin Aditya sudah dimangsa oleh hewan yang ada di tempat itu, mengingat jurang itu begitu lebat dengan semak belukar dan pohon-pohon. Ariel dan Randy juga yang lainnya berharap sekali agar bisa menemukan keberadaan Aditya.
###
4 Tahun Kemudian......
Kyros tengah bermain menyusun planet-planet mainan yang sangat dia sukai tetapi karena terlalu fokus, tidak sengaja dia menyentuh kotak tempat mainan itu dan membuat salah satu planet mainan yang ada disampingnya itu menggelinding di bawah meja. Saat akan menancapkan planet jupiter itu ke tempatnya, Kyros mulai bingung karena tidak menemukannya. Dia berpikir mungkin ada yang sudah menyembunyikan itu darinya karena tadi berada di sebelahnya, dia pun mulai memandang sekelilingnya dan menemukan Kyra sedang sibuk mewarnai bukunya, sedangkan Cahya sibuk membaca buku. "Mereka sejak tadi ditempatnya, lalu kemana jupiterku pergi???" Gumam Kyros dengan suara polosnya dan matanya melirik ke berbagai penjuru ruangan itu.
"Ky....! Apa yang sedang kau cari sayang???" Suara Aditya membuyarkan kesibukan yang sedang dilakukan Cahya dan Kyra.
"Jupiterku hilang, apa Apap tahu dimana dia bersembunyi???" Tanya Kyros dengan polosnya.
"Mungkin dia bersembunyi di suatu tempat, baiklah Apap akan membantumu mencarinya, jika Apap yang menemukannya, apa yang akan Ky berikan untuk Apap?"
"Aku tidak memiliki apapun, permen dan cokelatku ada di kamar, nanti kuberikan itu untuk Apap"
Aditya terkekeh dan membungkukkan punggungnya lalu mengambil sesuatu yang ada di sebelah kakinya. Aditya kembali mengangkat punggungnya dan menunjukkan sesuatu yang dipegangnya pada bocah kecil itu sambil tersenyum. "Jupitermu ada ditangan Apap tetapi Apap tidak ingin permen ataupun cokelat, berikan ciuman manismu disini" Aditya menepuk pipi kanannya.
Seperti yang biasa terjadi setiap malam, Aditya adalah pendongeng terbaik untuk kedua jagoan kecilnya itu. Mereka tidak mau lagi mendengar cerita dongeng dari Cahya, dan mengatakan bahwa suara Ibunya itu tidak cocok untuk menirukan suara pangeran berkuda. Juga karena Cahya selalu kesulitan menjawab berbagai pertanyaan yang dilontarkan Kyros tentang berbagai benda antariksa. Kyros sangat menyukai semua hal itu membuat Cahya selalu menyerah saat ada pertanyaan tentang itu dan melemparkannya pada Aditya.
****
Cahya berdiri di depan pintu kamar Kyra dan Kyros, memandang diam ke arah Aditya yang sedang berbaring memeluk Kyra sambil membacakan sebuah buku dongeng, sementara Kyros sudah mulai memejamkan matanya memeluk guling yang ada disampingnya. Cahya teringat musibah yang menimpa keluarga kecilnya 4tahun silam. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Aditya dan membuat hidupnya bagai di neraka tanpa Aditya selama lebih dari seminggu. Pencarian dihentikan di hari ke tujuh membuatnya dan yang lainnya semakin hancur saat itu, rasanya seperti langit runtuh dan menimpanya.
Hingga akhirnya di hari ke sembilan sebuah keajaiban besar terjadi, Randy mendapati ponsel Aditya aktif tetapi tidak ada yang mengangkatnya. Beberapa kali dia berusah menghubunginya tetapi tersambung dan tiba-tiba putus, begitu terus menerus sampai akhirnya ponsel itu diangkat tetapi tidak ada suara apapun yang terdengar disana. Randy kemudian memutus panggilannya dan berganti menghubungi kepolisian untuk memberitahu hal ini, selain itu Randy juga akan mencoba melacak keberadaan ponsel itu.
Saat menghubungi kepolisian, kejutan kembali tejadi, polisi mengatakan bahwa mereka menerima laporan dari polsek lain jika ada seorang pria paruh baya mendatangi mereka dan memberi tahu jika dia menemukan seorang laki-laki di tepian telaga saat dia sedang mencari burung. Tetapi tidak memungkinkan untuk membawanya keluar dari hutan itu, mengingat dia sudah cukup renta dan butuh waktu yang lama untuk menembus hutan, selain itu kondisi laki-laki itu sangat parah dan sepertinya mengalami patah tulang dibeberapa bagian tubuhnya. Mendengar itu Randy segera menghubungi Ariel dan yang lainnya mengabarkan hal ini. Bergegaslah mereka pergi ke tempat dimana mereka semua menerima laporan itu.
Karena alasan keamanan dan perjalanan harus memasuki hutan, Randy melarang seluruh anggota keluarga Aditya untuk ikut dalam pencarian itu kecuali Adri. Saat itu bersama dengan kepolisian dibantu beberapa tim rescue serta Randy, Ariel, Adri, Danist dan Yongki juga pria tua itu memasuki hutan untuk menuju ke tempat dimana saat ini Aditya berada.
Pertanyaan besar muncul selama perjalanan itu tentang alasan kenapa pria tua itu baru melaporkan jika dia menemukan Aditya setelah lebih dari seminggu setelah kejadian itu. Jawaban dari pria tua itu adalah karena dia tidak bisa meninggalkan Aditya dengan kondisinya yang seperti itu di tengah hutan sendirian, dan mencoba merawatnya semampunya dengan rivanol, betadine serta plester yang dia miliki karena memang itu yang dibawanya ketika pergi ke hutan untuk mencari burung, karena dia sering terluka terkena duri ataupun ranting pohon. Aditya saat ini berada disebuah gubuk yang biasa pria itu gunakan untuk beristirahat setelah mencari burung.
Saat ditemukan, setengah tubuhnya berada di dalam air, hanya kepala dan setengah tubuh sebelah kanan ada di tepian telaga, mungkin itu juga yang membuat Aditya masih bernyawa. Di 3 hari pertama setelah ditemukan, Aditya tidak membuka matanya sama sekali. Hingga akhirnya Aditya bisa membuka matanya tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali, juga tidak bisa berbicara dan hanya menitihkan airmatanya saja. Semakin hari kondisinya sedikit membaik, walaupun masih sangat lemah dan tidak bisa bergerak.
Hari itu ketika melihat kondisi Aditya cukup baik, pria tua itu memutuskan akan meninggalkan Aditya untuk mencari bantuan dan menyuruh Aditya agar tetap disana saja sampai dia kembali. Tetapi sebelum pergi, dia menunjukkan sebuah ponsel ke Aditya dan mengatakan bahwa ponsel itu dia temukan di saku celana Aditya, sayangnya ponsel itu sepertinya terendam air dan tidak menyala, membuatnya sempat mengeringkannya dibawa sinar matahari berharap akan menyala, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya menggunakan ponsel itu dan menganggapnya rusak. Kemudian meletakkannya di samping Aditya, dan dengan berat hati dia harus tetap pergi mencari bantuan diluar hutan.
Dan dalam versi Aditya, saat pria tua itu meninggalkannya sendirian di dalam gubuk itu, dia berusaha meraih ponselnya dan dengan susah payah sambil merintih dan berdoa didalam hati, dia menekan tombolnya agar mau menyala. Akhirnya ponsel itu mau menyala juga. Aditya mencoba melirik ke arah ponselnya dan menyadari tidak ada jaringan sama sekali, sesekali muncul itupun sangat lemah. Beberapa kemudian ponselnya berkedip dan ada nama Randy disana, dia berusaha mengangkatnya tetapi panggilan itu sudah terputus akibat jaringan yang terlalu lemah. Lalu ketika berhasil Aditya mencoba mengeluarkan suaranya dan terdengar Randy hanya mengatakan hallo dan terus memanggil namanya. Itu berlangsung beberapa menit tetapi akhirnya Randy memutus telepon itu. Dari situ Aditya menyadari bahwa mungkin speaker ponselnya rusak entah karena gesekan atau karena air, sehingga membuat speakernya rusak, dan tidak bisa mendengar suaranya tetapi dia bisa mendengar suara Randy dengan sangat jelas.
Perjalanan panjang yang sangat melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil. Mereka sampai di gubuk kecil itu dan Adri langsung berlari dengan cepat agar bisa segera menemui Aditya. Hal yang pertama dilakukan Adri adalah memeluk Aditya sambil menangis karena keadaan kakaknya yang begitu memprihatinkan. Aditya segera mendapatkan pertolongan awal dan di cek seluruh tubuhnya, banyak sekali luka dan beberapa tulangnya juga patah. Dengan segala pertimbangan yang ada, tidak memungkinkan membawa Aditya dengan tangan kosong untuk menembus hutan. Atas inisiatif Yongki, Aditya sebaiknya dibawa oleh helikopter tetapi mereka harus mencari dan membuat lokasi untuk pendaratan darurat.
Butuh sekitar 3 jam hingga akhirnya helikopter itu datang, tempat pendaratan darurat juga sudah disiapkan dengan membabat semak belukar. Penyelamatan yang cukup dramatis dengan kondisi Aditya yang begitu lemah. Setelah keluar dari hutan, Ambulance sudah menunggu juga keluarga Aditya lainnya, kemudian Aditya langsung dibawa ke rumah sakit.
Cahya merasa sesak dan sakit sekali rasanya saat itu melihat keadaan Aditya, luka memenuhi sekujur tubuhnya, bahkan wajahnya bengkak dan membiru. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Aditya membuka matanya dan tersenyum saat melihatnya. Setelah kondisi Aditya cukup stabil, keluarga memutuskan membawanya ke Rumah sakit di Singapura untuk penanganan yang lebih baik.
Lebih dari satu bulan Cahya setia merawat Aditya disana, dia juga terpaksa memboyong Kyra dan Kyros dan menyewa apartemen untuk ditinggali sementara. Bahkan setelah perawatan yang cukup panjang di rumah sakit itu, mereka membawa Aditya pulang. Bukan pulang ke rumah, Cahya membawa Aditya pulang ke villa mereka di pulau dewata, bukan karena apa tetapi lebih tepatnya Cahya ingin Aditya merasa tenang dan nyaman karena suasana disana sangatlah bagus untuk masa recovery Aditya. Dan Aditya juga harus melakukan beberapa terapi setiap minggunya, sampai dia benar-benar sembuh dan kembali normal seperti sedia kala. Suasana yang begitu mendukung membuat Aditya pulih lebih cepat. Cahya dengan sabar selalu membawa Aditya jalan-jalan di area villa mereka dengan kursi roda. Melihat matahari tenggelam, atau duduk bersama di bale melihat Kyra dan Kyros bermain di depan mereka. Tentunya dengan bantuan dari Ibunya dan Mama mertuanya untuk mengurus kedua bayi itu. Setelah melewati semua kesulitan itu, Aditya bisa kembali lagi bekerja, bermain bersama Kyra dan Kyros.
*****
Karena mengingat itu, tidak sadar Cahya menitihkan airmatanya dan dia sedikit terlonjak saat Aditya menyentuh pundaknya. Dengan cepat Cahya menyekanya dan tersenyum.
"Kau menangis lagi, pasti kau sedang mengingatnya lagi, aku sudah sering katakan padamu, jangan pernah mengingatnya lagi" Gumam Aditya.
Cahya memeluk Aditya sangat erat. "Aku tidak bisa melupakannya begitu saja!"
"Sudahlah, aku ada disini bersamamu dan anak-anak, ayo beristirahat, besok kita harus mulai mempersiapkan semuanya untuk persiapan pernikahan adik kita" Aditya menutup pintu kamar Kyros dan Kyra lalu mengajak Cahya untuk pergi beristirahat.
###Back now
Sebuah ketukan pintu membuyarkan obrolan Kyros dan Aditya. Sekretaris Aditya menenteng kantong plastik. "Maaf Pak Aditya, ini pesanan bapak, supir tadi yang mengantarnya..!"
"Oh sudah sampai ya, terima kasih, kau sudah memberi nya uang??? Dan apakah dia sudah mengantarkannya ke kantor istriku??? Tanya Aditya.
"Sudah pak. sudah di antar ke kantor bu Cahya, saya juga sudah memberi nya uang..! Dan ini ada juga titipan dari bu Cahya untuk pak Aditya dan tuan muda Kyros...!"
"Baiklah, ambil ini untuk mengganti uang mu, terima kasih..!" Aditya menyodorkan uang 2 lembar pecahan seratus ribu kepada sekretarisnya itu.
Setelah sekretarisnya pergi, Aditya dan Kyros langsung menuju mini bar yang ada di ruangan Aditya. Kyros mengambil piring serta gelas dan menuang air untuknya dan juga Apap nya. Sedangkan Aditya membongkar kantong plastik dan juga paperbag yang berisi sesuatu dari Istri nya.
"Apa yang di kirim Amam Pap??" Tanya Kyros sambil meletakkan piring ke atas meja bar.
"Pudding...! Amam mu mengirim puding, puding dari bakery milik Mama nya Sanne... Karena tahu kalau kau sejak dulu sangat menyukai nya..! Ada jus delima dan semangka juga..!" Jawab Aditya.
"Wah... Amam memang yang terbaik...!" Ucap Kyros.
Aditya membuka bungkus nasi padang dan meletakkannya di piring. Dia melihat mana miliknya dan mana yang milik Kyros. Mengingat dia sangat menyukai rendang dan telur dadar, sedangkan Kyros menyukai kikil dan perkedel kentang. Ayah dan Anak mulai menikmati makan siang mereka. Kedua nya terlihat kompak dengan tidak memakai sendok saat menikmati nya.
"Pap... Nanti Ky akan jemput Kyra di sekolah nya ya??? Boelh tidak???"
"Tentu saja, kau bisa menjemput adikmu, pergilah bersama supir.. Kau bisa langsung pulang bersama adikmu, Apap nanti akan menjemput Amam mu...!"
"Iya Pap...!"
"Kau jadi ikut liburan adikmu??"
"Jadi dong Pap, mumpung aku disini, aku juga ingin jalan-jalan"
Aditya tersenyum dan meminta agar Kyros bisa menjaga Kyra, Gienka dan Louis serta Sanne, mengingat dia yang tertua di banding lainnya. Selain itu, Aditya tetap akan menyuruh bodyguard ikut bersama mereka, untuk berjaga-jaga. Aditya tidak mau mengambil resiko apapun yang bisa saja terjadi kepada anak-anaknya serta teman-teman mereka.
"Iya Papa, Ky mengerti, yang lain juga pasti tidak akan masalah dengan hal itu..!"
"Apap sudah berbicara dengan Ariel dan Randy juga Vitto mengenai bodyguard yang akan mengawasi kalian nanti, mereka setuju, nanti ada 3 bodyguard yang akan bersama kalian, jangan khawatir, adanya mereka tidak akan mengganggu aktifitas liburan kalian, mereka akan mengawasi kalian dari jauh..!"
Kyros mengangguk dan mengerti. Ya, memang sejak dia pindah ke luar negeri, tidak ada bidyguard yang bersama nya tetapi Kyros tahu bahwa Apap nya tetap membayar seseorang untuk mengawasi segala kegiatannya dari jauh, tetap memastikan keamanannya walaupun negara yang di tinggali nya minim dengan kejahatan. Semua itu di lakukan untuk kebaikannya, bukan hanya mencegah kejahatan tetapi juga untuk pertolongan pertama jika terjadi sesuatu. Sementara Kyra disini masih harus dalam penjagaan bodyguard, di karena kan Apap nya tidak ingin seluruh anggota keluarga nya menjadi sasaran dari orang-orang yang tidak menyukai Apap nya, mengingat Apap nya seorang pebisnis yang sukses sehingga terkadang ada rival bisnis nya yang berusaha mencelakai keluarga nya. Seperti hal nya kejadian yang hampir merenggut nyawa Apap nya sendiri dulu.
Mereka berdua sangat menikmati makan siangnya. Kyros merasa senang sekali bisa menikmati lagi makanan daerah setelah tinggal beberapa tahun di luar negeri. Rasa nya tentu jauh lebih enak disini karena menurutnya sangat original. Dia sejak kecil juga sudah di biasakan oleh Amam dan Apap nya untuk bisa menikmati segala macam makanan terutama masakan rumahan yang menjadi faforit dari Amam nya. Kyra sebenarnya juga bisa memakan apapun, dan juga senang dengan masakan rumahan atau nasi padang seperti ini, tetapi untuk sarapan Kyra memang lebih menyukai hal yang ringan seperti buah, oatmeal dan roti, karena Kyra sering merasa mengantuk jika sarapan dengan sesuatu yang mengandung karbohidrat yang terlalu tinggi. Kalaupun tidak ada buah atau roti dan oatmeal, Kyra akan tetap sarapan dengan apa yang ada tetapi tidak akan banyak. Lalu untuk makan siang dan makan malam, Kyra akan bisa memakan semuanya akan tetapi untuk makan malam Kyra akan tetap menjaga porsi nya dengan baik. Jadi inti nya, baik dia ataupun Kyra bisa memakan segala jenis makanan tanpa harus membedakan itu makanan rumahan biasa atau makanan dari luar negeri.
Apap nya dulu pernah bercerita jika sebelum menikah dengan Amam nya, dia adalah seorang workaholic yang jarang sekali pulang ke rumah dan juga jarang makan makanan yang ada di rumah, sehingga lebih sering membeli makanan di restoran. Karena itu berlangsung selama bertahun-tahun membuat Apap nya lupa dengan rasa masakan rumah. Tetapi hal itu berubah 180% ketika menikah dengan Amam nya dimana Amam nya selalu memasak masakan khas rumahan dengan rasa yang enak.
"Bagaimana rasa nya Ky???" Tanya Aditya.
"Enak Pap, sudah lama sekali tidak merasakan makanan ini...!"
"Nikmati apapun yang kau inginkan disini, puaskan karena kau hanya memiliki sedikit-sedikit waktu ketika kau pulang, waktu mu akan banyak terhabiskan di luar negeri...!"
¤¤¤¤¤¤
Bel sekolah berbunyi, Kyra dan Gienka keluar dari kelas bersama-sama. Tidak ada pelajaran dan mereka hanya menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama teman-temannya dan tadi juga memanfaatkan sedikit waktu untuk persiapan pensi yang akan di lakukan beberapa hari lagi.
"Sepertinya latihan disini kurang maksimal Ra, kita hanya memiliki waktu sedikit untuk latihan, dan peralatan terbatas, hanya ada 2 drum, 5 gitar, 3 bass dan 2 keyboard serta piano, sednagkan teman-teman yang akan tampil banyak...!" Gerutu Gienka.
"Kita bisa membawa keyboard dan gitar dari rumah Gie..!"
"Lalu drum nya???"
"Bisa juga sih di bawa, tetapi tergantung Lou...!"
"Ah ribet deh Ra, kita latihan saja di rumah sepulang sekolah, lagipula kita tidakada kesibukan apapun juga kan???"
"Okelah kau begitu... Tapi mana Lou??? Sebentar lagi supir sampai nih, nanti yang ada malah meninggu lama...!" Kyra menoleh ke penjuru arah mencari Louis yang belum juga muncul padahal semua sudah keluar dari kelas.
Gienka pun mengajak Kyra untuk menunggu di depan saja. Sambil berjalan, Kyra mencoba menghubungi Louis dan menyuruhnya agar segera keluar.
Setelah berbicara dengan Louis, wajah Kyra berubah kesal. "Kenapa Ra??" Tanya Gienka penasaran.
"Dia ada di toilet, benar-benar si Lou, disaat jam pulang sekolah dia malah setor tabungan...!"
Gienka pun tertawa mendengar ucapan Kyra. "Ya sudah kita tunggu di depan saja...!"
Kyra dan Gienka berjaalan menuju area depan sekolah mereka menunggu Louis sekaligus supir Kyra yang akan menjemput mereka. Louis dan Gienka akan ke rumah Kyra untuk latihan lagi.
"Gienka....!!" Panggil seseorang dari belakang.
Kyra dan Gienka otomatis menoleh ke belakang, mereka mendapati Kevin tersenyum di belakang mereka. Wajah Gienka berubah kesal.
"Gie...!" Kevin mendekati Gienka dan berjalan beriringan dengan gadis itu. "Pulang bersama ku yuk???" Ajak Kevin.
Gienka memilih diam dan mengabaikan Kevin. Gienka Mengajak Kyra agar mempercepat langkahnya untuk menghindari Kevin yang sangat menyebalkan itu.
Saat sedang berjalan dan hampir sampai di depan tiba-tiba tangan Gienka di tarik dari belakang dan hampir saja dia tersungkur. Gienka memekik dan terkejut, tetapi wajahnya berubah kesal karena yang menariknya adalah Kevin.
"Kau sudah gila ya??? Kenapa kau menarikku???" Teriak Gienka. "Lepaskan aku...!!" Gienka meronta dan berusaha melepaskan pegangan Kevin di tangannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau mau bilang iya untuk pulang denganku...!"
"Jangan macam-macam ya Vin... Lepaskan aku...!"
"Kevin... Lepaskan Gienka, kau bisa menyakitinya" Seru Kyra.
"Ayolah Gie.. Sekali saja pulang denganku..." Pinta Kevin.
"Tidak... Aduh sakit tau Vin.. Lepaskan..!"
"Aku tidak akan melepaskanmu... Ayo pulang denganku...!" Kevin menyeret Gienka dan Gienka tentu saja memberontak dan menolak.
"Kevin lepaskan Gienka, atau aku akan memanggil security di depan...? Apa kau sudah gila???" Seru Kyra sambil berusaha melepaskan pegangan Kevin pada tangan Gienka, sayangnya Kevin tetap tidak mepaskannya.
Di tengah usaha Kyra dan Gienka menghentikan Kevin, sebuah tangan tiba-tiba saja menarik keras tangan Kevin dan tubuh Kevin terdorong ke samping. "Apa kau tuli dan buta??? Dia meringis kesakitan dan kau justru memaksa nya...!''
Gienka dan Kyra langsung mengarahkan pandangan ke arah suara itu, mendapati Kyros ada disana. Wajah Kyros memerah dan terlihat sangat marah sekali kepada Kevin.