
"Bunuh diri???? Siapa yang meninggal bunuh diri???" Tanya Cahya panik pada Aditya saat suami nya itu baru saja meletakkan ponselnya di atas meja setelah menerima telepon.
"Celia..." Jawab Aditya singkat.
"Celia....???? Celia anaknya Cyntia???" Tanya Cahya lagi dan Aditya menganggukkan kepala nya. "Kenapa bisa bunuh diri??? Bagaimana, apa yang terjadi??? Bukankah Theo menjaga nya???"
"Aku belum tahu sayang, anak buahku yang aku tugas untuk mengawasi Theo serta Celia mengabariku bahwa Celia di temukan meninggal dunia di kamar mandi ruang perawatannya... Celia menjerat lehernya dengan selang infus nya, itu adalah informasi awalnya.. "
"Innalillahi wainnailaihi rojiun... Tapi bagaimana itu bisa terjadi, kemana Theo??? Dia selalu ada bersama Celia kan??? Ya Tuhan... "
"Entahlah..... Kita masih harus menunggu kabar selanjutnya... Dan sekarang dia akan di otopsi..."
Cahya memeluk Aditya dan tangisnya pecah. Membayangkan Celia mengakhiri hidupnya sendiri. "Masa depannya masih begitu panjang, kenapa Celia melakukannya... Ya Tuhann..... "
" Nanti kita ke rumah sakit, atau kita menunggu info selanjutnya apakah Celia akan di makamkan disini atau Theo akan membawanya ke tempat tinggalnya sekarang. Nanti kita juga harus memberitahu anak-anak, kita pergi untuk mengantarkan Celia ke tempat peristirahatan terakhir nya.."
"Ya, kita harus mengantarnya... Cyntia benar-benar jahat, Celia mengalami gangguan di otaknya dan itu membuat Celia harus kehilangan saya pikirnya sehingga Celia seperti ini... Semoga Tuhan mengampuni semua kesalahan Celia... "
"Semoga saja... Karena dia melakukan ini pasti tidak sadar dan dalam keadaan yang tidak baik.. Tetapi entahlah kita tidak tahu... Sudah hampir jam tiga, lebih baik kita tahajud.. "
Cahya mengangguk. Dia dan Aditya pun bangkit dari tempat tidur dan akan bersiap untuk melakukan sholat malam yang selalu mereka lakukan.
***
"Pagi Mam... Pap.... Oma Opa...!!!" Kyra menghampiri orang tua nya dan juga kakek neneknya di meja makan. "Ahhh aku telat bangun, semalam sibuk mengobrol dengan Gienka sampai larut, jadi tidak bisa membantu Amam di dapur.. Maaf ya???"
"Tidak apa-apa sayang...!! Kau sudah lama tidak bercuap-cuap dengan Gienka kan, nah itu dia juga baru turun dengan kakakmu.. "
"Pagi semua....!!! Wah sarapan pertama lagi di rumah setelah sekian lama...." Ucap Kyros. "Sarapan apa kita hari ini Mam???" Tanya nya pada Cahya.
"Amam membuat nasi goreng kesukaanmu, Amam tahu bahwa setiap kau pulang, kau selalu meminta nya pada Amam, jadi sebelum kau meminta nya, Amam sudahh buatkan spesial untuk putra kebanggaan Amam.. " Jawab Cahya.
Kyros melempar senyumnya. "Thanks... Amam terbaik.. "
"Duduklah dan kita sarapan bersama, lalu bersiap-siap untuk pergi.. " Ucap Aditya.
"Pergi kemana???" Tanya Kyra.
"Kita pergi takziah.." Jawab Aditya.
"Celia...."
Kyra mengernyit. "Celia siapa????" Tanya nya lagi.
"Tadi Apap di beritahu jika Celia di temukan meninggal di kamar mandi rumah sakit, dia menjerat lehernya dengan selang infus, dia akan di makamkan sekitar jam 9 nanti, kita semua akan pergi dan mengantarkannya ke pemakaman.. " Ujar Aditya.
Mendengar itu, Kyra, Kyros dan juga Gienka sangat terkejut sekali. Baru semalam Kyra dan Gienka membahas Celia dan bahkan berniat menjenguknya tetapi justru kabar ini datang, membuat mereka sangat terkejut.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun.. Tapi bagaimana bisa Pap??? Kenapa bisa Celia melakukan hal seperti itu???"
"Jiwa dan pikiran Celia terganggu, kita tidak tahu apa yang dia rasakan sebelum memutuskan melakukan hal itu..." Gumam Aditya.
"Tapi bukankah ada orang bersama nya??? Maksudku dia pasti di jaga oleh seseorang, Theo pasti ada bersama nya kan???" Sahut Kyros.
Aditya kemudian menjelaskan kronoligi nya kepada anak-anak nya mengenai apa yang terjadi pada Celia, dimana informasi ini baru saja di dapatkan anak buahnya. Theo memang menjaga Celia di rumah sakit. Dan sepertinya semalam Theo tidur sangat lelap sekali sehingga tidak menyadari jika Celia bangun dan pergi ke kamar mandi. Saat sadar, Theo langsung mencari Celia, dan pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Theo memanggil nama Celia tetapi tidak mendapatkan jawaban dari dalam, Theo pun memanggil perawat untuk membantu nya mendobrak kamar mandi. Lalu di temukanlah Celia terkapar dengan selang infus di lehernya.
"Ya Tuhan.....!!! Kasihan sekali Celia... " Ucap Gienka.
"Tetapi kenapa om Theo lalai sekali..??" Sela Kyra.
"Kyra sayang, Theo setiap hari menjaga Celia, dan waktu tidurnya pasti berkurang, mungkin saja semalam Theo benar-benar kelelahan sehingga sangat lelap saat tidur... Kita juga tidak bisa menyalahkan keadaan karena mungkin memang sudah takdir dari Tuhan seperti itu.. " Ujar Aditya. "Oh iya, kau hubungi Axel, ponsel Apap ada di kamarnya soalnya, beritahu dia, agar bisa datang juga untuk melayat... Kita harus menghormati keluarga Theo yang berduka... Apap harap dia bersedia datang.. "
Kyra mengangguk. "Iya Pap, aku akan menghubunginya.. "
"Ya sudah, kita habiskan sarapannya dan bersiap.. Celia akan di makamkan tidak jauh dari rumah Theo yang disini.. "
★★★
Jenazah Celia di turunkan dari ambulans. Wajah Theo terlihat sangat terpukul atas kepergian anak satu-satunya yang begitu dia sayangi. Dia selama ini tidak memiliki banyak waktu dengan Celia akan tetapi rasa cinta dan sayangnya begitu besar kepada putrinya itu. Bahkan Theo bekerja keras untuk membiayai pendidikan Celia, semua sudah tersimpan di tabungannya, dan ingin dia berikan pada Celia nanti. Akan tetapi takdir Tuhan tidak ada yang tahu. Celia justru memilih jalan nya sendiri dengan mengakhiri hidupnya. Theo benar-benar terpukul. Celia adalah kehidupannya yang lain dan sekarang dia akan menjalani kehidupan nya sendirian. Theo ingin sekali marah kepada keadaan, dan juga Cyntia yang tega menghancurkan masa depan Celia. Seandainya Celia tidak di siksa dan di obati lebih awal tentu Celia akan baik-baik saja dan pikiran serta jiwa nya tidak akan terganggu.
Theo ingin mengantarkan putrinya ke peristirahatan terakhir nya, dia ingin mengangkat keranda berisi jenazah putrinya itu. Aditya, Axel dan Kyros juga bergegas membantu Theo. Mereka berempat pun mengangkat keranda itu, dengan di belakangnya ada para pelayat juga.
Axel hanya bisa terdiam ketika tadi pagi Kyra memberitahu nya mengenai Celia. Axel tidak menyangka kehidupan Celia yang sebelumnya ceria berakhir tragis seperti ini. Celia adalah gadis yang sangat baik, periang dan juga penuh kelembutan. Axel sejak awal menyayangkan sikap Cyntia kepada Celia, seorang ibu seharusnya bisa memberikan kasihnya sayangnya yang utuh kepada putrinya, bukan malah memberikan siksaan pada Celia. Cyntia juga seharusnya menghargai keputusan Celia yang memutuskan untuk tinggal bersama Theo, bukan malah membuat Celia menderita sampai akhir hidupnya.
Axel mendapatkan informasi dari Theo bahwa Celia sudah menyadari kesalahannya dan mencoba mengikhlaskan nya menikahi Kyra dan berniat meminta maaf, tetapi lagi-lagi keegoisan Mama Celia membuat Celia belum sempat meminta maaf kepada nya. Dan Axel senang mendengar bahwa Celia sudah ikhlas dan menerima apa yang sudah terjadi. Tanpa meminta maaf pun, Axel sudah memaafkan Celia karena tahu bahwa Celia adalah orang yang tulus. Dan Celia terjebak dengan keadaan dan lingkungan yang buruk saja.
Inilah yang terakhir kali nya Axel bisa melakukan sesuatu untuk Celia, berharap Celia mau memaafkannya juga jika dia memiliki kesalahan selama, dan Celia bisa senang melihat ini. Axel juga berharap Celia bisa berbahagia dengan Tuhan sekarang. Axel tahu bahwa apa yang di lakukan Celia sangatlah tidak di benarkan, karena mengakhiri hidup itu hal yang sangat di benci oleh Tuhan, akan tetapi kondisi Celia sebelumnya yang tidak normal, dan cara berpikirnya juga terganggu, sehingga sudah pasti Celia melakukannya secara tidak sadar di luar kendali akal sehatnya. Yang bisa Axel harapkan adalah Tuhan memaafkan Celia dan menempatkannya di tempat yang terbaik.