
Sampai di kamar, ternyata Sanne membawa oleh-oleh untuk para sahabatnya. Di dalam backpack nya, Sanne menyimpan berbagai parfum untuk Kyra, Gienka, Geffie dan Phobie. Sedangkan untuk Louis dan Friddie, Sanne memberikan jam tangan untuk keduanya. Tetapi ternyata ada juga jam tangan untuk Kyros, Sanne memberikannya pada Kyra, agar ketika Kyros pulang nanti itu bisa di berikan kepadanya.
"Aku saja tidak tahu tahun berapa dia akan pulang, seharusnya kau tidak perlu repot-repot membelikannya hadiah Ne...!" Gumam Kyra.
Sanne tersenyum. "Yang lain dapat hadiah, kak Ky juga harus mendapatkannya, dia pasti pulang kok...!"
"Kita lihat saja nanti, dia sangat menyebalkan.. Oh iya, Ky sempat bercerita katanya dia bertemu denganmu disana, bahkan kalian jaln-jalan juga ya???" Tanya Kyra.
Sanne mengangguk kemudian bercerita bahwa beberapa bulan yang lalu dia pergi ke Swiss bersama dengan anak dari sepupu Papanya, tujuannya adalah untuk jalan-jalan saja. Kemudian Kyros menjemput mereka ketika di airport Zurich. Selama dua hari, Kyros mengajak mereka jalan-jalan di berbagai destinasi yang terletak di sekitar tempat tinggal Kyros. Seperti Lungernsee lake, danau yang ada di dekat rumah Kyros, juga ke Lauternbrunnen serta Grindelwald. Bahkan Kyros menyuruhnya untuk menginap. Sanne merasa senang sekali karena di sambut baik oleh Chika dan Adri serta Niall ketika disana. Mereka tidak perlu menyewa hotel untuk menginap.
"Aku sangat berhutang budi pada kak Ky...!" Ujar Sanne.
"Kau memilih tour guide yang bagus hahaha...!" Ujar Gienka.
Sanne tertawa. "Dia bahkan mengajakku untuk melihat gerombolan sapi yang memakan rumput tidak jauh di belakang rumah... Katanya itu sering di lakukannya, ya cukup menyenangkan meskipun hanya melihat sapi hahahaha...!"
"Eh tapi memang menyenangkan loh..." Timpal Gienka. Dia juga pernah ikut berlibur dengan keluarga Kyra ke Swiss untuk menjenguk Kyros disana. Dan memang bersantai di belakang rumah yang di tinggali oleh Kyros sangat menyenangkan, selain pemandangan bagus, dia juga bsa melihat gerombolan sapi yang sedang memakan rumput, serta dari kejauhan bisa melihat kereta api lewat. Suasana yang begitu mendukun membuat hal sesederhana itu bisa menjadi istimewa dan luar biasa.
Mereka bertiga tertawa ketika saling berbagi cerita. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan. Meskipun Sanne 2 tahun di bawah Gienka dan Kyra tetapi keakraban mereka tidak perlu di ragukan. Mereka sudah seperti saudara. Bahkan dengan Friddie, Geffie serta Phobie juga sama meskipun mereka terpaut perbedaan usia yang cukup jauh, mereka saling menjaga satu sama lain dan Kyra, Gienka dan Louis selalu mengayomi adik-adik mereka dengan baik.
####
"Oh iya San, aku pernah dengar dari Ky, di Swiss ada sekolah memasak yang bagus, apa kau tidak ada niat melanjutkan kesana nanti???" Tanya Kyra.
"Entahlah kak, aku belum terpikirkan, lagi pula aku juga baru kelas 10, tetapi Mama sempat juga bertanya seperti itu kepadaku...!"
"Kau tidak ada niat untuk pindah dan tinggal disini saja seperti dulu???" Tanya Gienka.
"Ingin sih, Mama juga ingin mengurus bisnis Bakery nya yang ada disini tetapi Papa bilang aku harus menyelesaikan sekolahku disana, lagipula Opa masih harus menjalankan pengobatannya disana juga...!" Jawab Sanne.
"Eh tapi kita kan akan kuliah di England Gie, justru kita sedikit lebih dekat dengan Sanne... Kita bisa sesekali menemuinya kesana.. Iya kan???" Ujar Kyra.
"Ah iya... Hahaha...!"
Disaat sedang asyik mengobrol, pintu kamar Kyra di ketuk dari luar. Kyra langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintunya. Ternyata itu adalah ART nya yang memberi tahu jika di luar sudah ada Friddie dan juga Geffie. Kyra pun mengajak Gienka dan Sanne untuk turun.
★
★★★
"Hai kak....!" Sapa balik Friddie.
"Kalian datang lebih cepat, ku pikir Lou dan Bee akan datang lebih dulu, duduklah... Kalian mau minum apa???" Tanya Kyra.
"Apa saja kak...! Berarti kak Lou belum datang dong??" Tanya Friddie.
"Belum...! Sepertinya sebentar lagi...!" Jawab Gienka.
Sanne tersenyum menyalami Friddie dan Geffie. "Hai kita bertemu lagi...!" Sapa Sanne.
"Iya... Senang juga kak Sanne bisa bergabung...!"
Kyra memanggil Art nya agar membuatkan para sahabatnya jus sambil menunggu Louis dan Phobie datang. Amam dan Apap nya juga sepertinya masih bersiap. Kyra menjelaskan jika hari ini mereka tidak hanya akan datang ke panti asuhan saja tetapi juga membagikan sembako untuk orang-orang yang membutuhkan di jalanan, selain itu nanti di panti asuhan Kyra meminta agar sahabat-sahabatnya itu juga menghibur anak-anak yang ada disana seperti biasanya, seperti bernyanyi dan bermain games. Kyra pun meminta Sanne agar nanti mau bermain gitar, tahu bahwa selain hobi memasak, Sanne juga pandai bermain gitar. Sanne mengangguk, tidak masalah dan dia mau melakukan itu.
Cahya dan Aditya turun dan sudah rapi. Senyum mereka tersungging di bibir keduaya melihat Friddi dan Geffie sudah datang. Cahya dan Aditya menghampiri anak-anak dari sahbatnnnya ituu, dengan sopan Friddie serta Geffie menyalami orang tua Kyra.
"Lou dan Bee kemana??" Tanya Cahya.
"Belum datang Mam, katanya sebentar lagi tapi belum juga tiba..!" Gerutu Kyra.
"Ya sudah tunggu saja dulu, oh iya Kyra sayang, kau sudah menyiapkan alat musiknya Katanya nanti kalian akan menghibur anak-anak disana???" Tanya Cahya lagi.
"Sudah Mam, sudah ada di dalam mobil, tadi aku sudah menyuruh pak Udin dan pak Rahman membawa semuanya ke mobil...!"
"Oke baguslah tinggal berangkat saja kalau begitu...!" Ucap Cahya.
Sekitar 20 menit menunggu, yang di tunggu akhirnya datang juga. Louis datang bersama Phobie. Kyra pun mengejek dengan nada bercanda kepada kedua bersaudara itu, rumah mereka sangat dekat dari sini dan hanya butuh beberapa menit saja tetapi mereka malah datang paling terlambat.
Louis pun meminta maaf, dia terlambat karena harus menunggu Phobie. Merasa tidak terima, Phobie pun membela diri mengatakan jika dia sudah siap tetapi Louis justru menerima telepon cukup lama dan tidak kembali. itulah alasannya kenapa mereka terlambat.
"Sudah sudah jangan malah berdebat, lebih baik kita berangkat sekarang...!" Ucap Aditya untuk menengai perdebatan dari kedua saudara itu.
Mereka keluar rumah, Aditya, Cahya dan Kyra masuk ke mobil Aditya sedangkan yang lainnya masuk ke mobil Cahya yang lebih besar dan mampu menampung mereka berenam, dengan supir yang sudah berada di dalamnya.
Gienka duduk di depan di sebelah supir, sedangkan Geffie, Phobie, dan Friddie duduk di kursi belakang. Dua kursi tengah di isi oleh Louis dan Sanne. Mobil pun meninggalkan istana Aditya yang besar itu. Perjalanan ke Panti asuhan sekitar 45 menit sampai 1 jam jika jalanan tidak macet.
Di kursi belakang, Phobie, Friddie dan Geffie asyik mengobrol tentang kegiatan sekolah mereka masing-masing. Sementara diam-diam Louis mencuri pandang ke arah Sanne yang duduk di sampingnya. Louis teringat dengan masa kecilnya dulu, ketika Sanne belum pindah ke Paris. Sanne kecil yang dulu sering bermain dengannya, dan sering menangis ketika snack atau makanannya habis, padahal yang menghabiskan itu adalah Sanne sendiri. Dan Louis selalu menenangkannya, kemudian memberikan Sanne permen atau cokelat miliknya. Sanne dulu yang paling kecil kedua setelah Friddie, jadi Sanne adalah yang paling manja dan sensitif kala itu, berbeda dengan Friddie yang notabennya anak laki-laki dan suka sibuk dengan kegiatannya sendiri. Sekarang Sanne sudah besar, dan terlihat semakin manis.