I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 129



"Serius sekali??? Pasti kalian sedang membicarakanku ya???" Celia muncul dari dalam membawa nampan dengan gelas diatasnya berisi minuman. Kemudian meletakkan minuman itu di meja, di depan Papa nya dan juga Axel.


"Kau salah sayang, kami tidak sedang membicarakanmu...!" Ucap Theo.


Celia duduk di sebelah Theo, memeluk Papa nya dengan manja. Celia sangat merindukan Theo. "Aku pikir sedang membicarakanku...!" Gumam Celia.


"Kau menginap saja disini dengan Axel, besok baru pulang..! Toh kalian juga sedang libur, masih lama juga kan kembali ke Thailand..?" Pintar Theo pada Celia.


"Ingin sebenarnya Pa, tetapi Mama meminta sore ini aku harus pulang...!" Ujar Celia dengan sedih.


"Ya sudah kalau begitu, tidak apa-apa mungkin lain kali saja.. Papa tidak mau kau berada dalam masalah yang besar dengan Mama mu...!" Ucap Theo penuh pengertian. Theo sangat mengerti kesedihan yang di rasakan oleh Celia, dia tidak mau nanti nya Celia justru jadi pelampiasan kemarahan Cyntia karena Celia tidak menuruti keinginan Mama nya itu. Celia selama ini sudah cukup tertekan dengan cara Cyntia mendidiknya dan Theo merasa tidak mau terlalu menambah beban kepada putrinya itu. Celia tipikal anak yang penurut dan tidak banyak bicara jika menghadapi sikap Cyntia.


"Aku juga sedang malas mendengar ocehan dan ceramah Mama, apalagi Oma, dia sangat menyebalkan sekali..!" Gerutu Celia.


"Shhh... Jangan berkata seperti itu, mereka adalah orang tua, oh iya nanti kita makan siang di luar saja ya??? Papa sedang tidak memasak apapun..! Kau tidak masalah kan Axel kita makan siang di luar???" Theo bertanya pada Axel.


Axel tersenyum. "Tentu saja tidak Om, makan dimanapun tidak masalah, justru saya yang tidak enak, malah merepotkan Om Theo..!"


Axel, Celia dan Theo pun mengobrol. Celia tampak antusias sekali menceritakan berbagai hal ke Theo, mengenai kuliahnya dan juga hubungannya dengan Axel selama ini. Senyum Theo juga tidak lepas dari wajahnya, bertemu dengan Celia putrinya adalah hal yang luar biasa untuknya. Theo menyadari jika untuk bahagia hanya butuh hal yang sangat sederhana sekali, bertemu dengan Celia saja dia sudah merasa bahagia, dan kebahagiaannya saat ini tidak bisa dia gambarkan. Theo juga menyadari bahwa Axel juga sangat mencintai Celia, mata lembut Axel saat menatap dan memandangi Celia, sudah cukup mampu membuat Theo yakin bahwa Axel sangat menyayangi dan mencintai Celia dengan sangat tulus. Jika kelak Axel benar-benar bisa meluluhkan kerasnya hati Cyntia, Theo yakin Axel akan selalu membuat Celia bahagia. Juga berharap Axel bisa membimbing Celia menjadi perempuan yang baik, mandiri dan selalu bisa menghormati orang lain.


★★★


Di tempat lain, Kyra dan Gienka duduk dan memesan makan siang di restoran japanese food yang terletak di dekat kantor Gienka. Serta kebetulan sekali itu adalah salah satu restoran milik Ariel, Papa dari Gienka. Kyra sangat merindukan Gienka dan menghubungi sahabatnya itu untuk bertemu dan makan siang bersama. Walaupun sudah beberapa hari pulang, Kyra baru sempat bertemu dengan Gienka, karena Gienka juga sudah bekerja sehingga Kyra tidak mau mengganggu waktu kerja dari sahabatnya itu.


"Pesan Sashimi, Ebifurai dan Oijiru" Ucap Kyra pada pelayanan. "Kau apa Gie???" Tanya Kyra.


"Nigiri dan Genmaicha" Sahut Gienka. Pelayanan mencatat pesanan mereka lalu pergi.


"Bagaimana pekerjaanmu??? Kau sepertinya sibuk sekali sampai jarang membalas chatku...!" Kyra memprotes Gienka.


"Hahaha sorry sorry... Tidak terlalu sibuk sebenarnya, hanya saja setelah pulang dari kantor aku ada beberapa kegiatan, di hari pertama setelah dari kantor, aku dan Mama pergi berbelanja pakaian untuk aku ke kantor, tahu sendiri kan aku tidak memiliki banyak baju formal, kalaupun ada itu di rumah Papa Iel, dan kemarin temanku datang ke rumah sampai malam, jadi tidak terlalu memperhatikan ponselku... Kau sendiri bagaimana disini???" Tanya Gienka.


"Kembali beradaptasi, hahahaha... Menyenangkan sekali sepertinya bekerja sepertimu, jadi ingin cepat-cepat membuat CV hehehe..!"


"Iya, Apap sih menyarankan seperti itu, tetapi belum terpikirkan mau pergi kemana, lagipula jika sendirian juga tidak seru Gie, kau sudah bekerja, Zayan juga, Apap dan Amam juga sibuk... Tetapi semalam Uncle Yongki menghubungi Amam, dia sedang pulang ke Bandung, sepertinya aku akan pergi kesana saja, lama juga tidak bertemu Uncle Yongki dan juga keluarganya, dia jarang pulang, jadi aku pikir ini waktu yang tepat...!"


Gienka melempar senyumnya. "Ya, ide bagus itu, sudah lama sekali kan kau tidak bertemu dengan Uncle Yongki... Sekalian nostalgia Ra, hahaha waktu kecil kau dan Ky sering kesana..!"


Kyra menganggukkan kepala nya. "Benar Gie, tetapi aku belum mengatakan ini pada Apap sih, mungkin nanti jika Apap sudah kembali dari kantor..!"


"Wajib banget ijin dulu ke Uncle Adit, oh iya Ra, apa Ky sudah memberitahumu jika dia akan pulang saat akhir tahun nanti???"


"Ky akan pulang??? Serius???? Kapan dia mengatakan itu??? Sampai sekarang chat ku belum di baca, dia hanya bilang kalau dia sedang meeting semalam, dan meminta jangan di ganggu dulu..!"


"Kemarin sore dia menghubungiku. Sebelum dia ke kantor, dan dia juga bilang ada meeting sih, sepertinya dia memang sibuk, sabar saja, dia pasti akan membalas pesanmu.. Kemarin sih dia bilang seperti itu, bahwa dia memutuskan untuk pulang akhir tahun nanti, kangen rumah..!" Ujar Gienka.


"Ya mungkin dia sibuk jadi belum sempat menghubungiku lagi... Baguslah jika dia akhirnya akan pulang... Senang sekali rasanya...!" Ungkap Kyra.


Ketika bersama Kyros, Kyra selalu merasa bahagia. Dia selalu memanfaatkan waktu dengan baik dengan kakaknya itu. Karena Kyra sadar betul bahwa dia hanya memiliki sedikit waktu untuk bisa bersama Kyros karena jarak yang terbentang diantara mereka selama ini. Kyros akan tetap selalu berada jauh darinya, untuk saat ini bahkan nanti. Apalagi Kyros juga sudah menetap di Amerika, menjadi warga negara disana, tentu bukan hal yang mudah untuk terus berada di dekat sangat Kakak. Sebagai saudara kandung yang terbiasa bersama dan melakukan apapun bersamaan sejak kecil, tentu Kyra kerap merasa sangat kesepian dan merindukan Kyros, apalagi Kyros selalu jadi pelindungnya dan penghibur nya ketika dulu dia merasa sedih atau saat sedang di ganggu oleh teman-temannya di sekolah. Tetapi seiring berjalannya waktu, Kyros tentu memiliki impian sendiri dan keinginan yang ingin di capai nya, sehingga Kyra tentu harus merelakan kebersamaannya dengan Kyros berkurang.


Ketika lulus kuliah di London, Kyra sangat bahagia sekali saat dia akan melanjutkan pendidikannya di Amerika dan satu kampus dengan Kyros. Kebahagiaannya begitu luar biasa, karena hampir setiap hari dia bisa bertemu dengan Kakaknya itu, akan tetapi lagi-lagi itu hanya berlangsung singkat, karena ternyata Kyros harus pindah ke Washington setelah mendapatkan tawaran pekerjaan disana. Kyra kembali harus merelakan Kyros meraih impian yang selama ini ingin di capai oleh kakaknya itu. Dan Kyros hanya kembali ke California beberapa minggu sekali, tetapi itu cukup membuat Kyra merasa bahagia, karena ketika Kyros kembali, Kyra bisa menghabiskan waktu dengan baik dengannya. Apalagi Kyros juga memutuskan untuk tinggal di apartemen bersama dengannya. Kyros juga selalu berusaha untuk melindunginya layaknya seorang kakak yang sangat menyayangi Adiknya. Hal seperti itu yang sangat di rindukan Kyra, bersama Kyros jarinya terasa begitu menyenangkan, apalagi ketika sesuatu sedang terjadi, kakaknya itu selalu nasehat bijak untuknya, dan Kyra juga bisa memandang segala sesuatu dari prespektif yang berbeda. Kyros selalu jadi hal istimewa yang di selalu di miliki oleh Kyra, dan dia selalu bersyukur atas itu.


"Lalu bagaimana denganmu Gie??? Kau senang tidak Kyros akan pulang???" Tanya Kyra.


"Tentu saja aku senang Ra, sudah lama juga kan tidak bertengkar dan berargumen dengannya... Hahahaha hal yang selalu aku rindukan ketika bersama dengannya... Hahaha"


"Nanti kita berdua yang akan menjemputnya..."


"Yups... Kita berdua memang harus menjemputnya...!" Sahut Gienka bersemangat, kemudian dia dan Kyra tertawa.


Tak lama setelahnya, pesanan makanan mereka datang. Gienka dan Kyra pun menikmati makan siang mereka, masih sambil mengobrol berbagai hal.


★★★★