I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 366



Melihat tatapan Ariel, Garviil sedikit bergidik, dia merasa ngeri tatapan Papa Geffie itu sangat tajam sekali dan juga Papa Geffie tidak membalas uluran tangannya.


"Papa!!!" Panggil Geffie sembari memegang bahu Ariel.


Ariel pun terlonjak, tetapi kemudian ia akhirnya membalas uluran tangan Garviil kemudian Garviil menyalami Ariel dan mencium tangan nya.


"Apa kau ingin mengantar Geffie ke sini???" Tanya Ariel dengan dingin.


"Iya Om, saya mengantar Geffie ke sini sekaligus ingin bertemu dengan keluarga Geffie dan berkenalan dengan keluarga mereka, karena Geffie sering bercerita tentang keluarganya kepada saya dan saya penasaran jadi ingin bertemu dengan kalian semua."


"Kau akan menginap juga di sini???" Tanya Ariel lagi.


Geffie menyadari sikap cuek dari Papanya dan ketakutan dari Garviil terhadap Papanya. Geffie sebenarnya sedikit jengkel dengan cara Ariel memperlakukan Garviil dan Geffie harus membuat suasana tidak terlalu kaku. "Iya Papa, tentu saja dia akan menginap. Memang kenapa kalau dia mengantar aku ke sini??? Katanya dia tidak tega jika aku pergi ke Washington DC sendirian. Itulah kenapa dia mau menemaniku, dia juga sudah pernah menginap di sini jadi biarkan saja." Sahut Geffie.


"Garviil duduklah!!!" Perintah Maysa.


Garviil tersenyum menganggukkan kepalanya, kemudian dia duduk di sofa. Ariel masih bersikap sama terlihat sangat menakutkan sekali. Garviil tidak menyangka ternyata Papa Geffie orang yang sangat dingin dan cukup menakutkan karena selama ini di Geffie bercerita kepadanya jika Papanya yang sangat baik sekali dan penyayang akan tetapi ternyata tidak seperti apa yang dikatakan oleh Geffie. Ternyata Papa Geffie sangat menakutkan, tatapannya dan juga ekspresi wajahnya. Entah kenapa Garviil menjadi ngeri padahal biasanya dia bisa mengatasi masalah bisnis dan pekerjaannya serta para kliennya dengan baik akan tetapi kali ini sangat berbeda, dia harus menghadapi orang tua dari perempuan yang sangat dia cintai.


"Kau sebelumnya pernah menginap dan datang ke sini kan???" Tanya Ariel.


"Iya Om. Beberapa bulan yang lalu sebelum Kak Gienka pulang ke Indonesia."


"Kau tidur di mana???"


Geffie mencubit lengan Ariel ketika mendengar pertanyaan Papanya yang menurutnya konyol itu. Geffie pun memprotes Ariel. "Papa Kenapa bertanya seperti??? itu pertanyaan macam apa sih???" protes Geffie.


"Papa kan hanya bertanya, memang apa yang salah dengan pertanyaan Papa, apa dia tidur denganmu??"


"Ih Papa Mana ada yang seperti itu??? Aku tidak pernah tidur dengan siapapun, kemarin waktu kami ke sini, aku tidur di kamarnya Kakak. Garviil tidur di kamar tamu, lagi pula Papa juga aneh mana berani aku tidur dengan orang lain atau laki-laki denganku." Protes Geffie lagi. "Memangnya selama ini Papa dan Mama tidak mengajariku tentang menjaga diri dan kehormatan, kan kalian sudah mengajariku supaya aku bisa bersikap yang bisa menjaga diri. Papa ini aneh-aneh saja."


"Kau bisa berbahasa Indonesia, Memangnya kau berasal dari mana???"


"Saya memang memiliki darah Indonesia dan sejak kecil saya memang juga tinggal di Indonesia, hanya saja ketika SMA saya sekolah di Boston lalu berkuliah di Harvard University dan Mama saya asalnya dari Amerika kalau Papa memang asli orang Indonesia dan Kebetulan juga di Boston Mama punya usaha lalu saya yang bertugas untuk mengurus usahanya di sini sementara Mama sekarang bersama Papa di Indonesia."


Randy keluar dari kamar tamu, dan dia berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri Ariel dan yang lainnya. Randy tersenyum ketika dia melihat ternyata Geffie sudah datang. "Uncle Randy..!!" Teriak Geffie.


Randy menghampiri nya dan Geffie menyalami nya dengan sopan. Kemudian Geffie memperkenalkan Garviil pada Randy, akan tetapi ekspresi kedua nya terlihat benar-benar terkejut. Seperti orang yang sebelumnya pernah bertemu. "Kau Garviil kan???" Tanya Randy. "Kau anaknya David???"


Garviil tersenyum sambil menganggukkan kepala nya. "Iya Om, ini Om Randy kan??"


"Kau mengenalnya Ran??" Tanya Ariel.


"Tentu saja iel, Garviil ini anaknya Ivander, David Ivander pemilik GVI Transportindo."


Ariel menegrnyit. "GVI Transportindo???? Apa maksudmu perusahaan jasa transportasi yang biasa aku sewa untuk membawa barang-barang dan material kebutuhan perumahan dan lai-lainnya??"


Randy tersenyum. "That's right...!!! Semua truck hingga berbagai kendaraan besar yang kau sewa untuk berbagai keperluan perusahaanmu itu adalah milik Pak Ivander, Papa nya Garviil ini. Dan Garviil memilih mengurus perusahaan milik Mama nya disini, karena menurutnya Papa nya masih cukup bisa mengatasi perusahaan yang ada di Indonesia. Dia juga punya saudara kembar tapi saudara kembarnya itu seorang seniman bukan pebisnis  seperti kakaknya atau Papa nya, lebih tepatnya seorang pelukis."


"Ah ya, aku ingat, beberapa kali bertemu Pak Ivander sering bercerita kalau dia punya anak kembar dan mereka memilih tinggal di luar negeri." Gumam Ariel.


"Owh jadi Papa iel juga sudah mengenal orang tua Garviil ya???" Sahut Gienka dari belakang. Gienka baru saja turun dari lantai dua setelah mengantar minuman untuk Aditya. Gienka menghampiri keluarga nya di ruang tamu. "Hal yang sangat bagus sekali kalau begitu." Celetuk Gienka lagi sembari duduk di sofa di sebelah Garviil. "Orang tua sudah saling mengenal, itu atinya restu bisa lebih mudah di dapatkan??? Benar kan apa kataku????" Gienka menyikut pinggang Garviil dan mengedipkan matanya menggoda kekasih dari adiknya itu.


Randy terkekeh, memandangi Ariel seolah ingin mengejeknya. "Oh jadi kau adalah kekasihnya Geffie Viil?? Hahaha Pilihan yang sangat tepat sekali, Om setuju karena Geffie sudah cantik, cerdas dan juga ceria. Kau tidak akan menyesal memiliki Geffie, dan Ariel ini sangat baik sekali, Om sudah mengenalnya berpuluh-puluh tahun, dan sangat menyayangi anak-anaknya, baik itu Gienka ataupun Geffie, hanya saja satu pesan Om, jangan sekali-kali berulah apalagi membuat Geffie menangis, karena bisa saja Ariel akan menelanmu bulat-bulat seperti ular phiton, tidak berbisa tapi tetap berbahaya. Hahaha...."


Semua orang yang mendengar itu saling melempar senyum dan hanya Ariel saja yang memasang wajah datar. Antara ingin marah pada Randy atau juga merasa sungkan pada Garviil karena ternyata Garviil adalah anak dari kolega nya.


"Apa kau sudah memberitahu Papa mu kalau kau berpacaran dengan Geffie???" Tanya Randy pada Garviil.


"Sudah Om.."


"Oh sudah ya??? Tapi pasti Papamu belum tahu kalau Geffie anaknya Ariel???"


Garviil menggelengkan kepala nya. "Belum tahu, saya saja baru tahu sekarang kalau ternyata Om Ariel adalah rekan bisnis Papa."


"Hahaha kau harus memberitahu nya segera." Randy kembali tertawa memandangi wajah kesal Ariel. Sedangkan Danist juga tidak luput menertawakan adiknya. Mengingat tadi bagaimana Ariel seolah memberikan kesan dingin pada Garviil. "Jangan galak-galak iel, kasihan Garviil sejak tadi ketakutan karena tatapun yang tajam padanya." Ejek Danist.


Ariel pun berdiri dan meninggakan ruang tamu, dengan alasan bahwa dia ingin melihat Aditya. Hal itu membuat yang lainnya tertawa geli.


"Dan Garviil, jangan terlalu di ambil pusing, Ariel memang seperti itu, apalagi kalau masalah tentang putri nya, maklumi saja. Tapi asal kau tahu bahwa Ariel sangatlah baik, kau hanya perlu mendapatkan hatinya saja untuk bisa dekat dengannya." Ucap Danist.


"Iya, cuek saja, Papa memang terkadang seperti itu." Sahut Gienka. "Sebentar aku ambilakn minum dulu, atau kalian berdua juga ingin menengok Apap dulu??"


"Sebentar lagi kak, aku mau duduk sebentar disini masih lelah."


"Ya sudah, istirshst dulu, Apap juga tadi baru selesai minum obatnya mungkin sekarang sudah tidur." Gienka kembali berdiri dan bergegas ke dapur untuk mengambilkan Garviil dan Geffie minuman.