I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 36 (Maafkan Gie)



"Kenapa Gie...??? Apa kau tidak mau meminta maaf pada Papa Iel mu???" Tanya Danist, dia ingin berusaha membuat putrinya mengerti, dan tidak berlarut-larut dengan kemarahannya pada Ariel.


Danist kembali memegang jemari Gienka.


"Setiap manusia itu tempatnya salah, dan tugas kita juga harus memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah pada kita, apalagi kesalahan orang yang lebih tua, itu bagus sekali pasti, coba ingatlah apa pernah Papa Iel mu menolak keinginanmu selama ini??? Atau apa pernah dia memarahimu untuk semua kesalahanmu?" Tanya Danist lagi. Kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya dengan memandang ke arah Gienka yang tertunduk.


"Disaat Mamamu memarahimu kau selalu mengatakan bahwa Papa Iel mu sangat mengertimu dan tidak pernah memarahimu? Lalu kenapa sekarang kau marah kepadanya untuk kesalahan masalalu yang sudah di lakukannya? Padahal semua itu sudah berlalu dan sekarang semua sudah baik-baik saja???"


"Kami sudah menceritakan semuanya padamu, agar kau mengerti situasi saat itu, jangan menambah beban pikiran Papa Iel mu, dia memih waktu yang tepat untuk menjelaskan dan mengatakan segalanya agar kau mau mengerti dan memahaminya, jangan sampai kau malah membuatnya sedih sayang...!" Ucap Elea seraya membelai rambut Gienka.


"Tapi Ma, Papa Iel sud...!"


"Ssssttt...!" Elea menutup mulut Gienka dengan jari telunjuknya. "Berhentilah mengatakan apapun tentang keraguanmu untuk meminta maaf pada Ariel, apa lagi yang membuatmu ragu, benar kata Danist bahwa tidak ada yang mencintaimu lebih besar daripada cinta yang diberikan Ariel kepadamu, jangan ingat kesalahan seseorang yang sudah berubah, itu tidak boleh diungkit..!"


Gienka masih terdiam dan memikirkan setiap ucapan dari kedua orang tuanya. Memang benar selama ini Ariel sudah memberikan kasih sayang yang luar biasa kepadanya, dan Ariel tidak pernah sekali pun memarahinya meskipun terkadang sesekali Gienka membuat kesalahan. Ariel selalu memprioritaskannya dan tidak lernah sekalipun menolak keinginannya.


Dari seluruh penjelasan dari Ariel atau Elea serta Danist, memang semua saling berkaitan. Yang artinya Ariel memang melakukan itu dan ada fase dimana dia menyesali perbuatannya di masa lalu, juga bagaimana cara Ariel meminta maaf dan berakhir dengan baik.


Gienka mengangkat kepalanya dan memandang Elea serta Danist bergantian sambil tersenyum. "Papa Iel memang sangat menyayangiku bahkanrasa sayangnya sepertinya melebihi rasa sayang pada dirinya sendiri...!" Gumam Elea.


"Jika kau sudah memahami itu, lalu apa lagi yang kau tunghu sayang??? Pergi dan meminta maaflah atas sikap mu tadi, dia akan merasa bahagia, dan kau juga akan merasa tenang serta bisa melewati hari ulang tahunmu dengan baik malam ini... Pergilah....!" Ucap Elea.


Gienka kembali tersenyum kemudian memeluk kedua orang tuanya dengan perasaan lega dan bahagia. Perjalanan kehidupan orang tua nya dulu begitu panjang dan penuh liku serta duri. Mereka sudah banyak melewati asam manis perjalanan hidup. Tangis, tawa, bahagia serta kesedihan sudah mereka lewati dengan baik. Gienka sendiri bisa mengambil hikmah dari setiap cerita yang tadi dia dengar dari ketiga orang tua nya. Yaitu tentang ketulusan sebuah cinta, pengkhianatan, kesabaran, keikhlasan, perjuangan, suka duka, tangis airmata, kebahagiaan, memaafkan dan sikap saling mengasihi yang sudah dilewati oleh mereka bertiga. Gienka mengambil sebuah kesimpulan dari itu semua, yaitu bahwa sebuah ketulusan dan cinta kasih itu bisa melembutkan kerasnya hati dan cara berpikir seseorang, jika di jalankan dengan baik. Hal yang sangat sulit dan terlihat tidak mungkin bisa menjadi mungkin.


Gienka bisa mengambil banyak hal dari kisah itu. Dan dia akan berusaha keras menjadikan dirinya lebih baik. Kesabaran yang liar biasa ditunjukkan oleh sang Mama, perjuangan Mamanya dulu ketika hamil begitu luar biasa. Cinta dan ketulusan Danist juga mampu meluluhkan hati Mama Gienka yaitu Elea. Segala pengkhianatan Ariel, penghinaannya terhadap Danist serta bagaimana Ariel menyadari semua kesalahannya dengan memberikan seluruh cintanya pada Gienka juga adalah hal yan luar biasa. Seseorang memang bisa melakukan kesalahan, tetapi juga harus diberikan maaf ketika orang itu sudah menyadari kesalahannya dan bersikap lebih baik dari sebelumnya. Tuhan saja maha pemaaf lalu kenapa Gienka yang hanya manusia biasa tidak bisa memberi maaf untuk Ariel Papanya yang selalu mencurahkan segenap cinta kepadanya.


Sampai di depan ruang kerja Ariel. Perlahan Gienka membuka pintunya dan dia tidak menemukan Papanya berada disana. Hingga kemudian Gienka melihat bayangan di lantai yang berasal dari depan jendela yang ada di ujung ruangan itu. Ariel ternyata berdiri disana menatap ke arah luar dimana halaman belakang ada disana. Dengan langkah pelan, Gienka masuk dan berjalan ke arah Ariel berdiri.


"Papa Iel.....!" Panggil Gienka. Panggilan itu adalah panggilan kesayangan untuk Papa kandungnya itu sejak Gienka masih kecil, juga untuk membedakan ketika memanggil Danist. Dimana Gienka juga memiliki panggilan kesayang untuk Danist dengan panggilan Papa Dan.


Ariel menoleh ke belakang dan dengan cepat menyeka air mata yang ada di kedua pipinya. Senyum Ariel tersungging di bibirnya. "Ya sayang. ..!"


Gienka berlari dan langsung memeluk Ariel dengan sangat erat kemudian menangis di dekapan Papa nya sambil terisak. "Papa Iel... Maafkan sikap Gie tadi, Gie sangat menyesal sudah bersikap buruk kepada Papa... Gie benar-benar menyesal, tolong maafkan Gie ya Pa???" Ucap Gienka.


Ariel mendekap putrinya dengan erat sambil mengusap lembut punggung Gienka. "Kenapa kau yang meminta maaf sayang??? Papa yang bersalah, dulu Papa sudah menelantarkanmu ketika kau masih berada di kandungan Mamamu, Papa mengabaikan kalian, Papa melakukan kesalahan yang begitu besar, dan kesalahan Papa itu memang sulit untuk bisa kau maafkan... Seharusnya Papa yang meminta maaf padamu atas segalanya...!" Ujar Ariel yang juga menangis.


"Gie harusnya mendengarkan cerita Papa sampai selesai tadi bukannya malah pergi meninggalkan pintu berdebam, Papa pasti sangat terluka dengan sikap Gie, padahal Papa selama ini selalu menyayangi Gie dan memberikan segala yang Gie minta, tetapi Gie justru marah dan kecewa pada Papa, maafkan Gie ya???"


Ariel melepaskan pelukannya dan menatap Gienka dengan senyuman kemudian mengecup dahi putrinya itu dengan lembut juga menyeka air mata Gienka. "It's okay sayang, itu wajar jika kau marah, kau pasti merasa kecewa mendengar semua itu, tetapi bagaimanaoun Papa harus menceritakan segalanya padamu agar kau mengerti dan tidak melakukan kesalahan seperti apa yang dulu Papa lakukan...!"


Gienka tersenyum. "Setiap orang punya kesalahan di masa lalu, tetapi Papa sudah berubah dan jauh berbeda dengan yang dulu, Mama serta Papa Dan sudah menceritakan juga segalanya, bagaimana cara Papa dulu menebus kesalahan Papa...!"


Ariel terbelalak. "Apa...??? Jadi kau sudah mendengar semuanya sampai akhir???" Serunya.


Gienka mengangguk. "Iya, baru saja Mama serta Papa Dan menceritakannya... Mereka mendengar pembicaraan kita tadi, dan saat aku keluar dengan marah, Mama menyeretku ke kamar kemudian menceritakan segalanya, Papa Dan serta Mama juga yang mengingatkanku bahwa aku tidak boleh marah pada Papa, karena semua sudah berubah sejak lama, tidak ada lagi Papa Iel yang keras kepala dan suka marah-marah...!" Ucap Gienka sambil terkekeh.


Ariel pun tersenyum dan kembali memeluk Gienka. Dia tidak menyangka jika Elea dan Danist mendengar semuanya lalu memutuskan untuk menjelaskan kepada Gienka agar tkdak terjadi kesalah pahaman diantara dirinya dengan putrinya itu. Ya, memang masa lalu nya begitu buruk dan jika mengingatnya Ariel sendiri merasa malu sekali tetapi masa lalu adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus di lalui manusia untuk mengambil sisi positifnya dan membuang yang buruk agar bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya. Ariel senang akhirnya putrinya itu mau memahami dirinya. Gienka adalah kebanggaannya dan kesayangannya. Ariel memejamkan matanya mengucap syukur tidak terkira kepada Tuhan atas semua ini, dan juga dia akan mengucaoka terima kasih pada Danist dan juga Elea nanti.