
Kyra langsung merasa lemas membaca pesan dari Zayan. Masih berharap ini bukanlah kenyataan. Kyra benar-benar ingin menangis. Dia tidak menyangka jika Zayan akan seperti ini, karena bahkan tadi pagi, tidak ada masalah yang cukup berarti karena Kyra juga masih berbicara dengan Zayan di telepon dan mereka masih baik-baik saja, meskipun Kyra tidak bisa memungkiri bahwa akhir-akhir ini Zayan bersikap lebih banyak diam daripada sebelumnya. Tetapi Kyra yakin dia tidak ada masalah yang berat dengan Zayan, lelaki itu juga tidak pernah mengeluhkan apapun pada Kyra.
"Hai Ra.... Sorry lama ya??? Macet...!" Gienka datang dan duduk di kursi yang ada di depan Kyra.
Gienka tadi mengejutkan Kyra, akan tetapi sahabatnya itu tidak terkejut, dan Kyra juga tidak melihat ke arahnya tetapi Kyra justru seperti sibuk dengan urusannya sendiri. "Ra... Kyra..!!!" Teriak Gienka untuk. menyadarkan Kyra dari lamunannya.
Kyra hanya melirik ke arah Gienka, ekspresi nya datar, tidak seperti biasa nya. Gienka di buat heran dengan sahabatnya yang bersikap seperti ini. "Ra... Are you okay???" Tanya Gienka.
Kyra masih diam tetapi menggelengkan kepala nya.
"Kenapa Ra??? Kau sakit ya???"
Kyra kembali menggeleng tanpa menjawab apapun, membuat Gienka menjadi khawatir. "But why Ra??? Kenapa cerita dong??? Tadi di telepon kau baik-baik saja, kenapa sekarang jadi begini???" Tanya Gienka lagi. "Apa terjadi sesuatu dengan orang rumah???? Atau terjadi sesuatu dengan Ky???? Ra jawab dong jangan membuatku bingung dan panik???"
Kyra menatap Gienka dengan tatapan sedih dan maanya mulai berkaca-kaca. "Zayan..." Gumamnya pelan.
Gienka mengernyit. "Kenapa dengan Zayan???" Tanya Gienka lagi.
Kyra memberikan ponselnya pada Gienka. Gienka mengambil ponsel itu, masih bingung sebenarnya tetapi Gienka mencoba membuka nya. Dan layar ponsel itu menunjukkan sebuah pesan dari Zayan. "Kyra... Aku minta maaf, sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai disini.. Aku merasa sudah tidak ada kecocokan lagi di antara kita.. Kau sibuk dengan urusanmu sendiri dan lebih sering mengabaikanku, dan saat ini aku ingin kita putus... Hubungan ini sudah tidak bisa lagi di lanjutkan.. Maafkan aku...!?" Ucap Gienka membaca pesan itu.
Gienka terperangah menatap Kyra. "Zayan mengirim ini???? Kok bisa??? Dia bercanda mungkin Ra??? Kau sudah menghubungi nya???"
"Aku langsung menghubungi nya sesaat setelah pesan itu di kirim tetapi ponselnya tidak aktif...?"
"Coba aku yang akan menghubungi nya.." Gienka mengambil ponselnya dan menghubungi Zayan. "Aktif Ra... Menyambung kok!" Ucap Gienka lagi dan mengaktifkan loudspeaker nya. Benar memang ponsel Zayan aktif, tetapi kenapa ketika Kyra menghubungi nya tidak bisa. Sayangnya panggilan itu tidak di jawab.
Kyra pun kembali mencoba menghubungi Zayan, dan anehnya masih tidak bisa. Mengindikasikan bahwa kontak Kyra di blokir oleh lelaki itu. Menyadari hal itu, Kyra menjadi lebih sedih lagi. Tetapi wajahnya kesal terlihat di wajah Gienka. Gienka pun memilih untuk menghubungi Zayan lagi dan kali ini bukan panggilan biasa melainkan panggilan video. Beberapa kali Gienka terus mencoba nya tetapi tidak ada jawaban, dan Gienka tidak mau menyerah sampai panggilan itu di angkat oleh Zayan.
Jelena keluar dari kamar mandi dan kesal dengan suara ponsel Zayan yang terus berdering. Lelaki itu seperti nya meninggalkan ponselnya, karena Zayan pergi keluar sebentar untuk membeli makan siang di restoran terdekat. Jelena pun menuju tempat ponsel Zayan berada, dimana ponsel itu ada di atas meja sebelah tempat tidur. "Gienka??? Siapa perempuan ini??? Berani sekali menggoda Zayan ku, video call pula.. Awas saja...!" Gerutu Jelena dan mengangkat panggilan itu dengan penuh kekesalan.
"Heiii.... Siapa kau berani sekali mengganggu kekasihku???? Berhentilah menghubungi nya atau kau akan berurusan denganku...!" Ucap Jelena pada Gienka dengan suara ketus apalagi melihat wajah cantik Gienka muncul di layar ponsel itu.
"Kau..??? Siapa kau??? Kenapa ponsel Zayan ada bersamamu???" Tanya Gienka.
"Kau yang siapa, berani sekali menghubungi ponsel kekasihku???"
"Kekasihmu??? Apa maksudmu???" Tanya Gienka.
"Dasar perempuan tidak tahu diri....! Jangan ganggu lagi Zayan.." Jelena langsung menutup panggilan video dari Gienka.
"Shiiiiittt....!" Gerutu Gienka. "Siapa memangnya dia???"
Kyra menatap Gienka, dan dia jelas mendengar apa yang di katakan oleh perempuan yang mengangkat ponsel Zayan. "Dia kekasih Zayan???" Celetuk Kyra.
Gienka mengarahkan pandangannya ke Kyra, sadar dengan apa yang dikatakan oleh perempuan itu. "Ra.... Jangan-jangan dia yang mengirimi mu pesan tadi... Bukan Zayan..?"
"Apa maksudmu Zayan berselingkuh dariku???"
Gienka menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi dari ucapannya tadi dia bilang kekasih Zayan... Aku rasa ada yang tidak beres... Kau harus menemui Zayan dan meminta penjelasan darinya... Aku takut jika perempuan itu yang mengirim pesan tadi padamu, bukan langsung dari Zayan...!"
"Bagaimana bisa bertemu Zayan??? Kontak ku saja sudah di blokir olehnya...!?"
"Kita bisa menemuinya di kantor kan??? Ini masih jam makan siang, mungkin dia ada di luar atau bersama perempuan itu, dan nanti juga akan kembali ke kantor... Lebih baik kita menunggu Zayan di kantornya.. Bicaralah dengannya, jangan sampai karena salah paham, hubunganku jadi rusak... Kau harus bertanya pada Zayan apa Zayan yang mengirim pesan itu atau tidak... Aku akan mengantarmu.." Ujar Gienka.
Gienka memanggil pelayanan, membayar makanan yang tadi di pesan Kyra lalu membatalkannya. Dia kemudian tidak jadi makan siang dengan Kyra, dan akan mengantar Kyra untuk menemui Zayan, takut jika nanti Zayan sudah berada di kantor. Gienka akan menunggu Kyra untuk berbicara dengan Zayan nanti nya. Mereka berdua kemudian meninggalkan restoran menuju kantor Zayan. Gienka mengemudikan mobilnya dan menyuruh Kyra meninggalkan mobilnya di restoran.
★★★
Akhirnya Gienka dan Kyra sampai di depan kantor Zayan. Baru saja Kyra menghubungi salah satu teman Zayan di kantor untuk menanyakan apakah lelaki itu berada di kantor atau tidak, dan ternyata Zayan sedang keluar. Gienka pun mengusulkan untuk menunggu Zayan di area parkir saja, karena area parkir ada di depan jadi mereka akan bisa melihat jika nanti mobil Zayan datang.
"Gie... Bagaimana perempuan yang tadi mengangkat panggilan video mu itu??? Apa dia cantik??? " Tanya Kyra.
"Bagaimana jika Zayan sendiri yang mengirim pesan itu??? Sebenarnya Gie, beberapa waktu yang lalu, ada teman kantorku yang mengatakan padaku jika mereka melihat Zayan sedang bersama seorang perempuan yang cantik seumuran denganku...!"
"Bersama perempuan???"
Kyra mengangguk. "Iya, tetapi aku tidak terlalu memperdulikan ucapan mereka, karena mungkin perempuan itu sepupu Zayan atau sekedar temannya..!"
"Apa kau menanyakan itu pada Zayan???" Tanya Gienka lagi.
Kyra menggeleng. "Tidak... Karena aku pikir itu tidak penting, tetapi sekarang itu seperti menjadi ketakutan untukku, bagaimana jika perempuan itu adalah perempuan yang sama yang mengangkat panggilan mu tadi???"
Gienka melempar senyum. "Ra... Ketakutanmu wajar, akan tetapi lebih pastinya lebih baik kau tanyakan langsung pada Zayan, aku berharap itu tidak benar.."
"Eh Ra... Itu mobil Zayan...! Kau cepat temui dia dan berbicaralah...!" Gienka menunjuk ke arah mobil Zayan yang memasuki area parkir.
Zayan memarkir mobilnya. Setelah itu dia melepaskan seatbelt dan keluar dari mobilnya. Zayan pun berjalan untuk memasuki kantornya. Sementara itu, Kyra setengah berlari mengejar Zayan. "Zayan....! Sayang...!" Teriak Kyra, mendengar itu Zayan menoleh ke belakang, mendapati Kyra berlari ke arahnya. Zayan pun terkejut dengan kedatangan Kyra, dan ada ketakutan untuk bertemu perempuan itu, Kyra pasti sudah membaca pesan itu, dan sekarang pasti ingin menanyakan hal itu kepada nya. Tetapi Zayan tidak bisa menghindar dan dia sudah membuat keputusan.
Kyra berhenti dan napasnya terengah. Dia menatap Zayan dan tersenyum. "Sayang... Aku menerima pesan dari kontakmu, itu tidak benar kan??? Kau mencintaiku dan tidak mungkin kau ingin mengakhiri hubungan kita???" Tanya Kyra. Bersamaan dengan itu, Gienka juga ikut menghampiri keduanya.
"Bukan kau yang mengirim pesan itu kan??? Tadi Gienka menghubungimu dan ada perempuan yang mengangkatnya, perempuan itu bilang dia kekasihmu, itu bohong kan??? Kau tidak mungkin meninggalkanku, kau kan sudah berjanji pada Ky kalau kau tidak akan menyakiti ku... Atau tadi kau hanya mengerjai ku karena kau ingin memberiku kejutan?? Iya kan???"
Zayan menatap Kyra. Dia sangat bingung sekali harus mengatakan apa, karena dia tidak ingin menyakiti Kyra. Ada penyesalan di hati Zayan karena dia sudah melakukan kesalahan karena bermain api dengan Jelena. Dan Kyra menjadi korbannya. Tetapi saat ini Zayan tidak memiliki pilihan lain selain harus meninggalkan Kyra.
"Aku memang yang mengirim pesan itu, dan aku rasa penjelasanku di pesan itu sudah jelas kan? Hubungan kita memang harus di akhiri Ra.. Aku sudah tidak bisa lagi menjalin hubungan denganmu.. Maaf ya Ra???"
"Apa??? Jadi kau yang mengirim pesan itu??? Kenapa Zay?? Apa salahku??? Kita sudah memutuskan untuk serius tetapi kenapa kau justru mengakhiri hubungan kita???"
"Pernikahan saja bisa bercerai, apalagi sebuah hubungan seperti ini Ra??? Serius juga tidak menjamin bisa bertahan, sudahlah aku rasa tidak perlu lagi ada penjelasan apapun, aku sudah memberitahumu di pesan itu, aku harus segera masuk ke kantor, dan aku juga ingin mengingatkanmu, bahwa berhentilah bersikap kekanak-kanakan, kau sudah dewasa jadi permasalahan seperti ini tidak perlu harus kau ceritakan kepada kakakmu ataupun keluargamu, jika kau melakukan itu, aku semakin yakin bahwa kau memang gadis yang manja dan hanya mengandalkan kekuasaan orang tua mu saja..!" Ucap Zayan lalu meninggalkan Kyra begitu saja.
Mendengar itu, membuat amarah Gienka memuncak. Ternyata pesan itu di tulis oleh Zayan sendiri, dan sekarang Zayan justru menghina Kyra. "Hei Zayan...!" Teriak Gienka dengan kesal dan melangkah mengejar Zayan.
"Kau benar-benar breengsek...!!! Bagaimana bisa kau mengakhiri sebuah hubungn yang sekian lama kau jalani, hanya dengan sebuah pesan, kau sama sekali tidak bertanggung jawab... Aku berpikir bahwa selama ini kau pasti sudah bermain di belakang Kyra, dan kau akhirnya meninggalkannya.."
"Sudahlah Gie... Ini masalahku dan Kyra, kau jangan ikut campur..!"
Gienka tersenyum mengejek. "Itu tentu urusanku, Kyra sahabatku dan Kyros juga sudah menitipkan Kyra padamu, tetapi kau malah memperlakukannya dengan buruk sekali..Kenapa Zay, kau melarang Kyra menceritakan ini pada orang tua nya dan Kyros??? Kau takut kalau mereka akan marah padamu ya??? Takut mereka tahu kalau kau selama ini berselingkuh dengan perempuan itu??? Iya kan???"
"Gie... Sudah aku bilang jangan campuri urusan kami... Aku hanya ingin Kyra bisa belajar untuk bersikap dan tidak terus kekanak-kanakan.."
"Owh... Kau mengatakan Kyra kekanak-kanakan ya??? Hebat sekali Zay... Kau benar-benar brengseek dan tidak tahu diri... Ky sebentar lagi akan pulang, dan jika Kyra menuruti keinginanmu, maka tidak denganku, aku akan memberitahu Ky tentang apa yang sudah kau lakukan pada Kyra, selain Ky, aku juga tidak segan melaporkan mulai pada uncle Adit.." Gienka tidak segan mengancam Zayan. Baginya ini sudah keterlaluan.
Gienka berbalik badan dan menghampiri Kyra yang sudah mulai terisak. Gienka memegang kedua bahu Kyra. "Ra... Jangan pernah kau membuang air matamu untuk orang seperti dia... Biarkan dia dengan pikiran piciknya, kau terlalu berharga untuk orang yang tidak berguna seperti dia... Bersyukurlah kalau hubunganmu dengannya berakhir, itu artinya Tuhan menyayangimu dan tidak ingin kau dengan orang yang salah... Kau harus bisa membuktikan jika kau nanti akan mendapatkan orang yang jauh lebih baik daripada dia... Ayo kita pergi...!" Gienka pun mengajak Kyra kembali ke mobil dan meninggalkan area perkantoran Zayan.
Zayan hanya menatap kepergian kedua perempuan itu dalam diam dan penuh dengan ketakutan. Takut jika Gienka akan mengatakan semua nya pada Keluarga Kyra. Zayan tidak tahu kenapa Gienka bisa bersama Kyra di waktu seperti ini.
Gienka mengemudikan mobilnya dengan muka masam, kesal dengan apa yang di lakukan oleh Zayan pada Kyra. Sementara Kyra mencoba menahan diri untuk tidak menangis, meskipun hatinya sangat terluka sekali.
"Zayan memang brengseek.... Berani sekali dia mengancam mu Ra, kau harus menceritakan ini pada Uncle Adit dan juga Kyros.. Aku geram sekali..." Geritu Gienka.
"Tidak Gie... Kita jangan mengatakan apapun pada mereka... Aku tidak mau ini semakin melebar.. Apalagi kalau sudah berurusan dengan Apap..Lebih baik jangan.. Kau harus diam dan jangan mengatakan apapun pada Ky ataupun Apap, please..???" Pintar Kyra pada Gienka.
"Tapi Ra, kita tidak bisa mendiamkan sikap Zayan.. Lagipula suatu saat pasti uncle Adit dan Kyros tahu kalau kau putus dengan Zayan???"
"Aku akan mencari alasan mengenai berakhirnya hubunganku dengan Zayan... Hatiku saat ini sakit sekali Gie, aku masih seperti mimpi, aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan mencari jawaban dari semua ini... Kau tahu kan aku sangat mencintai Zayan???"
Gienka menoleh dan melempar senyum. "I know Ra, tetapi aku sangat berharap kau bisa ikhlas meskipun berat, tetapi yakinlah, Tuhan pasti akan membantumu dan akan memberikan yang terbaik, dengan hal ini, artinya Tuhan sudah mengingatkanmu bahwa Zayan bukan laki-laki yang baik..."
Kyra menganggukkan kepala nya dan tiba-tiba airmata nya tumpah, dia menangis. Hatinya sakit sekali, dan tidak percaya jika Zayan dengan mudahnya meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Melihat Kyra menangis, Gienka menepikan mobilnya dan melepaskan seat belt nya, lalu memeluk Kyra, menenangkan sahabatnya itu. Kyra butuh meluapkan segala perasaannya dan menangis menjadi cara terbaik. Gienka menenangkan Kyra dan memberi semangat pada sahabatnya itu, bahwa hidup harus terus berjalan dan yakin Tuhan pasti akan memberikan kebahagiaan nanti nya untuk Kyra. Kyra harus perlahan melupakan Zayan meskipun tidak mudah, tetapi tidak ada guna nya juga terus bersedih.