
Keesokan harinya, Ariel bersama Maysa, Gienka dan Brianna psikolog yang kemarin membantu Gienka sembuh dari traumanya. Ariel sebenarnya memiliki ketakutan untuk datang ke rumah sakit setelah di usir oleh Elea kemarin. Tetapi dia tidak memiliki pilihan lain karena Brianna menyuruhnya untuk mengantar perempuan itu dan Gienka ke rumah sakit. Gienka ingin sekali melihat dan bertemu Danist, bocah itu terus merengek dan tidak mau berhenti memanggil nama Danist. Salah satu cara yang bisa membuat Gienka berhenti adalah memperlihatkan Danist pada Gienka. Brianna juga akan menemui dokter yang merawat Danist untuk meminta ijin agar Gienka bisa masuk dan bertemu Danist meskipun hanya beberapa menit saja.
Ariel menggendong Gienka yang tidur dan berjalan di koridor menuju ruang ICU tempat dimana Danist sedang dirawat, diikuti Maysa dan Brianna dibelakangnya. Dan sampailah mereka disana. Elea langsung berdiri begitu melihat Ariel datang membawa Gienka.
"Kenapa kau kesini??? Dan apakah ini cara licikmu dengan membawa Gienka agar kau bisa datang kesini???" Elea memandang tajam ke arah Ariel.
Ariel diam dan dia menolah ke belakang untuk meminta bantuan Brianna agar menjelaskan keadaan Gienka pada Elea. Dengan harapan Elea tidak lagi berprasangka buruk terhadapnya. Seolah mengerti maksud Ariel, Brianna yang berdiri tepat di belakang Ariel pun melangkah pelan dan menyapa Elea.
"Perkenalkan, saya Brianna Angela, saya psikolog anak dan diminta oleh Aditya untuk membantu permasalahan Gienka, putrimu mengalami trauma tentang hal yang terjadi kemarin, dia melihat dengan jelas semuanya membuatnya seharian merasa ketakutan jadi aku diminta datang untuk membantunya, dan aku menyuruh Ariel membawanya kesini karena dia terus merengek ingin menemui Papa Dan, aku menyarankan pada Ariel agar mengajaknya kesini saja, setidaknya itu bisa membantunya walau hanya sedetik saja bisa melihat wajah papanya"
Elea sangat terkejut mendengar hal itu dari Brianna, tetapi kemudian yang lebih mengejutkan lagi adalah ekpresi Mama Danist melihat siapa yang saat ini sedang berbicara dengan Elea.
"Anna??" Ucap Mama Danist dengan wajah yang heran. Dia sangat mengenal Brianna, perempuan itu adalah teman kuliah Danist dulu dan sering datang ke rumahnya.
"Tante Sari???" Gumam Brianna yang tidak kalah terkejutnya.
"Jadi yang sakit adalah Danist??? Astaga....!!" Ucap Brianna dengan ekspresi tidak percaya dan terkejut.
Sedetik kemudian Brianna tersadar dan langsung menghampiri Mama Danist, menyalaminya dengan sopan lalu memeluknya.
"Tante Sari apa kabar???"
"Baik Ann, kau sendiri bagaimana? Sudah lama sekali kita tidak bertemu!"
"Aku sangat baik! Aku tidak menyangka jika saat ini yang sedang sakit adalah Danist"
Brianna adalah mantan kekasih dari Danist saat berkuliah dulu, jadi Mama Danist pun sudah mengenal Brianna. Tetapi Elea belum tahu mengenai hal itu.
"Mama kenal dia???" Kali ini Elea bertanya kepada mertuanya, dia bingung karena dia baru pertama kali melihat Brianna tetapi tampaknya mertuanya sudah sangat mengenal perempuan ini.
Mama Danist sedikit terperanjat mendengar pertanyaan Elea. "Ah ini Anna, dia dulu temannya Danist saat kuliah, Ann kenalkan ini Elea istrinya Danist"
Elea kemudian menjelaskan bahwa tadi dokter sudah mengijinkannya untuk masuk menemui Danist, tetapi lelaki itu masih belum sadarkan diri. Hanya saja jika kondisi Gienka yang memang memerlukan bertemu dengan Danist, dia meragu jika dokter akan mengijinkan anak kecil untuk masuk, mengingat di dalam cukup steril, itupun tadi dia hanya diberi waktu hanya 5 menit saja ketika di dalam. Setelahnya langsung disuruh untuk keluar lagi.
Brianna menganggukkan kepalanya dan mengerti sekali dengan kondisi ini. Tetapi dia juga harus mewujudkan keinginan Gienka karena jika tidak itu pasti bisa mempengaruhi mentalnya. Brianna memutuskan untuk menemui dokter yang menangani Danist agar bisa menjelaskan kondisi dari Gienka saat ini yang sangat memerlukan untuk bertemu dengan Danist. Brianna pun pergi untuk menemui dokter, sementara itu Elea mengambil Gienka dari gendongan Ariel.
Elea tidak banyak bicara dan langsung duduk memangku putrinya yang masih tidur. Dia sangat merindukan Gienka dan Friddie, tadi Mamanya sudah dia suruh untuk pulang dan melihat keadaan Friddie, dia juga sempat memompa asi nya dan menitipkannya pada sang Mama karena sejak kemarin Friddie hanya meminum susu formula saja.
Ariel berdiri terdiam saja mihat Elea memangku Gienka dan menciuminya.
Dengan langkah pelan, Ariel mendekati Mama Danist yang sedang duduk di samping Elea. Sementara Elea memandang Ariel dengan sinis karena masih merasa sangat kesal dan kecewa sekali dengan lelaki itu. Tetapi tiba-tiba Ariel duduk berjongkok tepat di depan Mama Danist dan memegang jemari wanita itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Tante....!!! Tolong maafkan kesalahanku selama ini, aku benar-benar menyesal, aku akui bahwa aku sebenarnya sangat malu terhadap diriku sendiri saat aku mengetahui semua kebenaran yang ada dan sudah banyak mengatakan hal buruk terhadap kalian hingga membuatku juga enggan mengakui semuanya, tetapi aku berani bersumpah bahwa aku saat ini benar-benar menyesal, Danist sudah mengorbankan nyawanya untukku, aku baru sadar jika dia sangat menyayangiku, aku sangat menyesal, tolong maafkan aku???" Ucap Ariel dengan diiringi isakan kesedihannya.
"Mama jangan terpengaruh oleh kesedihannya, itu hanya akan sia-sia saja jika Mama memaafkannya, dulu dia juga pernah melakukan ini padaku dan Danist, tetapi lihatlah apa yang selama ini terjadi, dia masih bersikap sama saja...! Dia masih merendahkan suamiku, masih sering berpikir buruk kepada suamiku, padahal seharusnya dia bersyukur karena apa yang dulu dia lakukan kepadaku di apartemen masih bisa dimaafkan oleh Danist, dan tidak dilaporkan ke polisi atas tuduhan percobaan pemerkosaan!" Ujar Elea kesal.
"Apa....!!!!???"
Kali ini Mama Danist, Papa Elea dan Maysa berseru secara bersamaan dengan apa yang baru dikatakan oleh Elea. Tentu saja mereka terperanjat, karena permasalahan itu memang selama ini dia dan Danist sembunyikan dari keluarganya. Dan hanya mereka berdua, Ariel serta Cahya, Aditya, Chitra dan Randy saja yang mengetahuinya.
"Apa maksudmu El??? Memangnya apa yang sudah dilakukan Ariel???" Kali ini Papa Elea yang bertanya kepada putrinya itu.
Dengan tarikan napas yang panjang, Elea mulai menceritakan semua kejadian memalukan itu pada Papanya dan Mertuanya, tentu Maysa juga mendengarkannya. Dimana saat itu Ariel mengajaknya bertemu dengan alasan merindukan Gienka. Kejadian itu terjadi sebelum Danist pergi ke Swiss untuk pekerjaan, dan waktu itu Danist masih berada di kantor utama untuk mengurus semua persiapannya sebelum ke Swiss. Saat bertemu dengan Ariel di cafe yang ada di apartemennya, Ariel memberikan minuman untuknya yang ternyata sudah dimasukkan pil yaitu pil yang bisa membuat napsu perempuan naik. Ariel tahu kapan pil itu akan bereaksi, dan dia memanfaatkan kunci cadangan apartemennya yang dulu pernah dia berikan pada Ariel. Dan kunci itu digunakan Ariel untuk masuk tanpa permisi ke apartemennya saat permen itu mulai bereaksi dari tubuhnya.
Ariel mencoba melakukan itu saat dia sedang merasakan efek gila dari permen itu, beruntungnya Danist datang disaat yang tepat dan menghentikan itu, membuat keduanya berkelahi hebat di apartemen. Setelah menghajar Ariel, Danist mengusirnya dan keesokan harinya langsung mengganti akses pintu apartemen dengan yang baru. Dan setelah kejadian itu, Ariel menghilang selama beberapa bulan, tidak ada yang tahu dimana keberadaannya.
Wajah Papa Elea langsung berubah seketika setelah mendengarkan cerita dari putrinya itu, dia langsung berdiri dan dengan kasar menarik Ariel.
"Berani sekali kau melakukan hal serendah itu pada putriku, kurang ajar!! Apa kau masih belum puas sudah menghancurkan kehidupannya dulu"
Sebuah bogem keras mendarat di wajah Ariel membuat Ariel jatuh ke lantai. Elea berdiri dan memberikan Gienka pada Mama Danist, kemudian menghentikan Papanya.
"Sudahlah Pa, kita tidak perlu lagi membuang-buang tenaga untuk manusia seperti Ariel, selama ini aku terlalu baik kepadanya, aku memberikannya kebebasan untuk bersama Gienka berharap dia bisa merubah sikap buruknya dan bisa bekerja sama denganku dan Danist untuk urusan Gienka, ya dia bisa bekerja sama denganku tetapi tidak dengan suamiku, dia terus saja menghinanya padahal Danist sekalipun tidak pernah mengatakan hal buruk tentangnya, Danist selalu memilih diam dan lebih banyak mengalah tetapi manusia ini tidak juga menyadari betapa baiknya hati suamiku, tetapi dia semakin menjadi-jadi dengan kebenciannya terhadap Danist"
Elea menarik Papanya dan mengajaknya untuk kembali duduk, membiarkan Ariel menahan kesakitannya setelah dipukul dengan keras oleh Papanya. Ariel meringis dan ada darah di sudut bibirnya tetapi dia memlih tidak membalas pukulan Papa Elea karena dia tahu dia memang sudah melakukan kesalahan, tetapi Ariel benar-benar tidak menyangka jika hal di masalalu itu ternyata sampai saat ini tersimpan rapi. Bahkan ternyata Aditya dan Randy juga mengetahuinya, tetapi kenapa kedua sahabatnya itu memilih berpura-pura tidak tahu.
Ariel pun berganti mendekat lagi ke Mama Danist. "Tante....!!! Tolong berikan aku maafmu dan ijinkan aku bertemu dengan Danist agar aku juga bisa mengatakan itu padanya, aku benar-benar menyesal.... Aku mohon...!"
"Sudah cukup Iel, apa yang baru saja aku dengar itu sangat melukai hatiku, kau tega melakukan hal serendah itu pada istri Danist yang tak lain adalah ibu dari anakmu sendiri, hal sebesar itu harusnya tidak di diamkan begitu saja, harusnya Danist sudah menyeretmu ke penjara, tetapi hati putraku terlalu baik, dan kau tidak pernah berhenti menyakitinya untuk kesekian kalinya..!"
Mama Danist menarik napasnya dan menghelanya panjang. "Aku dan Danist menerima semua penghinaan darimu, tapi kali ini aku rasa sudah cukup bersikap baik kepadamu, benar kata Elea bahwa jika itu dilakukan lagi itu hanya akan sia-sia saja...! Kau bisa pergi dari tempat ini sekarang, tidak perlu lagi datang menjenguk anakku, tidak perlu, untuk Gienka biarkan dia ada disini, ada Brianna yang nanti akan mengurusnya, pergilah...!" Mama Danist berdiri dan membawa Gienka menjauh dari Ariel, dia tidak memperdulikan lagi teriakan Ariel yang memanggilnya meminta maaf kepadanya.
Mama Danist benar-benar merasa kecewa saat ini. Dia sangat menyesal selama ini sudah memperlakukan Ariel dengan baik, harusnya Ariel tidak perlu mendapatkan itu semua karena kejahatan yang sudah dilakukan lelaki itu. Ariel dan Maysa pun akhirnya pergi meninggalkan Elea dan yang lainnya dengan sedih.
****
Brianna akhirnya kembali dari ruang dokter dengan senyumnya, setelah bujukan dan menceritakan tentang kondisi Gienka, dokter mengijinkan bocah itu untuk bisa bertemu dengan Danist. Walaupun dokter hanya memberi waktu 3 menit saja dan Gienka harus didampingi olehnya nanti, tetapi bagi Brianna itu tidak masalah, setidaknya Gienka akan merasa lebih baik karena keinginannya bisa terwujud. Tetapi selain itu, Brianna sendiri ingin sekali melihat Danist juga, sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu dengan laki-laki yang pernah mengisi hatinya dulu.
"Loh... Kok sepi?? Ariel mana??? Gienka juga???" Brianna bertanya pada Elea.
Elea tersenyum. "Ariel sudah pulang, tetapi Gienka sedang bersama Mama mertuaku, bagaimana??.Apa kata dokter???" Kali ini Elea yang bertanya balik pada Brianna.
"Dokter mengijinkan Gienka untuk bertemu dengan Danist tetapi aku harus bersamanya nanti, hanya diberi waktu 3 menit saja, tetapi aku berharap itu bisa membuat Gienka merasa lebih baik.."
"Amin...!! Aku akan memanggil Mama agar bisa membawa Gienka, dan kalian bisa masuk...!"
Brianna pun menganggukkan kepalanya, lalu Elea pergi untuk mencari keberadaan Mama mertuanya pasca kemarahannya pada Ariel dan dia juga sudah mengusirnya tadi.
Beberapa menit kemudian Elea kembali bersama dengan Mama Danist, dan Gienka masih tertidur di gendongannya. Brianna pun menyarankan agar menunggu Gienka bangun saja, tidak baik jika membangunkan anak itu yang tidurnya begitu lelap daripada nanti jika dipaksa bangun Gienka malah akan menangis.
Brianna duduk di samping Elea dan mengobrolkan tentang kondisi Gienka.
Tubuh Gienka perlahan mulai bergerak, bocah itu membuka matanya. Dia tampak melirik ke berbagai arah, kemudian dengan suara pelan dia memanggil Elea. "Mama...!" Gumamnya.
Elea yang sedang mengobrol dengan Brianna menoleh dan tersenyum. "Kau sudah bangun????"
Gienka perlahan turun dari pangkuan neneknya dan mendekati Elea, kemudian memeluknya. Elea membalas pelukan putrinya dan mencium keningnya dengan lembut. Gienka dengan polosnya menengok ke segala arah terlihat sedang mencari sesuatu.
"Papa Yel mana??? Dia bilang akan membawaku beltemu papa Dan...!"
"Papa Iel mu sudah pulang, tetapi Gienka akan bertemu Papa Dan sekarang sesuai janji Papa Iel padamu..!" Sahut Brianna.
Brianna membungkukkan badannya dan menatap Gienka dengan senyum manisnya. "Tante akan membawa Gienka yang cantik ini bertemu dengan papa Dan, tetapi Gienka tidak boleh berisik ya saat nanti ada di dekat Papa Dan, karena dia sedang tidur, terus, Gienka juga harus memakai rompi khusus, ingat ya tidak boleh berisik dan mengganggu Papa Dan... Promise???" Brianna mengangkat jari kelingkingnya di depan Gienka untuk mengikat janji bersama bocah itu.
"Plomise...!" Jawab Gienka dan membalas acungan jari kelingking Brianna.
"Oke...! Sekarang Gienka ikut tante dan kita akan menemui papa Dan di dalam....!"
Brianna kemudian berdiri dan menggandeng tangan Gienka, membawa anak itu masuk ke ruang ICU.
Brianna kemudian menjelaskan bahwa kondisi Gienka jauh lebih baik dari kemarin, pertemuannya dengan Danist tadi membuat anak itu senang, tetapi Brianna mengatakan jika dia masih harus menemui Gienka beberapa kali lagi sebelum benar-benar memastikan bahwa Gienka tidak lagi mengalami trauma yang berat. Karena dia harus segera ke tenpat prakteknya, Brianna pun berpamitan kepada semua orang, dan memberikan doanya untuk kesembuhan Danist.
"Kau kesini naik taksi atau membawa mobil, jika kau naik taksi aku dan Cahya akan mengantarmu, sekalian kami harus membawa Gienka pulang" Tanya Aditya.
"Tidak Dit, sebenarnya tadi aku kesini dengan Ariel dan kekasihnya, siapa itu ya namanya Maysa, tetapi mereka sudah pulang lebih dulu, untungnya tadi aku tidak ikut semobil dengan mereka dan membawa mobilku sendiri, oke aku permisi dulu!" Dengan langkah cepat Brianna meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Aditya mengajak Papa Elea untuk minum kopi di kantin rumah sakit. Dan Cahya meminta agar Elea mandi dan berganti pakaian, dia dan Mama Danist akan berjaga dan akan menemani Gienka. Elea pun menuruti usulan Cahya, karena sejak kemarin dia memang belum mandi, dan tubuhnya juga terasa lengket sekali, beruntungnya Cahya membawakan pakaian untuknya.
Cahya tersenyum melihat Gienka sedang diciumi oleh Mama Danist seolah Gienka adalah cucu kandungnya sendiri. Cahya merasa sangat bersyukur karena Elea dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Danist dan Mamanya yang mau menerima segala kekurangan Elea dengan baik, mencintai Elea dan Gienka dengan tulus.
Elea akhirnya kembali dari kamar mandi dan sudah terlihat lebih segar. Gienka langsung berlari mendekati Elea dan bicah itu dengan perasaan gembiranya mengatakan jika dia akan pergi ke rumah baru Kyra dan Kyros dan akan berenang bersama mereka. Cahya pun meminta ijin Elea agar bisa membawa Gienka pulang, dan berjanji akan mengurus Gienka dengan baik sehingga Elea bisa fokus mengurus Danist disini sementara Mamanya bisa fokus juga mengurus Friddie. Gienka pasti akan merasa lebih baik jika bisa menghabiskan waktu bersama Kyra dan Kyros.
"Ca, terima kasih banyak, selama ini kau dan Adit selalu jadi yang terdepan membantuku dan Danist, kami bahkan tidak tahu harus bagaimana untuk bisa membalas kebaikan kalian berdua, kami sudah terlalu sering merepotkan kalian...!"Gumam Elea.
"Kau ini bicara apa sih El, kita sudah seperti keluarga, dan kita harus saling membantu, kau juga sering memambantu kami, jadi anggap saja ini impas hehehe, jangan khawatir, aku akan mengurus Gienka dengan baik, fokus saja pada kesehatan Danist"
Beberapa menit kemudian Aditya dan Papa Elra kembali dari kantin. Melihat Gienka yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kyros dan Kyra, Cahya mengajak Aditya untuk bisa segera membawanya dan Gienka pulang. Mereka pun berpamitan pada Elea, Mama Danist dan Papa Elea, serta meminta agar terus mengabari tentang perkembangan dari kondisi Danist.