I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 279



"Kalian semua...???" Theo di buat terkejut ketika dia mendapati ada Aditya, Cahya, Kyra, Axel dan kedua orang tua nya datang. Theo sendiri baru sampai di rumah sakit sekitar 15 menit yang lalu.


Aditya tersenyum. "Ya, kami semua ingin menjenguk Celia.. " Ucap Aditya. "Bagaimana dia??" Tanya Aditya.


"Dia ada di dalam, masih istirahat.. " Jawab Theo.


"Axel ingin menjenguk Celia, dia memutuskan untuk datang dan memenuhi permintaan mu... Dan Kyra yang membujuk Axel agar mau datang kesini" Ucap Aditya lagi.


Theo tersenyum. Dia menyalami Axel dan mengucapkan Terima kasih karena sudah bersedia datang. Theo juga menyalami Kyra, mengucapkan Terima kasih karena Kyra begitu baik dan mau membawa Axel untuk datang kesini.


"Boleh masuk, tetapi bergantian.. " Ucap Theo.


Axel mengajak Kyra bersama nya masuk. Aditya dan Theo juga mengikuti mereka di belakang. Sementara Cahya dan kedua calon besannya menunggu di luar.


Ketika masuk, Kyra terperangah ketika melihat kondisi Celia yang terbaring. Celia sangat kurus sekali, sangat berbeda jauh dari apa yang sebelumnya dia lihat saat bertemu dengan Celia. Perempuan itu terbaring, katanya menatap kosong ke langit-langit ruang perawatannya. Celia hanya diam saja tidak bergerak.


"Hari ini dia sangat tenang dan tidak berteriak seperti sebelum-sebelumnya.. " Ucap Theo. "Itulah kenapa aku berani meninggalkannya tadi.. " Lanjut nya lagi.


"Apa dia mau berkomunikasi??" Tanya Aditya.


"Sesekali dia berkomunikasi tetapi dia hanya tidak lagi mengenali orang... Psikiater setiap hari datang untuk memeriksa nya, dan terkadang dia bisa sangat lancar berbicara, tetapi sering juga melantur kemana-mana.. " Jawab Theo.


Aditya mengusap kepala Celia dengan lembut. Dia juga seorang ayah dan ikut merasakan bagaimana perasaan Theo saat ini melihat anaknya terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang begitu menyedihkan seperti ini. Celia sangat kurus dan lingkar mata nya menghitam menandakan bahwa dia jarang tidur atau mungkin bisa jadi sering menangis. "Dia sangat pucat. " Gumam Aditya.


"Ini jauh lebih baik daripada saat pertama kali aku membawa nya kesini.. " Ucap Theo. "Celia sayang.... Lihatlah siapa yang datang kesini, ada Axel... Dia datang untuk menjenguk mu.. " Ucap Theo.


"Ajaklah dia bicara.. Apa saja.. " Bisik Kyra pada Axel. Lelaki itu meragu tetapi kemudian Kyra tersenyum menganggukkan kepala nya.


Axel maju beberapa langkah mendekati ranjang tempat Celia berbaring. Kyra memilih mendekat ke arah Aditya dan Theo yang ada di sisi kiri ranjang. Sedangkan Axel ada di sisi kanan. "Celia.....!!" Panggil Axel dengan suara lembut. Axel memegang kening Celia dan mengusapnya. Axel memandang menatap Kyra, dan Kyra tersenyum ke arahnya. Memberi ijin kepada Axel untuk mencoba berkomunikasi dengan Celia. Meskipun Kyra tidak memungkiri bahwa ada kecemasan di benaknya mengenai ketakutan dari Amam nya jika Axel menemui Celia. Tetapi Kyra meyakinkan dirinya bahwa Axel sangat mencintainya dan bisa mengambil keputusan dengan bijak.


"Celia....???" Panggil Axel lagi. "Bagaimana keadaanmu???" tanya Axel.


Sedetik kemudian. Celia tiba-tiba bangun dan duduk. Dia langsung memegang tangan Axel dengan erat. Hal itu membuat orang yang ada di ruangan itu cukup terkejut. Celia langsung memeluk perut Axel dan menangis. "Axel....???" Panggilnya. "Papa dimana Papa???" Tanya Celia.


Mendengar itu, Theo bergegas mendekat ke Axel dan memegang wajah Celia. "Papa disini... Jangan menangis, Papa ada disini.. " Ucap Theo. Tetapi Celia tidak melepaskan pelukannya pada Axel. AXel bingung melepaskannya tetapi Kyra meminta Axel untuk bertahan dan menenangkan Celia.


"Papa, Axel... Mama, dia melemparkan kepalaku dengan batu saat aku lari, Mama melempar batu di kepala ku...!!! Sakit sekali....!! Sakit sekali, aku tidak di periksa dokter, aku kesakitan... Mama memukulku, aku tidak makan, Mama memukulku, Oma mengikat ku.... Mereka jahat.... Aku di lempar batu, sakit...!!!!" Ucap Celia sambil terisak dan dia terus memeluk Axel begitu erat.


"Celia.... Apa yang kau katakan...!!??" Tanya Theo.


"Batu... Kepalaku di lempar batu, sakit, menangis, sakit... Mama sakit tolong aku Papa. Adek tolong aku... aku takut Mama.. Oma... Mereka memukulku...!" Celia terus menangis.


Tampaknya gadis itu mulai luluh, dan dia melepaskan pelukannya pada Axel, tetapi masih terisak. Theo mengambil tisu dan mengelap air mata putri nya. Kyra mengambilkan kursi untuk Theo dan lelaki itu duduk di sebelah ranjang Celia dengan Axel yang masih berdiri di sebelahnya. Axel memberikan minum kepada Celia agar merasa lebih tenang.


"Celia sayang....???" Panggil Theo. Celia kembali menatap lurus dengan tatapan kosong tetapi sudah berhenti menangis.


"Mama jahat.... Aku sakit tidak di obati, kepalaku sakit.... Aku ingin bertemu Papa, Papa bilang akan mengantarku bertemu Kyra, aku minta maaf kepadanya, supaya Axel tidak marah lagi... " Ucap Celia lagi tetapi dia terus menatap ke arah tembok tanpa melihat ke arah Theo ataupun Axel yang ada di depannya.


Theo tersenyum. "Saat pulang setelah menemui kalian, dia mengatakan padaku jika dia sangat menyesal sudah bersikap buruk pada Kyra dan juga padamu Dit.. " Theo memandang Aditya. "Dia memintaku mengantarnya ke rumahmu untuk meminta maaf, tetapi karena malam itu Cyntia membawa nya pulang dengan paksa sehingga hanya aku yang datang ke rumah kalian.. " Ujar Theo dengan sedih.


"Lalu bagaimana dengan apa yang baru saja dia katakan mengenai Cyntia yang melemparkan batu itu???" Tanya Aditya.


"Mungkin hal itu memang di lakukan Cyntia kepada nya, Celia sering mengatakan itu ketika dia mengingatnya... Dan itu juga di katakan kepada psikiater saat mencoba bertanya tentang beberapa hal kepada nya, Celia mengatakan hal itu berulang kali, seolah itu memang terjadi dan dia mungkin saja mengalami hal itu sehingga merasa trauma... "


"Ya Tuhan... Jika itu benar, Cyntia benar-benar sudah gila....! Tega sekali dia melakukan hal sekeji itu pada anaknya sendiri..??? Benar-benar tidak waras.. Lalu apakah dia sudah mengakui itu pada polisi???"


Theo menggelengkan kepala nya. Sejauh ini Cyntia masih berusaha membela diri dan tidak mau berkata jujur, begitu juga dengan Mama nya. Mereka bekerja sama untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


"Mereka sama sekali tidak berubah.... Bagaimana bisa ada manusia seperti itu.. Ya Tuhan.... Mereka harus di hukum berat ata apa yang terjadi saat ini." Ucap Aditya.


"Mama jahat, dia menculik ku, aku di pukuli, kepala ku di tendang, dia pikir kepalaku adalah bola.. Papa akan mengantarku bertemu Kyra. Aku ingin minta maaf, " Ucap Celia lagi. "Papa bilang tidak baik merusak kebahagiaan orang lain, apalagi mereka mau menikah... Tapi Mama kejam"


Kyra mendekati Celia. dan dia meraih tangan perempuan itu. "Celia...??? Aku dan Axel sudah memaafkanmu, bahkan sebelum kau meminta maaf... Kau harus cepat sembuh ya???" Ucap Kyra.


Celia masih menatap lurus dengan pandangan kosong. Dia tidak merespon apapun. Hal inilah yang membuat Theo sedih dengan kondisi putrinya Tetapi dokter juga psikiater meminta agar Theo bersabar, dan tidak berhenti mengajak Celia mengobrok dan menceritakan berbagai hal, karena itu bisa sedikit membantu Celia untuk pulih. Trauma psikis yang begitu berat telah di alami oleh Celia, di tambah lagi luka di otak nya membuat Celia berada di kondisi yang tidak baik-baik saja.


***


Setelah menjenguk Celia, Aditya dan yang lainnya pun pulang. Mereka semua merasa sedih melihat kondisi Celia yang seperti itu. Cahya merasa menyesal sekali sudah memiliki pikiran negatif sebelum datang kesini. Dia berpikir kondisi Celia tidak sepedah itu, tetapi ternyata sangat memprihatinkan. Usia Celia masih begitu muda, masa depannya masih sangat panjang, tetapi dengan mudahnya perempuan yang sudah melahirkannya justru melakukan hal yang tidak berperikemanusiaan seperti itu. Hanya satu kata yang dapat mereka ucapkan pada Cyntia, yaitu Kejam. Sudah hilang hati nurani dan otaknya.


Di tengah perjalanan. Ponsel Aditya berbunyi, dan Aditya mengkoneksikan ponselmya itu ke mobilnya. Sehingga Aditya langsung mengangkat panggilan itu melalui fitur canggih yang ada di mobilnya. Dan saat ini di kursi penumpang ada kedua orang tua Axel. Sedangkan Axel dan Kyra ada di mobil berbeda. "Ya...???" Jawab Aditya.


"Selamat sore Pak... Saya ada info penting untuk bapak???" Ucap om seorang laki-laki di ujung telepon.


"Ya, katakan saja.. Kabar terbaru apa yang kau bawa???"


"Pengacara datang ke kantor polisi menemui ibu Cyntia. dan mereka merencanakan sesuatu... Ibu Cyntia meminta pada pengacara nya agar membuat kabar tidak bagus tentang Axel, Ibu Cyntia meminta agar Axel di libatkan dalam masalah ini karena Axel menolak kembali dengan anaknya, sehingga hal itu memicu Celia kabur sehingga Ibu Cyntia terpaksa untuk mengurung Celia... Dengan hal itu nanti Axel bisa menyusulmya ke penjara, dan karirnya akan hancur begitu juga pernikahannya dengan putri anda... Gosip itu akan di persiapkan dalam beberapa hari ke depan... Dan Bu Cyntia meminta agar itu di lakukan dengan hati-hati agar anda tidak tahu jika di balik itu ada peran bu Cyntia... "


Sontak semua orang yang ada di mobil pun di buat terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar. "Brengseeekkk berani sekali.... " Ucap Aditya. "Oke kau bekerja sangat bagus... " Lanjut nya lagi kemudian panggilan itu di tutup.


"Cyntia..... Cyntia....!!!" Geram Aditya. "Kau sepertinya belum puas untuk berulah lagi pada keluarga ku... Sebelum kau melakukan itu, aku akan pastikan kau akan hancur lebih dulu.. Kau selalu berpikir bahwa aku bodoh, tetapi aku tidak pernah bodoh untuk menghancurkan orang sepertimu.. Kau akan dapati sesuatu yang mengejutkan besok... " Ancam Aditya.