
Kyra dan Gienka kembali membongkar tumpukkan kertas, majalah dan buku-buku. Kyra membuka beberapa dari tumpukan itu, tampak majalah-majalah bisnis itu menarik perhatiannya karena ada foto Aditya terpampang disana dengan tagline berbagai prestasi perusahaannya. Apapnya terlihat tampan dan keren sekali, bahkan sampai saat ini juga masih sama. Apapnya masih terlihat muda, mempesona, setia, sayang dengan keluarga juga sangat bersahaja. Jika dia bukan anaknya mungkin Kyra akan menoleh dua kali jika melihat Apapnya. Dan ini adalah alasan Kyra ingin menjadi seperti Apapnya, berprestasi dan sukses di usia muda, juga bisa memimpin perusahaan yang begitu banyak. Kyra sangat bangga sekali dengan hal itu dan dia selalu ingin seperti Apapnya karena itu keren sekali.
Gienka membuka sebuah koran terbitan lama, dimana matanya terbelalak ketika membaca salah satu judul berita yang ada disana. Gienka pun menepuk pundak Kyra yang ada di sebelahnya dan menunjukkan koran itu pada sahabatnya. Kyra pun memfokuskan pandangannya kepada koran itu, dan melihat sebuah gambar seseorang disana. Kyra memperhatikan dengan betul. Dia pernah mendengar nama orang itu dari kedua orang tua nya dan kali ini akbirnya dia mengetahui seperti apa wajahnya.
"Pap....!" Panggil Kyra pada Aditya yang sedang duduk berjongkok tak jauh darinya, Apapnya itu sedang sibuk mencari buku di dalam laci.
Aditya menoleh. "Ya sayang....!" Jawabnya.
Kyra mendekat ke Apapnya dan menunjukkan koran itu. "Apa dia perempuan yang dulu menculik Kyros???" Tanya Kyra.
Aditya mengambil koran itu dan melihatnya. "Iya...! Dia yang menculik Ky...!" Jawab Aditya.
"Dia itu sebenarnya siapa Pap, sampai tega menculik Ky...???" Tanya Kyra.
"Wah sepertinya kalian sibuk sekali....!" Cahya masuk ke dalam perpustakaan membawa nampan berisi minuman dan menghampiri suaminya juga Kyra dan Gienka.
Cahya meletakkan nampan di atas meja dan ikut duduk di lantai. "Apa yang kalian temukan???" Cahya mengambil koran yang di pegang oleh Aditya, kemudian membacanya. Dan raut wajah Cahya berubah menjadi sedih.
Cahya mengangkat kepalanya dan tersenyum memandang suaminya juga putrinya bergantian. "Cyntia...!" Gumamnya pelan dengan suara bergetar dan matanya mulai berkaca-kaca. Ingatannya tentang kejadian itu masih begitu membekas di hatinya. Untuk kedua kalinya dia hampir saja kehilangan putranya karena kejahatan seseorang. Meskipun sudah berlalu bertahun-tahun lamanya tetapi selama nya Cahya tidak akan bisa melupakan kejadian itu. Penderitaan yang di alami Kyros dulu masih bisa dia rasakan hingga saat ini.
"Dia manusia yang hidupnya di penuhi dengan sifat iri, dengki dan tidak manusiawi, hatinya selalu di penuhi kemarahan dan kebencian...!" Gumam Cahya lagi.
Aditya mendekat ke Cahya dan memeluk istrinya untuk menenangkannya.
"Kenapa dia begitu jahat Pap??? Mam???" Tanya Kyra lagi.
"Entah apa kesalahan yang sudah amam lakukan padanya sehingga dia bisa membenci Amam begitu dalam, Amam tidak pernah merasa bersalah terhadapnya..!"
Cahya mulai bercerita awal mula dia dan Cyntia bersiteru, Cahya tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Justru Cyntia lah yang merusak hubungan yang terjalin antara Cahya dan Theo, mantan kekasih Cahya. Dulu dia merelakan di khianati oleb Theo dan memilih untuk menjalani hidup tanpa lelaki itu.
Hingga suatu malam, Cahya tidak sengaja bertemu mereka berdua dan masalah itu mulai terjadi, dimana Cyntia justru memaki dan menghina Cahya. Ada juga satu moment dimana penghinaan itu sudah melewati batas. Yaitu ketika Cyntia datang ke rumah Cahya dan marah-marah. Kejadian terjadi sekitar 20 tahun yang lalu.
★‡★‡★ Back to 20 Years ago ★‡★†★‡
Cahya membereskan semuanya dan menuju dapur. Hari ini keluarga Aditya datang untuk menjenguk ibunya yang baru saja pulang dari rumah sakit karena jatuh. Dan Cahya memasak untuk tamu nya itu karena sebelumnya ketika Aditya sakit, Cahya dan keluarganya juga di sambut dan di jamu oleh keluarga Aditya. Itulah kenapa Cahya juga melakukan hal yang sama. Ketika sedang mencuxi piring di dapur, sedangkan yang lainnya mengobrol di halaman belakang, Cahya mendengar bunyi ketukan pintu membuat Cahya akhirnya menghentikan aktifitasnya menyuci piring dan berjalan kedepan untuk melihat siapa yang datang. Cahya keluar dan saat didepan pintu dia terkejut karena yang datang adalah Theo.
“ Theo?? Ada apa kau kemari??” Tanya Cahya dan tiba-tiba Theo langsung memeluk Cahya segera Cahya melepaskan pelukan itu.
“ Apa kabar??? Kau tidak mempersilahkan aku masuk??” Tanya Theo balik dan langsung masuk kedalam padahal Cahya belum mempersilahkannya untuk masuk.
“ Ca, bagaimana kabarmu?”
Cahya tidak menjawab pertanyaan Theo dan memandangnya sangat kesal. Theo pun justru malah berganti tempat duduk dan duduk disamping Cahya lalu dengan cepat menggenggam tangan Cahya dan menciumnya sambil berkata bahwa dia sangat merindukan Cahya.
“ THEO..........!!!!”
Suara keras itu membuat Cahya dan Theo terkejut, seketika Theo melepaskan genggaman tangannya dengan Cahya, dan Cahya langsung mundur dan berdiri melihat Cyntia yang berteriak dengan keras.
“Apa yang kau lakukan disini??? Kau mendatangi rumah perempuan miskin ini” Teriak Cyntia dengan keras, saking kerasnya semua orang yang ada di halaman belakang terkejut, dan penasaran dengan apa yang terjadi didepan, mereka semua kecuali Aditya yang masih sibuk menelepon bergegas kedepan melihat apa yang terjadi.
“Kenapa kau bisa kesini Beib??” Tanya Theo yang ketakutan dengan amarah Cyntia.
“Aku mengikutimu, dan kau perempuan miskin yang tidak tau diri, kemana harga dirimu bisa-bisanya kau berhubungan dengan tunanganku, apa kau tidak malu, dia sudah memiliki kekasih dan bertunangan denganku, dan beraninya kau memeluk Theo dan membiarkannya mencium tanganmu, dimana harga dirimu??” Cyntia tetap berteriak tidak peduli dengan kehadiran ibu Cahya dan beberapa orang lainnya yang sedang melihatnya marah.
“ Kau salah paham Cyntia, aku bisa menjelaskan, itu tidak benar” Seru Cahya menjelaskan.
“ Diam kau!!! dasar pelaacur!!” Teriak Cyntia lagi.
PLAAAKK..........!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Cyntia, membuat Cyntia terkejut ternyata Chika mendaratkan tamparan untuknya.
“ Tidak bisakah kau menjaga mulutmu itu, berani-beraninya kau mengatakan kakakku pelacur” Teriak Chika marah, tetapi Cyntia justru tertawa dengan apa yang diucapkan Chika.
“ Berani sekali kau menamparku, kau bocah baru kemarin apa yang kau tau tentang kakakmu?? Oh ya.... dirimu pun tak jauh berbeda dengan kakakmu, sama-sama pelaacur, kalian berdua bekerja sama untuk menggaet laki-laki kaya agar kalian bisa memerasnya, setiap hari kau diantar jemput oleh pacarmu yang kaya raya itu, kau memanfaatkan kecantikanmu dan kepolosanmu untuk mendapatkan uang dari pacarmu..!" Suara Cyntia begitu keras dan menatap Chika dengan tatapan mencmooh kemudian melanjutkan lagi ucapannya.
"Dan kakakmu itu juga melakukan hal yang sama denganmu, mencari laki-laki kaya untuk memoroti uang mereka, sekarang giliran tunanganku yang dia incar untuk jadi korban berikutnya, bertahun-tahun dia tidak bisa melupakan Theo walaupun dia tahu Theo sudah meninggalkannya, dia masih menginginkan Theo untuk di jadikan korban kebinalannya dan keserahkahannya, apa ibu kalian tidak mengajari kalian untuk menjadi anak yang baik??”
“ Cukup Cyntia cukup, jangan bawa-bawa ibu dan adikku” Teriak Cahya sambil menahan airmata nya karena penghinaan Cyntia kepada adik dan ibu nya. Tetapi Cyntia justru jari telunjuk Cyntia menunjuk ke arah ibu nya.
“ Hei ibu tua, tolong ajari kedua anakmu itu, agar mereka menjadi perempuan benar, tapi kurasa kaupun membiarkan mereka, oh iya kau malah membiarkan anakmu setiap hari dijemput laki-laki dan sore baru diantar pulang, dengan sengaja kau membiarkan mereka menjadi pelacur karena kau juga bisa menikmati hasil yang mereka dapatkan dari para lelaki kaya itu, apa jangan-jangan kau dulu juga melacurkan dirimu sehingga sekarang di ikuti oleh anak-anakmu!”
PLAAAAAAKKK.......!!!!
Lagi-lagi satu tamparan mendarat di pipi Cyntia, dan kali ini Cahya yang menamparnya, Cyntia pun terlihat lebih marah dan bersiap membalas menampar Cahya tetapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan tangan Cyntia dari belakang, itu tangan Aditya. Wajah Aditya sangat marah, sedari tadi dia mendengarkan ocehan Cyntia yang tidak ada habisnya menghina Cahya dan keluarganya.
Saat Aditya sedang menelepon tadi, dia melihat semua orang buru-buru berjalan kedepan, Aditya pun menutup teleponnya dan ikut kedepan, tetapi karena terhalang oleh keluarganya yang berdiri terkejut dengan keributan yang dibuat oleh Cyntia, Aditya pun kembali ke belakang dan memilih lewat samping rumah untuk melihat lebih dekat dengan apa yang terjadi.
Tanpa diketahui siapapun ternyata dia sudah berdiri di depan rumah dan menyimak ocehan Cyntia sambil menahan amarahnya, Aditya sudah tidak bisa menahannya lagi saat tau Cyntia menunjuk-nunjuk ibu Cahya sambil menghinanya, lalu Cahya menampar Cyntia dan ternyata Cyntia juga akan menampar Cahya, Aditya pun menghentikannya.
“Sudah cukupkah ocehanmu itu??” Tanya Aditya geram dan melotot menatap Cyntia, tetapi tampaknya Cyntia tidak merasa takut dengan Aditya, justru dia masih melanjutkan tuduhannya.
“ Oh Tuan Aditya, anda disini ternyata dan sudah mendengar apa yang terjadi disini, aku tau kalau anda berbohong waktu itu, anda bilang anda adalah kekasihnya, tapi dari info yang aku peroleh, anda tidak pernah menjalin hubungan serius dengan perempuan, jadi aku rasa saat itu kau sedang berbohong, oh mungkin saja saat dipesta itu anda membayar dia untuk menemani anda semalam, ah dia memang peelacur hebat hingga bisa menaklukkan pria kaya seperti anda, aku yakin tidak akan ada pria yang mau menikahinya karena dia hanya akan menghabiskan hidupnya untuk mengejar para pria kaya dan meminta bayaran tinggi” Ujar Cyntia.
“Kau berbicara seolah mulutmu itu tidak pernah disekolahkan, sudah cukup kau menghina keluarga calon istriku” Ucap Aditya marah, semua orang terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan Aditya tetapi mereka memilih diam untuk membiarkan Aditya menghentikan kekacauan ini.
“Keluarga Calon Istri???” Cyntia berucap memperjelas apa yang di ucapkan Aditya.
“ Iya, Cahya adalah kekasihku dan calon istriku, dan hari ini, kau menghancurkan acara lamaranku, kau lihat mereka adalah orang tua ku, aku mengajak mereka kesini untuk melamar Cahya, dan kami akan segera menikah!”
“ Menikah??? Aku tidak percaya, pasti anda hanya melindungi perempuan pellacur ini” Cyntia membantah semua ucapan Aditya.
“ Berhenti memanggil kekasihku dengan sebutan peelacur,
kaulah yang sesungguhnya pellacur, dan kau ingat 1 minggu lagi kami akan menikah, akan aku kirim undangan untukmu dan kekasih bodohmu ini, jika kau berani berucap lagi, akan aku robek mulut lebarmu itu, sekarang kalian berdua pergilah....!!! Jika tidak, besok kalian akan tahu akibatnya...! Teriak Aditya mengancam untuk membungkam Cyntia.
Theo pun menarik Cyntia mengajaknya pergi.
Suasana pun hening setelah kepergian Cyntia dan Theo. Cahya tidak kuasa menahan airmata nya, dia terisak setelah melihat keluarganya di hina dan di rendahkan oleh Cyntia, bahkan itu terjadi di hadapan keluarga Aditya.
“ Adri, bisa kau antarkan Mama dan Papa pulang terlebih dulu, nanti kau bisa menjemputku lagi” Pinta Aditya pada Adiknya.
“ Tidak Adit, mama akan tetap disini menemani bu Rina, Adri tolong kau bawa bu Rina ke kamarnya, mama akan menemaninya” ucap Nyonya Harry lalu mengikuti Adri yang membantu Ibu Cahya berjalan menuju kamarnya lalu disusul oleh Chika.
Chika menyuruh Adri untuk menemani papanya, biar dia dan mamanya yang menemani ibu dikamar.
Sedangkan Cahya berlari ke arah halaman belakang dan menangis, Aditya menyusul Cahya dan memeluknya agar Cahya merasa tenang.
“Apa yang salah denganku Dit?? kenapa Cyntia menghina keluargaku dengan begitu kejamnya, kenapa tidak aku saja yang di hina , kenapa ibu dan adikku juga?? Mereka tidak tahu apapun, aku sangat malu kepadamu dan keluargamu” Cahya terisak dipelukan Aditya.
Aditya berpikir bagaimana bisa Cyntia tahu bahwa Adri sering menjemput dan mengantar Chika, pasti ada sesuatu yang sudah di lakukan Cyntia untuk mengawasi keluarga Cahya, Aditya akan menyelidikinya, dan si Bodoh Theo itu dia hanya diam melihat Cyntia menghina Cahya dan tidak berusaha menghentikan Cyntia, lelaki macam apa dia.
“ Apa yang sebenarnya terjadi Ca?? Kenapa Cyntia mengoceh tak terkendali?” Tanya Aditya yang penasaran dengan awal mula kejadian ini bisa terjadi, lalu sambil terisak Cahya menceritakan semuanya.
Aditya melihat Cahya sedang duduk sendiri dan melamun, kemudian dengan segera dia duduk disampingnya dan tersenyum menanyakan apa yang sedang dipikirkannya. Sambil berurai airmata Cahya pun menceritakan bagaimana kehidupannya selama 3 tahun ini yang di penuhi perjuangan untuk melupakan kesakitan yang di tinggalkan Theo untuknya dan memulai hidup baru, menjaga ibu dan adiknya agar selalu bahagia, tapi kenapa di saat apa yang dia inginkan sudah tercapai itu tidak bertahan lama, jika saja dia tidak datang ke pesta itu mungkin dia tidak akan bertemu dengan Theo dan hidup keluarganya tidak akan seperti saat ini.
Cahya juga menanyakan kenapa Cyntia begitu membencinya padahal dia selama ini tidak pernah mengusik kehidupan Theo.
Aditya terlihat bingung tidak tau apa yang harus dikatakan atas pertanyaan Cahya kepadanya. Lalu dia mengatakan pada Cahya bahwa hanya ada 1 cara untuk menghentikan Theo dan Cyntia yaitu Cahya harus menikah, agar fitnah yang di tanam Cyntia tidak menyebar kemana-mana tetapi raut wajah Cahya terlihat meragu seolah menolak ide tersebut.
" lSudahlah Ca tidak perlu kau khawatir, orang tuaku bukan tipe orang yang mudah menghakimi seseorang, mereka tahu kalau kalian adalah keluarga baik-baik, dan apa yang di ucapkan perempuan sialan itu hanyalah bualan tanpa alasan, kau tenanglah"
"Lalu bagaimana dengan janjimu pada Cyntia??" Cahya bertanya kerena bingung dengan keadaannya, kenapa Aditya berbicara seperti itu pada Cyntia.
"Jangan kau pikirkan itu dulu, kita akan cari solusinya nanti, sekarang kau tenanglah" Aditya memeluk Cahya mengusap bahu nya agar perempuan itu merasa tenang.
★‡★‡★‡
"Dan kalian benar-benar menikah???" Tanya Kyra pada kedua orang tuanya.
"Ya, semua persiapan dilakukan kurang dari satu minggu, dan kami benar-benar menikah...!" Jawab Aditya.
"Dan kalian bahagia dengan pernikahan itu...!" Ujar Gienka.
"Pada awalnya tidak... Karena selama lebih dari satu bulan kami tidak pernah tidur bersama, Amam mu takut pada Apap, dan Apap harus tidur di sofa, sementara Amam mu tidur di kasur empuk milik Apap...!"
"Hah????? Serius????" Tanya Kyra tidak percaya.
"Tanya saja dengan orangnya, dia ada disini kan??" Gumam Aditya.
Kyra memandang Amamnya yang tersenyum malu. "Serius Mam???" Tanya Kyra lagi.
Cahya mengangguk. "Iya sayang...! Itu benar, dan itu terjadi karena Amam masih belum hisa menerima Apapmu, pernikahan itu mendadak, Amam juga belu. begitu mengenal Apap mu, jadi Amam masih takut...Tetapi semua berlalu karena setiap hari Amam di hujani perhatian, cinta dan kasih sayang yang luar biasa dari Apap mu, lama-lama luluh juga...!"
Kyra dan Gienka tertawa. "Cieee......!! Mau tapi malu...!" Celetuk Kyra.
""Lalu bagaimana bisa perempuan bernama Cyntia itu bisa menculik Kyros???" Tanya Gienka.
"Ulah Cyntia tidak hanya berhenti disitu saja, beberapa bulan setelahnya, Cyntia membakar rumah yang di tinggali oleh nenek Kyra, beruntungnya semua bisa di selamatkan, penyelidikan di lakukan dan dalangnya adalah Cyntia, saat pernikahannya dengan Theo di adakan, polisi datang dan menangkap Cyntia, dan dia di penjara atas perbuatannya...!" Jelas Aditya pada Gienka.
"Itu belum berakhir.... Saat Cytia di penjara, Theo justru datang lagi dan membawa duka untuk Aunty..." Sahut Cahya.
"Membawa duka??? Maksudnya???" Tanya Gienka penasaran.
Cahya menceritakan jika Theo menjebaknya dan menculiknya. Theo menyekapnya, tetapi ketika Aditya datang untuk menyelamatkan, Theo berusaha menusuk Adotya dari belakang dan Cahya menyingkirkan Aditya hingga pisaunitu akhirnya menusuk perut Cahya. Saat itu Cahya sedang hamil anak pertama, dan Cahya mengalami keguguran akibat insiden itu.
"Kami kehilangan bayi yang sedang kami nantikan, Aaron begitulah nama yang di berikan oleh Aditya, dalam agama kita jika seorang ibu hamil kehilangan janin dalam kandungannya, janin itu tetap harus di kubur dengan baik dan di beri nama dengan nama anak laki-laki, dan namanya Aaron...!" Ujar Cahya menjelaskan.
Saat itu dunia Cahya sangat gelao dan hancur karena kesalahannya sendiri yang mengakibatka diAa di culik oleh Theo. Cahya di jebak, dan kurang berhati-hati, padahal Aditya sebelumnya sudah melarangnya untuk pergi kemana-mana setelah bekerja tetapi Cahya tidak mengindahkannya. Dan terjadilah musibah itu. Hancur dan frustasi itu Yang di rasakan oleh Cahya, hingga dia mengalami depresi.
Cyntia di hukum atas perbuatannya tetapi hukuman itu berkurang. Entah aoa yang di lakukan oleh Keluarga Cyntia sehingga Cyntia bisa keluar dari penjara lebih cepat, dan Theo juga di penjara karena apa yang sudah di lakukannya pada Cahya hingga Cahya keguguran.
Hukuman itu tidak membuat Cyntia berubah, dia masih sama, jahat egois dan licik. Beberapa tahun kemudian Cyntia justru mekKukan penculikan terhadap Kyros dan menyiksa Kyros kecil yang saat itu belum genap satu tahun. Kyros hampir kehilangan nyawa tetapi bisa di selamatkan di waktu yanv teoat karena jika tidak, Kyros bisa saja akan meninggal dunia, karena Kyros overdosis obat batuk orang dewasa, pencernaannya terganggu dan terus buang air besar keluar darah. Siapapun yang melihat kondisi Kyros tidak akan tega.