
Axel menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur, meskipun ini belum larut dan baru jam 9 tetapi Axdl berniat tidur lebih awal dan besok bangun tidak terlalu pagi. Besok weekend, tidak ada kegiatan apapun yang akan di lakukannya. Sebenarnya dia berniat sore tadi untuk pulang, tetapi berhubung orangtuanya juga sedang pergi keluar kota, Kyra juga berada di Amerika, Axel membatalkan niatnya untuk pulang dan akan menikmati hari liburnya di rumah yang dia sewa sebagai tempat tinggalnya sementara disini.
Axel baru saja memejamkan matanya tetapi ponselnya berbunyi. Dia meraih ponsel yang ada duatas meja itu, mengira Kyra yang menghubunginya, tetapi ternyata bukan Kyra melainkan Aditya. Sontak Axel langsung bangun dan duduk, mengatur napasnya sebelum akhirnya dia mengangkatnya.
"Malam Om... Apa kabar???" Sapa Axel dengan ramah.
"Malam...! Kau sedang apa? Belum tidur kan???" Tanya Aditya.
"Belum Om belum....! Apa ada yang bisa saya bantu???"
"Kau besok tidak ada kegiatan apapun kan??? Jadi bisakah kau malam ini pulang???"
Axel menggerutkan dahinya. "Pulang?? Kenapa memangnya Om? Apa semua baik-baik saja??"
"Semua baik-baik saja! Aku hanya ingin mengajakmu pergi ke Amerika, besok siang kami semua akan kesana dan menengok Gienka, jadi kalau kau tidak ada kegiatan, pulang saja sekarang, siapkan segala sesuatunya dan besok siang datang ke rumah, kita berangkat bersama-sama! Bisa???"
Sejenak Axel tertegun tetapi kemudian mengiyakan bahwa sekarang juga dia akan pulang. Mengingat sudah malam, Aditya pun melarang Axel pulang mengendarai mobil sendirian, dan memintanya untuk memesan taksi saja. "Berikan nomor rekeningmu, om akan transfer uang untuk biaya taksimu kesini...! Perjalanan yang jauh dan jika naik taksi pasti akan mahal!" Ujar Aditya.
"Ah tidak perlu om, tidak perlu, Axel pakai uang Axel sendiri saja! Hanya untuk bayar taksi saja tidak mungkin saya harus meminta pada Om, saya akan bersiap untuk pulang!"
"Oke baiklah... Jangan lupa dokumen-dokumenmu kau siapkan dengan baik, dan ya, jangan katakan pada Kyra, Gie ataupun Ky kalau kita akan kesana, Om tunggu di rumah besok...!"
"Oke Om...!"
Panggilan ditutup, Axel beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap. Tidak banyak persiapan yang di lakukannya hanya mengganti celana juga mengambil jaket hoodie nya. Axel juga sudah memanggil taksi, dia masih bingung kenapa keluarga Kyra ingin berangkat kesana, dan untuk apa tujuannya. Mengingat kemarin Kyra mengatakan jika kondisi Gienka sudah baik-baik saja dan sudah pulang juga dari rumah sakit. Kyra juga bilang bahwa seluruh anggota keluarga sudah merasa tenang dan tidak ingin memperpanjang masalah mengingat itu yang di inginkan oleh Gienka. Dan mereka sekarang justru tetap ingin pergi kesana.
Taksi pesanannya pun datang, Axel membuyarkan lamunannya dan langsung pergi untuk pulang. Aditya mengajaknya menyusul Kyra dan ini juga kesempatan bagus untuknya bisa bertemu dengan Kyra.
★★★★★★
2 Hari kemudian......!
Kyra, Gienka dan Kyros menikmati sarapan mereka. Gienka ternyata masih marah pada suaminya, dan hanya menjawab seperlunya saja ketika Kyros bertanya tentang satu hal. Sementara Kyra hanya menjadi penonton saja, urusan suami istri itu dia tidak ingin ikut campur. Meskipun beberapa kali Kyros meminta bantuannya dan dia mencoba memberi pengertian pada Gienka, nyatanya Gienka sendiri masih marah. Kondisi Gienka sendiri sudah cukup membaik dan wajahnya sudah mulai cerah lagi tidak pucat seperti sebelumnya.
Dan entah kenapa, Kyra kemarin menemukan sebuah ide untuk pergi keluar meninggalkan kedua pasangan itu agar bisa saling berbicara tanpa gangguannya.
"Aku hari ini ada janji bertemu dengan teman-teman ku yang bekerja disini, maybe sore aku baru kembali atau malam, tapi tidak akan terlalu larut....!" Ujar Kyra.
Kyros meminum jusnya dan menatap adiknya. "Temanmu siapa??"
"Ada beberapa yang bekerja disini, dan ini hari libur jadi aku pikir bagus untuk menemui mereka! Gie...! Aku pergi tidak apa kan???" Tanya Kyra.
Gienka tersenyum. "Ya... Kau pergi saja, selagi ada kesempatan kesini kau bisa quality time bersama teman-temanmu!"
"Kenapa Ra??? Kau sejak tadi melihat ponselmu terus??" Tanya Kyros curiga melihat wajah Kyra sejak kemarin terlihat kesal.
"Axel... Entah kemana dia, chatku tidak di balas, dan di balasnya pun berjam-jam, di telepon juga tidak tersambung, baru beberapa hari aku tinggal, dia sudah melupakanku, menyebalkan sekali....!" Gerutu Kyra. "Biar sajalah, aku tidak akan peduli padanya, hari ini aku mau bersenang-senang saja dengan teman-temanku...!" Kyra memundurkan kursinya dan akan bersiap untuk pergi.
"Mau pergi sekarang?" Tanya Kyros lagi.
"Ya, aku bersiap dulu, sudah jam 9...!" Kyra kemudian pergi meninggalkan Kyros dan Gienka di ruang makan.
***
Kyra sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu dan suasana terlihat hening, Gienka yang duduk berselonjor di tempat tidur sambil bermain ponsel. Sementara Kyros juga sibuk dengan laptopnya, beberapa kali dia mencoba bertanya pada Gienka tetapi Gienka sama sekali tidak mau menjawab semua pertanyaannya. Kyros sudah tidak bisa lagi bertahan dengan keadaan ini, sangat menyebalkan sekali melihat kemarahn Gienka yang tidak ada habisnya. Dia pun beranjak dari kursi kerjanya dan mendekati istrinya.
Kyros berdiri disamping tempaat tidur dan langsung saja merebut ponsel yang ada di tangan Gienka, istrinya itu berusaha mengambilnya tetapi Kyros mempermainkannya dan tiidak mau menyerahkannya. "Berikan ponselku...!" Teriak Gienka lalu berdiri dan berusaha merebutnya dari tangan Kyros.
"Tidak akan ku berikan sebelum kau memaafkanku!"
"Ky.... Berikan ponselku....!" Teriak Gienka lagi, samlai akhirnya dia berhasil memegang ponselnya yang ada di tangan Kyros, dan dia menariknya dengan kuat karena Kyros masih belum mau memberikannya hingga akhirnya tarikannya berhasil tetapi Gienka justru akan terjatuh di tempat tidur, refleks Gienka menarik tshirt Kyros, dan keduanya pun terjatuh di tempat tidur.
Kyros tengkurap di atas istrinya dan tertawa, sementara wajah Gienka tertutup oleh rambut panjangnya. Kyros menyibak rambut-rambut itu, dan memandangi wajah cantik Gienka yang ada di depannya. "Aku merindukan istriku yang cerewet dan super bawel ini, tapi dia terus saja marah padaku...! Sudah ya marahnya? Sejak kau sakit kita tidak bisa melakukannya, dan Kyra juga ada disini? Aku yakin kau juga pasti merindukanku, tapi gengsi karena kau marah padaku...! Iya kan???"
Gienka memalingkan wajahnya dan tidak menanggapi ucapan Kyros. Sebenarnya dia sendiri juga merindukan Kyros tetapi dia malu untuk mengatakannya mengingat dia sedang kesal sekali dengan suaminya itu karena tidak mau menuruti keinginannnya kemarin.
"Apa kau yakin tidak merindukan ini???" Kyros meraih tangan Gienka dan mengarahkannya tepat di miliknya lalu mengusapkannya pelan. "Lihatlah dia ingin sekali keluar dari tempatnya, dan memintamu agar mau mengeluarkannya! Ayo sayang kau tidak boleh menolakku, ayo kita bersenang-senang!"
Kyros mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibir Gienka. Tidak ada penolakan karena Gienka langsung menyambutnya. Kyros melepaskan pegangannya pada tangan Gienka, dan tangan istrinya itu justru tetap mengusap miliknya, mengartikan bahwa Gienka saat ini juga menginginkannya. Bibir mereka saling bertautan dan Kyros mengeluarkan erangan pelan karena usapan dari tangan Gienka.
Kedua tangan Gienka berusaha untuk melepaskan celana Kyros tetapi Gienka berhenti begitu juga dengan ciuman mereka. Itu semua terjadi karena dengan jelas mereka mendengar suara interkom berbunyi.
"Shiiit....!!! Kyra ini, katanya akan kembali sore hari kenapa baru jam segini sudah kembali, menyebalkan... Tunggu aku akan mengusirnya" Kyros menggerutu dan mengernyit lalu berdiri dari atas Gienka.
Sementara Gienka hanya tertawa melihat kekesalan di wajah Kyros. Disaat baru saja memulai, bisa-bisanya ada yang datang. Gienka pun juga bangun dari tempat tidur, dan merapikan pakaian serta rambutnya, tadi Kyros juga sudah hampir mengeluarkan pay*daranya.
Kyros melangkah pelan menuju pintu, dan dia terlonjak ketika melihat di monitor interkomnya ternyata itu bukan Kyra, melainkan orangtuanya juga mertuanya. "Oh Goh....! Kok mereka ada disini???" Gumam Kyros yang langsung berbalik badan dan berlari menuju kamarnya untuk memberitahu Gienka.
"Mereka semua ada disini???" Ujar Kyros.
"Mereka?? Mereka siapa???"
"Sumpah sayang, kalau yang ini di luar dari keinginannku, sumpah bukan aku yang menyuruh mereka kesini, sumpah....!" Gumam Kyros lagi.
"Mereka siapa??"
"Orangtua kita, Amam, Apap, Mama Papa semuanya...!"
Gienka langsung terperanjat. "Ini semua salahmu, aku bilang juga apa jangan ceritakan pada mereka, dan lihatlah sekarang, aku tidak akan memaafkanmu!" Gienka menyingkirkan tubuh Kyros kemudian bergegas menuju pintu.
Kyros tidak membantah dan mengikuti Gienka dari belakang. Gienka membuka pintu, dan dia langsung menemukan mertua serta orangtuanya, juga Friddie dan Axel. "Kalian....!" Seru Gienka terkejut.
"Kalian istirahat ya? Lama sekali membuka pintunya!" Ujar Cahya yang langsung memeluk Gienka. "Bagaimana kabarmu sayang? Kau sudah sehat??" Tanya Cahya.
"Aku sudah sehat, kenapa kalian harus repot-repot datang kesini, mari masuk....!"
Kyros memeluk mertua serta orangtuanya. Dan dia tidak menyangka sama sekali jika mereka akan datang, karena seharusnya mereka mengatakan lebih dulu sehingga dia bisa menjemputnya. Kyros mempersilahkan mereka untuk duduk, sementara Cahya, Maysa dan Elea mengajak Gienka untuk ke kamar dan mengobrol disana mengingat ruang depan juga tidak luas.
"Ky... Mana adikmu???" Tanya Aditya.
"Dia pergi mengunjungi temannya Pap, dan baru kembali nanti sore...! Kalian kenapa kesini? Aku sudah bilang bahwa Gienka baik-baik saja, dan bisa-bisa dia marah padaku lagi!!"
Aditya terkekeh melihat ekspresi putranya. "Tidak apa, kami datang hanya untuk berkunjung dan mertuamu sendiri ingin mencari tempat tinggal untuk kalian, jadi kami kesini!"
"Jadi katakan semuanya lebih detail lagi Ky, tentang semuanya!" Pinta Ariel.
"Tapi kalian tidak akan melakukan sesuatu kan pada Camilla, karena Gienka tidak menginginkan hal itu..."
"Tenanglah Ky, kami tidak akan melakukan apapun pada Camilla, kau dan Gienka akan aman setelah kalian pindah nanti!" Sahut Danist.
Sementara itu, Cahya, Maysa dan Elea meminta agar Gienka juga menjelaskan semuanya serta kondisi kesehatannya saat ini. Elea bahkan tidak mau melepaskan genggamannya pada tangan Gienka, dia benar-benar mengkhawatirkan putrinya itu.
Kyros pun menjelaskan semuanya kepada Apap dan Papa mertuanya, dan Axel juga Friddie juga menyimaknya dengan baik. Setelah menjelaskan semuanya, Kyros pun menanyakan perihal akan menginap dimana mereka, mengingat tidak mungkin bisa jika menginap disini semua. Ternyata mereka sudah melakukan check in di hotel, dan barang mereka juga saat ini sudah berada di hotel. Ariel melihat jam tangannya kemudian memberi kode pada Aditya dan Danist agar mereka bisa pergi sekarang.
"Ky, Kami bertiga akan pergi keluar sebentar, biarkan yang lainnya disini, kami akan kembali segera nanti...! Kau jaga Gienka!" Ujar Ariel.
"Pergi??? Pergi kemana? Biar Ky antar... Lagipula disini ada banyak orang yang menjaga Gienka..!"
"Tidak perlu, ada supir dibawah yang sudah menunggu, kau disini saja, mengobrollah bersama Axel dan Friddie! Kami akan mengurus untuk tempat tinggal barumu nanti, jika menurut kami cocok, kau besok atau lusa bisa melihatnya!"
Kyros tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Membuka pintu membiarkan Apap dan mertuanya pergi. Tanpa menaruh curiga Kyros pun kembali menutup pintu dan duduk di sofa lagi mengobrol bersama dengan Adik iparnya dan Calon adik iparnya.
"Apa mereka tidak bisa menunggu besok ya? Baru sampai tapi sudah pergi begitu saja!" Gumam Kyros.
Axel terkekeh. "Biarkan saja, urusan orangtua kita jangan ikut campur...!"
"Axel, Kyra sedang marah padamu, dia tadi pergi karena kau sama sekali tidak bisa di hubungi, daripada bosan dia akhirnya pergi, tau nya kau datang kesini hahaha. Memangnya kau tidak bilang jika akan kesini???"
Axel menggelengkan kepalanya. "Om Adit tidak mengijinkanku untuk mengatakannya! Kyra menemui teman perempuan atau laki-laki Ky???" Tanya Axel penasaran.
"I don't know...! Teman kuliah Kyra sangat banyak sekali yang bekerja disini. Tapi...??? Yang perempuan hanya beberapa saja termasuk Camilla, dan yang laki-laki cukup banyak juga!"
Mendengar itu wajah Axel langsung berubah cemas sekali, membuat Kyros ingin sekali menertawakannya. Tetapi memang itu kenyataannya dan dia juga tidak tahu Kyra akan menemui temannya yang mana.
Disisi lain, ternyata Ariel, Aditya dan Danist tidak pergi untuk melihat-lihat rumah yang akan di tinggali Kyros dan Gienka. Melainkan mereka pergi untuk menemui pimpinan dari perusahaan tempat dimana Camilla bekerja. Mereka sudah mengatur waktu janji temu mereka di salah satu restoran.
Ariel sendiri sebelumnya sudah meminta hasil laporan dari rumah sakit tentang kondisi Gienka pada Kyros. Juga tidak lupa menyuruh Kyros untuk meminta rekaman cctv saat Camilla datang ke apartemennya. Ya, Ariel sudah bersiap untuk hal ini, dia tidak ingin menuduh tanpa bukti, setidaknya nanti pimpinan perusahaan tempat Camilla bekerja bisa mengerti tentang keinginannya untuk putrinya. Camilla harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.
*****
Camilla sudah bersiap untuk pulang, tetapi seorang temannya memberitahu jika dia dipanggil ke ruangan General manager. Camilla mengernyit, untuk apa dia dipanggil, itu tidak biasanya. Camilla mencoba mengingat-ingat apakah dia membuat kesalahan atau hal lainnya sehingga dia harus menemui GM nya sekarang. Sayangnya Camilla tidak merasa melakukan kesalahan atau hal lainnya dan berpikir mungki GM nya akan memintanya melakukan pekerjaan penting.
Camilla pun meninggalkan ruang kerjanya menuju ke ruangan GM nya. Senyum Camilla mengembang ketika memasuki ruangan itu, dan saat masuk, GM nya langsung menatapnya dengan tatapan aneh kepadanya. Tetapi Camilla mencoba mengabaikannya dan tetap bersikap tenang dan dia di persilahkan untuk duduk.
Pembicaraan mereka terdengar sangat serius, sampai akhirnya Camilla mendapatkan bom atom yang jatuh di kepalanya saat GM nya memberitahu tentang hal yang sangat besar kepadanya. Camilla pun langsung memohon agar itu tidak dilakukan tetapi GM tidak bisa berbuat apapun karena itu adalah perintah langsung dari pimpinan.
General manager itu kemudian menyuruh Camilla untuk bersiap meninggalkan kantor ini dan memberinya waktu 3hari menyelesaikan pekerjaan yang belum diselesaikan.
Camilla kemudian keluar dari ruangan itu dengan wajah yang sangat sedih, terpukul dan tidak tahu harus berbuat apa karena dia merasa tidak pernah melakukan kesalahan saat bekerja tetapi dia harus menerima ini semua. Camilla benar-benar lemas dan hancur sekali, rasanya dia ingin sekaki berteriak dan menangis sekeras-kerasnya.
Ariel, Aditya dan Danist sedang dalam perjalanan kembali ke apartemen Kyros. Ariel merasa senang karena ternyata pimpinan perusahaan itu sangat menghormatinya, juga Danist dan Aditya. Terlebih lagi dia tidak menyangka bisa bertemu dengan Aditya yang sudah dikenal oleh banyak pimpinan perusahaan tentang kejeniusannya, serta pengaruh dari Kyros juga yang membawa dampak baik untuk pembicaraan mereka tadi. Bahkan didepan mereka bertiga, pimpinan perusahaan itu langsung menghubungi GM terkait di kantor tempat Camilla bekerja, dan langsung membuat keputusan besar untuk Camilla. Ceo itu tidak menyangka jika salah seorang stafnya bisa melakukan hal sekeji itu, dia sangat tidak suka dengan orang semacam itu ada di lingkup perusahaannya, selain itu dia juga sangat menghormati Ariel sebagai kolega kerja yang baik dan tidak ingin kehilangan kerja sama dengan Ariel. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung mengambil keputusan besar untuk Camilla.