I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 157



"Apa kau bisa berjalan???" Tanya Laki-laki itu pada Kyra.


"Aku rasa kakiku terkilir, tetapi aku sepertinya bisa berjalan..!" Kyra mencoba berdiri lagu tetapi dia kembali mengernyit kesakitan.


"Sudah sudah jangan terlalu dipaksakan, aku akan membantumu berjalan...!"


Laki-laki itu kemudian menopang tubuh Kyra dan membawanya berjalan menuju hari sebuah ruangan lalu mendudukkan Kyra disana. Laki-laki itu kemudian berjongkok dan memeriksa kaki Kyra yang terlihat sedikit bengkak. "Maaf, aku akan memeriksa kakimu" Gumam Laki-laki itu.


Kyra mengangguk sambil meringis, dan laki-laki itu memeriksa kakinya.


"Kakimu memang terkilir, tetapi ini harus segera diatasi sebelum besok semakin membengkak, tunggu sebentar..!" Laki-laki itu berdiri dan meninggalkan ruangan itu.


Sekitar 3 menit akhirnya laki-laki itu kembali dengan menenteng kotak P3K. Dia kembali duduk berjongkok, meminta maaf lagi kemudian melepaskan sepatu Kyra dan memijat pelan kaki Kyra sebelum akhirnya terdengar bunyi.


Kretekkk......


Detik itu juga Kyra langsung berteriak kesakitan. "Arrggghhhh apa yang kau lakukan pada kakiku.... Ahhh...!!!"


Mendengar teriakan Kyra, laki-laki itu justru tersenyum, membuat Kyra memandangnya dengan tatapan kesal.


"Aku tadi sudah minta maaf sebelumnya padamu, dan coba rasakan sekarang, kakimu pasti sudah lebih baik daripada sebelumnya!" Ujar laki-laki itu.


Kyra mengarahkan pandangannya ke bawah dan benar saja, dia mulai merasakan kakinya lebih nyaman dan tidak begitu nyeri seperti tadi, tetapi masih terlihat bengkak. Kemudian lelaki itu mengambil krim dan mengoleskannya ke kaki Kyra setelahnya dia membalutkan perban berwarna cokelat ke kaki Kyra untuk menghindarkannya dari gerakan serta memberikan kenyamanan di kakinya.


"Apa kau seorang dokter???" Tanya Kyra pada lelaki itu.


"Tidak...!" Jawab laki-laki itu seraya tersenyum.


"Jika kau bukan seorang dokter, kau pasti terapis, iya kan?? Karena kau sepertinya ahli melakukan hal seperti tadi"


Laki-laki itu terkekeh. "Tidak juga, aku seorang pemain bola jadi untuk cidera seperti ini sedikit banyak aku tahu cara untuk menanganinya, karena hal itu juga sering terjadi saat bermain bola, oh iya kenapa tadi kau diam saja dan membiarkan perempuan itu menyakitimu???"


"Memangnya kau tahu apa yang sudah dia lakukan padaku???"


"Tentu saja, aku melihat semuanya, bahkan aku juga melihatmu saat kau akan masuk ke toilet, aku sedang menelepon tadi jadi tidak sengaja melihat dan mendengar kalian...! Apa kau bertengkar dengannya karena merebutkan seorang laki-laki???" Laki-laki itu tersenyum pada Kyra kemudian berdiri dan duduk disebelahnya.


"Berikan tanganmu??" Pinta laki-laki itu lagi, bergegas dia meraih tangan Kyra dan melihat luka ditangan perempuan itu yang tadi diinjak oleh Jelena.


Sambil mengoleskan krim di punggung tangan Kyra yang memerah, laki-laki itu kembali bergumam. "Aku heran, kenapa kau diam saja saat dia berkata dan berlaku tidak sopan padamu, harusnya tadi kau tarik saja kakinya agar dia juga terjungkal sepertimu" Gumam laki-laki itu lagi membuat Kyra tersenyum mendengarnya.


"Untuk apa aku meladeni orang seperti dia, tidak penting dan hanya membuang waktuku saja" Cetus Kyra kemudian.


"Kalau dia menyakitimu harusnya kau balas saja, jangan lemah jadi perempuan, kau bisa diinjak-injak lagi seperti tadi jika kau diam saja hahaha"


Kyra pun ikut tertawa mendengar celotehan laki-laki itu. Dan menyadari bahwa laki-laki disebalahnya ini sepertinya baik dan menyenangkan. Kekasih dari laki-laki ini pasti merasa bahagia sekali ketika berada bersamanya, dia penuh tawa dan baik. Lamunan Kyra terbuyarkan saat dia mendengar ponselnya berbunyi. Kyra meraih tasnya danberusaha membukanya untuk mengambil ponselnya tetapi dia mengalami kesulitan karena sebelah tangannya terasa sangat sakit.


Melihat kesulutan Kyra, laki-laki itu pun membantunya dan mengambilkan ponsel Kyra dari dalam tasnya. "Terima kasih!" Ucap Kyra dan laki-laki itu mengangguk sambil melempar senyum manisnya.


Kyra mengangkat telepon dari Gienka, sahabatnya itu pasti sudah menunggunya karena dia tidak segera kembali. Benar saja, ketika Kyra baru mengatakan halo, Gienka sudah mengomel dan menanyakan kebaradaan Kyra saat ini. Setelah mendengarkan celotehan Gienka, Kyra tersenyum dan mengatakan keberadaannya saat ini juga kondisi kakinya yang terkilir.


"Ra...!!!! Bagaimana kakimu???" Gienka tiba-tiba masuk dan sedikit mengejutkan Kyra juga laki-laki itu. Tetapi kemudian Gienka juga dikejutkan dengan laki-laki yang ada disebelah Kyra. "Axel..???? Kau ada disini??? Semua orang mencarimu dan kau ada disini bersama dengan Kyra??"


"Gienka...!!!! Apa kabarmu??? Aku pikir kau tidak akan datang...!" Lelaki bernama Axel itu berdiri dan menyalami Gienka.


"Tentu saja aku datang, kau yang mengundangku, dan sedang apa kau disini bersama sahabatku???"


"Oh jadi dia sahabatmu? Tadi aku membantunya karena kakinya terkilir, seseorang telah mengerjainya dan jadilah dia seperti ini..!"


"Mengerjai...!??? Bagiamana bisa...!!! Siapa yang melakukannya??"


Wajah Gienka berubah kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Axel tentang Kyra. Gienka duduk disebelah Kyra dan menanyakan tentang kondisi sahabatnya itu serta meminta Kyra memberitahunya siapa yang sudah mengerjainya. Gienka melihat kaki kanan Kyra yang sudah dibalut perban sementara ada memar juga di tangan kiri Kyra, membuat Gienka sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


Axel kemudian menceritakan apa yang dilihatnya tadi, bagaimana perempuan itu mengerjai Kyra dan bahkan dengan sengaja menginjak tangan Kyra yang saat ini menimbulkan memar. Mendengar itu tentu saja Gienka naik pitam dan marah-marah.


"Sudahlah Gie itu tidak penting, aku juga sudah merasa lebih baik!" Ujar Kyra menenangkan Gienka agar tidak panik.


"Bagaimana bisa tidak penting, kakimu terluka dan lihatlah tanganmu, astaga.... Siapa sebenarnya yang membuatmu seperti ini Ra? Biar aku yang menghajarnya!!". Gienka kemudian mengarahkan pandangannya pada Axel yang berdiri di depannya. "Axel..!? Apa kau tahu siapa yang melakukannya? Mengingat ini adalah pestamu, kau pasti mengenal para tamu yang ada disini...! Katakan siapa yang melakukan ini pada Kyra??"


"Aku melihat dari jauh dan aku tidak mengenal perempuan itu, kurasa dia datang kesini bersama kenalanku, seperti halnya kau datang dengan dia" Axel menunjuk ke Kyra. "Aku hanya tahu wajahnya saja, lagipula sahabatmu ini juga aneh, dia diam saja saat perempuan itu menghina dan menyakitinya!!"


"Ikutlah denganku, bantu aku mencari perempuan itu...!" Gienka menarik tangan Axel mengajak lelaki itu untuk keluar.


Axel dan Gienka membawa Kyra melewati orang-orang yang tengah menikmati pesta. Beberapa orang memanggil Axel, dan laki-laki itu mengatakan akan menemui mereka setelah mengantar Kyra. Hingga kemudian Axel mengarahkan pandangannya ke sisi kanan dimana disana ada perempuan yang tadi sudah membuat Kyra mengalami cidera. Perempuan itu tengah mengobrol dengan yang lainnya, merasa geram juga kesal, Axel menyentuh lengan Gienka memberi kode agar Gienka melihat ke arah perempuan yang tadi mencelakai Kyra.


Saat melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Axel, Gienka langsung tahu siapa yang dimaksud oleh Axel. Dia pernah melihat perempuan itu, yang tak lain adalah selingkuhan dari Zayan mantan kekasih Kyra. Tidak ada yang lain lagi, dan sudah pasti dia yang melakukan ink pada Kyra. Gienka memberi kode Axel untuk mendudukkan Kyra di kursi yang kosong.


Kyra dibuat bingung kenapa Gienka malah menyuruhnya dudk ditengah pesta padahal tadi dia sudah mengatakan agar mereka pulang saja. Tetapi Gienka tidak mengatakan apapun, dan malah melenggang pergi bersama dengan Axel.


Dengan memasang wajah marah sekaligus kesal, Gienka meraih gelas diatas sebuah meja, gelas itu berisi minuman berwarna merah. Gienka melangkah cepat diikuti oleh Axel dibelakangnya mengarah ke tempat dimana Jelena sedang berdiri. Ketika sudah sampai di depan Jelena, Gienka memberikan senyum manisnya pada perempuan itu dan sedetik kemudian Gienka menyiramkan minuman yang ada di gelas itu tepat di wajah Jelena, kemudian Gienka menampar Jelena dengan sangat keras di pipi perempuan itu. Sontak semua orang yang ada ditempat itu terkejut dan mengarahkan pandangan mereka ke Gienka. Sementara Jelena tak kalah terkejutnya ketika perempuan yang tidak dikenalnya itu menyiramkan minuman ke arahnya juga menamparnya.


"Apa kau sudah gila???? Siapa kau, berani sekali melakukan ini kepadaku....!!! Kurang ajar....!!" Teriak Jelena lalu dia mengangkat tangannya untuk menampar Gienka.


Tetapi dengan cepat Axel mencegah Jelena. "Aku tidak mengenalmu, tapi kau ada di pestaku dan kau membuat keributan disini, siapa kau? Dan kenapa kau melakukan ini???" Geram Axel.


"Kenapa kau malah menyalahkanku?? Dia yang membuat keributan tapi kau malah menuduhku??" Ujar Jelena kesal, karena Gienka yang sudah menampar dan menyiramkan minuman ke wajahnya tetapi Axel malah menyalahkannya.


"Kau pantas menerima itu, dan jangan lagi berkelit karena aku melihat semuanya, apa saja yang sudah kau lakukan pada Kyra tadi di depan toilet, bagaimana bisa perempuan sepertimu bisa melakukan hal sekejam itu pada perempuan lainnya? Kau menjengkal kakinya sampai dia terjatuh dan terkilir lalu kau juga menginjak tangannya kemudian melenggang pergi meninggalkan dia yang sedang kesakitan! Kau ini setan atau anak iblis?" Axel berteriak tepat di depan wajah Jelena dengan sangat keras. "Aku tidak tahu permasalahanmu seperti apa dengan Kyra tetapi apa yang sudah kau lakukan tadi sangatlah tidak manusiawi, kau bukan tamuku jadi pergilah dari pestaku, kau merusak kesenanganku, tidak berguna sama sekali...! Pergilah...! Cepat...! Sebelum aku memanggil security untuk menyeretmu pergi dari tempat ini...!"


Jelena memandang tajam ke arah Axel dan Gienka. Dia terlihat kesal karena kedua orang yang di depannya ini sudah mempermalukan dirinya. Jelena juga melirik ke arah Kyra yang duduk. Menurutnya Kyra sangat kekanak-kanakan karena melaporkan hal itu kepada orang lain. Jelena dengan kesal membalikkan tubuhnya dan hendak meninggalkan temapt persta ini, tetapi langkahnya terhenti ketika Gienka menarik pergelangan tangannya, dan menatapnya dengan tajam serta penuh kebencian.


"Aku tahu siapa dirimu, dan bagaimana caramu merusak hubungan Kyra dan Zayan, sikapmu kali ini tidak akan pernah termaafkan, kau menyakiti hati sahabatku dan kau juga sudah membuat luka ditubuhnya, kau sangat salah dalam memilih musuh, Kyra bukan musuh yang tepat untukmu. Jangan pernah membanggakan dirimu di depan Kyra karena kau tidak akan pernah sepadan dengannya, kau hanya sebutir debu dan Kyra adalah segenggam berlian, Kyra diam bukan berarti kau bisa merendahkan dan menyepelekannya begitu saja, ketika keluarganya tahu bahwa kau sudah mencelakakan dirinya, maka habislah kau! Kau sangat salah mencari musuh...!" Ucap Gienka yang kemudian langsung melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Jelena dengan kasar dan mendorongnya hingga hampir tersungkur.


SEtelah Jelena pergi, Gienka kembali menghampiri Kyra sedangkan Kyra sudah memasang wajah jengkel karena Gienka malah berbalik membalas Jelena. Karena seharusnya Gienka tidak perlu melakukan itu dan Kyra sendiri tidak ingin memperpanjang urusan dengan Jelena. Kyra langsung meminta Gienka untuk pulang, karena tangannya terasa sakit sekali. Dibantu lagi oleh Axel, Gienka membawa Kyra keluar. Gienka meminta Axel untuk menjaga Kyra sebentar karena dia akan mengambil mobil diparkiran dan akan membawanya kesini agar Kyra tidak berjalan terlalu jauh.


Axel melihat Kyra sesekali masih meringis menahan sakitnya. Axel tahu rasa sakit itu pasti berasal dari tangan Kyra, karena lebam akibat injakan Jelena terlihaat semakin memerah.


"Lebih baik kau periksakan semuanya ke dokter untuk memastikannya, luka ditanganmu cukup parah, kakimu juga pasti perlu pemeriksaan lebih jauh!" Ucap Axel.


"Kakiku sudah tidak terlalu sakit, tetapi tanganku sakit sekali...!"


"Itulah... Kau harus ke dokter, jika tidak kau akan merasa nyeri semalan, untuk kakimu juga perlu di periksa, dan kau bisa merendamnya dengan air hangat dan dingin agar merasa lebih rilex"


Kyra mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Axel karena lelaki itu sudah menolongnya. Tak lama mobil Gienka mendekat, lekas Axel membantu Kyra masuk ke dalam. Tak lupa Axel berpesan pada Gienka agar membawa Kyra ke klinik atau rumah sakit agar Kyra bisa mendalatkan suntikan atau obat anti nyeri untuk tangannya, karena bisa saja nanti Kyra tidak akan bisa tidur akibat kesakitan ditangannya. Gienka pun mengangguk dan akan langsung membawa Kyra ke rumah sakit.


Di dalam mobil Kyra terus merintih kesakitan dan meniupi tangannya. Selain ada lebam ditangannya juga ada lecet akibat ijakan keras dari sepatu Jelena. Gienka hanya bisa menyuruh Kyra untuk bersabar sedikit, dan dia tidak bisa menahan kekesalannya pada Jelena. Perempuan itu sudah keterlaluan dalam memperlakukan Kyra. Entah apa yang ada di otaknya kenapa bisa berpikir seperti itu. Wajah cantiknya sama sekali tidak mencerminkan hatinya.


Sampailah mereka di rumah sakit, Gienka langsung memanggil perawat agar segera membawakan kursi roda untuk Kyra. Setelah Kyra di bawah masuk ke ruang IGD, Gienka langsung meminta penanganan yang baik, juga mengecek kaki Kyra yang tadi terkilir. Kyra sedang di periksa dan Gienka menunggu dengan cemas diluar. Membayangkan betapa sakitnya tangan Kyra saat ini membuat Gienka meringis. Sebuah tangan diinjak dengan sepatu heels yang tinggi dan tajam pasti sangatlah menyakitkan. Ini tidak bisa di diamkan begitu saja, dia harus segera menghubungi orangtua Kyra dan memberitahu kondisi putrinya saat ini, agar mereka bisa mengambil tindakan untuk Jelena si peremouan gila itu. Gienka yakin Ayah Kyra yaitu Aditya tidak akan tinggal diam melihat kesakitan yang dirasakan oleh putrinya saat ini. Dan Jelena harus mendapatkan hukuman atas perlakuan buruknya pada Kyra.


Gienka meninggalkan tas yang berisi ponselnya di mobil dan dia juga harus mengurus data Kyra, jadi dia juga harus mengambil Ktp Kyra. Gienka pun bergegas pergi ke parkiran untuk mengambil semua itu.


Sampai di parkiran, Gienka langsung membuka mobilnya dan mengambil ponselnya, dan meraih tas Kyra untuk mengambil dompetnya. Tetapi saat mengambilnya, ponsel Kyra justru berbunyi, Gienka mengernyit karena tidak ada nama disana melainkan dari nomor yang sepertinya adalah panggilan dari luar negeri. Gienka mengangkatnya.


"Surprise.....!!!!!" Teriak seorang laki-laki diujung telepon itu. "Hai Ra, gimana kabarmu???" Tanya laki-laki itu lagi.


Gienka menggerutkan dahinya, dan dia sepertinya sangat mengenal suara laki-laki itu. Senyum Gienka mengembang dan langsung menebak siapa yang ada di ujung telepon itu. "Ky....! Kau Kyros ya???" Tanya Gienka.


"Ya... Tetapi ini sepertinya bukan suara adikku? Pasti ini Gienka??? Hai Gie, apa kabar???"


Senyum Gienka tidak luntur dari wajahnya, dan setelah mengambil dompet Kyra, dia keluar dan menutup pintu mobilnya dan berjalan menuju ruang IGD lagi. "Kabarku baik Ky, bagaimana denganmu??? Congrats ya? Ikut bangga dengan kesuksesanmu!! Apa kau mengganti nomor ponselmu? Disini tidak tertera namamu??"


"Thanks Gie...! Tidak aku tidak mengganti nomorku, aku memakai telepon kantor karena aku masih dalam tahap recovery dan belum diijinkan untuk pulang, dan mereka memberiku ijin untuk menghubungi keluarga jadi tadi aku sudah menghubungi Amam dan Apap, lalu mereka bilang kalau Kyra sedang pergi bersamamu, dimana Kyra??"


Gienka terdiam, haruskah dia mengatakan semuanya kepada Kyros tentang apa yang terjadi pada Kyra tadi, ataukah dia harus berbohong. Tetapi Gienka tidak mau jika Kyros justru khawatir. "Ah Kyra sedang pergi ke toilet, aku akan memberitahunya nanti jika dia sudah keluar!" Ucap Gienka pada Kyros. Gienka kemudian duduk di kursi tunggu tetapi tiba-tiba terdengar suara dari belakang.


"Keluarga pasien bernama Kyra???" Teriak salah seorang perawat membuat Gienka refleks menjawab jika dia adalah keluarganya. Perawat itu kemudian meminta kartu identitas dari Kyra, Gienka pun memberikan Ktp Kyra. Tampaknya Gienka lupa jika Kyros masih berada di ujung telepon.


Gienka memejamkan matanya, kesal dengan dirinya sendiri, dan menyadari sepertinya Kyros mendengar ucapan dari perawat itu. "Shiittt....! Aku lupa Ky masih terhubung" Gumamnya pelan.


"Gie.....!!! Hallo Gie.... Gienka....!" Kyros mencoba memanggil Gienka, kepanikannya mulai dirasakannya ketika mendengar Kyra dipanggil seseorang dengan sebutan Pasien Kyra. Kyros yakin pasti terjadi sesuatu dengan Adiknya saat ini.


Gienka kembali meletakkan ponsel Kyra di telinga, dan sudah di duganya bahwa Kyros mendengar semuanya. Kyros mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan tentang kondisi Kyra dan apa yang sebenarnya terjadi. Gienka menarik napasnya dalam-dalam dan menghelanya lalu mulai menceritakan apa yang tadi terjadi saat di pesta, dan memberitahu siapa yang melakukannya. Gienka menyebut nama Jelena, lalu Kuros mulai bertanya siapakah Jelena itu dan memiliki permasalahan apa dengan Kyra sehingga berani melakukan itu.


Gienka pun tidak ingin menyembunyikan hal ini pada Kyros, ini adalah kesempatan yang bagus untuk menjelaskan bagaimana sifat dan sikap Zayan sahabatnya kepada Kyra. Kerana yang Gienka tahu, dulu Kyros sudah menitipkan Kyra pada Zayan agar bisa menjaga Kyra dengan baik dan tidakk menyakitinya tetapi kenyataannya adalah laki-laki itu sudah melukai hati Kyra begitu dalamnya. Gienka pun menceritakan semuanya pada Kyros tentang apa yang terjadi pada Kyra dan Zayan juga sikap Jelena yang menghina Kyra karena dia sudah berhasil mendapatkan Zayan.


Mendengar itu tentu saja wajah Kyros berubah menjadi penuh kemarahan. Zayan sudah kurang ajar kepada Adiknya dan sudah melakukan hal yang begitu buruk. Kyros sangat ingat betul bagaimana dulu Zayan mengemis kepadanya agar memberinya ijin untuk mendekati Kyra, tetapi sekarang Zayan justru menyakiti adik kesayangannya bahkan kekasih Zayan sudah berani sekali melukai Kyra. Kyros tidak akan pernah memaafkan hal itu.


"Ky, lalu menurutmu apa yang harus ku lakukan sekarang?? Apa aku perlu menghubungi orangtuamu afmgar kesini? Aau bagaimana? Aku bingung menjelaskan pada mereka...!" Tanya Gienka.


"Jangan hubungi mereka dulu Gie, aku takut mereka panik terutama Amam, setelah nanti Kyra sudah selesai diperiksa kau tanyakan pada dokter tentang keadaannya, jika dia harus perawatan disana kau baru hubungi Amam dan Apap, tetapi jika Kyra boleh dibawa pulang, lebih baik kau beritahu mereka saat dirumah saja, aku yakin Apap tidak akan diam melihat hal ini terjadi pada putrinya, oke aku harus menutup teleponnya dulu Gie, masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan, salam untuk Kyra, aku akan menghubunginya lagi besok, thanks ya Gie...!" Kyros kemudian menutup teleponnya.


Wajah Kyros benar-benar marah dan kecewa sekali dengan apa yang sudah dilakukan oleh Zayan kepada Kyra. "Zayan, kau kurang ajar sekali kepada Adikku, aku tidak akan pernah memaafkanmu, ketika aku kembali nanti, aku akan menghajarmu juga kekasihmu itu yang sudah berani mencelakai Kyra dan saat ini dia sedang kesakita Awas saja kalian...!!" Geram Kyros dengan penuh kemarahan.