
Ariel terus saja memandangi Camilla dari atas sampai bawah tanpa mengatakan apapun. Camilla benar-benar merasa tidak nyaman dengan tatapan Ariel dia pun menegurnya, tetapi ternyata teguran itu tidak membuat Ariel ataupun Maysa bergeming dan menanggapinya. Ariel hanya melempar senyum dinginnya sedetik saja dan kembali melakukan hal yang sama. Camilla merasa aneh karena wanita yang bersama lelaki itu juga tidak merespon apapun padahal sudah jelas tadi dia menegurnya agar menyuruh pasangannya untuk tidak terus menatapnya seperti itu. Camilla lupa bahwa sebelumnya dia pernah sekali bertemu dengan Ariel dan Maysa. Dan ingatan Ariel juga Maysa samar bahwa mereka juga pernah bertemu Camilla.
Pintu lift akhirnya terbuka dan bergegaslah Camilla keluar dari sana sebelum Ariel dan Maysa. Camilla mempercepat langkahnya dan menoleh ke belakang melihat Ariel dan Maysa yang tertawa di belakangnya. Camilla masih bingung dengan kedua orang itu, entah siapa mereka, dia tidak pernah melihat sebelumnya, dan berpikir mungkin saja mereka orang yang baru tinggal disini, tetapi si pria itu sangat tidak terlihat baik. Dari cara memandangnya lelaki itu seolah ingin mengejeknya padahal Camilla merasa bahwa tidak ada yang salah dengan penampilannya.
Ariel dan Maysa berjalan pelan. Ariel tidak bisa menahan tawanya mengingat bahwa ternyata Camilla berada sangat jauh dibawah Gienka dalam berbagai aspek. Putrinya jauh lebih cantik daripada Camilla. Dan dalam hal itu seharusnya Camilla bisa sadar diri, bukan malah bersikap sesukanya. Ingin sekali rasanya Ariel mendampratnya langsung di depannya tetapi Ariel menahan diri.
"Oh God.... !!! SHE LOOK LIKE A POOP NOW... Hahaha" Ucap Ariel dengan suara sedikit keras lalu tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan Maysa, dia langsung memukul lengan suaminya.
Ariel sudah tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak mengumpat Camilla. Sebuah umpatan kasar itu akhirnya keluar dari mulutnya, dan Ariel sengaja bersuara sedikit keras agar Camilla bisa mendengarnya dan sangat yakin bahwa perempuan itu mendengar umpatannya, karena sedetik kemudian setelah dia mengatakan hal buruk itu, Camilla langsung menoleh ke belakangnya dan memandang dia dan Maysa dengan wajah kesal.
Camilla mengernyit, ketika menemukan kedua orang yang bersamanya di lift tadi mengeluarkan umpatan yang entah ditujukan pada siapa. Tetapi melihat sekeliling tidak ada siapapun selain mereka bertiga, tentu membuat Camilla kesal dibuatnya. Terlebih lagi kedua orang itu malah tertawa, Camilla merasa bahwa keduanya pasti mengumpat kepadanya. Ingin sekali rasanya Camilla menegur keduanya, tetapi dia menahannya mengingat keduanya seumuran dengan orangtuanya. Camilla mempercepat langkahnya dan masuk ke apartemennya dengan perasaan kesal luar biasa. Dia sudah mendapatkan keputusan dari tempat kerjanya yang membuatnya sudah merasa pusing, ditambah lagi dia harus bertemu dengan orang menyebalkan di lift tadi. Camilla benar-benar merasa sangat kacau sekali.
Sementara itu, Ariel dan Maysa juga masuk ke apartemen Kyros. Maysa langsung menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam, dan Ariel pergi ke kamar Gienka. Melihat kedatangan Ariel, Cahya dan Elea pun bergantian keluar dan mereka akan membantu Maysa di dapur.
Ariel duduk di sofa di sebelah Gienka dan memeluk putrinya. "Bagaimana perasaanmu?" Tanya Ariel.
"Aku sangat baik, kenapa kalian semua harus kesini? Aku kan baik-baik saja...!" Jawab Gienka.
"Memangnya kenapa? Kami semua merindukanmu, dan kau juga sakit, lalu apa salahnya kami datang kesini...! Papa sangat mengkhawatirkanmu, Papa serta yang lainnya hanya ingin membantumu dan suamimu beberes, kalian kan akan pindah dalam waktu dekat...! Papa sudah mencari rumah yang cocok untuk kalian berdua, sehingga kalian lebih aman dan nyaman...!"
"Jangan berlebihan...! Papa pasti tahu kan kalau aku dan Ky tidak terlalu menyukai hal yang berlebihan, kami hanya tinggal berdua, jangan sampai tempat itu membuatku sehari-hari sibuk membersihkannya, aku hanya ingin tempat yang sederhana saja, yang membuatku dan Ky merasa nyaman...! Sebenarnya tidak perlu seperti itu juga Pa, tempat ini sangat nyaman meskipun tidak terlalu luas...!" Ujar Gienka.
Ariel memeluk Gienka sambil mengusap rambut panjang putrinya itu. "Papa tahu, tempat ini memang sangat nyaman untuk kalian, tetapi Papa dan yang lainnya ingin kau aman dan jauh dari orang seperti Camilla itu, kami tidak bisa memantaumu setiap waktu, dan kami tidak mau mengambil resiko, semuanya akan baik-baik saja sayang, kau istirahat saja sekarang...!" Ariel kemudian melepaskan pelukan Gienka dan memberikannya ciuman lembut di keningnya.
Ariel kemudian mengantar Gienka ke tempat tidurnya.
Kyra dan Axel akhirnya datang juga dengan membawa beberapa cup berisi ice coffee aneka rasa untuk semua orang yang ada disini. Ruang depan ternyata tidak ada siapapun, mereka berdua kemudian berjalan menuju ke balkon dimana ternyata semua orang ada disana.
Kyra mengambil 3 cup dan di berikan kepada Amamnya, serta Elea dan Maysa, sisanya dia bawa ke balkon.
"Kopi datang....!!" Seru Kyra.
Dibantu Axel, mereka mengeluarkan semuanya dan membiarkan orang-orang memilihnya sendiri. Kyra langsung menempel di dekat Aditya dan memeluk Apapnya karena dia sangat merindukannya.
"Kau senang aku mengajak Axel kesini???" Tanya Aditya pada Kyra.
"Senang...! Thanks Pap... Apap memang luar biasa...! Aku sangat menyayangimu....!" Kyra mencium pipi Apapnya..
"Oh iya, malam nanti kau ikut ke hotel, Uncle Iel sudah memesan kamar lebih untukmu, kasihan kakakmu harus tidur di sofa setiap malam karena kau tidur bersama Gienka, pasti dia tidak nyaman dan besoknya harus kerja, kau ikut saja ke hotel...!" Ujar Aditya.
Kyros langsung melempar sebuah anggur hijau ke arah Kyra lalu mengumpatnya. Bisa-bisanya adiknya itu menggoda nya di depan banyak orang.
"Ky... Kalau kau mau, kau bisa ikut juga bersama kami, dan membawa Gienka...! Nanti biar Ariel memesan satu kamar lagi untuk kalian...!" Ujar Danist.
Kyros langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak Pa, besok Ky harus kerja jadi nanti yang ada malah ribet, Ky dan Gie disini saja...!" Sahut Kyros.
"Tidak perlu Uncle, disini ibarat kata sudah jadi surganya Ky, walaupun ini tempat apa adanya tapi bagi Ky ini sudah lebih dari hotel bintang 6 hahaha!" Kyra menggoda Kyros lagi, yang langsung diikuti gelak tawa yang lainnya.
Disisi lain, Camilla membuka pintu penghubung antara apartemennya dan balkon. Dia malas untuk mandi dan melakukan apapun. Hari ini sungguh hari yang sangat buruk baginya karena keputusan dari tempat kerjanya itu. Dan Camilla ingin menenangkan dirinya dengan menikmati udara sore ini di balkon. Saat keluar dan menoleh ke arah balkon apartemen Kyros dia menemukan ada beberapa orang disana termasuk Kyros tetapi Camilla belum menyadari jika disana ada Aditya karena Aditya duduk membelakangi balkon apartemen.
Camilla mengernyit, karena dia juga melihat ada laki-laki yang pernah dia temui dulu saat di cafe itu, dimana laki-laki iti sedang duduk bersama Gienka. "Axel...! Dia juga ada disini???" Gumam Camilla.
Camilla masih memandangi orang-orang itu, lalu kemudian tersadar saat dia menemukan Kyra sedang duduk disebelah seorang pria. Dari perawakannya tentu Camilla tahu siapa pria itu. Sudah tidak salah lagi bahwa itu adalah Aditya, Apap dari Kyra dan Kyros. Detik itu juga Camilla tiba-tiba merasakan ketakutan yang luar biasa atas apa yang sudah di lakukannya pada Gienka, dan berpikir bahwa sepertinya Kyros sudah menceritakan permasalahan yang terjadi kemarin pada Keluarganya, mengingat Kyra juga ada saat mereka bertengkar kemarin.
Camilla sangat takut bagaimana harus menghadapi keluarga Kyra dan Kyros yang selama ini sudah bersikap baik padanya, bahkan mereka juga sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Camilla yakin bahwa saat ini kereka pasti sangat marah kepadanya. Camilla semakin terbelalak ketika dia melihat seorang pria muncul dari dalam apartemen itu. Pria yang sama yang dia temui di lift tadi.
"Uncle Iel, itu es kopi untuk Uncle, Kyra tahu kesukaan Uncle es kopi apa, jadi Kyra membelinya!" Ucap Kyra saat melihat Ariel keluar.
"Thanks ya Kyra sayang...!" Ujar Ariel lalu mengambil es kopi itu dan menancapkan sedotannya.
Ariel hendak duduk di kursi kosong yang menghadap ke arah balkon apartemen Camilla. Tetapi tiba-tiba dia terhenti dan kembali berdiri sambil tersenyum ke arah Camilla yang ternyata sedang berdiri dengan mulut ternganga melihatnya.
"Hello miss Camilla Alexia...!" Teriak Ariel sambil melambaikan tangannya dan juga tersenyum mengejek.
Mendengar itu, sontak semua orang yang ada di balkon langsung mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dimana Ariel sedang menyapa Camilla. Aditya bahkan langsung berdiri dan menoleh ke arah yang sama. Ternyata benar saja disana ada Camilla yang sedang berdiri.
"Kemarilah dan bergabunglah bersama kami, putriku sedang tidur, kau bisa kesini, duduk di dekat menantuku yang tampan ini, kau menyukainya kan??? Ah iya Kyra membeli banyak sekali es kopi, kau bisa bergabung bersama kami untuk minum kopi, tenang miss Camilla, kami tidak memasukkan apapun di dalam kopi-kopi ini, jadi kau akan aman dan tidak akan kejang-kejang seperti putriku kemarin.... Kemarilah....!!" Ucap Ariel dengan santainya.
Mendengar teriakan Ariel, Cahya, Elea dan Maysa yang ada di dapur juga langsung keluar ke balkon. Ketiga wanita itu juga langsung melihat ke arah yang sama seperti yang lainnya. Bagi Elea dia akhirnya bisa melihat dengan bagaimana wajah dari perempuan yang sudah berniat menghabisi Gienka. Cahya juga menatap Camilla dengan penuh kemarahan serta kekecewaan, dia benar-benar merasa sangat di khianati oleh teman Kyra itu. Camilla yang selama ini di anggapnya baik, ternyata sudah tega sekali mencelakai menantu kesayangannya.
"Ra...! Bisakah kau keluar dan menjemput temanmu yang ada disana itu??? Uncle ingin sekali mengajaknnya meminum kopi, bawa dia kesini Ra....! Eh miss Camilla, tunggulah sebentar, Kyra akan menjemputmu.. Tunggu ya...!" Teriak Ariel lagi.
Camilla sangat terkejut hingga membuatnya tidak bisa bergerak. Ternyata 2 orang hang ada di lift tadi adalah orangtua Gienka. Camilla merasa hari ini adalah hari yang sangat buruk dalam hidupnya.
"Habislah aku....! Apa yang harus aku lakukan sekarang??? Aku rasa mereka semua akan mencincangku...!" Gumam Camilla dalam hati.
"Kyra sayang...! Bisakah kau menjemput temanmu yang cantik itu dan mengajaknya kesini???" Pinta Ariel tetapi tetap dengan suara yang keras agar Camilla bisa mendengarnya.