
Keesokan harinya..
GIenka masih terlelap di balik selimut. Ini hari libur dan dia tidak pergi ke kantor jadi dia memilih untuk bangun sedikit siang dari biasanya. Semalam dia mengobrol hingga larut dengan kedua orang tua nya. Dan biasanya di hari libur seperti ini, Gienka di biarkan menikmati hari liburnya oleh Ariel, sehingga Ariel ataupun Maysa tidak akan memaksa Gienka bangun pagi, jika bukan Gienka sendiri yang bangun.
Ponsel Gienka tidak mau berhenti berdering. Dengan kesal Gienka mengambilnya dari atas meja dan mengangkatnya. "Hallo...!" Suara Gienka terdengar berat.
"Masih tidur ya???"
Mendengar suara itu, mata Gienka yang tadinya tertutup langsung terbelalak. "Ky...!" Seru nya.
"Iya... Pasti masih tidur ya???" Tanya Kyros.
"Iya... Aku mengantuk sekali... Semalam mengobrol lama dengan Mama dan Papa, terus aku juga asyik bermain game, jam 3 tadi baru tidur... " Gienka bangkit dan duduk bersandar di tempat tidur.
"Astaga.... Mentang-mentang sekarang libur jadi begadang..."
Gienka tersenyum tipis. "Sekali-kali... Kenapa kemarin tidak mengirim pesan atau meneleponmu??? Sibuk ya???"
"Iya... Tapi ini kan aku sudah menghubungimu... Maaf ya aku tidak jadi pulang, kau pasti kesal sekali...!"
"Tidak apa-apa, kau kan akan mendapatkan sesuatu yang selama ini kau inginkan, sometimes kita pasti tetap akan bertemu lagi denganmu... Semoga kau lolos...!" Ucap Gienka.
"Amin... Thanks ya Gie... Oh iya, aku juga baru kembali dari kantor, aku mau mandi, kau juga kalau masih mengantuk tidur saja lagi... Maaf tadi mengganggu tidurmu..."
"Aku juga akan mandi, lalu brunch, laper, ya sudah bye Ky...!"
Panggilan Kyros di akhiri. Gienka beranjak dan langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih badan, lalu turun ke bawah untuk brunch. Dia merasa lapar sekali.
****
"Hallo Mamay...!" Gienka mencium pipi Maysa. Dia sudah terlihat rapi dan mendapati Maysa duduk sendiri membaca majalah.
"Hai Sayang... Sudah bangun ya??"
"Hehe maaf, tidurnya enakan jadi bangunnya telat..! Papa Iel mana???" Tanya Gienka.
"Papa mu sedang pergi ke proyek, ingin mengecek langsung pembangunan hotelnya, oh iya tadi Axel kesini, mengantar kue buatan Mama nya, dia juga mencarimu, tetapi Mamay bilang kalau kau masih tidur, dan Mamay berencana membangunkanmu tetapi dia melarang Mamay melakukannya, dan dia akhirnya pulang...!"
"Yah??? Malah gantian, kemarin aku datang dia tidak ada sekarang dia datang aku masih tidur, dasar Axel, nanti aku akan menghubunginya..."
★★★★★
Axel menghentikan mobilnya di depan rumah Celia. Dia membawa kedua orang tua nya dan juga adiknya. Sejak semalam Axel sudah menghubungi Celia tetapi hasilnya tetap sama, ponsel Celia tidak aktif, bahkan sebelum berangkat Axel juga memberitahu Celia lagi bahwa dia dan orang tua nya akan datang, tetapi sampai sekarang tidak ada tanda-tanda pesan itu di baca. Meski begitu, Axel tetap memilih datang karena dia tidak mau Celia semakin bertambah marah.
Axel keluar dari mobilnya dan menekan bel yang ada di depan. Tak lama Art Celia muncul dan membuka sedikit gerbang. Dia tersenyum menyapa Axel. "Siang Mas Axel...!"
"Siang Bi, Celia ada???" Tanya Axel.
"Ada mas, tapi sedang bersama Ibu dan juga nyonya... Saya panggilkan nona Celia ya supaya keluar??"
Axel menggelengkan kepala nya. "Tidak Bi, biar saya masuk saja menemui mereka, kebetulan saya datang bersama orang tua saya untuk bertemu tante Cyntia dan Oma...! Celia yang kemarin menyuruh saya datang kesini untuk bertemu Tante Cyntia dan juga Oma..!"
"Oh sudah ada janji ya, ya sudah silakan mas, bawa masuk saja mobilnya...!"
"Terima kasih Bi...!" Axel kembali ke dalam mobilnya dan gerbang di buka oleh Art Celia. Mobil Axel memasuki halaman depan rumah Celia.
Axel kemudian mengajak kedua orang tua dan adiknya turun. Mereka kemudian berjalan menuju pintu rumah Celia untuk masuk, bersama dengan Art keluarga Celia. "Silakan duduk, saya panggilkan Nyonya, dan Ibu juga non Celia.."
**
"Maaf Bu, Nyonya, nona Celia, di depan ada mas Axel dan orang tua nya di depan.. "
Celia yang sedang asyik membaca buku langsung menutup buku nya ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh Asisten rumah tangga nya. "Axel datang bersama orang tua nya???" Seru Celia kegirangan.
"Iya non, katanya ingin bertemu Ibu dan Nyonya..!"
"Kenapa kau membiarkannya masuk tanpa ijinku??" Teriak Cyntia.
"Eh... Mas Axel bilang non Celia yang menyuruhnya datang, saya pikir Ibu tahu..!"
Cyntia menatap Celia dengan penuh kemarahan. "Kau ini selalu saja berbuat sesuka mu, untuk apa kau menyuruhnya datang bersama orang tua nya...???" Tanya Cyntia ketus pada Celia.
"Axel datang bersama orang tua nya karena mau menemui Mama untuk meminta ijin kalau Axel mau menjalin hubungan serius denganku.."
"Apa katamu??? Berani sekali dia...? Apa yang dia bawa kesini sehingga dia bisa berani sekali..??" Oma Celia kali ini menyahut.
"Bagus dong Oma, dia datang kesini dan memenuhi janjinya padaku..!"
"Celia....!" Teriak Cyntia lagi. "Kau ini selalu saja menyusahkan Mama...!" Cyntia kemudian pergi meninggalkan Celia dengan penuh kemarahan, di susul oleh Mama nya.
Celia berdiri sambil tersenyum, ternyata Axel benar-benar datang dan memenuhi permintaan nya. Celia sama sekali tidak menyangka jika Axel setuju untuk melakukan ini. Celia merasa menyesal sudah mendiamkan Axel sejak lusa kemarin. Jika tahu Axel akan datang, mungkin dia sudah memberitahu Mama nya dan juga Oma nya kemarin jika Axel sekarang akan datang bersama orang tua nya. Celia memaklumi jika Mama nya dan juga Oma nya marah, mereka pasti terkejut dan tidak menyiapkan apa-apa untuk menyambut kedatangan orang tua Axel.
"Ada apa kesini????" Tanya Cyntia dengan suara ketus.
Axel yang melihat kedatangan Cyntia langsung berdiri, begitu juga dengan orang tua serta adiknya. Axel tersenyum, menghampiri Cyntia dan Mama nya untuk menyalami. "Siang tante, Oma...!?" Ucap Axel sambil mengulurkan tangan, berniat menyalami tetapi baik Cyntia ataupun Mama nya, tidak merespon ukuran tangan Axel.
"Ada apa kesini ramai-ramai???!" Celetuk Mama Cyntia dengan nada yang tidak kalah ketusnya.
Orang tua Axel saling melempar pandangan. Terlihat bingung, karena pertanyaan dari Mama Celia. Yang mereka tahu kedatangan mereka kesini sebelumnya sudah di ketahuilah oleh keluarga Celia, tetapi kenapa kesannya keluarga Celia terkejut dengan kedatangan mereka. Axel menoleh ke belakang ke arah orang tua nya, menyadari kebingungan mereka. "Eh begini tante, Oma, kami datang kesini atas permintaan Celia, saya pikir Celia sudah memberitahu kalian.!" Ucap Axel.
"Aku kan tadi sudah memberitahu Mama alasan Axel dan keluarga nya datang kesini...?" Celia muncul dari dalam. Tersenyum dan langsung menghampiri orang tua Axel, mengalami mereka dengan sopan. Celia juga memeluk Lexy, adik Axel. "Apa kabar Lexy??? Sudah lama tidak bertemu..?" Tanya Celia.
"Baik kak.. Senang bisa bertemu kakak lagi..!" Jawab Lexy.
"Kalian belum menjawab pertanyaanku, ada perlu apa datang kesini ramai-ramai???" Tanya Cyntia.
"Tadi aku kan sudah mengatakan tujuan mereka kesini Ma..?" Sahut Celia.
"Diamlah Celia....!!! Mama bertanya pada mereka, bukan padamu...!"
Hening...
Axel mencoba tersenyum pada Cyntia. "Iya tante, saya datang bersama orang tua dan juga adik saya kesini untuk bertemu tante dalam rangka ingin meminta tante merestui hubungan saya dan Celia, karena saya ingin menjalin hubungan serius dengan Celia.. Saya membawa orang tua saya karena saya ingin menunjukkan keseriusan saya pada Celia, dan supaya tante percaya bahwa saya tidak akan mempermainkan Celia...!" Ucap Axel.
Cyntia membuang muka, dan terkekeh seolah menertawakan apa yang baru saja di katakan oleh Axel. "Kau datang kesini untuk menunjukkan keseriusan mu pada putriku???? Dengan hanya membawa orang tuamu???? Cihhhh...!" Cyntia meludah kesamping. "Memangnya apa yang kau dan keluargamu miliki, sehingga berani sekali kau datang untuk meminta restu dariku??? Apa kau membawa sekotak perhiasan lengkap??? Atau kau membawa BMW untuk Celia sehingga berani sekali datang kesini???"
Axel mencoba tetap tersenyum. "Saya tidak membawa apa-apa tante, sekali lagi saya minta maaf, karena tujuan saya kesini bukan untuk melamar Celia, melainkan hanya datang untuk meminta ijin tante saja, jika tante mengijinkan tentu saja masalah lamaran bisa di bahas di lain hari, karena tante sendiri yang meminta agar Celia fokus pada kuliahnya dulu, dan saya siap menunggu Celia sampai lulus..!"
"Berani sekali kau membicarakan tentang keseriusan pada Celia, dan juga membicarakan lamaran??? Memangnya apa yang bisa kau berikan pada Celia???? Keluargamu saja miskin, kalian tidak memiliki apapun yang bisa kalian berikan pada putriku..! Aku tidak akan pernah mau menerima menantu sepertimu Axel..! Aku ingin putriku di nikahi oleh laki-laki kaya, dia harus seorang Cepat ataupun pengusaha sukses dan memiliki perusahaan sendiri, sementara dirimu??? Siapa kau???" Teriak Cyntia dengan penuh kemarahan tepat di depan wajah Axel.
"Pekerjaanmu saja tidak jelas, bermain sepak bola? Ciiihhh pekerjaan apa itu??? Untuk membiayai kehidupanmu sendiri saja tidak akan cukup, apalagi untuk membiayai Celia, yang ada nanti kau akan memberi makan putriku dengan batu dan pasir.. Apa kau mengandalkan orang tua mu??? Hahaha pasti itu tidak mungkin juga, Ayahmu saja hanya jadi babu di tempat orang lain, bukan pemilik perusahaan, dan ibumu hanya punya usaha konveksi kecil, bahkan untuk menghidupi dirimu dan adikmu saja mereka harus bekerja siang malam sambil terseok-seok.. Lalu kau datang kesini dengan kesombonganmu ingin meminta restu padaku??? Kau pasti tidak memiliki kaca di rumah ya Xel??? Sehingga kau tidak bisa berkaca dan menyadari siapa dirimu itu??"