
★★★★
Sore harinya....
Axel sedang dalam perjalanan untuk mengantar Celia pulang, sebelum dia sendiri kembali ke Jakarta untuk pulang juga. Hari ini terasa begitu mengesankan dan menyenangkan, karena untuk pertama kalinya Axel bertemu dengan Theo, Papa dari Celia. Kesan pertama yang di rasakan oleh Axel adalah bahwa Papa Celia adalah orang yang sangat baik, humble dan menyenangkan ketika di ajak mengobrol. Axel yang awalnya merasa nervous dan canggung, ternyata langsung merasakan kenyamanan ketika mengobrol dengan Papa Celia itu.
Banyak sekali yang tadi Axel dan Theo obrolan. Selain membahas hubungan Axel dan Celia, Theo juga banyak bertanya berbagai hal kepada Theo, tentang kesibukan Axel setiap harinya, mengenai sepak bola apalagi saat ini Axel menjadi pemain sepak bola muda yang membela klub di luar negeri. Bahkan Theo juga bertanya apakah Axel nantinya memiliki keinginan untuk bermain di klub dalam negeri, Axel pun mengatakan tentu saja dia ingin jika suatu saat nanti ada kesempatan untuk itu. Apalagi keluarga nya juga ada disini dan itu bisa membuatnya lebih dekat dengan mereka.
Selain mengobrol mengenai pekerjaan. Theo juga memberi Axel banyak wejangan dan motivasi agar Axel bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Tidak melakukan kesalahan atau kecerobohan yang bisa berakibat fatal dan juga yang mengakibatkan orang lain tersakiti, karena hal itu nantinya bisa menjadi bokmerang untuk diri sendiri serta menjadi penyesalan terbesar yang sudah di lakukan.
Theo bercerita kepada Axel bahwa dia dulu sudah banyak sekali melakukan kesalahan dalam hidupnya, menyakiti orang lain hingga membuat orang itu menderita bahkan kehilangan bayi yang ada di kandungannya. Hal ceroboh yang Theo lakukan karena di lingkungan kemarahan, kebodohan serta keegoisan sehingga Theo melupakan bahwa dia memiliki hati nurani. Akibat kebodohan dan keegoisannya itu, Theo harus kehilangan banyak hal di hidupnya. Kehilangan pekerjaan, hidupnya hancur dan harus mendekam di penjara selama beberapa tahun. Bahkan luka di wajahnya menjadi bukti serta kenang-kenangan yang tidak akan Theo lupakan selama hidupnya. Luka itu adalah bukti betapa tidak bermoralnya dia dulu yang sudah menculik mantan kekasihnya yang saat itu sudah menjadi istri orang lain, dan ketika dia menculik perempuan itu, Theo tidak tahu jika perempuan itu sedang hamil, tanpa sengaja dia menusuk perut perempuan itu yang langsung mengakibatkan keguguran. Suami perempuan itu marah besar, memberikan Theo hukuman yang begitu menyakitkan. Theo di pukuli bahkan wajahnya di cutter hingga lukanya begitu dalam dan membekas sampai sekarang. Sebelum akhirnya dia di seret ke penjara dan hukumannya di mulai lagi.
Kesengsaraan secara mental dan psikis sudah di rasakan oleh Theo, begitu juga dengan penyesalan yang sampai saat ini juga masih menggelayuti hidupnya. Tetapi Theo selalu mencoba untuk memperbaiki hidupnya setiap hari, agar menjadi orang yang baik dan terus lebih baik. Selalu bersyukur dengan apa yang di dapatnya setiap hari, selalu memohon ampun kepada Tuhan atas segala hal buruk yang dulu sudah di lakukannya dan berharap orang-orang yang dulu di sakitnya mau memaafkannya. karena hal itu yang bisa membuat Theo merasa tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupan nya di setiap harinya. Ketika mereka memberi maaf, ada kelegaan di hari Theo, dan dia bisa merasakan beban hidupnya sedikit lebih ringan di banding sebelumnya, meskipun rasa penyesalan masih menggelayuti nya bahkan sampai saat ini. Tetapi setidaknya Theo bisa merasa tenang karena mereka mau memberi maaf kepadanya.
Semua kesalahan yang sudah di lakukan Theo dulu membuat Theo sadar dan banyak belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi setiap harinya. Theo juga tidak mau kesalahannya dan kesalahan Cyntia di masalalu bisa berdampak pada Celia. Theo ingin Celia menjadi seseorang yang baik, baik hatinya, baik tingkah lakunya dan juga baik cara berpikirnya, meskipun awalnya Theo merasa pesimis dan takut Celia terpengaruh oleh Cyntia karena Celia di besarkan oleh Cyntia, tetapi ketakutan Theo ternyata tidak terbukti karena Celia justru menjadi pribadi yang sangat bertolak belakang dengan Cyntia. Celia menjadi dirinya sendiri, dan penurut tetapi penurut ketika di rasa itu baik, dan akan menolak ketika di rasa itu tidak baik. Theo sangat bersyukur, putrinya paham betul dengan situasi dan apa yang akan di kerjakannya.
"Kau benar sayang, hanya saja aku sedih karena aku harus juru-buru pulang padahal aku masih sangat merindukan Papa...!" Sahut Celia dengan sedih.
"Kau masih bisa bertemu dengannya lagi nanti...!"
Celia menoleh menatap wajah Axel. "Papa sudah merestui hubungan kita, itu adalah awal yang sangat baik sekali, aku senang sekali dengan itu...! " Gumam Celia.
"Ya, aku juga tidak menyangka..!"
"Kau tinggal meyakinkan Mama saja sayang... Kenapa kau tidak mencoba untuk datang menemui Mama, tetapi tidak sendirian melainkan mengajak kedua orang tua mu datang ke rumahku, mungkin dari situ Mama akan melihat keyakinanmu denganku.. Kenapa ku tidak mencoba hal itu???" Ujar Celia.
Mendengar itu, Axel langsung menoleh memandang Celia dalam diam. Mencoba memahami dan memikirkan usul Celia.