
Aditya memainkan pisau cutter yang dipegangnya tepat di wajah pria itu dengan menarik dan mendorongnya. "Kau tidak tahu ya sedang berurusan dengan siapa saat ini??? Aku terbiasa melakukan ini saat ada orang yang telah sengaja mengganggu ketentraman keluargaku, aku bisa berperilaku baik tetapi juga bisa berbuat kejam dan tidak berperikemanusiaan saat ada yang berani mengusikku terutama keluargaku, kau selama ini diam-diam memantau aktifitas keluargaku, kau juga berani membuntutiku dengan istriku lalu yang lebih fatal kau berani menculik anakku"
Pria itu terkekeh lagi. "Kurang, kau masih belum sadar juga bahwa akulah yang sudah mengirim paket berisi bangkai tikus untuk istrimu, dan aku juga yang sudah membayar orang untuk membakar tempat usaha mertuamu, dan aku pikir sebentar lagi anakmu akan mati di tangan perempuan itu hahaha"
Aditya benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Jadi pria ini yang dulu sempat mengirim paket untuk Cahya. Aditya terlihat semakin murka dan tanpa pikir panjang lagi Aditya langsung menggoreskan pisau cutter yang di pegangnya di pipi pria itu. Darah langsung mengalir di pipi pria itu, awalnya tidak terasa saat cutter itu menggores pipi kanannya tetapi kemudian dia mulai berteriak.
"Perempuan??? Siapa dia? Katakan padaku!!!"
Pria itu menjerit kesakitan dan tidak menjawab Aditya.
"Kalau kau masih tidak mau mengatakan dimana keberadaan anakku dan siapa perempuan yang kau maksud itu, aku akan menghancurkan seluruh wajahmu dengan cutter ini?? Kau mau mengatakannya atau tidak!!!!!!" Gertak Aditya lagi sambil mendekatkan pisau cutter itu ke pipi kiri lelaki itu.
"Katakan......!!!" Teriak Aditya lagi, dan Ariel juga Randy yang sejak tadi hanya diam pun mulai mendekat ke Aditya lalu menarik kasar kerah jaket pria itu. Dan karena masih tidak mendapatkan jawaban, Asitya akhirnya menusukkan mata pisau cutter itu ke pipi kiri pria itu, tentu rasanya akan lebih sakit jika digoreskan secara perlahan dengan tusukan yang cukup dalam.
"Cyntia!" Jawab pria itu tiba-tiba, mungkin karena dia sudah benar-benar kesakitan dengan luka dari cutter itu.
"Aaarrrggghhh ya, Cyntia yang membayarku, perempuan itu menyuruhku melakukan semuanya, dia ingin membalaskan dendam kepadamu karena kau sudah menghancurkan kehidupannya dan suaminya, dan anakmu ada bersamanya dan mungkin sedang dalam bahaya. Auuuwwhh...!" Ucap pria itu sambil meringis karena kesakitan
Sementara Aditya hanya terdiam, dan tidak menyangka bahwa Cyntia melakukan kekacauan ini lagi pada keluarganya. Perempuan itu ternyata masih belum puas dengan apa yang sudah dilakukannya dulu dan masih belum sadar bahwa semua yang terjadi adalah karena ulahnya sendiri. Sekarang dia kembali dan ingin membalaskan dendamnya.
"Sudah kuduga, bahwa dia akan berulah lagi setelah keluar dari penjara, perempuan ibliis itu" Gumam Ariel dengan kesal.
"Sekarang dimana Cyntia membawa Kyros??" Tanya Randy.
Dengan terbata pria itupun memberikan alamat Cyntia tetapi dia tidak bisa menjamin apakah Cyntia masih berada disana atau tidak. Yang dia tahu Cyntia berusaha melenyapkan bayi itu dan akan mengirim mayatnya ke rumah ini nantinya.
"Dit, kurasa kita harus segera kesana, sebelum sesuatu terjadi paada Kyros, Iel... Kau segera hubungi polisi dan berikan alamat Cyntia pada mereka, kalian bertiga urus pria ini sampai kami kembali, ayo kita pergi sekarang" Ujar Randy.
Mereka bertiga pun membalikkan badan dan hendak menuju garasi mobil, tetapi terhenti karena melihat Cahya, Chitra dan Elea berdiri di depan pintu. Cahya dan Elea ternyata sudah berdiri disana cukup lama dan mereka juga mendengar semuanya. Cahya perlahan berjalan mendekati Aditya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.