
"Bagaimana suasana kantor??? Apa kau mulai menikmati nya???" Tanya Ariel pada Gienka yang duduk di sebelahnya.
"Baik Pa, semua sangat menyenangkan dan aku juga merasa betah...!" Jawab Gienka.
"Baguslah... Papa harap kau sangat menikmati hatimu dengan baik disana.. Apa kau sudah memberitahu Elea dan Kakak jika kau pulang kesini???"
"Sudah... Tadi aku meminta ijin Papa Dan..!"
"Ya sudah jika kau sudah memberitahu nya... Oh iya, Axel terlihat seperti tidak biasanya, apa dia baik-baik saja??? Kalian juga tadi terlihat berbicara serius?? Apa dia sedang ada masalah??? Atau mungkin Papa Celia juga tidak mau memberi nya restu???" Ariel kembali bertanya pada Gienka.
"Papa Celia baik dan dia memberi restu pada hubungan Celia dan Axel, hanya saja masalah tetap pada Mama Celia..!"
"Dia masih tidak menyukai Axel???" Maysa menyahut.
"Iya Ma, padahal menurutku niat Axel sangatlah baik, dia ingin serius dan siap menunggu sampai Celia lulus kuliah, tapi tetap saja sikapnya acuh, dan terlihat jijik terhadap Axel, aku benar-benar tidak mengerti apa yang membuatnya tidak menyukai Axel..?? Dia baik dan sangat mencintai Celia.. " Gienka berucap dengan penuh kekesalan.
"Itu berarti Axel harus mencari tahu alasan kenapa Mama Celia bersikap seperti itu, sehingga Axel mungkin bisa memperbaiki apa yang tidak di sukai oleh mereka..! Suruh Axel bertanya pada Celia kenapa Mama Celia tidak menyukai Axel...!" Ariel menimpali.
"Bersabar??? Menunggu??? Tetapi jika tidak ada usaha, ya akan percuma saja sayang???? Hal itu akan terus saja berlanjut, dan mungkin bisa stuck disitu saja, tidak akan ada kemajuan, kalaupun selama ini yang berusaha hanya Axel saja, tetapi Celia juga tidak mencoba membantu nya, ya akan sia-sia saja...!" Ungkap Ariel.
Gienka mengangguk, setuju dengan apa yang baru saja di katakan oleh Ariel. Hal itu juga sdah sering dia katakan pada Axel, tetapi Axel terlalu mencintai Celia sehingga Axel lebih sering mengalah dan tidak memaksa Celia untuk membantunya mengatasi masalah itu. Gienka mengatakan pada Ariel dan Maysa, bahwa sejujurnya dia tidak menyukai cara berpikir Celia yang menurutnya masih seperti anak kecil. Celia seharusnya bisa mulai merubah cara berpikirnya dan tidak selalu bergantung pada Axel, bergantung dalam arti ketika menyikapi sesuatu harus lebih dewasa, dan bukan menyerahkan segala nya pada Axel karena Axel sendiri juga pasti butuh dukungan dari Celia ketika ingin melakukan apapun. Akan tetapi sejauh ini Celia seperti tidak memberi dukungan pada Axel, padahal Axel juga membutuhkan hal itu. Axel berniat serius dalam hubungan mereka, tetapi Celia seolah membiarkan Axel berjuang sendirian tanpa berusaha membantu Axel. Bagi Gienka itu sangat miris, dan Gienka merasa kasihan kepada Axel.
"Pa, Ma, Axel sebenarnya tadi juga bercerita bahwa Celia meminta dia agar datang ke rumah Celia bersama dengan kedua orang tua nya..!" Ujar Gienka.
"Orang tua nya??? Maksudmu orang tua Axel???" Tanya Maysa.
"Iya Ma, Celia meminta Axel membawa Om Alex dan tante Erina ke rumah Celia untuk bertemu dengan Mama Celia, lalu meminta ijin kepada Mama Celia mengenai Axel yang ingin serius dengan Celia...!"
"Meminta ijin????" Seru Ariel.
"Iya" Gienka mengangguk. "Tapi aku melarang Axel untuk tidak melakukan itu..."