I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 72



★★★★


Di tempat lain, Kyros membuka matanya, hari masih gelap tetapi dia terbiasa bangun di jam segini. Sebelum memulai aktifitasnya ke sekolah, dia selalu berolah raga pagi, dengan jogging di sekitar rumah. Dia tinggal di sebuah desa kecil yang sangat indah di Swiss, pemandangannya selalu memanjakan mata. Alasan kenapa dia tidak suka tinggal di asrama sekolah dan memilih tinggal bersama uncle dan aunty serta sepupu kecilnya saja.


Kyros jadi teringat kejadian semalam dimana Kyra sedang marah kepadanya dan memilih menutup panggilannya begitu saja. Sangat sulit bagi Kyros untuk membujuk Kyra agar tidak marah lagi. Kyros tahu bahwa dia memang bersalah tetapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, sulit untuknya bisa meninggalkan kegiatannya disini untuk pulang. Memang benar jika musim dingin nanti sekolahnya akan libur karena bertepatan juga dengan libur tahun baru. Apa dia harus pulang bersama Aunty dan Uncle nya atau tidak. Tahun lalu dia juga tidak pulang tetapi dia menghabiskan waktu liburnya disini bersama yang lainnya tetapi nanti mereka akan pulang dan dia akan tinggal di rumah sendirian. Kyros benar-benar bingung, dia juga sangat merindukan adik dan kedua orang tuanya, dia juga sangat merindukan Gienka. Perempuan yang selalu dia cintai sejak dulu.


Tok tok tok...


Bunyi ketukan membuyarkan lamunan Kyros, dia bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu. Niall berdiri di depan pintu dengan senyum manisnya dan menyapa Kyros. "Buongiorno kakak Ky...!"


Kyros tersenyum. "Buongiorno, Salve...!"


"Aku ikut jogging...!" Ucap Niall.


Kyros terkekeh. "Kakak tidak berniat jogging sampai ke danau, akan di sekitar rumah saja... Kakak harus ke sekolah begitu juga denganmu...! Kau masih mau ikut???" Tanya Kyros.


Niall mengangguk. "Ya, tidak masalah...!"


"Oke, tunggu, kakak harus mencuci wajah dan gosok gigi dulu, baru kita pergi...!"


"Oke....!"


*****


Kyros kembali dan mendapati sepupunya sedang menunggunha di ruanv depan. Mereka kemudian berangkat untuk jogging meskipun udara pagi masih dingin.


"Kakak... Ayo ikut pulang... Nenek bilang dia sangat merindukan Kakak, kata nenek kakak di suruh ikut pulang...!" Ucap Niall.


"Benarkah???" Tanya Kyros.


"Iya... Nenek berjanji akan membuatkan kakak kue kacang kesukaan kakak...!"


Kyros terkekeh. "Kue kacang nenek memang terbaik.... Kakakn jadi benar-benar ingin pulang...! Eh tetapi jangan katakan kepada siapapun, baik itu pada Amam, Apap, Nenek, kakak Kyra atau yang lainnya ya kalau kakak Ky akan pulang, kita buat kejutan untuk mereka, bagaimana???" Tanya Kyros.


"Oke... Tapi Kakak Ky beneran pulang ya???"


Kyros mengusap kepala Niall. "Iya....! Tapi jangan bilang siapapun..!"


Niall mengangguk dan berja ji tidak mengatakan kepada siapapun. Pilihan terbaik memang Kyros harus pulang, setidaknya membuat seluruh keluarganya tersenyum bahagia.



Vitto mengantar Sanne ke rumah Aditya untuk menemui Kyra. Masih sama seperti dulu, rumah Aditya tetap di jaga dengan ketat. Vitto tidak bisa langsung masuk begitu saja dan harus mendapat ijin dari sang pemilik rumah. Vitto meminta Sanne agar menghubungi Kyra agar mobil mereka bisa di ijinkan masuk.


Sanne, Rana dan Vitto turun dari mobil, Kyra serta Gienka langsung menghampiri mereka. Dengan sopan Gienka dan Kyra menyalami Rana juga Vitto, sedangkan Sanne di peluk oleh keduanya.


"Uncle dan Aunty ikut juga ya nanti???" Tanya Kyra.


"Ingin sekali sebenarnya, tetapi Aunty sudah ada janji berkunjung ke Bakery, sudah lama kan Aunty tidak kesana dan mengecek segalanya dan hanya meminta orang untuk mengurusnya...!" Ucap Rana.


"Iya juga ya...!" Gumam Kyra.


"Amam dan Apap ada di rumah???" Kali ini Vitto ganti bertanya pada Kyra.


Kyra menggelengkan kepalanya. "Apal dan Amam ke gudang untuk mengecek persiapan sembako dan barang-barang yang akan di berikan nanti, tetapi mereka sudah dalam perjalanan pulang kok, sebentar lagi sampai...!"


Terdengar suara klakson dari luar dan gerbang di buka lagi oleh security. "Nah itu sepertinya mereka datang...!"Ucap Kyra lagi.


Mobil Bmw putih memasuki halaman, sepertinya itu memang Aditya dan juga Cahya. Tak lama mereka berdua keluar dari mobil dengan senyum sumringah. Cahya langsung memeluk Rana dan mereka cium pipi kanan kiri. "Kok tidak menyuruh Uncle dan Aunty masuk Ra???" Tanya Cahya.


"Kami baru sampai Ca, belum ada tiga menit...!" Sahut Rana.


"Ya sudah masuk yuk, masa di luar???"


"Nanti saja Ca, kalau kami menjemput Sanne, Rana ada janji dengan dengan manager Bakery, jadi kami harus pergi, sore nanti kami akan menjemput Sanne disinj...!" Ujar Vitto.


"Buru-buru sekali??" Sela Aditya.


"Iya Dit, kami baru hari ini bisa ke Bakery, jadi kami titip Sanne dulu...!"


Aditya tersenyum. "Oke kalau begitu, kau bisa menjemputnya sore nanti disini, jangan khawatir, anak-anak yang lain juga akan berkumpul disini...!"


Vitto memeluk Aditya. "Baiklah... Kami harus segera pergi... Thanks ya...!"


Vitto dan Rana berpamitan, kemudian meninggalkan kediaman Aditya. Kyra dan Gienka mengajak Sanne masuk bersama Cahya dan Aditya, nanti yang lainnya juga akan datang.


"Mam... Pap... Aku akan mengajak Sanne ke kamar ya???" Tanya Kyra.


"Iya.... Kalian ke kamar saja, lekas suruh Louis, Phobie, Geffie dan Friddie kesini... Kita langsung berangkat jika mereka sudah sampai, kita makan siang bersama anak-anak disana nanti...!"


"Iya Mam, Friddie dan Geffie sudah di jalan, Louis menunggu Phobie bersiap-siap, mereka pasti akan sampai sebentar lagi...!"


"Baguslah... Ya sudah kalian tunggu di kamar atau ruang tengah saja, Amam dan Apap akan mandi dan bersiap...!"


Cahya dan Aditya naik ke kamar mereka, begitu juga Kyra yang mengajak kedua sahabatnya untuk ke kamarnya sambil menunggu yang lain datang.