I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 23 (Pergilah dari Rumahku)



"Elea???" Ariel langsung berdiri dan memegang kedua bahu Elea lalu memeluknya.


"Astaga Elea, aku hampir gila karena mencarimu dan ternyata kau ada disini, aku sangat merindukanmu" Ucap Ariel sambil memeluk Elea dengan erat.


Elea hanya diam tidak berucap apapun tapi berusaha melepaskan pelukan Ariel. Ariel masih mendekap Elea dan mencium ujung kepala Eleaaa lembut.


"Bagaimana kabarmu dan bayi kita?" Ariel mengusap lembut perut Elea, dan membungkukkan badannya hendak mencium perut Elea, merasa mendapat kesempatan, Elea langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan Danist.


Akhirnya Danist juga langsung pergi keluar untuk melihat keadaan Elea.


Saat sampai diluar, Elea langsung masuk ke dalam taksi dan menyuruh supir taksi itu untuk segera pergi. Ariel mencoba menahan taksi itu dan terus memanggil Elea.


"Elea..... El.... Tunggu....." Teriaknya, tetapi taksi yang ditumpangi Elea terus melaju.


Bergegas Ariel ke mobilnya dan menyuruh supirnya untuk segera mengikuti taksi itu.


★★★


Sesampainya di rumah, Elea langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Saat itu juga Ariel berhasil mengikutinya hingga ke rumah, Ariel langsung turun dan menggedor pintu rumah Elea dan berteriak memanggil namanya sambil menyuruh Elea untuk membuka pintu.


Kali ini Elea benar-benar ketakutan, karena dia ada di rumah sendirian, karena Mama nya juga sedang pergi keluar dengan Mama nya Danist. Tangis Elea pecah, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.


Ariel turun dari mobilnya berlari menuju pintu rumah Elea.


"Elea, aku mohon buka pintunya El... Please buka pintunya, mari kita bicara sebentar.... Elea sayang buka pintunya....."


Elea hanya diam didalam rumah sambil menangis. Ariel seolah tidak mau menyerah dan terus memanggil Elea. Danist hanya memandang Ariel dari kejauhan memastikan Ariel tidak melakukan hal yang bisa menyakiti Elea.


Sudah lebih dari setengah jam Ariel berusaha memanggil Elea, tetapi usahanya tidak mendapatkan hasil. Elea masih tidak mau membuka pintunya.


"Elea...........!!!!! Buka pintunya...... Cepat......!!! Atau aku akan mendobraknya...!!!" Teriak Ariel dengan keras.


Mendengar itu Elea semakin ketakutan dan bunyi dobrakan pintu semakin keras. "Elea kita harus bicara!!! Buka pintu El......"


Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara dari dalam di balik pintu.


"Ariel, pulanglah dan tinggalkan tempat ini, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semua sudah lama berakhir, pergilah dan biarkan aku menjalani kehidupanku dengan tenang" Teriak Elea dari dalam.


"Tapi El, aku mohon beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu, tolong buka pintumu, sebentar saja"


"Aku bilang pergilah dan jangan menggangguku"


Hening dari dalam sepertinya Elea memutuskan untuk kembali, tetapi Ariel berusaha lagi untuk membujuknya. Dia erus memanggil nama Elea dan memohin agar perempuan itu mau membuka pintunya.. Akan tetapi hasilnya nihil.


Ariel akhirnya memilih menyerah untuk beberapa saat, dia duduk di kursi yang ada di teras. Dia mengacak-acak kasar rambutnya, merasa kesal dengan dirinya dan keadaan saat ini. Kini Ariel mulai sadar ada sesuatu yang terjadi, Aditya telah membohonginya, ternyata selama ini Aditya lah yang telah membantu Elea bersembunyi. Aditya selama ini tahu keberadaan Elea bahkan juga telah memperkerjakan Elea di perusahaan teh miliknya.


"Adit..... Berani sekali kau mempermainkanku dan menyembunyikan hal sebesar ini dariku, aku akan memberimu pelajaran....." Gumam Ariel kesal hingga tangannya memukul meja.


Ariel masih duduk diam, berharap Elea akan membuka pintu nya, karena jika dia terus berteriak dan memaksa Elea, itu pasti akan menakutinya dan Elea akan semakin enggan menemuinya, jadi dia memutuskan untuk diam dan menunggu. Airmata Ariel mulai menetes, mengingat perut Elea yang sudah membesar dan selama ini Elea berjuang sendirian dimasa kehamilannya. Ariel sekarang sudah menemukan Elea nya dan dia berjanji tidak akan melepaskannya lagi, dan akan menjaga Elea dan bayi mereka dengan baik.


Ariel masih tetap diam diteras rumah Elea, dia akan menunggu sampai Elea membuka pintunya. Walaupun jika Elea baru membukanya esok hari, dia akan tetap menunggunya. Ariel benar-benar butuh berbicara dengan Elea dari harmti ke hati, dan juga membahas bayi mereka.


Hingga akhirnya setelah menunggu cukup lama, Ariel melihat kedatangan sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah Elea. Ariel sangat mengenal mobil itu, itu adalah mobil milik Aditya. Benar dugaannya ternyata Aditya memang tahu tentang keberadaan Elea selama ini dan sahabatnya itu telah tega membohonginya selama ini.


Ariel beranjak dari tempat duduknya, dengan tatapan penuh amarah dia berjalan menghampiri mobil Aditya. Aditya membuka pintu mobilnya dan keluar, belum sempat dia menyapa, tiba-tiba saja Ariel langsung memukul wajahnya dengan keras membuat Aditya langsung jatuh ke tanah. Tatapan Ariel sangat tajam ke Aditya, dan terlihat sangat jelas wajahnya dipenuhi dengan amarah.


Ariel menunduk dan menarik kerah kemeja Aditya dengan kasar.


"Berani sekali kau selama ini membohongiku! Aku hampir gila mencari istriku dan kau justru menyembunyikannya ditempat ini, apa mau mu? Dasar baj*ngan...!!!" Ucap Ariel dengan suara geram, dan melayangkan lagi pukulan ke wajah Aditya. Saat itu juga ujung bibir Aditya mengeluarkan darah.


Aditya berusaha menghindari pukulan dari Ariel, tetapi dia tetap berusaha untuk tidak membalas pukulan sahabatnya itu. Danist yang melihat pergulatan itu segera keluar dari mobilnya dan berlari untuk memisahkan Aditya dan Ariel.


"Pak... Pak tolong berhenti pak....." Teriak Danist sambil memeluk Ariel dari belakang menahannya agar tidak menyerang Aditya.


"Lepaskan......!!!! Kau siapa? Jangan ikut campur masalah rumah tanggaku" Ucap Ariel penuh kemarahan.


Tiba-tiba Ariel justru menggunakan siku nya untuk menyerang Danist. Danist pun langsung melepaskan pelukannya karena siku Ariel tepat mengenai hidungnya, hingga hidungnya berdarah. Ariel masih terus berusaha menghajar Aditya, sedangkan Aditya hanya berusaha menghindar tetapi beberapa kali dia gagal menghindar hingga harus menerima pukulan Ariel.


"Iel, tenanglah, aku bisa menjelaskan semuanya"


Ariel tidak memperdulikan ucapan Aditya dan terus saja ingin menghajarnya.


Ariel berhasil meraih kerah kemeja Aditya, dan menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan? Kenapa kau menyembunyikan Elea selama ini padahal aku mati-matian mencarinya ke setiap sudut kota, kau menyembunyikannya disini, memberinya pekerjaan dan tempat tinggal, kau menghidupinya, ah aku tahu jangan-jangan kau ingin menjadikannya istri yang kedua, kau benar-benar brengs*k Adit....!!" Jemari Ariel mengepal dan siap melayangkan pukulan ke wajah Aditya tetapi disaat bersamaan, ada tangan lembut yang menahan pergelangan tangannya.


Ariel langsung mengalihkan pandangannya dari Aditya dan menoleh, dia menemukan Elea berdiri dibelakangnya. Saat itu juga, Ariel mendorong Aditya hingga dia jatuh ke tanah. Disaat itu juga mobil Randy baru saja sampai, melihat Aditya terbaring di tanah Randy langsung keluar membantu Aditya, sementara Chika berlari membantu Danist berdiri.


Randy membawa Aditya ke teras dan begitu juga Chika membawa Danist. Chika lalu pergi masuk ke dalam rumah untuk mengambil kotak P3K untuk mengobati Danist dan juga Aditya. Danist, Randy dan Aditya hanya melihat Ariel dan Elea dari kejauhan, memberi mereka waktu untuk menyelesaikan permasalahannya.


Elea melepaskan genggamannya dan Ariel langsung membalikkan badannya menatap Elea dengan perasaan bahagia karena akhirnya Elea keluar dan menemuinya. Elea langsung menampar pipi Ariel dengan keras hingga meninggalkan bekas merah disana.


Ariel hendak memegang bahu Elea tetapi memundurkan langkahnya dan menunjukkan telapak tangannya dihadapan Ariel agar lelaki itu tidak mendekatinya.


"Tetap disitu dan jangan mendekat, pergilah dari rumahku dan jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi dihadapanku"


"Elea sayang, aku mohon dengarkan aku, kita harus kembali bersama dan membesarkan bayi kita, kita mulai semuanya dari awal lagi, bukankah itu yang kau katakan disuratmu, kembalilah El" Ariel berucap sambil berjalan mendekati Elea.


"Aku bilang jangan mendekat!!! Kau bilang ingin kembali lagi bersamaku dan membesarkan bayi kita?" Elea tersenyum dan membuang muka nya merasa muak dengan ucapan Ariel, lalu melanjutkan ucapannya.


"Tanpa dirimu aku bisa membesarkannya sendiri, kemana saja kau selama ini? Kenapa baru mencariku dan anakku? Hidupku sudah kau hancurkan, bersusah payah aku berjuang menata hidupku kembali, aku menjenguk sahabatku dirumah sakit dan kau juga datang bersama kekasihmu menunjukkan betapa bahagianya dirimu saat itu bersamanya membuatku semakin muak dengan diriku sendiri karena pernah mencintaimu, sekarang pergilah dan jangan pernah menggangguku lagi"


"Elea maafkan aku, aku mohon padamu, kembalilah, aku sudah menerima hukuman atas kesalahanku, ku mohon maafkan aku, kau boleh menamparku sebanyak yang kau mau, tamparlah aku." Ariel memegang pergelangan tangan Elea dan mengangkatnya menamparkan telapak tangan Elea ke pipi nya.


Elea berbalik arah dan berjalan meninggalkan Ariel tanpa mempedulikan ucapannya dan terus berlalu. Ariel tidak tinggal diam, dia mengejar Elea dan menarik tangannya. Pegangan Ariel begitu kuat hingga membuat Elea berteriak kesakitan.


"Lepaskan aku, kau menyakiti ku!!! Lepaskan...!" Teriak Elea.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mengatakan iya untuk kembali denganku, aku akan membawamu pulang"


Elea berusaha melepaskan pegangan Ariel dan Elea menangis memohon agar Ariel melepaskannya tetapi Ariel tetap tidak mau mendengarkannya. Ariel justru menyeret Elea ingin membawanya masuk ke dalam mobilnya. Elea semakin menjerit dan terus berusaha melepaskan pegangan Ariel.


Melihat Ariel bertindak kasar terhadap Elea, Danist yang sedang diobati oleh Chika pun langsung berlari. Danist menghampiri Elea dan Ariel, lalu menarik tangan Ariel yang sedang memegang Elea dengan kasar dan melepaskannya. Danist berdiri membelakangi Elea seolah ingin melindungi perempuan itu dari Ariel.


Ariel menatap marah ke arah Danist begitu juga sebaliknya. Merasa geram, Ariel berniat memukul Danist, tetapi dengan cepat Danist menahannya.


"Kau.... Berani-berani nya mengganggu urusanku dengan istriku, cepat minggir" Gertak Ariel.


"Mantan istri.......!!!! Dia bukan lagi istri anda tetapi mantan istri anda, anda camkan itu baik-baik" Ucap Danist.


Ariel menarik tangannya dari pegangan Danist, dan terlepas. "Elea adalah istriku, dia sedang mengandung anakku, jadi aku berhak membawanya pergi dari tempat ini" Gumam Ariel marah


"Apa hak anda membawanya pergi? Anda sejak tadi mengatakan jika dia adalah istri anda, tapi kemana saja anda selama ini? Kemana...!!! Dia selama ini menjalani kehidupannya dengan perjuangan keras, anda mencampakkannya begitu saja, dari perutnya yang masih belum terlihat hingga saat ini sudah membesar dia berjuang sendirian, dia perempuan yang sangat baik hingga Tuhan mengirimkannya orang-orang yang baik pula untuk membantunya, memberinya dukungan dan menjaganya, lalu anda yang mengaku sebagai suaminya, selama ini anda kemana saja....!!!!" Danist berteriak dengan penuh kekesalan tepat di wajah Ariel.


"Diamlah kau, aku tidak ada urusan denganmu, minggirlah...."


Ariel berusaha menyingkirkan badan Danist dan berusaha meraih Elea yang ada di belakang Danist. Merasa sangat kesal, Danist akhirnya mendorong Ariel ke belakang dengan kasar.


"Berhentilah tuan Ariel..... Stop.... Hentikan sikapmu ini... Sejak tadi saya sudah mencoba menahan diri saya untuk tidak ikut campur dnegan masalah ini tetapi anda terus saja bersikap seperti ini, menyakiti semua orang bahkan terus memaksa Elea, dan lihatlah dia sedang hamil, dia juga sangat ketakutan melihat anda, apa anda tidak melihatnya???"


Danist menatap Ariel tajam seolah ingin memukul wajah angkuh Ariel tetapi dia menahan diri.


"Aku baru pertama kali melihat ada seorang laki-laki baj*ngan seperti anda, membawa wanita lain pulang dan tidur dengannya dikamar sedangkan disana ada istri anda, dia menahan kesedihannya tetapi anda mengabaikannya dan malah menceraikannya, anda mengusirnya dan dia pergi menuruti kemauan anda, dia mencoba mengemis meminta belas kasihan anda melupakan harga dirinya karena dia masih menyimpan cintanya untuk anda tetapi anda tetap tidak peduli, dan sekarang disaat dia sudah melupakan nestapa nya tiba-tiba anda datang dan menyeretnya mengajaknya pulang, anda itu bodoh atau tidak waras sebenarnya?? Cuih...... memalukan sekali, ayo El kita masuk ke rumah, biarkan saja si baj*ngan ini disini"


Danist membalikkan badannya dan merangkul Elea mengajaknya untuk masuk ke rumah, meninggalkan Ariel.


Ariel mencoba berdiri dan hendak mengejar Danist dan Elea, Randy yang sejak tadi duduk pun berdiri dan berlari menghampiri Ariel. Randy menahan Ariel agar tidak lagi memperpanjang masalah ini.


"Iel, sudahlah, sudah cukup kau membuat kekacauan, Elea benar-benar ketakutan melihatmu Iel, lebih baik sekarang kau pulang saja" Ucap Randy.


"Kau juga sama brengs*k nya dengan Adit, kau juga ikut membohongiku selama ini Ran"


"Iel, sudahlah pulanglah sekarang dan tenangkan pikiranmu, kau masih dipenuhi dengan emosi, masuklah ke mobilmu dan pulanglah bersama supirmu, atau aku akan menghubungi polisi karena kau telah membuat kegaduhan disini, cepatlah pulang dan jangan menatapku seperti itu"


Sebuah mobil berhenti dan keluarlah Mama Elea serta Mama Danist yang baru saja tiba. Keterkejutan sangat dirasakan oleh Mama Elea ketika melihat Ariel ada didepan rumahnya. Ariel yang mekihat sang mantan mertua langsung meninggalkan Randy dan menghampirinya. Ariel berlutut didepan Mama Elea sambil memeluk kakinya.


"Mama, tolong maafkan aku Ma, aku mohon bujuklah Elea untuk kembali pulang, aku berjanji pada Mama, aku akan menjaga nya" Ariel berucap sambil terus memeluk kaki Mama Elea.


Sedangkan Mama Elea hanya diam saja. Merasa geram dengan tingkah Ariel, Randy kembali menyusulnya dan menarik sahabatnya itu dengan kasar.


"Tante, lebih baik tante masuk ke dalam rumah saja, biar aku yang mengurusnya"


Ariel berdiri dan ingin mengejar Mama Elea tetapi dengan sigap Randy menghentikannya. "Iel......!!! Pergilah dari sini sekarang juga, kenapa kau tidak mengerti juga??? Jangan membuatku semakin marah, cepat pergi.....!!!!" Teriak Randy.


Pada akhirnya Ariel pun menyerah dan pergi meninggalkan rumah Elea. Perasaan sedih penuh penyesalan berkecamuk dihatinya. Semua sudah terlambat.


‡★‡★‡★


"Tidak lagi tersisa cinta Mamamu untuk Papa.....! Setelah kejadian itu, Papa masih terus berusaha untuk mendapatkan cinta Mamamu lagi tetapi tidak berhasil...!" Gumam Ariel pelan.


Gienka terisak dan airmatanya tidak mau berhenti menetes. "Berapa usia kandungan Mama saat itu???" Tanya Gienka.


"Entahlah, saat itu perut Elea sudah besar sekitar 7bulan...!"


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya??? Papa tidak pernah lagi datng menemui Mama dan aku???".


Ariel menggeleng, dia menceritakan pada putrinya itu bahwa dia masih berusaha meyakinkan Elea sayangnya Elea menolak kembali dan setelah melahirkan, Elea menikah dengan Danist yang saat itu masih belum Ariel ketahui jika Danist adalah kakaknya. "Yang menjadi penyesalan Papa sampai saat ini adalah Papa tidak mengumandangkan adzan saat kau lahir.... Seharusnya itu dilakukan oleh seorang Ayah pada putrinya tetapi Papa tidak melakukannya.... Papa berharap kau mau memaafkan kesalahan Papa itu....!"


Ketika Gienka mendengar itu wajahnya langsung berubah penuh dengan kekecewaan. Dia tidak menyangka Papanya begitu buruk, sudah menyakiti Mamanya begitu dalam dan juga tidak mengadzani nya saat dia baru lahir. Gienka benar-benar kecewa sekali. Semua kesalahan yang dolakukan Papanya tentu tidaklah mudah untuk dimaafkan begitu saja. Ini begitu menyakitkan bagi Gienka.