I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 154



Beberapa minggu kemudian...


Kyra berdiri di tengah walk in closset miliknya tepatnya didepan lemari pakaiannya, memandang bingung memilih pakaian mana yang akan ia pakai ke kantor. Senyumnya mengembang ketika menemukan pantsuit berwarna abu-abu yang akan sangat pas jika dipasangkan dengan blouse berwarna putih. Hari ini dia akan meeting dengan klien untuk pertama kalinya setelah menyandang status sebagai Gm di salah satu perusahaan milik keluarganya. Penampilannya harus sempurna, baik itu dari pakaian, sepatu, tas hingga aksesoris pelengkapnya seperti jam tangan.


Setelah menemukan pakaian yang cocok, Kyra kemudian memilih sepatu heels berwarna hitam, tas jinjing berwarna putih dari merk terkenal dan jam tangan mewah bertabur swarovski yang elegan. Rambut panjangnya tergerai dengan indah, di cat warna ungu muda dengan kombinasi blonde dibagian bawahnya, serta warna hitam dibagian atas yang tak lain adalah warna rambut aslinya membuat penampilannya semakin terlihat lebih cantik. Selesai mengganti pakaian dan make up, Kyra meraih ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas lalu meninggalkan kamarnya untuk turun ke bawah menemui keluarganya dan sarapan bersama.


"Morning Mam....!!! Morning Oma Opa...!" Kyra menghampiri Cahya yang sedang menyiapkan piring untuk sarapan di meja makan, sementara Oma Opanya sudah duduk di kursi masing-masing.


"Morning sayang....! Putriku terlihat selalu cantik, dan kali ini lebih cantik dari biasanya..!" Ujar Cahya.


Kyra tersenyum sambil mencomot buah pisang, menarik kursi dan memakannya. "Aku akan bertemu dengan klien untuk pertama kalinya, jadi aku harus terlihat rapi, kemana Apap???" Tanya Kyra.


"Masih di kamar, sebentar lagi dia akan turun...! Kau mau sarapan apa?? Roti, oatmeal atau buah saja? Biar Amam siapkan"


"Aku akan makan pisang dan apel saja"


Tak lama Aditya datang dan sudah rapi dengan setelan jasnya karena dia juga akan ke kantor. Aditya duduk dan memuji penampilan Kyra. Ya, sekitar 2 minggu yang lalu, Aditya telah memberikan tanggung jawab kepada Kyra untuk memimpin salah satu anak perusahaan miliknya. Tanggung jawab itu dia berikan ketika selama setahun terakhir melihat perkembangan dan kesiapan dari putrinya untuk mulai mengelola perusahaan. Karena seperti dugaannya dari dulu bahwa Kyra memang memiliki kejeniusan di bidang bisnis. Setelah lulus SMA Kyra memilih melanjutkan pendidikannya di jurusan bisnis dan manajemen di Oxford University London tempat dulu Aditya juga berkuliah disana, tetapi Kyra memilih Stanford University di Amerika untuk gelar MBA nya, dikarenakan Kyros juga berkuliah disana.


Setelah Kyra kembali dari berkuliah di luar negeri, Aditya langsung membawanya ke kantor dan membiarkan putrinya itu belajar mengurus perusahaan disana. Kurang dari satu tahun ternyata Kyra sudah menguasai semuanya membuat Aditya langsung memberi kepercayaan kepada putrinya itu untuk memimpin salah satu anak perusahaan miliknya.


"Morning Pap...!!!" Sapa Kyra.


"Morning sayang...! Apa kau sudah siap untuk pertemuan pertamamu dengan klien??"


"Aku sangat nervous but Im okay Pap..!" Jawab Kyra sambil tersenyum. Ini memang pertemuan pertamanya dengan klien tanpa Aditya, karena sebelumnya dia selalu mendampingi Ayahnya itu dan kali ini dia harus menghadapinya sendiri. Sedikit deg-degan tetapi Kyra berharap semuanya akan lancar.


"Apap sangat yakin kau akan bisa melakukannya dengan baik!"


"Thanks Pap... Fiuhhh aku benar-benar nervous...!" Kyra menghela napasnya.


Aditya meminta Kyra bersikap tenang agar presentasinya lancar dan bisa meyakinkan Kliennya dengan baik. Mereka pun menikmati sarapan bersama diselingi dengan obrolan ringan dengan suasana yang hangat. Tetapi tentu setiap hari selalu ada yang kurang bagi keluarga Aditya, dimana tidak ada kehadiran Kyros bersama mereka selama bertahun-tahun.


Kyros memilih melanjutkan SMA nya di luar negeri, tepatnya di Swiss. Disana dia tinggal dirumah yang sama yang pernah ditinggali oleh Cahya dan Aditya dulu. Di rumah itu Kyros tinggal bersama Adri dan Chika serta Niall keponakannya. Itu karena Aditya meminta agar Adri mengurus perusahaan disana selama beberapa tahun dan karena Kyros meminta sekolah di luar negeri maka Aditya menyuruhnya agar menyusul Adri saja agar ada yang bisa mengurusnya disana.


Kemudian ketika sudah lulus SMA, Kyros kembali memilih ke luar negeri lagi untuk kuliah. Berbeda dengan Kyra yang memilih S1 di London, Kyros memilih Stanford University sebagai pilihannya, dimana bukan jurusan bisnis yang diambilnya melainkan jurusan ilmu astronomi seperti yang dia sukai. Untuk pascasarjana nya, Kyros masih berada di universitas yang sama, hingga kemudian Kyra juga menyusulnya disana meskipun berbeda jurusan tentunya.


Kyros adalah lulusan summa cumlaude sehingga saat lulus dia langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan astronomi terbesar di dunia. Kyros sangat senang sekali karena itu adalah impian terbesarnya selama ini, dan ketika dia mendapatkan kesempatan itu tentunya harus dia manfaatkan dengan baik. Tetapi Kyros juga tidak lupa untuk melanjutkan pascasarjananya sambil bekerja. Dan lebih membanggakan lagi, di usianya yang masih sangat muda, saat ini Kyros sedang berada di stasiun luar angkasa untuk misi penelitian. Kyros akan bekerja disana selama 3 bulan sebelum kembali lagi ke Bumi.


"Apa Ky sudah menghubungimu???" Tanya Cahya pada Kyra yang tengah memotong apel.


Kyra mengangkat kepalanya dan memandang Amamnya itu sambil tersenyum. "Oh C'mon Mam, Ky masih ada di atas, dia baru akan turun besok atau malam ini, dan tidak mungkin akan langsung menghubungi kita karena dia pasti butuh waktu untuk recovery, lagipula jika dia sudah bisa menghubungi kita tentu orang pertama yang akan dihubungi adalah Amam, bukan aku atau Apap, karena dia kesayangan Amam" Ujar Kyra sambil memasukkan potongan apel ke mulutnya.


Aditya kemudian menimpali percakapan Kyra dan Cahya dengan mengatakan bahwa setiap malam Cahya selalu duduk di balkon kamar sambil melihat ke langit kemudian tiba-tiba menangis karena teringat Kyros. Cahya sangat merindukan putranya itu, mengingat Kyros tidak pernah lagi pulang. Terakhir bertemu dengan Kyros adalah saat mereka datang untuk menghadiri kelulusannya, ketika itu Kyros juga tidak bisa ikut pulang bersama Kyra dan lainnya karena dia akan mulai disibukkan dengan persiapannya untuk mengikuti test masuk ke perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Hal itu membuat Cahya selalu merindukannya, dan sering menangis ketika mengingatnya.


Cahya adalah orang yang paling menolak keras ketika Kyros memutuskan untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah atasnya di luar negeri. Alasan sederhana seorang ibu adalah karena saat itu umur Kyros masih dirasa terlalu muda. Cahya hanya akan memberikan ijin ketika Kyros maupun Kyra berkuliah di luar negeri, bukan bersekolah disana. Tetapi Aditya meyakinkan istrinya itu agar memberi ijin Kyros untuk pergi, mengingat Kyros sangat ingin menambah dan memperdalam ilmunya disana, dimana Kyros sangat terobsesi dengan apa yang disukainya yaitu belajar tentang ilmu sains terutama astronomi. Butuh waktu untuk meyakinkan Cahya sampai akhirnya dia mengijinkannya. Kemudian Kyros pun melanjutkan pendidikan SMA nya di Swiss sedangkan Kyra tetap bersekolah disini dan baru pergi ke London untuk berkuliah.


"Aku sangat merindukan putraku, memangnya ada yang salah dengan itu???" Ucap Cahya dengan sedih.


Kyra tersenyum kemudian mengusap pundak Cahya dengan lembut. "Tidak ada yang salah Mam, tetapi bersabarlah sebentar lagi, aku yakin ketika kondisi sudah baik, Ky akan langsung menghubungi kita, kita doakan saja semoga dia turun dengan keadaan selamat, tidak kurang suatu apapun" Kyra kemudian memeluk Cahya yang ada disampingnya, agar Amamnya itu tidak bersedih lagi mengingat Kyros.


"Ah aku lupa, Mam, Pap, sore nanti aku ada janji dengan Gienka, jadi aku akan pulang sedikit terlambat!" Ucap Kyra lagi.


"Its okay sayang, tapi jangan terlalu larut" Jawab Aditya.


Kyra kemudian mencium Cahya, bergantian mencium Aditya juga Oma Opa nya sebelum pergi.


★★★★★


Gienka terbangun, melihat ke arah jam yang ada disampingnya. Dia melompat dari tempat tidur karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul delapan pagi. "Astaga aku terlambat....!!"


Bergegaslah dia ke kamar mandi, ini sudah sangat terlambat. Semalam dia tidur terlalu larut hingga jam 3 pagi untuk menyelesaikan pekerjaannya tetapi dia malah bangun terlambat saat ini.


Tidak sepertu biasanya yang butuh waktu lama di kamar mandi, kali ini tentu harus lebih cepat. Dan mulai memilih pakaian yang akan dia gunakan serta yang lainnya. Selepas berganti pakaian, dia berdiri di depan meja riasnya, tersenyum memandangi wajahnya sendiri karena wajahnya bagaikan fotocopy dari wajah Mamanya. Dia membayangkan jika dulu Mamanya pastilah cantik seperti dirinya, mungkin lebih cantik dari dirinya.


Mulai tersadar jika ini bukanlah waktunya untuk memikirkan hal lain, Gienka pun mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya yang panjang itu seadanya. Tidak ada waktu untuk bermain dengan hairdryer atau pencatok rambut, dan membiarkannya tergerai dengan lurus saja, kemudian memakai make up sederhana. Setelah merasa sudah rapi, Gienka meraih tas serta blazernya yang ada di atas tempat tidur dan berlari keluar kamar. Saat keluar dari pintu kamar, dia terhenti dan menoleh ke belakang sambil tersenyum, dia telah melupakan sesuatu jadi dia memutuskan kembali masuk ke kamarnya dan meraih bingkai foto yang ada diatas meja disamping tempat tidur. Menatap frame foto itu dengan tatapan lembut dan penuh cinta.


"Hari ini aku terlambat bangun jadi kita tidak bisa mengobrol lebih lama tapi nanti malam kita bisa mengobrol lagi, aku sangat merindukanmu" Gienka mencium foto yang ada di frame itu lalu meletakkannya lagi di atas meja dan kembali berlari keluar kamar. Itu adalah kegiatan rutinnya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor juga selepas dari kantor, bahkan Gienka juga selalu melakukannya sebelum tidur, mengobrol dengan frame foto itu sebagai ungkapan kerinduannya kepada orang yang ada di dalam foto itu.


Gienka setengah berlari dan hampir saja terpeleset. "Auuuw....!" Seru Gienka tetapi untungnya dia bisa mengendalikan tubuhnya sehingga tidak jatuh.


"Gie.... Berhati-hatilah... Kenapa kau berlari, bagaimana jika kau jatuh dan kakimu terkilir???" Maysa berlari menghampiri Gienka. Tadi dia sedang membereskan meja makan dan mendengar Gienka berteriak membuatnya bergegas menghampirinya karena khawatir.


"Aku buru-buru, kenapa Mama tidak membangunkanku tadi, aku terlambat bangun!"


"Kau tidur lelap sekali sampai kau tidak mendengar bunyi jam disampingmu, kau pasti semalam tidur larut sekali, jadi Mama tidak tega membangunkanmu, ayo sarapan...! Papamu sudah berangkat sejak tadi...!"


Gienka menggelengkan kepalanya. "Aku akan sarapan di kantor saja, aku sudah terlambat sekali" Gienka mencium Maysa lalu bergegas pergi.


Saat keluar dari dalam rumah, dia melihat Geffie adiknya sedang menyiram tanaman di halaman depan. Geffie meletakkan selang air dan menghampiri Gienka.


"Kau terlambat ya kak???" Geffie mencium pipi kakaknya dan menyuruhnya untuk berhati-hati di jalan.


"Ah aku lupa dek, aku akan pulang terlambat nanti, aku ada janji bertemu Kyra, sampaikan pada Mama oke???"


"Iya..."


"Bye..." Gienka melambaikan tangan dan langsung masuk mobilnya, sementara Geffie hanya tersenyum melihat kepanikan kakaknya.


Geffie adalah anak dari Ariel dan Maysa. Usianya saat ini adalah 17 tahun. Butuh perjuangan yang panjang untuk mendapatkan Geffie, dimana Maysa harus melakukan bayi tabung, itupun mengalami kegagalan hingga 2 kali. Di usia pernikahan mereka yang menginjak satau tahun, tidak sengaja Cahya mengenalkan Maysa kepada teman baiknya yang ternyata adalah seorang dokter kandungan. Aditya kemudian menyarankan kepada Ariel agar mencoba proses bayi tabung untuk memiliki anak lagi. Awalnya Ariel sendiri sempat menolak tetapi Aditya mengatakan tidak ada salahnya untuk mencoba hal itu. Kegagalan yang pertama membuat Ariel dan Maysa sempat menyerah tidak ingin melanjutkan lagi. Mereka berdua recovery selama 6 bulan tetapi entah kenapa mereka akhirnya memutuskan untuk melakukannya lagi. Gagal untuk kedua kalinya tidak membuat keduanya menyerah dan akhirnya ketiga kalinya usaha itu berhasil juga.


Dan lahirlah Geffie Adaire Ariel Harsya, bayi perempuan cantik anak pertama dari Ariel dan Maysa. Geffie menjadi penambah kesempurnaan keluarga kecil Ariel. Dan saat ini Giffie masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Memiliki suara merdu dan sangat menyukai musik, sangat jauh berbeda dengan Gienka yang saat ini fokus membantu Ariel mengelola bisnis dan perusahaan serta hotel juga restoran.


nka mengenyam pendidikan sarjananya bersama dengan Kyra di Oxford University London, sementara untuk gelar MBA nya Gienka memiliki Harvard University di Amerika, berbeda dengan Kyra, tetapi tentu saja persahabatan keduanya tetap terjalin dengan sangat baik hingga saat ini.


Untuk tempat tinggal, Gienka saat ini tinggal bersama Ariel, tetapi minggu delan giliran dia pulang ke rumah Elea. Gienka mengatur waktu tinggalnya dengan sangat baik, dimana seminggu sekali dia akan tinggal bersama Elea, minggu depannya lagi di rumah Ariel. Hubungan kedua keluarga itu juga sangat baik. Tidak ada lagi permasalahan diantara mereka seperti dulu. Ariel memenuhi semua janjinya pada Danist, dia menjadi pribadi yang sangat baik.


Danist dan Elea juga mengijinkan Ariel untuk menambahkan namanya pada nama Gienka. Proses penambahan nama itu cukup lama tetapi sudah selesai, dan saat ini tentu ada nama Ariel dibelakang nama Gienka. Selain itu, Ariel juga sempat meminta ijin pada Mama Danist agar dia bisa memanggilnya dengan sebutan Mama bukan lagi tante. Itu hal yang sangat bagus, dan tentu saja Mama Danist mengijinkannya. Sampai saat ini hubungan mereka terjalin semakin baik. Maysa juga sangat dekat dengan Elea, seperti hunmbungan kakak adik pada umumnya. Tidak ada kecanggungan atau hal lainnya karena mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing dan berbahagia dengan keluarganya. Sudah sekitar 7 Tahun Danist juga mulai membantu Ariel mengurus pekerjaan di perusahaan yang menjadi peninggalan dari mendiang Pak Andi. Danist merasa kasihan tatkala melihat Ariel tampak kewalahan mengurusnya sendirian, dimana semakin lama perusahaan semakin besar. Jadi dia pun bersedia membantu Ariel.


********


Sampai di kantor, Gienka langsung ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya sebelum siang nanti dia meeting bersama tim legal. Gienka duduk di kursi putarnya, menyandarkan tubuhnya dan menghela napasnya, setelahnya dia mulai menyalakan layar monitor komputernya.


Tidak membuka folder pekerjaannya, Gienka justru membuka folder yang lainnya dimana disana berisi foto-foto. Gienka melihat satu persatu foto itu, dan senyumnya mengembang ketika menemukan foto seseorang yang sangat dirindukannya. Seseorang yang sudah lama tidak dia temui, bahkan juga tidak bisa dia hubungi karena kesibukan orang itu.


"Hai Bear....!! Bagaimana kabarmu disana? Cepatlah pulang, aku sangat merindukanmu... Aku seperti orang gila ketika melihat fotomu karena aku akan berbicara sendiri dan membayangkanmu ada di depanku... Kembalilah dengan selamat, dan setelah itu aku tidak akan melepaskanmu!" Gumam Gienka pada monitor komputernya.