
Dengan perasaan sedih dan kecewa, Gienka memilih kembali masuk ke kamar untuk merapikan pakaiannya yang ada di koper daripada di abaikan oleh Kyros, setelah itu mungkin dia akan menemui Kyra. Gienka benar-benar dibuat terkejut oleh sikap Kyros kepadanya tadi, apakah sampai harus bersikap seperti itu hanya karena menerima sebuah telepon saja. Rasa kecewa Gienka sedikit terobati ketika mencium wangi bunga yang ada di kamar ini, juga suasana kamar yang sangat nyaman dan indah karena di dekorasi.
Kyros masih berbicara dengan serius sekali, dia mendengarkan dengan baik kemudian sesekali menanggapinya.
"Okay...! I will be back after tomorrow, so don't worry about it...!" Jawab Kyros di ujung telepon.
Kyros diam lagi dan mendengarkan lawan bicaranya kemudian tawanya mengembang. "Hahaha not wednesday but Thursday..! Okay... Okay... I will be back... See you soon...!" Ucapnya lagi kemudian menutup teleponnya.
Kyros kemudian membalikkan badannya dan memandang pintu kamarnya yang tertutup, tadi dia sempat melihat istrinya sedang berdiri disana tetapi mungkin Gienka memilih untuk kembali ke kamar. Kyros akhirnya menyadari jika tadi dia sudah bersikap tidak baik pada Gienka. Kebiasaan buruknya terbawa sampai kesini dimana dia selalu pergi menjauh dari orang-orang di dekatnya ketika mendapatkan telepon dari kantornya. Kyros mengernyit dan mengutuk dirinya, harusnya dia melakukan hal itu apalagi Gienka sudah menjadi istrinya.
Dengan cepat Kyros kembali lagi ke kamarnya untuk menemui dan meminta maaf pada Gienka. Dia juga harus menyampaikan hal yang sedikit menyedihkan juga kepada istrinya itu. Kyros membuka pintu kamarnya dan menemukan Gienka sedang mengeluarkan pakaiannya dari koper. Gienka melirik kesal kepada Kyros yang tersenyum kepadanya. Ketika Kyros mendekat, Gienka langsung berdiri dan hendak meninggalkan lelaki itu, tetapi dengan cepat Kyros menghentikannya dengan menarik pergelangan tangan Gienka.
"Mau kemana???" Tanya Kyros dan langsung membawa Gienka ke pelukannya.
Gienka memberontak dan ingin menjauh tetapi Kyros tentu saja tidak melepaskannya dan pelukannya semakin mengencang. "Sorry.....! Aku benar-benar tidak sengaja tadi, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi...! Please jangan marah....!"
Gienka mendorong Kyros dan memasang wajah kesalnya. "Hanya menerima sebuah panggilan kau langsung mendorongku dan menjauhiku! Apa itu telepon dari Camilla atau perempuan lain sehingga sikapmu seperti itu...??"
Kyros tersenyum kemudian menjewer kedua telinganya sambil tersenyum menyesal. "Im so sorry...!! Itu bukan dari perempuan lain, percayalah...! Itu telepon dari kantor!" Gumam Kyros pelan.
"Kau pasti bohong...! Masa hanya ada panggilan dari kantor saja kau langsung bersikap sekasar itu, itu pasti hanya alasanmu saja, kau bohong ya???"
Kyros tersenyum dan mengajak Gienka untuk duduk di sofa dan membicarakan perihal telepon tadi. Sambil menggenggam kedua jemari istrinya, Kyros menjelaskan jika kantor memintanya untuk kembali dalam waktu dekat ini karena ada pertemuan penting yang mendesaknya harus segera kembali.
"Kapan??" Tanya Gienka.
"Kamis besok...! Karena senin aku harus sudah ada ada di kantor! Dan aku juga butuh istirahat yang cukup setelah perjalanan jauh agar bisa fokus bekerja!"
Mata Gienka langsung terbelalak. " 3 hari lagi??? Bagaimana bisa?? Mendadak sekali..! Harusnya kau kan masih memiliki libur sekitar 2 minggu lagi?? Kenapa kau tidak menolaknya dan meminta waktu sebentar saja lagi!" Gienka memprotes dengan sedih.
"Tidak bisa sayang...! Hal seperti ini memang sering sekali terjadi dan tidak bisa ditolak, kita harus bersiap dan kita akan memberitahu semua orang nanti...! Inilah sebenarnya yang aku takutkan beberapa hari ini, aku takut hal seperti ini terjadi sebelum pernikahan kita dan pasti akan merusak semuanya, tetapi beruntungnya kita sudah menyelesaikannya kemarin"
"Itulah masalahnya, bagaimana aku harus menjelaskan ke papa, ini terlalu cepat...! Tetapi mau bagaimana lagi jika ini benar-benar mendesak!" Gumam Gienka sedih dan memeluk Kyros.
****
Malam tiba, Gienka turun dan berniat membantu mertuanya untuk menyiapkan makan malam, tetapi ternyata semua sudah tertata rapi di atas meja. Cahya mengajak Gienka untuk duduk sambil menunggu kedatangan dari Ibunya, Chika, Adri, dan kedua keponakannya Niall dan Liam yang sudah dalam perjalanan kesini. Gienka masih sangat sedih memikirkan bahwa dia dan Kyros harus berpisah dengan cepat dengan keluarganya, harusnya mereka masih memiliki quality time yang masih cukup panjang disini, tetapi semua terhalang dengan pekerjaan Kyros yang luar biasa itu. Gienka tidak ingin mengatakannya sekarang dan membuarkan nanti Kyros saja yang menjelaskan semuanya.
"Gienka sayang??? Kok melamun??? Kau tidak apa-apa kan???" Tanya Cahya.
"Tidak Mam.... Aku baik-baik saja...!"
"Bagaimana kamarnya??? Kau menyukainya? Itu semua adalah ide dari Kyra, dia heboh sendiri sejak seharian ini...!"
"Aku dan Ky sangat menyukainya Mam, dan kami sangat tahu betul bagaimana Kyra, dia tidak akan pernah main-main ketika melakukan sesuatu...!" Ucap Gienka yang kemudian memeluk Cahya.
"Jangan masukkan hati apa yang dilakukan Kyra tadi...!" Cahya mengusap lembut punggung Gienka. Dia merasa bahagia sekali, Gienka menjadi menantunya. Semua keinginannya tentang menantu ideal ada pada Gienka, dan dia juga sudah mengenal Gienka sejak kecil sehingga tidak ada sama sekali keraguan dihatinya, dan Cahya lebih bahagia lagi ketika menyadari bahwa ternyata Gienka sudah lama menyukai Kyros, yang mengartikan bahwa Gienka sangatlah pantas mendampingi Kyros.
Sampai akhirnya yang ditunggu pun datang juga. Cahya meminta agar Gienka lekas memanggil Kyros dan menyuruhnya untuk turun. Tak lama Kyros turun dan menemui nenek serta Chika juga Adri dan sebelum.makan malam mereka mengobrol lebih dulu.
Ditengah obrolan itu, tiba-tiba saja Adri menyarankan agar Kyros dan Gienka pergi honeymoon selama beberapa hari di luar kota atau luar pulau, di villa keluarga mereka sehingga mereka bisa menikmati waktu bersama dengan baik sebelum nanti Kyros disibukkan lagi dengan pekerjaannya ketika kembali ke Amerika. Semua orang pun menyetujuinya karena itu ide yang sangat bagus sekali.
Sayangnya, Kyros langsung menolaknya tentu saja dengan alasan bahwa beberapa hari lagi dia harus kembali karena dia baru saja mendapat panggilan dari tempatnya bekerja. Sontak semua orang terkejut mendengar hal itu. Kyros kemudian menjelaskan semuanya dan meminta pengertian dari seluruh anggota keluarganya bahwa dia tidak memiliki pilihan lain selain patuh terhadap pekerjaannya.
Wajah Cahya berubah sedih, baru saja dia merasa bahagia karena Gienka akan tinggal disini beberapa hari kedepan sampai masa cuti Kyros berakhir sekitar 2 minggu lagi. Tetapi justru Gienka dan Kyros hanya akan tinggal dirumah selama 3 hari saja. Tentu saja hal itu membuat Cahya merasa sedih sekali karena dia sudah membayangkan betapa suasana rumah akan berubah menjadi lebih menyenangkan dengan kehadiran Gienka.
Melihat kesedihan Amamnya, Kyros berdiri dan mendekatinya lalu memeluknya. "Sorry ya Mam...! Tapi kita berdua janji kita akan mencari lagi waktu senggang agar bisa pulang kesini, atau nanti kalian bisa datang mengunjungi kami disana...!"
"Amam pikir, Amam masih bisa memiliki banyak waktu untuk bisa mengobrol dan melakukan banyak hal dengan menantu Amam, tapi kau akan membawanya bersamamu!" Ungkap Cahya sedih.
"Mam....! Sebenarnya Gie juga sedih karena Gie sudah memikirkan banyak hal yang bisa Gie lakukan bersama Amam, Oma, Kyra dan juga Nenek, tapi kembali lagi bahwa Ky tidak bisa melakukan apapun selain tetap harus kembali, tapi Gie janji bahwa Gie akan sering menghubungi Amam dan semuanya, kita tetap bisa mengobrol by phone atau panggilan video, Gie juga pasti akan sering merepotkan Amam karena Gie harus banyak belajar dari Amam dan Mama bagaimana harus mengurus suami dengan baik, karena kalian adalah istri-istri yang luar biasa!" Gienka kemudian memeluk Cahya.
★★★★★★
Beberapa hari kemudian...
Gienka dan Kyros akhirnya berangkat ke Amerika dengan pesawat pribadi milik keluarga Kyros. Ya, Aditya ingin melihat anak dan menantunya merasa nyaman dalam perjalanan mereka, mengingat di dalam jet pribadi miliknya juga memiliki sebuah kamar dengan fasilitas seperti dihotel sehingga Kyros dan Gienka bisa beristirahat dengan nyaman dan tidak kelelahan. Sementara sempat terjadi drama kemarin lusa, dimana ketika Gienka dan Kyros mengatakan kepada Ariel bahwa mereka akan kembali hari ini dan Ariel terlihat sangat marah dan meminta agar Kyros kembali sendiri dan Gienka bisa menyusulnya nanti. Tetapi tentu saja Gienka menolak keinginan Papanya itu, tidak mungkin dia menyusul Kyros, jika bisa pergi bersama untuk apa harus menunggu hari lain untuk menyusul. Beruntungnya usaha keduanya untuk meyakinkan Ariel pun berhasil, dan Gienka juga merasa sangat sedih ketika berpamitan dengan Elea tetapi sekali lagi dia dan Kyros meyakinkan seluruh anggota keluarga agar tidak terlalu mengkhawatirkan mereka.
Sebelum kembali, Kyros dan Gienka ditemui secara pribadi oleh Cahya juga Elea. Sebagai seorang ibu, tentu mereka ingin agar Kyros bisa benar-benar menjaga Gienka dengan baik dan sangat baik. Kyros diingatkan lagi tentang banyaknya cobaan dalam sebuah rumah tangga. Ada banyak hal yang nantinya harus mereka hadapi tetapi semua itu bisa dilewati jika suami dan istri bisa saling menjaga kepercayaan, saling melengkapi dan tidam menuntut banyak hal antara satu dengan lainnya. Dan yang lebih harus dijaga adalah komitmen serta janji yang pernah dibuat, kemungkinaan kehadiran orang ketiga itu selalu besar, dan Kyros serta Gienka harus bisa menahan diri juga saling menjaga, serta mengesampingkan ego. Terutama Kyros sebagai seorang laki-laki yang memilimi tanggung jawab besar untuk menjaga serta membahagiakan Gienka. Kyros berjanji kepada Amam dan Mama mertuanya bahwa dia disana akan benar-benar menjaga Gienka dengan baik.
Cahya dan Elea juga tidak menuntut banyak kepada Kyros dan Gienka tentang masalah anak, itu adalah keputusan pribadi keduanya, dan mereka mendukung jika keduanya sementara ini menunda memiliki anak karena memang masih ada banyak waktu yang harus mereka habiskan mengingat Kyros sangatlah sibuk.
Saat ini Gienka sedang duduk sendirian di sofa sambil menyalakan televisi, sementara Kyros sedang tertidur pulas di kamar sejak penerbangan mereka dimulai. Gienka membiarkannya saja karena dia tahu Kyros sama sekali tidak tidur sejak kemarin karena terlalu sibuk berkemas dan juga mengantarnya ke rumah Papanya Ariel serta rumah Mamanya Elea. Dan itu mungkin yang langsung membuat Kyros kelelahan hingga dia tidur dengan nyenyaknya. Kesibukan itu juga membuat Gienka mengurungkan niatnya untuk memberitahu Kyros bahwa masa bulanannya sudah berakhir sejak kemarin lusa, padahal sebenarnya Gienka sudah menunggunya dan dia bisa menjadi istri Kyros yang sebenarnya, sayangnya situasi serta kondisi justru tidak sedang berpihak kepada mereka berdua, padahal Gienka benar-benar sudah menyiapkan dirinya untuk hal itu. Gienka menyadari bahwa waktu itu akan tiba dan mereka pasti akan melakukannya ketika sampai di Amerika nanti.
Gienka mematikan televisi dan berdiri untuk melihat apakah Kyros masih tidur atau sudah bangun, dan sebenarnya dia juga sudah mulai mengantuk. Gienka masuk ke kamar dan menutup pintunya, dan tiba-tiba saja ada gerakan di atas ranjang, Kyros ternyata baru saja bangun. Gienka tersenyum dan mendekatinya. "Aku akan menyusulmu tidur dan kau malah sudah bangun...!" Gerutu Gienka.
Kyros melempar senyumnya dan meminta Gienka mendekat. Kyros yang duduk di atas ranjang langsung memeluk Gienka dan menciumi leher serta pipinya. "Tenang saja, aku akan menemanimu tidur sekarang!"
Kyros semakin mendesakkan tubuhnya di tubuh Gienka dan terus menciuminya. "Aku tidak tahu harus menunggumu berapa hari lagi, aku sudah menahannya selama beberapa hari ini, apalagi ketika aku memelukmu seperti ini, dia seolah ingin memberontak keluar dan menemukan rumahnya!" Gumam Kyros.
Kyros tiba-tiba meraih tangan lembut istrinya itu dan mengarahkannya ke miliknya yang saat ini sedikit tegang karena ada Gienka. "Kau bisa merasakannya kan??? Oh iya kau kan belum pernah melihatnya, mungkin aku harus menunjukkannya padamu sehingga kau bisa menyentuhnya dan merasakan kelembutannya sebelum nanti aku benar-benar bisa memasukimu!! Kau pasti penasaran dan ingin melihatnya, kau mau???" Kyros mengusap-usapkan telapak tangan Gienka ke miliknya yang masih tersembunyi dibalik celananya.
Tatapan Gienka melembut dan dia menundukkan kepala Kyros lalu menciumnya dan tetap membiarkan Kyros membimbing tangan kanannya mengusap milik Kyros. "Sebenarnya...! Aku sudah selesai 2 hari yang lalu sayang, tapi kita terlalu sibuk mengurus keberangkatan kita jadi aku tidak berani memberitahumu!" Gumam Gienka.
"Apa??? Jadi kau sudah selesai??" Seru Kyros terkejut dan Gienka hanya menjawab dengan anggukkan kepalanya saja. "Bagus....! Kita tidak perlu menunggu lagi, kita akan mencoba pertama kalinya dalam suasana yang sangat berbeda ini, kita akan melakukannya sekarang, di dalam pesawat ini!" Kyros mengangkat matanya. "Are you ready???" Tanyanya pada Gienka.
Gienka mengangguk tentu saja, Kyros menginginkannya dan dia juga sama, tidak ada penghalang apapun diantara mereka jadi untuk apa dia harus menolak keinginan suaminya. "Ya...!" Jawab Gienka mantap.
Kyros tersenyum penuh kemenangan, dan terkejutlah Gienka ketika tiba-tiba saja Kyros melepaskan Tshirt yang dipakainya juga penutup kedua asetnya lalu melemparnya begitu saja. Kemudian lelaki itu mendorong tubuhnya hingga terbaring lalu Gienka dicium habis habisan, hingga benar-benar tak berdaya. Habis seluruh dada Gienka dicium oleh Kyros dengan agresifnya.
Kyros mulai melampiaskan keinginanya tanpa bisa ditahan-tahan lagi, ciuman-ciumannya tanpa jeda seolah-olah lelaki itu tak tahan sedetikpun tidak berciuman dengan Gienka.
Ketika Kyros mengangkat kepalanya, matanya berkabut, pupil matanya membesar terlihat kontras dengan iris matanya yang berubah menjadi biru pucat.
"Aku senang kau sudah siap dan aku ingin sekali memasukimu.. Ah kau tidak tahu betapa aku sudah sangat menginkan ini sayang..." Suara Kyros tersenggal, lalu mencium bibir Gienka lagi dengan membabi buta,
Kata-kata Kyros itu membuat pipi Gienka merona malu. "Kau tahu bahwa aku juga sangat penasaran dengan hal ini?"
Tangan Kyros meraih kedua aset milik Gienka yang hangat dan lembut, lalu mengusap serta menekan-nekannya lembut. Sedikit terlalu berlebihan sehingga Gienka terengah karena sensasinya.
Kyros menghentikan gerakannya, lalu menatap Gienka lembut. "Sakitkah? Atau kau menyukainya??" Bisiknya parau
Gienka terpaku, suaranya seakan tertelan di tenggorokan, bagaimana dia harus menjawabnya? Tetapi Kyros tentu tidak memerlukan jawaban, lelaki itu tersenyum, lalu menggerakkan tangannya lagi menyentuh milik Gienka, Kyros mengagumi keindahan dan ranumnya dada istrinya.
"Oh Indahnya" bisik Kyros serak, membiarkan Gienka memalingkan muka dengan malu dibawah tatapan tajam dan memuja lelaki itu.
Lalu bibir Kyros yang hangat menelungkupi titik berwarna merah muda itu, lidahnya bermain di sana terasa hangat membakar seluruh badan Gienka, membuatnya terpaksa merintih. Bingung dengan gejolak yang menyebar di seluruh tubuhnya.
Entah sejak kapan, mereka sudah tidak mengenakan pelindung apapun bersama di atas tempat tidur itu. Tubuh Kyros yang keras, melingkupi tubuh Gienka di bawahnya, menggodanya, menggeseknya dengan kekuatannya, membawa kenikmatan Gienka yang makin naik, sedikit demi sedikit ke puncaknya.
Kemudian Gienka merasakan milik Kyros yang tidak terhalang apapun menyentuh pusat dirinya. Pelan, tapi membuatnya terkesiap. Gienka membuka matanya yang terpejam, menatap Kyros di atasnya. Lelaki itu menatapnya dengan tajam, matanya berkabut, napasnya terengah, dan sejumput rambut tampak jatuh di dahinya, membuatnya tampak begitu liar dan semakin seksi.
"Ah, sayang, kita pasti akan sangat menyukai ini". Geram Kyros pelan, lalu mulai mendorong perlahan, menekan dan menyentuh Gienka.
"Kau sudah siap untuk diriku...???" Tanya Kyros.
Jantung Gienka berdegup kencang, beriringan dengan detak jantung Kyros yang bahkan lebih parah. Ini adalah sensasi baru bagi Gienka, merasakan milik seorang lelaki yang mencoba memasukinya, menyatu dengannya. Rasanya hangat dan membuat seluruh saraf ditubuhnya menggila, membuatnya begitu sensitif oleh kebutuhan yang sampai saat ini tidak pernah diketahuinya, kebutuhan untuk mencapai puncak.
Hingga rasa sakit yang menyengat tiba-tiba menyentakkannya ke alam sadar, Gienka mengeerang kesakitan, tubuhnya mengejang, dengan panik di cengkeramnya pundak Kyros dan menggeleng-gelengkan kepala ketakutan atas usaha Kyros untuk menyatu semakin dalam dengannya.
Menyadari kesakitan yang mendera Gienka, Kyros mencoba mengalihkan perhatian Gienka dengan ciumannya.
Di ciumnya bibir Gienka dengan lembut, bibir manis yang sekarang menjadi miliknya. Napas Gienka tersenggal dan Kyros melihat di matanya, ada ketakutan dan kesakitan. Kyros tidak pernah bercinta dengan siapapun dan ini juga pertama kali untuknya, Gienka masih belum tersentuh sebelumnya, sehingga Kyros tidak tahu seperti apa rasa sakitnya, dia tidak mengerti bagaimana meredakannya. Tetapi Kyros tidak suka melihat rasa sakit itu mendera di mata istrinya.
"Sssh...Sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu", Dengan lembut Kyros menelusurkan tangannya di sisi tubuh Gienka, lalu berhenti di pinggulnya, menahan pinggangnya yang sedikit meronta, mencegah tubuh mereka yang sudah setengah menyatu supaya tidak terpisah,
"Mungkin akan sedikit sakit tapi semua akan baik, tubuhmu akan menerimaku seutuhnya..." Suara Kyros terhenti ketika dia mendorong dengan kuat, menembus penghalang Gienka hingga menyatu sepenuhnya.
"Arrggghhh...." Gienka setengah berteriak merasakan pedih yang amat sangat ketika Kyros menembusnya, jemarinya tanpa sadar mencengkeram pundak suaminya itu dengan keras. Tetapi Kyros tidak berhenti karena dia sadar kalau dia berhenti dia akan menyakiti istrinya. Dengan perlahan, Kyros menggerakkan tubuhnya. Oh Tuhan ! Sekujur tubuhnya terasa nyeri menahan diri. Gienka nya terlalu rapat, terlalu basah, terlalu hangat, mencengkeram miliknya di bawah sana. Dia hampir-hampir tidak tahan dan dorongan untuk memuaskan diri dengan Gienka.
Tetapi Kyros sadar, ini pengalaman pertama bagi mereka, dia harus membuatnya seindah mungkin, dia tidak boleh menyakiti Gienka. Karena itu sambil menggertakkan diri menahannya, Kyros mencoba bergerak selembut mungkin, menarik tubuhnya pelan dari balutan sutra hangat itu, untuk kemudian menghujamkannya lembut. Lagi dan lagi.
Ritme teratur yang di buat Kyros, lama kelamaan membuat Gienka juga mulai menikmati nya. Gienka terus mendessah menikmati nya. "Do you like it???" Tanya Kyros.
"Ya.... Hmmmm... Ahhh.... Masih sedikit sakit but... good....!" Jawab Gienka dengan suara tersenggal di iringi dessahan penuh kenikmatan.
"Good Girl.... " Kyros terus bergerak dengan ritme pelan dan berharap gerakannya tidak menyakiti istri nya.
Lalu ketika desah napas Gienka menjadi pendek-pendek serta pegangannya pada pundaknya makin kencang, Kyros sadar, dia telah membuat Gienka mencapai puncak pertamanya. Pemandangan ekspresi wajah istrinya saat ini sungguh tak tergantikan, mendorongnya terlempar menuju puncak kepuasan yang sangat tinggi, sangat tak tertahankan seolah-olah dunia melededak dibawahnya. Dan Kyros benar-benar meledak di dalam Gienka.
pencapaian ini terasa begitu dasyat, sebuah pelepasan dari akumulasi gejolak yang ditahannya selama ini. Kenikmatan yang luar biasa ini membuat Kyros merasa sedikit sesak napas, seolah olah dia terhanyut dalam pusaran yang tidak tertahankan terus menerus menghantamnya tanpa henti. Kyros menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di sisi leher Gienka. Mereka berpelukan.
"Thanks sayang....! Ini luar biasa, dan maafkan aku jika tadi aku menyakitimu!" Bisik Kyros.
Dengan lembut dikecupnya leher Gienka dan diangkatnya kepalanya, dan mereka bertatapan, mata abu-abu yang tajam,yang agak berkabut setelah mencapai puncak terhebat sepanjang eksistensi kehidupannya bertemu dengan mata manis Gienka yang berkaca-kaca. Gienka tersenyum dan mengusap lembut pipi Kyros.
"Aku senang kau bisa memiliki ku, aku memang menjaganya untuk dirimu!" Gienka mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Kyros.
Kyros menarik napasnya pelan, kemudian dengan hati-hati, sangat berhatihati, dia mengangkat tubuhnya dari atas Gienka dan bergeser ke samping, menyadari kernyitan tidak nyaman di wajah istrinya ketika dia menarik diri. Kyros merengkuh Gienka dalam pelukannya dan mencium keningnya lembut kemudian mengusap punggung istrinya itu dan tak lama napas Gienka teratur dan perempuan itu ternyata tidur. Kyros menarik selimut dan tidak melepaskan pelukannya pada Gienka, dia akan memeluknya sampai istrinya itu bangun nanti.
Ini adalah hal yang luar biasa, mereka melakukannya ditempat yang tidak biasa, Kyros dan Gienka pasti tidak akan pernah melupakan ini seumur hidup mereka.
***
Hingga ketika Gienka bangun, dia menyadari jika ciuman Kyros di dada nya telah meninggalkan banyak bekas kemerahan. Gienka mencelanya karena tentu dia harus menutupinya dengan baik jika tidak orang-orang akan melihatnya.