
Beberapa hari kemudian....
Axel turun dari kapal yang membawa nya dan Kyra ke pulau. Axel mengulurkan tangan nya agar Kyra bisa berpegangan pada nya. "Hati-hati... " Ucap Axel.
Kyra tersenyum. "Iya... Pegang yang kuat... " Pintar nya.
Dengan hati-hati, Kyra turun di bantu Axel. Setelah berhasil, mereka berdiri di dermaga dan menunggu koper mereka di turunkan. Setelah itu, mereka di hampiri oleh penjaga resort, dan di antar ke resort milik keluarga Kyra yang tidak jauh dan bisa di tempuh dengan jalan kaki. Hanya sekitar lima menit saja. Sambil menarik koper, mereka mengikuti penjaga itu. Kyra menggelayut di lengan Axel sambil berjalan.
"Kapan terakhir kau kesini???" Tanya Axel.
"Kapan ya???? Sudah lama sekali soal nya... mungkin sekitar satu tahun yang lalu... " Jawab Kyra.
Axel tersenyum. "Lama juga ya... Haha dengan siapa kau kesini???" Tanya Axel lagi.
"Ramai... Ada Gienka, Lou, Phobie, Geffie dan juga Friddie.. "
"Sayang????" Tanya Axel.
Kyra menatap lelaki di sebelah nya. "Iya... Dia juga ikut.. "
Axel terkekeh. "Kenapa kau tidak menyebutkan nama nya??? Tidak apa-apa... Seharusnya kau sebut saja.."
"Jangan memancing ku...."
"Siapa yang memancing???? Aku tidak bawa kail... Kalau mau memancing, lebih baik besok saja, sekarang sudah sore... Matahari juga sudah tenggelam... "
Kyra mencubit pinggang Axel, membuat lelaki itu berteriak kesakitan. "Auuuwww... sakit sayang... "
"Biar saja... Senang sekali kau menggoda ku... "
Axel tertawa dan memeluk Kyra. Mereka masih berjalan menuju ke area resort. Kyra bercerita jika pulau ini adalah milik Papa nya Gienka, dan ada empat resort yang ada di pulau ini, salah satu nya resort milik keluarga nya, yang memang sengaja di beli oleh Apap nya sebagian salah satu bentuk investasi jangka panjang, juga di sewakan. "Biasa nya yang sering menyewa adalah teman Apap..." Ucap Kyra.
"Aku pikir hanya di gunakan oleh keluarga mu saja... "
"iya, memang benar... Lebih baik di manfaatkan selain tidak kosong, juga bisa menghasilkan uang... "
"Ya... Hahaha... Oh iya, aku jadi kepikiran Celia... Apa Km Theo sudah membawa nya pulang bersama nya ya??? Kasihan Celia harus hidup di lingkungan toxic seperti itu... " Gumam Kyra.
"Aku tidak tahu, tetapi semoga saja, Papa nya berhasil membawa nya pergi dari rumah itu... "
"Kapan-kapan kita harus menemui nya, ke rumah om Theo, kau pasti tahu kan dimana rumahnya, kau kan pernah kesana... "
Axel menatap Kyra. "Kau lupa, jika kemarin om Theo bilang akan membawa Celia jauh dari Mama nya, itu artinya mereka akan pindah... Sudahlah jangan membahas Celia, itu resort nya kan??? Aku lelah dan ingin beristirahat... " Ucap Axel.
"Iya itu resort nya... " Kyra tersenyum, memaklumi jika Adel seperti nya tidak lagi ingin membahas Celia.
★★★
Theo tetap di rundung kesedihan karena dia tidak mendapat kabar apapun mengenai Celia. Dia juga di hari itu memilih pulang setelah sampai malam di depan rumah Cyntia tidak mendapatkan hasil apapun. Karena memang tidak ada tanda-tanda ada Cyntia ataupun Celia disana. Theo berpikir bahwa mungkin benar kata Mama Cyntia, jika Celia dan Cyntia memang pergi.
Theo juga masih memegang ponsel milik Celia. Dan ponsel itu juga beberapa kali menerima panggilan dan pesan dari teman-teman Celia. Theo mengangkat beberapa panggilan dari teman-teman Celia. Mereka menanyakan keadaan Celia, karena Celia selama beberapa hari tidak ada kabar. Theo pun juga tidak tahu bagaimana Celia saat ini. Dan Theo juga berusaha menghubungi Cyntia, akan tetapi tidak aktif atau juga kadang tidak di angkat oleh Cyntia.
Khawatir, itu sudah pasti, dan perasaan Theo tidak enak. Seolah sesuatu telah terjadi pada Celia. Tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana. Sangat sulit sekali untuk membuat Cyntia dan Mama nya mengerti. Entah terbuat dari apa hati dan otak mereka berdua. Sehingga begitu sulit untuk memahami keinginan orang lain. Terlebih ini adalah masalah Celia. Karena Theo juga punya tanggung jawab membuat Celia bahagia dengan cara nya. Theo mengusap rambutnya dengan kasar, bingung harus bagaimana.
Sementara itu, di rumah Cyntia. Celia terbaring lemah di atas tempat tidur. Dia merasa dirinya seperti hidup di dalam neraka. Tangisan nya tidak di pedulikan oleh Mama nya, begitu juga kesakitan yang dia rasakan di kepala nya. Lemparan batu itu, membuat kepala Celia selalu sakit di setiap harinya. Dan Mama nya ataupun Oma nya tidak membawa nya ke rumah sakit, padahal Celia sudah mengatakan bahwa dia ingin sekali di bawah ke rumah sakit untuk memeriksa kan kepala nya, karena serasa sakitnya begitu luar biasa. Tetapi mereka beralasan jika nanti membawa nya keluar, dia akan kabur lagi sehingga mereka hanya memberikan obat pereda nyeri dan tidak membawa ke rumah sakit. Mereka juga hanya masuk untuk mengantar makanan, setelah itu keluar dan mengunci pintu.
Setiap hari, Celia hanya bisa menahan kesakitan nya, dan hanya bisa menangis, berharap ada yang menolong nya. Celia juga selalu berdoa agar Papa nya datang dan membawa nya pergi. Tetapi hal itu tidak terjadi, tidak ada yang menolong nya. Karena Celia tahu, bahwa Mama nya sangat keras kepala dan pasti tidak akan mengijinkan siapa pun untuk masuk dan menolong nya disini.
Begitu berat kehidupan yang harus Celia jalani selama ini. Dia hidup dalam lingkaran api yang di ciptakan oleh Mama nya sendiri. Sejak dulu selalu di tuntut untuk jadi yang Mama nya mau. Dan dia selalu menurut karena tidak ingin di cap sebagai anak yang durhaka jika menolak keinginan Mama nya. Dan hubungan nya dengan Axel juga harus di paksa berakhir.
Celia sangat mengerti kenapa Axel menolak kembali dengan nya, penghinaan Mama nya kepada keluarga Axel pasti begitu melukai hati mereka. Dan bagi Celia itu adalah hal yang sangat keterlaluan sekali. Hati nya saja begitu sakit saat mendengar penghinaan itu, apalagi Axel, pasti lebih sakit.
Dia sangat mencintai Axel serta selalu berharap bisa kembali menjadi sepasang kekasih sebelum nya. Kenyataan nya, akibat penghinaan itu, Axel menutup hati nya dan tidak mau sama sekali untuk kembali dengan nya. Wajar saja, Axel bersikap seperti itu, sepenuh nya bukan salah Axel. Tetapi Celia berharap Axel mau mengerti dirinya meskipun sulit.Yang berulah adalah Mama nya juga Oma nya, dan lagi-lagi Celia harus menjadi korban dari keegoisan mereka berdua. Celia merasa bahwa kehidupan nya sejak awal sudah di hancurkan oleh Mama nya sendiri. Mama nya tidak pernah mau mengerti tentang dirinya.
Sekarang dia tidak berdaya sama sekali, kepala nya sakit sekali. Dan dia pun tidak bisa leluasa bergerak, semua terasa sakit. Di tambah, Mama nya akan marah dan menendang nya ketika dia tidak menghabiskan makanan nya. Celia seperti seorang tawanan yang tidak berdaya.