
Theo duduk lemas di kursi tunggu pasien. Dokter sedang memeriksa keadaan Celia. Theo tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Celia. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Celia terus berteriak memanggil Papa kadang sesekali dia memanggil nama Axel dan sama sekali tidak peduli saat dia mencoba menjawab panggilan Celia itu. Entah apa yang sudah di lakukan oleh Cyntia selama ini, hingga kondisi Celia bisa seperti itu. Celia juga terus memegang kepala nya dan memukul-mukulkan kepala nya itu di bantal. Dan untuk lebih jelasnya Theo akan menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Tetapi sebenarnya sebelum membawa nya ke rumah sakit, Theo sempat memandikan Celia. Karena Celia sangat kotor dan dia di bantu oleh salah seorang polisi perempuan. Setelah bersih, baru Celia di bawa oleh ambulan ke rumah sakit. Cyntia sangat keterlaluan memperlakukan Celia layaknya binatang. Entah dimana hati nurani nya sebagai seorang ibu. Dan ternyata firasatnya benar adanya bahwa hal buruk pasti sedang terjadi pada Celia.
Setelah menunggu selama hampir satu jam. Theo di panggil oleh dokter untuk di beri penjelasan mengenai kondisi Celia. Dimana ternyata Celia mengalami penyumbatan di otaknya. Ada gumpalan darah yang membeku di otaknya dan kondisi itu sangatlah berbahaya. Dan ditemukan juga retakan di kepala nya dimana itu seperti bekas pukulan benda tumpul. Dan tidak segera di lakukan penangan. Luka itu di biarkan saja cukup lama sehingga mengganggu kinerja otak dan mengakibatkan ada gumpalan darah di dalamnya.
"Dan maaf Pak, sepertinya putri anda mengalami masalah serius karena luka itu, dan besok kami akan mengirim psikiater untuk memeriksa kejiwaannya. Luka nya itu membuat dia mengalami kesakitan yang hebat dan mengganggu otaknya sehingga dia mungkin mengalami gangguan kejiwaan.. Tatapannya kosong, dan dia juga pasti tidak mengenali orang-orang di sekitarnya... " Ucap Doker itu.
Mendengar semua itu Theo langsung lemas. Dia masih tidak tahu bagaimana bisa Celia mengalami itu, apakah Cyntia memang menyiksanya atau karena sebab lain. "Tapi dok, anak saya masih bisa sembuh kan??? Lakukan sesuatu??? Tidak mungkin anak saya mengalami gangguan jiwa, sebelumnya dia baik-baik saja.. "
"Hal terpenting saat ini adalah di lakukannya operasi pak, sangat berbahaya sekali jika gumpalan darah di otaknya tidak segera di angkat... Jika anda setuju untuk melakukan operasinya, maka akan segera kami lakukan.. "
"Ya.... Tolonga lakukan yang terbaik, yang ng terpenting anak saya selamat lebih dulu.. " Ucap Theo.
★★★★★
Beberapa hari kemudian.....
Theo mengusap kepala Celia yang sedang terbaring. Operasi Celia berhasil, dan kondisi Celia dalam tahap pemulihan. Celia masih sering berteriak dan tidak bisa mengontrol diri sehingga Celia harus di tenangkan dan di beri obat penenang. Psikiater baru saja pergi dan Celia juga sudah di berikan suntikan obat penenang dan akan beristirahat selama beberapa jam. Prediksi dokter memang benar, Celia saat ini mengalami gangguan di otaknya yang membuat Celia tidak bisa mengenali orang ymdi sekitarnya Kejiwaan Celia juga terganggu. Itu di sebabkan Celia mengalami trauma psikis dan juga kesedihan mendalam serta luka di kepala nya yang terlambat di tangani. Selain itu, Celia juga mengalami siksaan secara fisik yang entah di lakukan oleh Cyntia ataupun Mama nya. Karena bekas-bekas luka siksaan itu ada di tubuh Cyntia, salah satu nya di perut nya. Theo tidak tahu penderitaan apa yang sebenarnya di alami Celia, karena kondisi Celia tidak bisa di tanyai mengenai apa yang terjadi.
Saat ini Cyntia dan Mama nya sudah di tahan atas apa yang sudah mereka lakukan pada Celia. Theo sudah tidak bisa lagi mengampuni kedua orang itu karena mereka lah Celia mengalami hal seperti ini. Bagi Theo kedua ormag itu sudah tidak waras. Gila dan tidak berperikemanusiaan. Menyiksa seorang anak perempuan dengan kejam dan membuatnya gila, itu sangatlah tidak bisa di maafkan. Trauma yang di miliki Celia pasti begitu besar sehingga kondisi nya saat ini sangat memprihatinkan. Untuk saat ini Celia akan mendapatkan perawatan yang intensif sampai luka nya sembuh, baru kemudian akan mulai melakukan terapi untuk kejiwaan nya.
Theo keluar dari ruangan Celia. Dia pergi menemui perawat untuk mengawasi Celia, karena dia harus pergi keluar sebentar untuk menemui seseorang. Setelah itu, Theo pergi meninggalkan rumah sakit dan memesan taksi.
Untuk saat ini Theo ingin berfokus pada Celia dan baru nanti dia akan menemui Cyntia untuk melupakan segala kemarahannya atas apa yang terjadi pada Celia. Cyntia sudah hilang akal dan nurani nya.
****
Sampai akhirnya, taksi y ng di tumpangi Theo berhenti di depan sebuah rumah yang sangat bagus. Theo membayarnya kemudian turun. Ya, rumah siapa lagi jika bukan rumah Aditya. Theo butuh berbicara dengan Aditya mengenai sesuatu, dia tidak ingin nanti terjadi salah paham, jadi dia butuh berbicara dan bertemu dengan Aditya.
Theo membungkuk dan melihat ke lubang kecil yang ada di gerbang tinggi itu. "Permisi...!!!" Ucapnya berharap penjaga keamanan rumah itu mendengar suara nya.
Tak lama seseorang akhirnya keluar. Orang itu juga membungkuk dan melihat dari lubang itu siapa yang datang. "Iya Pak... Ada apa???" tanya nya pada Theo.
"Apa sudah ada ada janji???" tanya security itu lagi.
"Belum... Tetapi bisakah anda memberitahu nya bahwa saya datang.???"
"Baik.. Tunggu sebentar..!"
Theo menunggu di luar gerbang. Dia tidak akan bisa masuk jika tidak di ijinkan oleh sang pemilik rumah. Itu sudah jadi aturan rumah ini sejak lama, karena Aditya tidak bisa mengijinkan siapapun masuk secara sembarangan tanpa ijinnya.
Tak lama gerbang di buka, dan Theo di ijinkan masuk karena tepat sekali Aditya sedang berada di depan garasi dan hendak pergi bersama Cahya. Theo pun masuk dan di lihatnya ada Aditya sedang memandang ke arahnya bersama dengan Cahya. Aditya melempar senyum dan memanggilnya. Theo mempercepat langkahnya dan menemui Aditya. Dia mengalami lelaki itu.
"Kau datang kesini lagi, untung aku belum pergi keluar, ayo masuk... Kita mengobrol di dalam... " Ajak Aditya.
"Tidak Dit... Aku hanya ingin menemui mu dan berbicara sebentar saja denganmu.. "
"Lebih enak bicara di dalam kan???" Tanya Aditya.
Theo menggelengkan kepala nya. "Disini saja, hanya sebentar.. " Ucapnya.
"Oke baiklah... Apa yang ingin kau katakan???" Tanya Aditya.
"Sebenarnya aku ingin meminta ijin padamu, jika bisa aku ingin bertemu dengan Axel.. Aku tidak mau ada kesalahpahaman nantinya, aku tidak bermaksud apa-apa, aku ingin meminta ijin mu langsung untuk menemui Axel dan mengajak Axel bertu dengan Celia.. " Ujar Theo.
Aditya dan Cahya saling melempar pandangan. "Mengajak Axel menemui Celia??? Maksudnya bagaimana???" Tanya Aditya.
"Celia sedang sakit, dan setiap hari dia menyebut nama Axel, aku sangat berharap Axel bersedia datang dan menemui Celia, mungkin dengan hal itu Celia bisa lebih membaik keadaannya... Itulah kenpa aku menemuimu dan meminta ijin mu untuk melakukan itu.. Jika boleh, hari ini juga aku akan pergi menemui Axel, bagaimana???" Tanya Theo.
"Apa kau bilang??? Ingin mengajak Axel menemui Celia??? Tidak Theo.... Kenapa kau melakukan ini, sebentar lagi Axel akan menikah dengan Kyra, jadi please jangan melakukan sesuatu yang akan mengganggu persiapan pernikahan mereka.. " Sahut Cahya. "Aku tidak mau mengambil resiko besar yang dapat membuat Axel bimbang dan menempatkan dia dalam pilihan yang sulit nantinya... Tidak.. Aku tidak akan mengijinkan kau melakukan itu.. "
"Pernikahan Axel dan Kyra sudah hampir seratus persen, jangan sampai itu hancur berantakan hanya karena sebuah masalalu... Aku tidak mau hati putriku menjadi hancur... Please jangan menempatkan Axel dalam dilema besar... Kau beritahu Celia agar bisa menerima semua nya dengan ikhlas... "