I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 193



Melihat Kyros seperti orang bingung, Smith menoleh ke arah istrinya. Shanon tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Smith kemudian memberi saran pada Kyros agar besok datang ke kantor untuk meeting saja, sementara Gienka disini bisa dijaga oleh Shanon. Kyros menolak hal itu karena tidak ingin merepotkan Shanon dan akan menghubungi Camilla saja. Tetapi Smith tetap memaksa karena Shanon juga tidak memiliki kesibukan lain, dan hal itu bagus untuk keduanya agar bisa lebih dekat, sementara jika Kyros meminta bantuan Camilla itu justru tidak baik, karena Camilla sendiri juga memiliki kesibukan untuk bekerja.


"Iya Ky, Smith benar, aku tidak masalah jika menjaga Gienka disini, kau meeting hanya beberapa jam saja kan, biarkan aku besok yang menjaganya!" Ujar Shanon.


Kyros mendongak dan menatap Smith, yang didapatnya adalah senyum penuh ketulusan teman baiknya itu. Kyros berdiri dan memeluk Smith, mengucapkan terima kasih. Kyros dan Smih memang sangat dekat selama ini, dan Kyros juga sering sekali membantu Smith dalam berbagai hal, begutu juga sebaliknya, sehingga itu membuat hubungan keduanya juga sangatlah dekat. Saling membantu adalah hal yang mereka terapkan selama ini.


Smith dan Shanon kemudian berpamitan pada Kyros, berjanji bahwa besok siang, Shanon akan datang lagi kesini. Sementara Shanon datang, Kyros bisa pergi untuk meeting dan langsung kembalinlagi ke rumah sakit setelahnya. Smith meminta agar Kyros tetap sabar, karena Gienka pasti akan baik-baik dan segera pulih. Keduanya pun pergi meninggalkan Kyros.


Kyros kembali masuk ke ruangan dimana Gienka dirawat. Dia duduk di kursi. Kyros menggenggam jemari Gienka, dan menciumnya lalu menunduk dengan sedih. "Apa yang sebenarnya terjadi sayang??? Bagaimana bisa kau mengalami hal mengerikan ini??? Apa kau memakan sesuatu yang salah? Please jangan seperti itu lagi.....!" Gumam Kyros dengan perasaan pedih.


Kyros mulai berpikir bahwa bisa saja Gienka merasa pusing atau apa tapi dia salah mengkonsumsi obat. Tetapi Kyros benar-benar yakin bahwa dia tidak pernah membeli atau menyimpan obat seperti itu. Dan bagaimana bisa istrinya bisa mengkonsumsi obat itu. Sangat aneh sekali, karena kalaupun Gienka pergi ke apotik dan membeli obat sakit kepala, tentu Gienka akan mengatakannya dengan jelas. Istrinya bukan orang yang bodoh, Gienka jelas bisa berbahasa inggris dengan lancar, tidak mungkin jika dia salah mengatakan jenis penyakitnya. Semua itu sangatlah aneh. Kyros mengacak-acak rambutmya dengan kasar, merasa bingung, sedih dan kesal dengan dirinya sendiri karena dia tidak bisa menjaga istrinya dengan baik. Cara untuk mengetahui itu semua ya harus menunggu Gienka sadar. Dokter mengatakan jika kondisi Gienka stabil malam ini dan tidak ada hal yang kritis, Gienka akan sadar besok. Karena dokter sudah menyuntikkan cairan untuk menghilangkan seluruh efek obat itu dari tubuh Gienka.


★★★★★★


Kyros terbangun ketika ada gerakan dan suara. Kyros mengerjapkan matanya dan melihat sekeliling lalu mengingat jika dia sedang berada di rumah sakit. Kyros mengangkat kepalanya dari ranjang perawatan Gienka lalu mendapati istrinya itu tersenyum padanya dibalik masker oksigen yang dipakainya. Kemudian disamping ranjang itu berdiri seorang perawat yang langsung menyapa Kyros dengan ramah.


"Good Morning Sir...!" Sapa perawat itu.


"Morning...!" Jawab Kyros. Dia kemudian berdiri dan mengusap kening Gienka. "Bagaimana keadaanmu??? Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit???" Tanya Kyros pada Gienka.


Gienka tersenyum dan memejamkan matanya pelan. Sementara perawat menjelaskan kepada Kyros bahwa kondisi Gienka sudah membaik dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan tetapi Gienka masih harus tetap dibantu oleh oksigen untuk bantuan pernapasannya. Perawat itu kemudian membimbing Gienka untuk mencoba menggerakkan tangan, serta kakinya juga gerak bibirnya, memastikan bahwa otot Gienka sudah kembali normal atau belum. Perlahan Gienka mengikuti intruksi perawat itu, mulai dari mengepalkan jemarinya, memutar pergelangan kakinya, senam bibir dan beberapa gerakan lainnya.


Senyum perawat itu mengembang diwajahnya, dia kemudian memuji Gienka, karena Gienka sangat kuat sehingga proses pemulihannya cukup cepat, hanya dalam semalam seluruh sistem motorik dan otot Gienka kembali normal dan itu adalah hal yang sangat bagus sekali. Efek obat itu bisa berbeda antara orang satu dengan yang lainnya, jika orang yang mengkonsumsinya cukup lemah tentu bisa terjadi efek lumpuh permanen hingga kematian. Perawat kemudian melepaskan satu persatu alat yang menempel ditubuh Gienka, selain masker oksigen dan infusnya. Kyros mengecek ponselnya dan menemukan bahwa Kyra ternyata sudah menghubunginya berkali-kali semalam. Dia akan menghubungi kembali adiknya itu, setelah Gienka dipindahkan nanti.


★★★★★★


Gienka akhirnya sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dan masker oksigennya dilepas diganti dengan selang oksigen biasa. Perawat pun keluar, tinggallah Kyros dan Gienka yang masih terbaring. Kyros berdiri dengan wajah yang sangat sedih menatap Gienka. Dia mengusap lembut kening istrinya itu lalu duduk dan kembali menggenggam jemari Gienka kemudian menciumi punggung tangannya. "Aku bingung sayang...! Kenapa hal mengerikan itu bisa terjadi padamu?? Why? And whats wrong??" Gumam Kyros sambil memandangi wajah pucat istrinya.


Gienka menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tahu kenapa hal itu terjadi padanya. Gienka meneteskan airmatanya, dia teringat bagaimana kemarin dia merasa sekujur tubuhnya sakit sekali, dan dia benar-benar sudah menyerah saat itu. Menyerah jika Tuhan memang menginginkannya kembali saat itu juga. Gienka hanya teringat dengan orang-orang yang menyayanginya selama ini, dan membayangkan jika hal itu terjadi pada dirinya kemarin, akan seperti apa kesedihan seluruh kekuarganya. Tetapi ternyata hari ini saat membuka mata, dia menemukan suaminya sedang tidur disampingnya, menggenggam tangannya. Didalam hatinya Gienka tidak bisa berhenti bersyukur pada Tuhan karena dia masih diberi kesempatan lagi.


Kyros menyeka airmata di pipi Gienka, dan tersenyum. "Please jangan lagi seperti semalam! Rasanga aku ingin mati saja melihatmu seperti itu! Apa yang kau makan? Atau kau salah mengkonsumsi obat? Kenapa tidak hati-hati?" Tanya Kyros lagi.


Gienka kembali menggelengkan kepalanya lalu dengan suara lirih dia bertanya pada Kyros kenapa dia bisa seperti itu, dan sakit apa dia sebenarnya. Kyros pun menjelaskan semuanya pada Gienka, berharap istrinya itu bisa mengingat tentang apa saja yang kemarin di konsumsinya, baik itu makanan, minuman atau obat dan sejenisnya.


"Aku tidak memakan sesuatu yang aneh, pagi aku sarapan yang sama denganmu, siang aku membuat telur orak-arik, dan juga salad, kemudian aku makan satu apel juga pisang lalu aku membuat secangkir capuccino untuk menemaniku bekerja, hanya itu sayang...! Saat aku menyadari cappucino ku habis aku berniat mengambil minuman lain dengan membawa cangkir itu ke dapur lagi, tapi tiba-tiba aku mual dan pusing, muntah darah, lemas lalu tidak sadarkan diri, ketika akhirnya aku membuka mataku, tubuhku mengejang! Obat? Aku tidak mengkonsumsi obat apapun" Gienka bercerita dengan suara lirih tetapi Kyros langsung mengerti apa yang dikatakan olehnya.


"Jika demikian lalu kenapa ada kandungan obat itu dalam tubuhmu?? Aneh...!"


Gienka mengusap pipi Kyros. "Sudahlah, mungkin ada sesuatu yang salah dalam makanan yang aku masak, jadilah aku seperti itu kemarin, jangan terlalu di pikirkan? Dan kenapa kau tidak pergi bekerja?" Tanya Gienka.


"Bagaimana aku bisa bekerja dengan tenang, kau saja seperti ini, istri temanku nanti akan kesini, dia akan menjagamu karena aku harus pergi sebentar untuk meeting, kau tidak apa-apa kan aku tinggal sebentar saja???"


"Kenapa kau merepotkan orang lain? Sendiripun aku tidak apa-apa, ada banyak perawat disini"


"Kau bisa berkenalan dengannya, jadi kau bisa berteman dengannya, Shanon adalah istri temanku Smith, dia sangat baik, aku yakin kau bisa cocok dengannya!"


Gienka mengangguk dan tersenyum. Tidak ada salahnya juga menjalin pertemanan dengan istri dari teman Kyros.


Sementara itu, Kyros nanti akan menyempatkan untuk pulang ke apartemennya dan mengecek serta mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Entah kenapa dia merasa ada yang janggal, karena tidak mungkin obat seperti itu ada di dalam makanan atau minuman istrinya. Sarapan yang dimakan Gienka adalah sarapan yang sama begitu juga dengan jusnya, sementara Gienka hanya membuat telur orak-arik, sangat tidak mungkin di dalam telur ada kandungan obat itu, begitu juga dengan apel serta pisang. Capuccino, itu hanya kopi instan yang semalam juga dia minum bersama dengan Gienka, tetapi tida terjadi apapun dengannya, lalu bagaimana bisa Gienka mengalami itu semua tanpa sebab, padahal sudah pasti bahwa ada senyawa bahaya yang terkandung di dalam obat yang dimaksud oleh dokter itu.


Lamunan Kyros buyar setelah mendengar ponselnya berbunyi dan itu adalah Mama mertuanya. Dia kemudian menyerahkannya pada Gienka. "Semalam aku sudah membohongi Mama tentang kondisimu, bicaralah dengannya, terserah kau mau berkata apa, jujur juga tidak masalah...! Aku malu...!" Ujar Kyros.


Gienka mengambil ponsel itu dan melempar senyumnya. Gienka kemudian menjawab panggilan itu dan menyapa sang Mama. Entah kenapa Gienka juga melakukan hal yang sama dengan Kyros yaitu berbohong tentang kondisinya dan justru mengatakan bahwa dia sedang tidak enak badan saja, butuh istirahat. Gienka pun mengakhiri percakapannya dengan sang Mama.


"Kenapa kau malah mengikutiku berbohong?? Mama sangat mengkhawatirkanmu kemarin! Insting seorang ibu itu kuat...!"


"Kau ini, biar saja Papa atau Mama memarahiku, itu memang benar, aku tidak bisa menjaga istriku dengan baik, itulah kenyataannya!"


Gienka tersenyum mendengar Kyros berucap seperti itu. Kyros tentu tidak bersalah dalam hal ini, dan ini terjadi juga mungkin hanya musibah biasa akibat dia kurang hati-hati saja ketika ingin makan sesuatu.


Beberapa jam kemudian, datanglah seorang wanita yang manis dan cantik. Kyros kemudian mengenalkannya pada Gienka. Wanita itu bernama Shanon yang tidak lain adalah istri dari Smith. "Hai Gie... Bagaimana kabarmu???" Tanya Shanon.


Gienka terkejut karena Shanon berbahasa indonesia. Melihat keterkejutan istrinya, Kyros pun menjelaskan jika Shanon berasal dari Indonesia dan menikah dengan Smith, itu sebabnya Shanon juga bisa berbahasa Indonesia. Gienka bisa langsung merasakan bahwa Shanon adalah orang yang menyenangkan, itulah kesan pertama Gienka tentang Shanon.


"Aku harus bersiap untuk ke kantor, Shanon please jaga Gienka, hubunginaku jika terjadi apa-apa, oke??"


"Tenang Ky, Gienka akan aman bersamaku, kau pergi saja dan lekas kembali!"


Kyros mengangguk lalu mengucapkan terima kasih pada Shanon yang mau meluangkan waktunya untuk membantunya menjaga Gienka.


Kyros kemudian menghampiri dan mencium kening Gienka. Menyuruh agar istrinya itu beristirahat dan tidak merepotkan Shanon. Kyros kemudian pergi.


★★★★★★


Akhirnya pertemuan Kyros selesai juga, dan saat ini dia sedang menuju ke apartemennya, mandi dan berganti pakaian lalu ke rumah sakit. Selain itu, Kyros sebenarnya juga ingin mengecek apartemennya, dia akan mencoba mencari jawaban dari apa yang menimpa Gienka. Dia akan memeriksa bahan-bahan makanan yang dimakan oleh istrinya kemarin. Kyros merasa tidak bisa tenang jika harus mengabaikan hal itu dan menganggapkan kecelakaan kecil, dia tidak bisa bersikap seperti itu.


Kyros keluar dari lift dan mempercepat langkahnya menuju ke apartemennya. Dan saat hendak membuka pintu, Kyros menoleh ke belakang karena seseorang memanggilnya. Kyros tersenyum mendapati wanita paruh baya yang tidak lain adalah tetangga sebelah. Wanita itu sangat ramah, sehingga orang-orang di unit ini mengenalnya, begitu juga dengan Kyros.


Kyros menyapanya dengan sopan serta menanyakan keadaan wanita itu. Mereka mengobrol, dan wanita yang kerap dipanggil nanny itu tiba-tiba juga menanyakan keadaan dari Gienka. Ternyata dia kemarin juga melihat Gienka saat dibawah oleh beberapa petugas dari rumah sakit, juga melihat kepanikan Kyros. Kemudian Nanny juga bertanya siapa perempuan itu karena dia baru melihatnya pertama kali. Dengan sopan, Kyros menjelaskan bahwa itu adalah istrinya dan keadaannya sekarang sudah cukup membaik dibanding kemarin.


Wajah Nanny terlihat senang ketika mendengar bahwa keadaan Gienka baik-baik saja. "Kyros...! Camilla...! Yesterday I saw it was here..!" Ucap Nanny.


Kyros mengernyit. "Camilla??" Tanya nya pada Nanny.


"Yes, Camilla, I saw it was here and then she talking with your wife..." Ujar Nanny lagi kemudian dia berpamitan lada Kyros karena dia harus pergi untuk berbelanja.


Setelah mendengar itu dan Nanny juga pergi, Kyros membuka pintu apartemennya lalu masuk. Kyros tidak terlalu memikirkan perihal Camilla yang berbicara dengan Gienka di depan. Kyros tahu bahwa Gienka tidak akan mengajak Camilla masuk, mereka pasti hanya bercakao-cakap sebentar. Kyros kemudian mengawasi ruang depannya dimana posisi laptop dan ponsel Gienka masih berada disana, artinya Gienka duduk disana. Kyros kemudian melangkah menuju dapur, dan mengenai istrinya yang ingin mengambil minum, dia juga melihat ada cangkir pecah dilantai dapur di dekat Gienka kemarin.


"Tidak ada bekas tumpahan minuman, artinya Gie menghabiskan cappuccino nya, ini hanya ada bekas darah...!" Gumam Kyros.


Dia kemudian memeriksa dapurnya serta kulkasnya tetapi tidak ada hal yang mengganjal ataupun tanda-tanda keberadaan sisa obat itu. Kyros menghela napasnya, masih merasa gusar. Kyros kemudian kembali lagi ke ruang depan dan duduk di sofa, dia meraih laptop Gienka dan mematikkannya lalu menutupnya. Kemudian meraih ponsel istrinya juga dan mengecek, banyak sekali panggilan yang masuk. Kyros meletakkan telapak tangan kirinya ke sofa, tetapi dia mengernyit ketika merasa ada sesuatu yang mengganjal disana. Kyros menggenggam sesuatu itu, kemudian melihatnya. Ternyata itu adalah sebuah hiasan gantungan tas. "Gantungan tas??? Tetapi ini sepertinya bukan milik Gienka?" Gumam Kyros heran.


Dia diam sejenak sebelum akhirnya ingat bahwa dia oernah melihat ini menggantung di tas seseorang. Camilla, gantungan itu adalah milik Camilla, yang artinya Camilla kemarin berada di dalam apartemennya. Perempuan itu pasti tidak sadar jika gantungan Tasnya terjatuh.


"Mungkin aku harus mengembalikannya, tas itu tas mahal pasti ini cukup berarti...!" Gumam Kyros lagi.


Kemudian dia beranjak dari sofa dan oergi keluar untuk menemui Camilla. Sampai disana, Kyros menekan tombol interkomnya dan tak lama Camilla membuka pintu kemudian menyapa Kyros dengan senyumnya yang menawan.


"Hai Ky....!!! Ada perlu apa??? Kau datang sendiri? Dimana Istrimu??" Tanya Camilla berpura-pura, dia jelas tahu bahwa saat ini Gienka sedang berada di rumah sakit.


"Ini, gantungan tas milikmu kan??? Kau kemarin menemui Gienka ya??? Ada perlu apa?? Oh iya kau pasti tidak tahu ya jika ke....." Belum selesai berbicara, tiba-tiba pandangan Kyros tertuju pada sebuah botol kecil berwarna cokelat yang ada di sebelah vas bunga milik Camilla.


Di dalam hati Kyros membaca nama obat itu, merasa tidak terlalu yakin, Kyros pun menyingkirkan tubuh Camilla dan masuk ebgitu saja ke dalam apartemen perempuan itu. Kyros langsung mengambil botol itu dan kembali membacanya lagi. Tidak salah lagi, itu adalah obat yang sempat di katakan oleh dokter semalam. Kyros mulai berpikir bagaimana bisa Camilla menyimpan obat seperti itu, dan untuk apa.


Kyros membalikkan tubuhnya dan mendekati Camilla. Sementara Camilla mengernyit dan mengumpat dirinya sendiri karena lupa membuang obat itu.


"Mil...! Ini obat apa???" Tanya Kyros dengan tatapan tajam yang diarahkan langsung ke Camilla.