
Kyros tertinggal cukup jauh dengan mobil yang di tumpangi oleh Apap nya dan mertua nya. Kyros mengemudikan dengan santai saja sambil menikmati musik. Dia juga akan mampir ke apotik untuk membeli suplemen serta vitamin untuk dirinya karena stok di apartemen juga sudah habis.
Kyros memarkir mobilnya, kemudian bergegas masuk ke dalam apartemen dan menuju lift. Tanpa di duga ternyata Camilla juga berdiri disana menunggu lift terbuka. Kyros memilih diam dan enggan menyapa, hal yang sama juga di lakukan oleh Camilla. Hubungan mereka sudah benar-benar rusak, dan dari Camilla juga tidak ada niat sama sekali untuk datang meminta maaf. Mereka lalu masuk dalam lift seperti orang yang tidak saling mengenal.
"Ya Sayang...!" Kyros mengangkat telepon dari Gienka. "Iya aku sudah ada di lift, tadi aku ke apotik, vitaminku habis jadi tidak pulang bersama Papa dan Apap, iya, suruh Axel memasukkan semuanya! Satu menit lagi aku sampai...!" Kyros kemudian menutup teleponnya dan pintu lift juga terbuka, dia langsung keluar.
Camilla hanya diam dan melangkah pelan keluar dari lift, sementara Kyros berjalan di depan nya. Perasan takut masih menyelimuti Camilla, dia benar-benar takut jika sewaktu-waktu keluarga Kyros atau Gienka datang menemui nya dan meminta pertanggung jawaban nya, ingin sekali rasanya dia tidak pulang ke apartemennya untuk beberapa hari, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena dia sendiri harus sudah mengemasi barang-barangnya untuk pindah. Bahkan sejak semalam dia mengunci pintunya dari dalam dan tidak keluar sama sekali karena takut dengan keluarga Kyros ataupun Gienka.
Kyros berdiri di depan apartemen nya menunggu pintu di buka dari dalam. "Ky.... Kau kemana saja, kenapa tidak kembali bersama Apapmu? Oh iya, kami bingung barang yang mana saja yang harus di ke....mas....!!!?" Suara Cahya melambat ketika tiba-tiba Camilla lewat di depannya.
Melihat Cahya, Camilla melempar senyum nya dan menganggukkan kepala nya untuk menyapa nya, tetapi sayangnya Cahya enggan memandangnya dan langsung menarik Kyros agar segera masuk. Sikap yang tidak pernah Camilla lihat sebelumnya, tetapi Camilla tahu bahwa Cahya pasti marah kepadanya karena kejadian itu.
Camilla juga tadi mengernyit ketika tidak sengaja Cahya mengatakan mengenai mengemasi barang Kyros begitu juga saat di lift tadi, Kyros berbicara juga tentang memasukkan semuanya. Akan pergi kemanakah Kyros, atau apakah mereka akan membawa Gienka pulang lagi. Jika Gienka pulang itu bagus, karena itu yang di ingankan oleh Camilla tetapi saat ini dia merasa itu berita yang tidak terlalu istimewa karena dia tetap akan berada jauh dari Kyros. Jika saja dia di pindahkan di sekitar Washington mungkin itu tidak terlalu masalah, tetapi dia di pindahkan begitu jauhnya. Camilla masih merasa aneh tetapi dia tidak bisa berbuat apapun lagi.
Sementara itu Kyros langsung masuk kamar nya, dimana disana ada Kyra juga Gienka dan Axel. Kyra membantu Gienka memasukkan pakaian-pakaian ke dalam koper, sementara Axel memasukkan buku-buku milik Kyros ke dalam sebuah kotak.
"Ky...! Aku takut untuk mengulik perangkat PC mu, serta barang-barang pentingmu seperti teleskop-teleskop ini, takut ada yang salah hehehe..!" Ujar Axel.
Kyros tersenyum. "Tidak apa, itu biar nanti aku yang mengurusnya sendiri!" Jawab Kyros. "Kenapa buru-buru banget sih...! Pindahan besok siang kan juga bisa...!" Gumam Kyros.
"Papa bilang besok mobil box nya akan datang pagi, jadi ya ini lebih baik di bereskan sekarang, biar mereka semua juga nanti bisa beristirahat dengan nyaman karena besok harus di sibukkan dengan beberes lagi...! Bagaimana rumahnya?? Bagus tidak??" Tanya Gienka.
Kyros duduk di sebelah istrinya yang sedang memasukkan pakaian nya ke koper. "Bagus sudah pasti, dan jangan tanya lagi bagaimana mereka mencarinya, sudah pasti itu tidak akan pernah biasa, dan jangan berharap juga bahwa aku bisa membantah mereka!"
"Luas ya Ky??" Tanya Kyra
"Bayangkan saja, rumah itu seperti rumah kita dulu Ra, waktu kecil sebelum di rombak menjadi rumah kita yang sekarang....!"
"Waduh....! Pasti besar ya??? Hahahaha Penasaran sekali...! Apap menyebalkan, aku minta fotonya saja dia tidak mau memperlihatkannya!"
"Ini semua memang salahmu . ..! Aku sudah bilang agar jangan mengatakan pada mereka, dan lihatlah sekarang, kita jadi merepotkan mereka semua...!" Gerutu Gienka lagi.
"Iya iya aku salah....! Tapi ya sudahlah, hal yang baik juga kita pindah, aku tidak mau hal buruk terulang lagi padamu, setidaknya rumah baru kita nyaman juga aman.... Oh iya jangan lupa sisakan pakaian untuk aku kerja besok" Kyros berdiri dan mencium kening Gienka.
Ketika semua pakaian, buku dan barang-barang penting milik Kyros dan Gienka di packing. Semua orang berpamitan untuk kembali ke hotel, dan hanya menyisakan Kyros dan Gienka saja. Mereka akan kembali kesini pagi-pagi sekali, sebelum Kyros pergi ke kantor. Kemudian langsung membawa semua barang ke rumah baru, mereka besok juga akan langsung check out dari hotel. Semua akan tinggal beberapa hari lagi bersama Kyros dan Gienka sebelum akhirnya kembali pulang, sekaligus memastikan Gienka benar-benar sudah pulih, mengingat saat ini Gienka masih sering mengeluh pusing.
Gienka sudah meminum obatnya, Kyros membantu istrinya berbaring dan menyelimutinya.
"Apa menurutmu Apap dan Papa tidak berniat memberi Camilla pelajaran???" Gienka menggenggam jemari Kyros yang duduk di sebelah nya.
"Tidak....!!! Mereka tidak melakukan apapun, hanya saja kemarin Papa sempat mengejek Camilla...!"
"Mengejek??? Maksudmu???" Tanya Gienka.
Kyros tersenyum, mengangkat tangan Gienka dan mencium punggung tangan istrinya itu. "Aku tidak tahu awalnya seperti apa, tapi Papa melihat Camilla sedang berdiri di balkon, lalu dia mengejek nya, bukan mengejek sih tapi lebih ke menyindir, Papa mengajak Camilla bergabung minum kopi bersama kami semua, dan Papa juga mengatakan jika di dalam kopi nya tidak ada obat yang bisa membuat kejang, lalu berpura-pura menyuruh Kyra menjemput Camilla di apartemen nya, mungkin takut atau malu, Camilla langsung berlari masuk dan tidak keluar lagi...! Cukup lucu sebenar nya, itu cara yang bagus unvmtuk menyadarkan seseorang atas kesalahan nya! Sekarang tidurlah sudah larut...!"
Gienka mengangguk juga tersenyum. "Peluk aku ya???"
"Tentu saja...!" Ucap Kyros, dia kemudian berdiri, melangkah ke sisi lain, naik ke tempat tidur sambil menarik selimut dan memeluk Gienka.
Suara detak jantung Kyros seperti musik pengantar tidur yang menenangkan bagi Gienka, hingga membuatnya langsung
terlelap dalam hitungan menit.
Di tempat lain, Camilla duduk di kursi putarnya, menatap nyalang ke layar laptopnya. Dia sama sekali tidak fokus. Camilla bingung, haruskah dia meminta maaf kepada Kyros dan keluarga nya atau tidak. Setelah besok dia akan meninggalkan tempat ini, dan hubungan nya justru renggang, bahkan Kyros hanya membuang muka saat tadi bertemu dengannya. Camilla henar-benar merasa sakit melihat Kyros sekarang membenci nya. Mengenai apa yang sudah di lakukannya kemarin, dia hanya berniat mengerjai Gienka saja, dia tidak berpikir bahwa Kyros akan mengetahui semua itu karena Gienka juga selamat tanpa kekurangan apapun. Bahkan dia juga tidak berpikir jika permasalahan itu ternyata juga diceritakan kepada seluruh keluarga Gienka dan Kyros. Dan saat ini semua orang sudah tahu, dan Camilla bisa merasakan kemarahan dari Cahya juga ketika tadi bertemu dengannya.
Cahya yang selama ini sudah sangat baik padanya, dan masalah ini sekarang menjadi begitu besar. Kyra seperti nya juga membenci nya. Camilla bingung apa yang harus dia lakukan untuk memperbaiki semua itu.
★★★★★★
Di sisi lain, hari cukup terik. Sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah. Seorang perempuan berpakaian putih, berkacamata hitam turun dari mobil itu, dan pintu penumpang depan juga di buka. Satu lagi seorang perempuan bertubuh kurus dan kecil keluar. Itu adalah Cyntia dan Celia putrinya. Sejak tadi mereka berkeliling untuk mencapai alamat dari rumah Axel, dan akhirnya mereka menemukannya.
Cyntia menatap rumah itu sambil mencemooh di dalam hati, karena meskipun Axel saat ini sudah kaya dan banyak uang, tetapi rumah Axel masih terlihat seperti rumah orang miskin. Dimana rumah itu terlihat sangat sederhana dan tidak terlalu besar. Padahal rumah di sekelilingnya kebanyakan bagus-bagus. Tetapi dari cerita Celia, keluarga Axel memang sangat menyukai rumah yang seperti ini, dan rumah ini memiliki banyak sejarah, sehingga tidak banyak perubahan yang ada. Akan tetapi bagi Cyntia, ini sama sekali bukan selera nya. Jika bukan karena Axel sekarang memiliki banyak uang dan punya nama besar, dia sama sekali enggan untuk mengemis agar Axel mau kembali bersama Celia. Bahkan jika nantinya Celia berhasil kembali dengan Axel, Cyntia tidak rela jika Celia tinggal di rumah kecil seperti ini. Dia akan meminta Axel membangun atau membeli rumah yang besar dan luas agar bisa di tinggali oleh Celia. Dan tentu saja Cyntia dan Mamanya nanti nya akan ikut tinggal bersama mereka berdua.
Dan kali ini dia akan menemui Axel dan keluarga nya secara khusus, meminta maaf pada mereka dan berharap Axel bisa kembali lagi dengan Celia karena Celia sangat mencintai Axel dan tidak pernah bisa melupakan Axel. Cyntia akan mencoba bernegoisasi dengan mereka dan melakukan rencana nya, karena bagaimanapun Axel harus kembali dengan Celia. Tanpa permisi, Cyntia dan Celia pun membuka gerbang rumah Axel, dan langsung masuk kesana. Sehingga Axel nanti akan terkejut dengan kedatangan mereka.