
"Kau kenapa tidak menghubungi kami??? Apakah sebegitu sibuk nya sehingga kau tidak memiliki waktu sedikitpun untuk bisa berkomunikasi dengan kami??? Sekedar mengirim pesan saja apa tidak bisa???" Protes Gienka.
Kyros menatap wajah istrinya dengan senyumnya. "Aku hanya ingin berfokus pada tugas yang ingin segera aku selesaikan supaya aku bisa pulang lebih cepat, aku tidak berniat mengabaikan siapapun termasuk dirimu, maaf jika aku merepotkan kalian semua disini, bahkan aku dengar dari Apap jika Papa Iel ingin membawamu pulang." Kyros melempar senyum. "Aku akan minta maaf padanya nanti, aku juga akan menerima kemarahannya karena aku mengabaikan putri nya yang tercinta, aku minta maaf.." Kyros meraih jemari Gienka kemudian mengecupnya dengan lembut dan meletakkan nya di pipi nya.
"Aku hanya khawatir kau tidak berkenan menerima bayi ini. dan menganggap ku telah mengkhianati mu, karena aku hamil saat kau pergi dan kita dalam kondisi sedang menunda untuk memiliki bayi.."
Kyros tersenyum. "Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu??? Kau hamil sebelum aku pergi, hanya saja aku telat mengetahui nya. Aku suami mu dan kita secara sadar melakukan hubungan suami istri, aku juga tidak menampik bahwa aku yang sudah membuatmu bisa hamil seperti ini, jadi bagaimana kau bisa berpikir seperti itu??? Aku tahu bahwa aku akan mengambil keputusan yang besar untuk ini. Aku ingin sekali menghubungi mu, melihat wajahmu, tapi jika aku melakukan itu kemarin aku justru akan terus ingin melakukannya sehingga aku tidak bisa fokus dan akan pulang lebih lama, jadi karena sebelumnya aku sudah hidup berbulan-bulan tanpa mu, maka kenapa tidak aku coba bersabar sedikit lagi, butuh sedikit perjuangan untuk bisa segera menemui istriku dan juga bayiku, maaf.."
Gienka mengusap pipi Kyros sembari tersenyum. "Kau sudah ada disini, kerinduan kita semua sudah berakhir... Aku bahagia kita bisa berkumpul lagi..":
Kyros menenggelamkan kepalanya memeluk Gienka sambil mengusap perutnya. Kyros mengangkat kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Gienka lalu menciumnya. Gienka menyambutnya dengan senang hati, bibir yang sudah sangat lama sekali dirindukannya dan kini akhirnya menyatu lagi. Rasa manis yang sama dan rasa hangat yang sama, tidak pernah berubah, ini yang selalu Gienka rindukan dari Kyros.
Ciuman itu cukup lama dan akhirnya mereka saling melepaskan. Napas keduanya pun terengah. Gienka menyentuhkan jemarinya di pipi Kyros membuat lelaki itu memejamkan matanya merasakan kelembutan disana.
"Kau tidak ingin mengunjunginya di dalam sana???" Tanya Gienka.
Kyros tahu apa yang sedang dimaksud oleh istrinya itu. "Aku tidak mau menyakitimu dan bayi kita, aku bisa bertahan...!" Jawabnya.
"Kau tidak akan menyakiti kami jika kau melakukannya dengan pelan dan lembut, kau pasti juga merindukannya, lakukan saja...! Aku juga sangat merindukanmu, dokter bilang itu baik dilakukan rutin menjelang kelahiran" Ujar Gienka.
"Kau yakin???" Tanya Kyros lagi.
Gienka melempar senyumnya yang paling manis dan menganggukkan kepalanya. Mendapat ijin, Kyros tentu tidak mau menunggu lama lagi, dengan cepat dia melepaskan semua yang menempel di tubuhnya, meminta Gienka agar memegang miliknya yang sudah lama tidak disentuh. Gienka membuat Kyros cepat menegang hanya dengan sebuah sentuhan. Dia menggerakkan jemarinya perlahan, membuat Kyros hanya bisa merintih pelan menikmati kelembutan yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Sudah cukup...! Aku tidak mau meledak disini, aku akan meledak di dalam saja, dan memperkenalkan diriku pada bayi kita disana...!" Gumam Kyros dengan suara terbata.
Secepat kilat, Kyros membantu Gienka melepas semuanya dan mereka tidak mau menunggu lama lagi. Kyros menenggelamkan dirinya secara perlahan dan langsung disambut oleh tarikan tubuh Gienka, membuat seluruh sarafnya berdenyut.
Kyros memejamkan mata, menikmati cengkeraman yang erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meledak seketika itu juga.Dia sangat merindukan Gienka. Perempuan yang sekarang berbaring di depanya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersengal, Gienka yang pasrah dan saat ini sedang mengandung anaknya.
Dengan hati-hari Kyros bergerak pelan dan hati-hati. "Apakah sakit?" Tanya Kyros sambil menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak mendorong terlalu keras.
Gienka menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang, rasanya luar biasa"
Lelaki itu menahan diri, menunggu Gienka mencapai puncak. Dan ketika Gienka melengkungkan punggungnya dan meeintih pelan, Kyros mengikutinya. Perasaan dan kepuasan ini tiada duanya. Menyatu dengan orang yang dicintai memang selalu memberikan perasaan yang berbeda. Mereka mencapai titik itu bersama-sama setelah sekian lama saling menahan diri.
***
Malam harinya....
Gienka dan Kyros turun untuk menemui keluarga nya dan makan malam bersama mereka.Sudah begitu lama Kyros tidak melakukannya dan rumah ini selalu menjadi tempat ternyaman untuknya. Keluarga nya, semua orang dia sayangi ada disini.
Kyros dan Gienka keluar dari lift. Lelaki itu memeluk istrinya yang sudah sempoyongan membawa perut besarnya. Tidak ada kebahagiaan yang bisa Kyros rasakan selain bisa bersama dengan orang-orang yang dia cintai.
"Selamat malam semua nya.." Sapa Kyros. Dia kemudian menarik kursi untuk Gienka, menyuruh istrinya untuk duduk. Baru setelah iti dia menarik kursi untuk dirinya sendiri. Duduk di sebelah Gienka. Semua anggota keluarga nya lengkap dan melempar senyum ke arah mereka.
"Malam sayang." Balas Cahya.
"Aku pikir kalian tidak akan turun.." Sindir Kyra.
"Hus.... Diamlah..!! Kau ini.." Axel menyikut pinggang istrinya.
"Aku sudah menunggu ini lama, makan malam di rumah bersama seluruh keluargakh, lalu bagaimana aku tidak turun???" Sahut Kyros.
"Amam sudah memasak semua makanan kesukaan mu, jadi kau bisa habiskan, kau pasti merindukan masakan Amam kan??" Tanya Cahya.
Kyros tersenyum. "Amam terbaik... Terima kasih..!"
"Sama-sama... Ayo sekarang kita makan bersama..!" Ajak Cahya.Semua pun mulai mengambil makanan yang sudah di masak oleh Cahya dan Kyra untuk kemudian menikmati nya bersama-sama.
"Ky....??? Apap belum memberitahu mertua mu jika kau pulang, apa istrimu sudah memberitahu mereka??" Tanya Aditya.
"Belum Pap, besok rencana nya kami akan kesana.."
"Oke baguslah jika kalian akan kesana, temui mereka dan minta maaf, kau sudah membuat masalah dan mereka marah serta kecewa sekali denganmu, jadi jelaskan dan minta maaflah."
"Iya Pap..."
"Jaga istrimu dengan baik, kami semua tidak membiarkannya untuk bekerja keras agar dia tidak mudah lelah, kau harus mengerti itu.." Sahut Cahya. "Dan Gienka sayang,besok siang kau ada jadwal untuk menemui dokter Arindah, jadi mintalah suami mu mengantar ke rumah sakit.."
Gienka mengangguk. "Iya Mam, tadi aku sudah memberitahu Ky jika aku harus mengecek kandunganku."
Kyros tersenyum. "Tentu saja, uncle tidak pernah ingkar janji, uncle membawa nya untukmu dan juga ada satelit tempat tinggal uncle kemarin yang uncle bawa untukmu, setelah ini Athan ikut Uncle ke kamar uncle ya??"
Bocah itu mengangguk. "Ya...!" Jawabnya dengan semangat. Membuat semua orang saling melempar senyum satu sama lain.
Setelah makan malam, Kyros dan Gienka bersama Athan naik ke kamar. Kyros tahu bahwa keponakannya tidak bisa diam jika dia tidak segera memenuhi permintaannya. Daya ingat Athan sangat bagus, sekali di janjikan maka bocah itu akan terus ingat.Itulah kenapa sebelum dia pulang kesini, dia sempatkan untuk mampir ke toko oleh-oleh yang ada di dekat museum, membeli mainan untuk keponakannya. Selain Athan, Kyros juga membeli untuk sepupu nya yaitu Niall, anak dari Adri dan Chika. Juga beberapa oleh-oleh lainnya untuk yang lainnya.
Sampai di kamarnya, Kyros membuka kopernya dan membongkar isi nya. Kyros sudah menyiapkan hadiah untuk keponakannya itu. Kyros memberikannya dan menyempatkan untuk mengajak Athan bermain. Sudah lama tidak mengajak keponakannya bermain. Mereka bermain di lantai sedangkan Gienka duduk di sofa melihat keseruan kedua nya.
"Ini apa uncle nama nya??" Tanya Athan sambil mengangkat sebuah robot berbentuk satellite.
"Ini nama nya Satellite, nah uncle kemarin bekerja dan tinggal disini." Jawab Kyros.
"Kan uncle naik roket, kenapa jadi kesini??"
Kyros tersenyum. "Ya, uncle memang naik roket tapi sampai di langit, uncle pindah kesini. Ummm seperti saat Athan mau pergi ke rumah Uncle dan Aunty di Amerika, pasti Athan naik pesawat dulu kan, baru bisa ke rumah uncle dan Aunty, ya sama seperti itu, uncle berangkat dengan roket lalu baru pindah ke Satellite."
"Oh begitu...."
Kyros terkekeh. "Iya, nanti Athan mau jadi astronot atau mau jadi pemain bola seperti Baba nya Athan??" Tanya Kyros.
"Hmmmmm....!!" Dengan gemasnya Athan terlihat berpikir dengan mendongak menatap langit-langit kamar. "Tidak tahu,aku mau keduanya."
Kyros tertawa. "Oke oke... Boleh lah tapi kalau Athan ingin kedua nya, Athan harus belajar mulai sekarang oke??"
"Oke...!!"
Di tengah obrolan itu, dari luar pintu di ketuk seseorang dan Kyros berteriak menyuruh orang di luar agar masuk karena pintu tidak di kunci. Ternyata itu adalah Kyra.
"Eh Ra..!" Ucap Gienka.
Kyra masuk dan menghampiri Kyros dan Athan yang sedang bermain. "Athan sayang??? Kita ke kamar ya??? Mainnya besok lagi, uncle harus istirahat.." Ucap Kyra pada putra nya.
"Biar saja Ra, baru jam segini, dia juga belum terlihat mengantuk."
"Kau baru sampai tadi Ky, kau pasti butuh istirahat, kau lebih baik menikmati waktumu dengan Gienka, besok kau bisa bermain lagi dengan Athan."
"Iya Ra, tidak apa-apa, biar saja Athan disini.." Sela Kyra.
"Tidak, nanti Athan malah merepotkan kalian, aku bawa dia ke kamarnya saja, kalian butuh waktu untuk berduaan, mengobrol banyak, jadi nikmati itu." Kyra mengangkat dan menggendong Athan kemudian mengajak putranya itu ke kamarnya sehingga tidak mengganggu Kyros dan Gienka.
Setelah Athan di bawa oleh Kyra, Kyros menghampiri Gienka dan duduk di sebelah istrinya. Kyros mengusap perut Gienka. "Bagaimana kau mengisi harimu setiap hari???" Tanya Kyros.
"Aku menyibukkan diri di kantor, tapi Papa Iel melarangku kembali bekerja setelah usia kandunganku masuk delapan bulan, aku sempat menolak tapi Papa Iel tidak bisa di bantah dan aku menuruti nya... Di rumah aku bosan sekali apalagi kau tidak kunjung menghubungi ku, jadi aku terkadang ikut Amam ke kantor nya, kadang aku mengantar dan menjemput Athan di sekolahnya untuk mengisi hariku yang kosong, kalau tiap malam, Amam, Oma dan Kyra selalu menemaniku, mereka bergantian tidur denganku, itu juga di lakukan Papa Iel dan Mamay, juga Mama serta Papa Dan."
"Setiap hari??" Tanya Kyros.
"Iya bergantian, dan biasanya Papa Iel juga Papa Dan tidur di sofa, aku dan Mama atau Mamay tidur di ranjang.. Jika aku sedang ngidam, Papa Iel atau Papa Dan, bahkan Apap terkadang yang berangkat mencarikan apa yang aku mau, mereka semua bekerja sama untuk menjaga ku.."
Kyros tersenyum. "Aku jadi merasa bersalah dengan mereka semua.." Gumam Kyros.
"Apa sih??? Jangan berkata seperti itu, mereka semua menyayangi kita berdua jadi merteka melakukan itu untuk menyenangkan aku dan agar aku tidak kesepian.. Sekarang kau ada disini,aku semakin bahagia sekali...!!" Gienka memeluk Kyros. Hatinya saat ini merasa tenang dan juga tidak khawatir lagi karena Kyros sudah bersama nya.
★★★★
Keesokan harinya.....
Gienka dan Kyros sedang dalam perjalanan ke kantor Ariel. Karena ini bukan hari libur, jadi sudah pasti Ariel tidak ada di rumah dan berada di kantor. Sudah mau masuk jam makan siang, Kyros dan Gienka berniat mengajak Ariel untuk makan siang bersama di restoran milik Ariel dimana Maysa juga berada disana.Gienka tadi sudah bertanya kepada Mama tiri nya itu apakah ada di rumah atau tidak dan ternyata Maysa ada di salah satu restoran milik Ariel.
Sampai di kantor Ariel, Gienka dan Kyros masuk dan naik lift menuju lantai paling atas dimana ruangan Ariel berada.
Mereka keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan Ariel tetapi Kyros tiba-tiba menerima telepon, kemudian meminta istrinya untuk masuk dulu, nanti dia akan menyusulnya.
Gienka di sambut oleh sekretaris Ariel.Dia pun bertanya apakah Ariel ada di dalam atau tidak, dan Gienka di persilahkan masuk karena Ariel ada di dalam dan tidak sedang menerima tamu.
Gienka mengetuk pintu, kemudian dari dalam ada suara Ariel yang menyuruhnya masuk. Gienka membuka pintu kemudian masuk sambil memegang perut besarnya dan melempar senyum pada Papa nya.
"Gienka sayang...!!" Seru Ariel yang kemudian berdiri dan bergegeas menghampiri Gienka. Dengan sopan Gienka menyalami juga mencium tangan Papa nya itu. Ariel mengernyit karena melihat Gienka datang sendirian. "Kau kesini sendirian tidak dengan supir??? Kyra atau Cahya tidak bersama mu???" Tanya Ariel dan Gienka menggelengkan kepala nya. Belum sempat memberitahu dengan siapa dia datang, Ariel sudah menyahutnya dengan cepat.
"Kau ini kenapa sayang???? Kenapa datang kesini sendirian???? Dimana keluarga suami mu???? Tega sekali mereka membiarkan mu bepergian sendiri kesini..!!! Kenapa juga tidak memberitahu Papa kalau ingin kesini, Papa bisa mengirim supir..!!!" Seru Ariel dengan penuh kemarahan. "Perutmu sudah besar, suami mu juga sama sekali tidak peduli padamu, sudah Papa bilang, kau pulang saja ke rumah Papa, Papa akan menjagamu, kau juga dulu tidak mendengarkan Papa agar jangan buru-buru menikah dengan Kyros, lihatlah hasilnya sekarang, suamimu tidak pulang, tidak mengabarimu setelah dia membuatmu hamil dan meninggalkanmu, tidak berguna sama sekali, Papa tidak mau tahu, setelah kau melahirkan, bawa bagimu pulang ke rumah Papa, jangan kembali lagi ke rumah mertua mu...!!! Kau jangan membuat Papa semakin marah padamu..!" Ariel terlihat begitu marah sekali. Batas kesabarannya sudah habis. Setelah melihat perjuangan putrinya selama ini yang menjalani kehamilannya sendirian tanpa dukungan dari Kyros bahkan setelah menantu nya itu kembali dari tugasnya, Kyros justru mengabaikan Gienka. Hancur sekali hati Ariel sebagai seorang Ayah melihat perjuangan Gienka saat ini. Ariel menjadi merasa bersalah sekali, karena teringat akan keslaahnnya di masa lalu kepada Elea. Dimana dia juga meninggalkan Elea dalam keadaan hamil. Ariel selalu di hantui rasa bersalah, dan yang sekarang menanggung karma atas perbuatan nya adalh Gienka.