
"Pergilah dari rumahku....!!! Atau aku akan berteriak sehingga kau bisa di usir dari sini... " Ancam Mama Cyntia.
"Ma, please... Inginkan aku bertemu Celia, sebentar saja.. Memastikan dia baik-baik saja.... Aku tidak bisa menghubungi nya... Karena ponselnya tertinggal di rumahku.. "
"Celia tidak ada disini.... Dia bersama Cyntia, pergi ke luar...!!"
"Tapi mobil Cyntia ada disini???" Tanya Theo.
"Mereka pergi dengan mobil yang satu nya, dan kau pikir kami hanya punya satu mobil.... Pergilah... Celia tidak ada urusan denganmu, kau memang Ayahnya, tapi kau ayah yang tidak berguna... Berani sekali kau menyembunyikan Celia kemarin dan tidak memberitahu ku atau Cyntia..."
"Celia melarangku Ma, aku sudah bilang agar dia menghubungi Mama ataupun Cyntia... Tapi dia menolak... "
"Bohong... Dasar pendusta dan pembohong.... Tidak berguna dan bodoh.... Pergilah... Celia tidak disini..." Mama Cyntia mengumpat Theo.
"Aku akan menunggu nya sampai dia pulang... " Ucap Theo, masih berusaha untuk meyakinkan Mantan Mertua nya agar dia di ijinkan untuk masuk.
"Pergilah, Celia sedang pergi dengan Cyntia, dia mengajak Celia ke Singapura untuk menemui suami Cyntia, percuma kau disini, mereka tidak akan pulang dalam waktu lama... Dan nanti aku akan menyuruh Celia atau Cyntia menelepon mu kalau mereka sudah sampai... Cepat pergi..."
"Mama tidak bohong kan???"
"Apa kau lihat bahwa aku sedang berbohong??? Kalau tidak percaya ya terserah...." Mama Cyntia pun meninggalkan Theo dan pergi masuk ke dalam rumah.
Theo berdiri dan hanya bisa terdiam. Sebenarnya ini yang dia takutkan ketika datang. Sikap keras kepala Cyntia dan Mama nya membuat Theo meragu, akan tetapi dia datang untuk mengetahui kondisi Celia. Sejak Celia pergi semalam, hati Theo merasa tidak tenang sekali, hingga memaksanya untuk kesini. Dan inilah hasilnya, dia tidak mendapatkan apa yang di inginkan nya. Theo juga tidak bisa menghubungi Celia, karena ponsel Celia tertinggal. Semalam begitu kalut dan mengejutkan, hingga Celia tidak sempat membawa ponselnya juga barang-barangnya. Celia datang membawa beberapa pakaian.
Theo bingung harus bagaimana, tetapi dia akan memilih menunggu. Apakah ada pergerakan dari Cyntia atau Mama nya di rumah itu. Dan mencari kepastian apakah benar Celia sedang tidak di rumah ini atau memang sedang pergi seperti yang di katakan oleh Mama Cyntia tadi.
"Ada apa sih Ma ribut-ribut????" Tanya Cyntia ketika Mama nya masuk ke dalam rumah.
"Ada Theo di luar..."
"Theo????"
"Iya... Dia ingin bertemu dengan Celia... Kau jangan keluar.. Aku mengatakan pada Theo jika kau dan Celia tidak ada disini.. Aku menyuruhnya untuk pergi... Tetapi sepertinya dia belum pergi... Jangan sampai dia bertemu Celia, yang ada Celia akan ikut bersama nya..."
Cyntia mengernyit. "Kenapa dia bisa datang kesini???"
"Mungkin dia sudah datang ke rumah kita dan tahu kita tidak ada disana, jadi dia memilih datang kesini..."
"Shiiiittt... Celia benar-benar keterlaluan... Dia selalu saja berulah membuat kita kerepotan..... " Gerutu Cyntia.
"Itu karena kau mendidiknya kurang keras.... Sedang apa dia???" Tanya Mama Cyntia.
"Dia menangis dan mengeluh sakit kepala, aku sudah memberinya obat.... Menyusahkan sekali.... Theo juga, untuk apa dia kesini... "
"Biarkan saja... Yang penting kau jangan keluar... Begitu juga Celia, kita harus menjaga nya... "
★★★★★
Kyros membuka matanya, mendapati Gienka tidur di sebelahnya. Dan merdeka tidak sedang berada di kamar. Kyros mencoba mengumpulkan ingatannya dan mengingat kenapa mereka ada disini bukan di kamar. Sampai akhirnya dia tersenyum karena ingat. Entah karena obat yang di berikan Gienka atau karena percintaan mereka yang begitu panas, sehingga dia tertidur sangat pulas disini. Kepala nya juga tidak terasa pusing lagi, mungkin karena efek obat nya tadi.
"Sayang... Gienka Sayang... Bangun.. Sudah malam, kita pindah ke kamar... " Kyros menggoyangkan tubuh istrinya.
Gienka membuka matanya. Untuk sesaat dia tertegun dan menatap Kyros. "Sudah jam berapa???" Tanya nya.
"Jam delapan lebih... Ayo bangun, kau am tadi belum mandi, dan aku juga... Kita mandi lalu tidur.." Ucap Kyros.
Kyros terkekeh, dia juga lapar sebenarnya belum makan sejak pulang kerja kecuali makan pisang tadi sebelum minum obat. "Aku juga..."
Gienka bangun dan duduk. Sempat menguao tetapi dia membuka matanya lebar-lebar. "Kau mandi dulu, aku akan siapkan makanan... "
"Tidak perlu.... Kita pesan pizza saja... Sepertinya enak makan pizza.. Sambil menunggu datang, kita bisa mandi dulu... "
Gienka tersenyum. "Baiklah kalau begitu... Ayo ke kamar... "
Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju kamar mereka. Bersamaan dengan itu, Kyros juga menghubungi restoran pizza dan memesan pizza kesukaannya. Kyros di minta menunggu dan pizza akan di antar sekitar setengah jam sampai 1 jam paling lama.
"Sudah pesan... Kita mandi sambil menunggu di antar.." Gumam Kyros dan memeluk Gienka menaiki tangga menuju kamar mereka. "Pizza enak jika di nikmati dengan bir, tetapi aku tadi minum obat, tidak berani jika harus minum bir hehehe.. "
"Minum jus saja... Aku akan membuatnya nanti. . "
****
Selesai mandi, Gienka dan Kyros turun dan menunggu pizza mereka yang seperti nya belum datang. Gienka memutuskan membuat jus untuk menemani makan malam mereka nanti. Kyros ingin jus anggur, sehingga dia membantu artinya mengopek buah anggur hitam. "Kau sudah mengijinkan ku untuk bekerja, jadi bisakah kau membantuku mencari perusahaan yang memiliki lowongan???" Tanya Gienka.
"Oke... Aku akan membantumu mencari, besok aku coba tanya pada teman-temanku..."
Terdengar suara bel di luar, Kyros bergegas pergi dari dapur untuk membuka pintu karena itu pasti pizza pesanan nya. Kyros meminta Gienka untuk melanjutkan membuat jus.
Kyros membuka pintu, dan di depannya berdiri seorang laki-laki membawa sekotak pizza di tangannya. Kyros tersenyum.
"I'm delivering pizza.. Mr. Kyros Sahasya..??" Tanya pengantar pizza itu.
"Yes.. It's me....." Jawab Kyros dan dia mengambil uang dari saku celana nya untuk membayar pizza pesanannya. Kyros hendak memberikan uang itu pada si pengantar pizza. Tetapi hal aneh justru terjadi pada pengantar pizza itu. Lelaki itu menatapnya dalam diam, entah apa yang di pikirkan. oleh pria itu. "Hello....???? Are you okay????" Tanya Kyros.
Pengantar pizza itu terlonjak. "Are you from Indonesia???" Tanya pengantar pizza itu.
Kyros tersenyum. "Yupz... Do you know me??? Are you also from Indonesia??" Tanya Kyros.
Pengantar pizza itu menggelengkan kepala nya meragu. "I don't know, it's just I have been there... But I don't know.. Sorry sorry... " Pengantar pizza itu tersenyum. "I know who you are.... Nasa astronot... right...???"
Kyros bingung dan heran dengan lelaki di depannya itu. Tetapi dia melempar senyumnya dan mengangguk karena ternyata pria itu tahu siapa dirinya.
Pengantar pizza itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Kyros. "Nice to meet you sir..." Ucapnya sambil tersenyum.
"Thanks..." Jawab Kyros membalas senyumnya, kemudian membayar pizza pesanannya dan memberikan uang tip pada pria itu. Terlihat wajahnya senang dan dia mengucapkan Terima kasih kepada Kyros lalu pergi.
Kyros membawa masuk pizza nya. Dan dia ke ruang makan menemui Gienka, masih bingung dengan sikap aneh pria pengantar pizza itu.
"Heiii... Kenapa malah bengong???" Tanya Gienka mengambil kotak pizza itu.
"Ah tidak... Aku hanya merasakan aneh saja dengan pria pengantar pizza itu... "
"Aneh??? Kenapa???"
"Dia bertanya padaku apakah aku berasal dari Indonesia, dan dia tahu jika aku astronot, tapi sebelumnya aku bertanya pada nya apakah dia juga berasal dari Indonesia, tetapi jawabannya membuatku bingung... Masa dia menjawab AKU TIDAK TAHU TETAPI SEPERTINYA AKU PERNAH KESANA.. Lah kan aneh??? Masa dia lupa kalau dia pernah ke Indonesia.. Kalaupun pergi liburan ya tentu dia akan ingat dong... "
Gienka tersenyum. "Mungkin dia sering keliling dunia sehingga dia lupa kalau pernah ke Indonesia... Sudahlah.. Lupakan.. Dia tahu kau seorang astronot dari Indonesia, jadi mungkin dia menghubungkannya.. Hahha lupakan... Ayo makan, aku lapar sekali... "