
Gienka benar-benar dibuat pusing karena Papanya justru mengusir Garviil dari sini. Gienka bingung sekali kenapa Papanya bisa melakukan hal itu. Dan pembicaraan apa yang sebenarnya mereka berdua lakukan sampai Papanya merasa tersinggung dan mengusir Garvliil. Gienka kemudian keluar dari kamar itu dan dia bergegas menuju kamarnya untuk berbicara dengan Kyros.
Gienka masuk ke kamarnya dan dia mencari suaminya yang ternyata ada di kamar dan sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Aku sudah siap dan aku baru saja mau keluar tapi kau malah ke sini.??" Ucap Kyros sembari merapikan dasinya.
Gienka menghampirinya kemudian membantu suaminya itu. "Aku baru saja dari kamar Papa Iel dan aku benar-benar kesal sekali dengannya." Ujar Gienka.
"Kesal kenapa??? Masa pagi-pagi sudah kesal???"
"Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Papa dan juga Garviil tadi malam ataupun pagi ini, tiba-tiba tadi saat Aku ingin membangunkan mereka. Garviil keluar dengan wajah bingung, murung sekaligus terlihat sedih, aku bertanya tetapi sepertinya dia menjawab pertanyaanku secara tidak jujur lalu aku masuk dan menemui Papa Iel, aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi tetapi Papa menjawab dengan enteng bahwa dia tidak suka dengan cara Garviil berbicara kepadanya, lalu dia menyuruh Garviil pergi dari rumah ini."
Kyros terlonjak. "Pergi dari rumah ini???" Tanyanya heran.
"Iya. Papa menyuruh Garviil pergi dari rumah ini. Garviil disuruh kembali ke Boston, hanya karena dia tidak suka dengan cara bicara Garviil. Aku tidak mengerti apa sebenarnya yang mereka obrolkan sampai Papa merasa seperti itu."
"Lah kok bisa sih??? Apa Garviil mungkin salah bicara kali, sampai Papa Iel harus menyuruhnya pergi.??"
"Ya tapi apa masalahnya, pembicaraan seperti apa??? Aku hanya takut Papa menggertak Garviil sehingga Garviil jadi grogi dan berucap yang tidak Papa sukai."
"Aduh bagaimana ya??? Ya tapi apa kau tidak bertanya masalahnya apa pada Papa Iel???" Tanya Kyros.
"Aku sudah bertanya tapi Papa Iel hanya menjawab itu dan tidak memberikan alasan yang jelas dan malah Papa pergi begitu saja meninggalkan aku ke kamar mandi. Ini bagaimana dong Geffie pasti sedih sekali kalau tahu Garviil diusir oleh Papa Iel???"
"Ya gimana??? Kau beritahu saja Geffie mungkin dia bisa mengajak Papa Iel berbicara dan tahan dulu Garviil jangan sampai dia pulang dengan perasaan marah atau sedih."
"Ya aku akan memberitahu Geffie nanti tapi coba dulu kau temui Garviil dan tanyakan apa yang sebenarnya terjadi mungkin dia lebih merasa nyaman bicara denganmu. Cari dulu akar masalahnya baru setelah itu kita britahu Geffie. Masih jam segini kau tidak akan terlambat jika berbicara sebentar dengan Garviil setelah itu baru sarapan."
"Inilah yang aku dan Geffie takutkan, Papa Iel akan terlalu banyak bertanya sehingga membuat Garviil jadi grogi. Untung saja dulu kau tidak diperlakukan seperti ini oleh Papa Iel, bisa-bisa aku kawin lari saja denganmu"
Kyros tertawa melihat ekspresi kesal dari Gienka. "Tidak akan seperti itu karena ceritanya kan beda sayang??? Papa Iel sudah mengenalku sejak aku kecil jadi dia sudah tahu banyak tentang aku dan tidak akan mungkin banyak bertanya padaku, tapi sepertinya memang mungkin pembicaraan mereka agak terlalu serius jadinya Papa Iel merasa tersinggung. Ya sudah, aku akan menemui Garviil dulu di kamarnya. Kau Pergilah ke atas ambil bayi kita dan juga ajak Geffie serta Apap turun untuk sarapan. Jangan bahas dulu masalah ini dengan Geffie." Kyros kembali mengecup kening istrinya itu. Gienka menganggukkan kepalanya kemudian meninggalkan Kyros di kamar.
Setelah selesai bersiap Kyros pun keluar dari kamar dan berjalan menuju kamar tamu yang ditempati oleh Garviil. Kyros menegtuk ke pintunya terlebih dulu dan baru dia masuk ketika Garviil menyahut dari dalam dan tak lama Garviil membuka pintu kamar itu. Garviil melempar senyum pada Kyros.
"Boleh aku masuk???" Tanya Kyros.
Tentu saja boleh Kak, silakan, aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian."
Kyros masuk ke dalam kamar itu dan dia melihat koper Garviil ada di atas tempat tidur serta Ada beberapa pakaian Garviil yang diletakkan di atas tempat tidur itu. "Viil, kau berkemas??? Kau ingin ke mana??? Bukankah kau akan berada di sini beberapa hari lagi dan akan kembali bersama Geffie???Kok sekarang sudah berkemas???" Tanya Kyros.
"Aah itu Kak, tiba-tiba aku mendapat telepon dan aku harus segera kembali ke Boston karena ada pekerjaan mendadak yang harus aku kerjakan dan juga ada meeting dengan klien dari luar, jadi aku sepertinya akan kembali lebih dulu karena Geffie masih harus mengurus beberapa hal untuk kuliahnya di sini."
"Kok mendadak sekali sih Viil, kemarin kau tidak mengatakan apapun kepada kami atau jangan-jangan ini hanya alasan mu saja ya??? Hmm pasti telah terjadi sesuatu karena tadi Gienka bilang bahwa Papa Iel menyuruhmu untuk pergi dari sini, memangnya ada masalah apa???"
"Ah tidak sama sekali Kak, aku memang aja pekerjaan dan harus Aku selesaikan dan ada meeting mendadak jadi aku harus pergi hari ini juga, aku juga akan berpamitan pada Geffie."
"Jangan berbohong Viil, tadi Papa Iel sendiri yang memberitahu Gienka kalau dia tersinggung dengan ucapanmu lalu menyuruhmu pergi dari rumah ini. Kalau boleh tahu memangnya pembicaraan Apa sih yang kalian berdua bicarakan tadi malam??? Sampai Papa Iel tampak marah sekali kepadamu, aku sudah menjadi menantunya selama bertahun-tahun dan aku juga sudah mengenalnya sejak kecil sehingga sifat dan karakternya aku sangat mengerti sekali. Papa Iel memang orang yang keras. Tetapi dia memiliki hati yang lembut dan aku juga terkejut kalau dia menyuruhmu pergi dari sini hanya karena ucapanmu, memangnya apa yang kalian bicarakan sampai Papa Iel tidak menyukainya???" Tanya Kyros. "Kau Ceritalah padaku mungkin aku bisa membantumu dan juga menghindarkan kesalahpahaman di antara kau, Geffie dan juga Papa Iel, jadi Coba ceritakan apa yang terjadi???"
Garviil menunduk dengan sedih. Dia kemudian bercerita kepada Kyros mengenai pembicaraannya malam tadi juga pagi tadi dengan Ariel. Garviil menceritakan semuanya dari awal sampai akhir serta alasan kenapa Ariel marah kepadanya yaitu diakibatkan oleh pembicaraan mengenai hubungannya dengan Gevvie, di mana Garviil ingin hubungannya dengan Geffie itu tidak hanya hubungan biasa saja melainkan hubungan yang serius dan Garviil juga mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Geffie dalam waktu dekat karena Garviil ingin bisa segera memiliki Geffie.
Hal itulah yang akhirnya memantik kemarahan dari Ariel karena Ariel merasa bahwa pembicaraan mengenai pernikahan Geffie tidak seharusnya diucapkan atau dikatakan oleh Garviil, mengingat usia Geffie saat ini masih terlalu muda dan Geffie juga akan melanjutkan kuliah s2-nya, jadi rasanya tidak elok jika Garviil meminta izin untuk menikahi Geffie. Memuncaklah emosi Ariel sehingga Ariel meminta Garviil untuk mengakhiri hubungannya dengan Geffie dan tidak akan pernah mau merestui hubungan itu. Apalagi sampai mengizinkan Geffie menikah mudah dengan Garviil. Geffie masih terlalu muda untuk usianya saat ini sedangkan Garviil mungkin saja memang sudah cukup umur untuk menikah sehingga Ariel merasa bahwa Garviil hanya akan memanfaatkan Geffie saja untuk kesenangannya.
Tetapi Garviil mencoba untuk meyakinkan Ariel bahwa dia tidak memiliki maksud apapun dan memang benar-benar serius dengan Geffie. Tidak ada niatnya untuk memanfaatkan Geffie atau hal lainnya. Garviil hanya benar-benar ingin menikahi Geffie karena dia mencintai gadis itu dan sudah merasa yakin. Garviil juga tidak mempermasalahkan jika Geffie melanjutkan kuliahnya .Garviil tidak akan melarangnya dan tetap akan mendukung Geffie setiap waktu meskipun mungkin mereka nanti menikah karena Garviil sudah memikirkannya dengan matang sekali.