
Sore harinya.....
Gienka membawa paperbag berisi kue dan macaroon serta minuman dingin yang tadi dia beli untuk di berikan kepada keluarga Axel. Gienka belum sempat bertemu Lexy, itulah kenapa dia memutuskan untuk datang lagi ke rumah Axel, sekaligus memberikan kue. Lexy sangat menyukai Macaroon jadi Gienka juga membelinya cukup banyak untuk Lexy.
Gienka turun dari mobil dan menaiki 3 anak tangga menuju pintu rumah Axel. Gienka menekan bel, tak lama pintu di buka oleh Lexy sendiri. "Eh kak Gie...!" Sapa Lexy dan langsung memeluk Gienka.
"Lex... Apa kabar???"
"Baik Kak... Masuk yuk....!" Lexy mempersilahkan Gienka masuk ke dalam rumahnya.
"Itu Kakak membeli macaroon tadi, kau menyukai nya kan?? Makan dan habiskan, ok h iya kok sepi..??? Pada kemana??? Om, Tante, atau Axel..?" Tanya Gienka.
"Wah macarron ya??? Thanks ya kak Gie.. Mama ke pabrik, ada barang yang datang, tadi di antar Papa, hanya aku dan Kakak yang ada di rumah..!"
"Lalu dimana Axel???" Gienka duduk di sofa di ikuti oleh Lexy.
Hening...
Lexy tersenyum pada Gienka. "Ada di kamar kak, sejak tadi tidak keluar..!"
Gienka mengernyit. "Tidak keluar??? Kenapa? Sakit?? Ponselnya juga tidak aktif..?"
"Kakak tadi putus dengan kak Celia. " Gumam Lexy.
Gienka terperanjat. "Putus??? Kok putus??? Berantem ya???"
Lexy menggelengkan kepala nya, dan meminta Gienka agar menemui Axel sehingga bisa bertanya langsung pada lelaki itu. Berbicara mengenai Celia, hanya membuat Lexy kesal saja. Lexy tahu bahwa kakaknya merasa hancur dan sedih sekali saat ini, tetapi di depan orang tua nya tadi mencoba tegar dan kuat agar mereka tidak terlalu mengkhawatirkannya. Tetapi sejak orang tua nya pergi tadi, Axel sama sekali tidak keluar kamar. Entah apa yang saat ini sedang di pikirkan oleh Axel. Lexy senang karena Gienka datang dan meminta agar Gienka bisa menemui Kakaknya, berbicara, sehingga Axel bisa mengurangi sedikit kesedihannya. Kedekatan Axel dan Gienka selama ini sudah seperti saudara sehingga tidak ada sesuatu yang di tutupi di antara mereka.
Gienka berdiri dan meninggalkan Lexy di ruang tamu. Gienka penasaran dengan apa yang terjadi antara Axel dan Celia hingga mereka bisa putus. Hal itu pasti membuat Axel sedih sekali. Kamar Axel ada di lantai satu, sehingga Gienka tidak perlu menaiki tangga. Kamar Axel ada di bagian belakang. Gienka lekas menuju kesana dan mengetuk pintu kamar lelaki itu.
"Axel....! Buka pintu nya, aku membawa kue kesukaanmu..!" Gienka setengah berteriak sambil mengetuk pintu kamar Axel.
Tak lama Axel membuka pintu dari dalam, mencoba melempar senyumnya pada Gienka. "Gie.. Kau kesini??"
"Ya... Aku tadi dari luar, dan membeli kue dan macaroon untuk Lexy, jadi aku mampir...! Ngobrol di belakang yuk..???" Ajak Gienka.
Axel menganggukkan kepala nya dan menyuruh Gienka masuk. Dari kamar Axel ada pintu yang langsung terhubung dengan area halaman belakang rumah. Mereka pun menuju kesana dan duduk. Gienka mengeluarkan minuman dan juga kue yang di beli nya tadi untuk di nikmati bersama Axel, sedangkan kue lainnya serta macaroon di ruang tamu, dan nikmati oleh Lexy.
"Kenapa Xel??! Wajahmu terlihat muram??? Apa terjadi sesuatu..?? Kau bertengkar ya dengan Celia?? Tadi Lexy bilang kau putus dengannya..! Coba cerita.. Mungkin aku bisa membantu mu..?" Ucap Gienka.
Axel menundukkan kepala nya. Dia mencoba berpikir, darimana dulu dia harus mulai bercerita. Mengingat dia sebenarnya merasa malu pada Gienka, karena sebelumnya Gienka sudah mengingatkannya agar tidak datang ke rumah Celia membawa orang tua nya, karena Gienka takut hal yang tidak di inginkan terjadi. Adanya ternyata kekhawatiran Gienka benar terjadi. Sesuatu yang tidak di inginkan terjadi dan sekarang hubungannya dengan Celia harus berakhir karena itu.
Axel tersenyum malu. "Aku bingung harus memulainya darimana, dan aku juga malu padamu Gie..!"
"Malu???? Kenapa Malu??? Sensitif ya???" Tanya Gienka.
Axel menggeleng.
"Lalu??? Kenapa malu??? Kita sudah bersahabat sejak lama Xel, dan tidak pernah ada yang kita rahasiakan selama ini, cerita saja, supaya itu bisa mengurangi bebanmu..!" Pinta Gienka lagi.
"Apa yang kau khawatirkan benar Gie, sesuatu yang buruk telah terjadi..!"
Gienka kembali mengernyit. "Kekhawatiranku tentang apa Xel??? Celia punya laki-laki lain???"
Axel kembali menggelengkan kepala nya. "Aku membawa Mama dan Papa ke rumah Celia, untuk memenuhi keinginannya, tetapi sampai disana kedatangan kami tidak di Terima dengan baik, dan justru kami di hina habis-habisan oleh keluarga Celia..!" Gumam Axel sedih.
"Di hina???? Di hina bagaimana??? Kok bisa di hina???"
Axel kemudian menceritakan segala nya tentang bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk datang kesana karena alasan Celia, dan tidak ingin Celia meragukannya, itulah kenapa dia akhirnya setuju untuk datang. Tetapi kemarahan Celia membuatnya tidak mau mengaktifkan ponselnya sehingga Celia tidak bisa membaca pesan yang di kirim Axel, yang memberitahu jika dia akan datang bersama keluarganya. Sampai disana ternyata keluarga Celia terkejut karena Celia ternyata juga belum memberitahu kedatangan Axel dan keluarga nya.
Saat bertemu dengan Mama Celia dan Oma Celia, Axel langsung mengungkapkan tujuannya datang bersama keluarga nya. Dan saat itu juga kemarahan Mama Celia memuncak dan Mama Celia mulai menghina orang tua Axel, mengatakan hal buruk dan tidak akan pernah menerima Axel di dalam keluarga mereka karena Axel bukanlah keluarga yang kata raya, dan tidak memiliki perusahaan sendiri, melainkan hanya bisa bekerja untuk orang lain. Dan pekerjaan Axel sebagai pemain sepak bola juga di hina karena mereka percaya pekerjaan itu tidak akan bisa menghidupi Celia nanti nya.
"What....???? Mereka mengatakan hal seburuk itu padamu dan Om tante??" Tanya Gienka seolah dia enggan mempercayai cerita Axel.
"Iya Gie... Dan kau pasti tahu bagaimana tabiatku kan??? Aku paling tidak bisa mendengar jika ada orang lainy ang coba menghina orang tua ku, jika aku saja yang di hina aku rasa aku tidak akan mempermasalahkannya, tetapi masalahnya Mama dan Papa juga di hina..!" Ujar Axel.
"Lalu kau memilih mengakhiri hubunganmu dengan Celia???" Tanya Gienka.
Axel mengangguk.
"Kau memilih jalan yang benar, aku mendukungmu, bukan karena kau putus dari Celia, tetapi karena kau memilih jalan yang benar untuk melindungi harga dirimu dan keluarga mu.. Aku masih tidak percaya di masa sekarang, masih ada orang yang berpikiran dangkal dan feodal seperti mereka yang hanya melihat segala sesuatu hanya dari materi saja.. Ciiihhhh... menjijikkan sekali..!"
"Aku mengambil keputusan yang menurutku itu baik, walaupun jika boleh jujur aku masih sangat mencintai Celia..!"
Gienka menepuk pundak Axel. "Untuk apa kau mempertahankan cintamu jika pada akhirnya kau hanya akan di jadikan bahan hinaan oleh orang-orang seperti Mama dan Oma nya Celia... Kau laki-laki, harga dirimu lebih tinggi, masih banyak perempuan di luar sana yang mau denganmu.. mereka itu toxic, mau tidak bisa terus memaksakan hubunganmu dengan Celia terus berjalan... Satu-satunya nya cara untukembungkam mulut manusia seperti mereka itu adalah pembuktian Xel... Buktikan bahwa pekerjaanmu tidaklah serendah yang mereka pikirkan, jadikan hinaan mereka sebagai penyemangatmu, jangan malah menjadikanmu patah semangat... Yakinlah, suatu saat mereka akan menyesalu semua yang pernah di katakannya padamu..."
"Aku juga berpikir seperti itu Gie... "
Gienka tahu bahwa Axel sangatlah mencintai Celia, dan hal ini pasti sangat melukai Axel dan sesuatu yang sangat berat yang harus Axel tanggung. Tetapi Axel memutuskan sesuatu yang menurutnya benar. Siapapun tidak akan Terima jika orang tua nya di hina dan di rendahkan harga dirinya, meskipun berat Axel tetap memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Celia. Gienka juga senang karena hubungan Axel sudah di akhiri, karena sudah seperti dugaannya bahwa ada sesuatu yang mengganjal pada diri Celia dan keluarga nya. Yang ternyata hal itulah yang selama ini membuat keluarga Celia tidak menyukai Axel, yaitu karena Axel bukanlah dari keluarga kaya raya. Pemikiran picik dan dangkal, karena harga diri seseorang harus di jatuhkan hanya karena tidak memiliki materi yang banyak. Padahal yang lebih penting dari semua itu adalah ketulusan dan niat baik Axel pada Celia. Karena sangat jarang ada laki-laki yang meminta langsung kepada orang tua perempuan yang di sukai nya untuk bisa di ijinkan menjalin hubungan serius. Axel sudah mencoba melakukan yang terbaik yang dia rasa mampu, tetapi ternyata niat baik dan ketulusannya tidak di hargai, dan pada akhirnya Axel memilih mundur.
Gienka yakin di luar sana masih banyak perempuan yang bisa di cintai Axel dan menerima segala kekurangan Axel dan keluarga nya tanpa harus memandang fisik dan materi.
"Sekarang berfokuslah pada apa yang kau kerjakan, hal itu akan membuatmu melupakan apa yang hari ini terjadi, perlahan kau akan bisa menerima semuanya dengan baik, lupakan Celia dan jangan membencinya ataupun keluarga nya meskipun mereka meninggalkan sesuatu yang menyakitimu, karena kebencian hanya akan semakin memupuk dendam dan menambah dosa saja.." Ujar Gienka sambil menepuk pundak Axel untuk memberi semangat kepada sahabatnya itu.
"Sometimes kau akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kau harapkan, Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukanmu dengan perempuan yang mau menerima segala kekuranganmu, dan perempuan itu akan membuatmu bahagia di setiap waktu, kita manusia hanya bisa berusaha dan menunggu kapan waktu itu akan tiba... Mungkin sekarang dia juga sedang menunggumu, atau mungkin dia masih bersama orang yang salah, dan belum waktunya untuk bisa bertemu denganmu.. Cinta akan menemukan jalannya sendiri nanti jika sudah waktu nya. Kau harus semangat dan menyerahkan semua nya pada Tuhan..!" Ujar Gienka lagi.
Axel melempar senyumnya. "Thanks ya Gie... Kau memang sahabat terbaikku, dan selalu ada saat aku membutuhkan seseorang yang bisa menjadi tempat ku curhat.. Aku akan melupakan Celia perlahan dan memulai berfokus pada impianku.. Aku juga berdoa adamu agar suatu saat kau bisa memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanmu pada Kyros dan dia menyambut cintamu, seperti janjinya saat kecil dulu.. Hehehe..!"
. "Amin...!"
★★★★★
Gienka sudah sampai di rumah tepat saat keluarga nya sedang berada di ruang makan untuk akan malam. Tadi Gienka sempat di tawari Axel agar makan malam di rumahnya saja, tetapi Gienka menolak karena dia sudah di tunggu keluarganya di rumah. Gienka pun pulang dari rumah Axel..
"Hai sayang.... Kau datang di waktu yang tepat..!" Ucap Ariel.
Gienka menyalami Papa nya, dan mencium pipi Ariel. "Malam Pa.. Maaf telat..." Ucap Gienka kemudian beralih menyalami dan mencium Mama nya.
"Papa maklum. kalau Axel ada disini kau pasti akan terlambat pulang...!"
Gienka terkekeh. Memang benar, jika sudah bertemu Axel, Gienka suka lupa waktu karena terlalu keasyikan mengobrol. Dan tadi banyak hal yang Gienka obrolan dengan Axel. Gienka juga memberi semangat kepada Axel untuk tidak terus memikirkan Celia dan apa yang sudah terjadi hari ini karena Gienka tidak mau jika Axel justru memupuk dendam yang berlebihan pada Celia dan Keluarga nya, karena itu bukanlah hal yang bagus.
"Lexy pulang ya kak???" Tanya Geffie.
"Iya, dia pulang..! " Jawab Gienka.
"Yah, tau gitu tadi aku ikut..!"
"Kau saja pergi sejak pagi, bagaimana kakak akan mengajakmu..!"
"Besok kita kesana lagi ya???"
"Iya...!" Jawab Gienka lagi sambil mengambil nasi dan lauk untuk makan malamnya.
"Memangnya mengobrol apa saja dengan Axel??? Sepertinya obrolan kalian tidak ada habisnya..!" Tanya Maysa.
Gienka mengunyah makanannya kemudian menelannya dan menatap Ariel dan Maysa. Entah kenapa dia ingin menceritakan apa yang di alami oleh Axel dan keluarga nya siang tadi. Gienka merasa kasihan sekali kepada mereka yang harus menerima cacian dan hinaan yang seperti itu. Dan Gienka juga bisa melihat raut wajah sedih dan juga penuh kekhawatiran dari orang tua Axel tadi saat bertemu. Mereka pasti memikirkan Axel, tahu Axel sangat mencintai Celia, dan mungkin khawatir dengan Axel.
"Pa... Ma... Sebenarnya Axel bercerita sesuatu kepadaku tentang kejadian siang tadi yang di alaminya dan orang tua nya...!" Ujar Gienka.
"Kejadian??? Kejadian apa??" Tanya Ariel.
Gienka menceritakan semuanya kepada keluarga nya tentang apa yang di alami oleh Axel dan orang tua nya siang tadi. Dan juga bercerita tentang kesedihan Axel dan orang tua nya setelah di hina. Hingga Axel harus mengakhiri hubungannya dengan Celia karena Axel tidak mau terus mendapatkan hinaan dari mereka.
"Berani sekali mereka menghina orang seperti itu..!" Suara Ariel meninggi. "Memangnya mereka sekaya apa sampai berani melakukan hal hina seperti itu.. Penasaran siapa orang tua Celia itu... mereka harus di beri pelajaran agar tidak macam-macam lagi pada orang lain..."
"Aku sendiri tidak pernah tahu seperti apa orang tua dan Oma Celia, karena yang Axel pernah cerita bahwa orang tua Celia sudah bercerai, tetapi Axel bilang Papa Celia sangat baik sekali, jauh berbeda dengan Mama Celia yang masih menganut feodalisme.. "
"Alex dan Erina pasti sedih sekali... Di jaman seperti ini masih saja ada orang yang bersikap seperti itu, menyakiti orang lain dengan menghina nya itu sangat tidak di benarkan..!" Timpal Maysa.
"Itulah Ma, aku juga bisa melihat kesedihan Om Alex dan Tante Erina tadi, tetapi aku rasa kesedihan mereka bukan karena penghinaan tetapi lebih kepada kekhawatiran mereka kepada Axel, ya kita tahu sendiri Axel sangatlah menyayangi dan mencintai Celia..! Tahu bahwa Axel akan melewati masa yang sulit saat ini..!"
"Tetapi bagus Axel putus dengan si Celia, berhubungan dengan keluarga Celia yang seperti itu hanya akan membuat sakit hati saja, dan Papa yakin jika di lanjutkan, Axel justru akan jadi bulan-bulanan penghinaan mereka...!" Ucap Ariel.
"Ya Pa, aku sudah meminta Axel agar melupakan Celia pelan-pelan, dan dia harus lebih fokus dengan pekerjaannya supaya lebih cepat move on, aku juga meminta untuk berfokus lalu membuktikan pada keluarga Celia bahwa dia bisa sukses dengan pekerjaan nnya yang sekarang, supaya keluarga Celia menyesal sudah menghina nya...!"
"Orang seperti itu memang harus di bungkam dengan pembuktian..!" Ucap Ariel dan melanjutkan makan malamnya, tetapi Ariel sedang memikirkan sesuatu tentang Axel. Cukup lama dia berpikir tetapi kemudian tersenyum dan menatap Gienka. "Gienka sayang...!" Panggil Ariel.
"Ya Pa...?" Jawab Gienka.
"Papa punya cara untuk bisa membantu Axel..!"
"Membantu??? Papa punya cara apa???"
Ariel tersenyum dan menjelaskan ke Gienka bahwa dia akan membantu Axel dengan caranya, yaitu dia akan mencoba menghubungi kolega nya yang ada di Thailand dan akan berdiskusi untuk bisa menjalin kerja sama dengan tim sepak bola yang di bela Axel sekarang. Ariel akan mencoba membeli beberapa persen saham disana dan nanti akan mencoba untuk melakukan sesuatu pada tim sepak bola itu, sehingga bisa membantu Axel dan teman-temannya untuk bisa menjadi tim sepak bola yang lebih baik lagi. Ariel pernah mendengar dari beberapa kenalannya yang pernah mengakusisi sebuah tim sepak bola dan mereka banyak menshare pengalamannya itu, dan pernah di tawari juga, tetapi saat itu Ariel menolak dan belum ada keinginan mengenai hal itu.
Tetapi entah kenapa dia tiba-tiba merasa ingin sekali membantu Axel setelah mendengar cerita Gienka tentang penghinaan yang di Terima Axel dan keluarga nya. Ariel merasa perlu membantu Axel, mengingat Axel juga sudah di anggap nye seperti anak sendiri. Dan Ariel juga sangat dekat dengan orang tua Axel. Mereka adalah orang baik dan semuanya pekerja keras, sehingga Ariel selalu bersimpati dan salut pada mereka. Hal itulah yang membuat Ariel sekarang ingin membantu Axel, dan mendukung Axel untuk bisa menjadi pemain sepak bola yang lebih baik lagi sehingga Axel bisa membungkam mulut jahat keluarga Celia.
"Serius Papa akan melakukannya???" Tanya Gienka tidak percaya.
"Iya sayang... Tetapi jangan bilang dulu pada Axel, karena butuh waktu lama untuk menyiapkan kerja sama yang bisa di bilang cukup besar itu, dan Papa juga harus melakukan riset terhadap tim sepak bola Axel itu, apakah tim itu layak atau tidak..?" Ujar Ariel.
Gienka mengangguk dan senyumnya melebar. "Iya Pa.. Gie tahu dan mengerti... Ahhh thank you Papa Iel sayang... Kau memang terbaik...!" Gienka memundurkan kursi makannya dan langsung memeluk Ariel.