
"Belum Om... Kami belum pernah membahasnya.. " Jawab Zayan jujur. "Selama ini kami hanya fokus menjalani hubungan kami sewajarnya saja, dan kami tidak pernah atau belum membahas mengenai hal yang satu itu, karena bagi saya memikirkan pendidikan kami jauh lebih utama di banding hal itu, yang mungkin saja masih sedikit jauh, jadi belum ada obrolan yang demikian...!"
Aditya melempar senyumnya. Senang mendapati kejujuran Zayan yang menjawab pertanyaannya dengan baik. "Om menyukai jawabanmu, kalian memang harus fokus pada pendidikan kalian, dan menganggap hubungan kalian sebagai penyemangat belajar satu sama lain...!"
"Ih Apap, kenapa harus bertanya seperti itu sih??" Kyra memprotes.
"Apap hanya ingin tahu saja, memangnya tidak boleh??? Toh Apap juga tidak akan memaksamu dan Zayan untuk melakukan itu...!"
"Tidak masalah jika kalian belum berniat untuk membicarakan mengenai hal itu, karena itu adalah hak kalian juga banyak yang harus di siapkan ketika memulai sebuah hubungan yang serius, dan lebih baik fokus dulu dengan pekerjaan kalian, menyiapkan diri untuk hal itu juga butuh banyak persiapan, dimana dalam berumah tangga tidak hanya butuh cinta, tetapi banyak hal yang harus di persiapkan.. Kami orang tua hanya akan memantau dan menasihati kalian jika itu di perlukan...! " Ujar Cahya dengan bijak.
"Iya Tante... Itu juga sebenarnya yang jadi alasan saya kenapa saya masih belum berani membahas hal itu dengan Kyra, karena di butuhkan banyak persiapan, bukan hanya cinta saja yang di jadikan modal untuk ke jenjang yang lebih serius, tetapi persiapan mental dan lain-lain juga harus disiapkan serta di pertimbangkan...!" Zayan menimpali.
Aditya pun meminta Zayan agar tidak tersinggung dengan pertanyaannya tadi serta menjelaskan jika dia hanya ingin mengetahui sejauh mana hubungan Zayan dengan Kyra. Sekali lagi Aditya menekankan bahwa dia tidak bermaksud untuk menekan Zayan ataupun Kyra. Aditya tidak memaksa mereka untuk segera menjalin hubungan serius tetapi justru ingin memberi mereka ruang untuk bisa saling mengenal satu sama lain, lebih dekat lagi dan saling memahami. Karena ini kesempatan yang bagus, mereka tidak lagi menjalin hubungan jarak jauh, sehingga bisa punya banyak kesempatan menghabiskan waktu bersama tetapi tetap harus menjaga batasan yang ada. Karena Aditya tidak mau jika Kyra atau Zayan melakukan sesuatu di luar batasan sebelum mereka menikah. Karena laki-laki yang baik adalah dia yang bisa menjaga kehormatan gadis yang di cintainya, sampai nanti memutuskan untuk menikah. Dan Gadis yang baik adalah dia yang bisa menjaga diri dan kehormatannnya dari laki-laki yang belum menjadi suaminya. Itulah pesan yang selalu Aditya dan Cahya sampaikan kepada Kyra dan juga Kyros selama ini.
Sebenarnya Aditya tidak mau kenakalan di masa dulu menjadi contoh buruk bagi Kyra dan Kyros. Sebelum menikah dengan Cahya, dia pernah melakukan kesalahan besar yaitu berhubungan tanpa ikatan pernikahan, selain berdosa, dia juga seperti sudah merendahkan perempuan. Setelah melakukan itu, dia memang merasa ada kepuasan tersendiri tetapi ada masa dimana dia selalu di hantui oleh rasa bersalah dan dosa besar kepada Tuhan, Aditya juga merasa bahwa kebaikan yang di ajarkan orang tua nya seolah tidak berguna, sehingga dia selalu di ikuti oleh rasa bersalah pada orang tua nya juga. Hal seperti itu lah yang tidak boleh di lakukan lagi, apalagi oleh Kyra ataupun Kyros. Aditya ingin anak-anaknya menjadi orang yang baik, bertanggung jawab dan taat kepada ajaran serta nilai moral dari agama yang mereka anut. Karena kebaikan yang di lakukan selalu akan membawa hal positif untuk diri sendiri.
Aditya akhirnya menyadari setiap kesalahannya itu ketika dia menikah dengan Cahya. Dimana Cahya masih menjaga kehormatannya dengan baik, dan memberikan itu kepada Aditya yang menjadi suaminya. Mendapati itu, Aditya merasa tertampar dan di sadarkan secara langsung, bahwa masih ada wanita yang seperti Cahya yang bisa menjaga kehormatan dan mahkota nya dengan baik, menghadiahkan itu untuk suaminya. Dari situlah Aditya merasa jijik dengan dirinya sendiri karena lelaki sepertinya mendapatkan istri seperti Cahya yang begitu luar biasa, Aditya tidak berhenti bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan telah begitu baik kepadanya dan mengirimkan Cahya sebagai istrinya. Seperti namanya, Cahya hadir sebagai cahaya yang membuat kehidupan Aditya semakin baik, juga Aditya menjadi mengerti bagaimana harus bersikap serta selalu mencintai Cahya di setiap detiknya. Aditya juga selalu meminta ampun atas kesalahan yang di perbuatnya kepada Tuhan dan berjanji bahwa kelak dia akan mendidik anak-anaknya agar menjadi orang yang baik dan selalu mematuhi norma yang ada, juga mengerti tentang yang baik dan juga yang buruk.
Setelah makan malam, Aditya mengajak Zayan untuk ke ruang tamu dan mengobrol. Cahya dan Kyra juga ikut bergabung. Aditya mencoba memposisikan diri sebagai seseorang yang humble pada Zayan, agar Zayan merasa nyaman. Aditya tidak mau pada nantinya Zayan merasa tidak enak terhadapnya. Aditya tahu Zayan adalah pribadi yang baik, sehingga dia merasa Zayan adalah pilihan yang tepat untuk Kyra. Dan Kyra selama ini juga terlihat nyaman bersama Zayan, hal itu juga yang membuat Aditya senang.
Sementara itu, di tempat lain, Kyros keluar dari mobilnya dan masuk ke sebuah restoran untuk brunch. Dia semalam di hubungi oleh Camilla dan meminta agar bisa bertemu, karena kebetulan Camilla saat ini sedang berada di Washington, dan juga ini adalah hari libur nasional di Amerika, sehingga Kyros tidak sedang bekerja alias libur. Kyros pun setuju dan akan datang untuk menemui teman baik dari Kyra itu.
Kyros masuk ke restoran dan melihat sekeliling untuk menemukan Camilla yang sudah memberitahu nya tadi jika dia sudah sampai di restoran. Camilla yang sedang duduk melihat Kyros, dengan cepat dia melambaikan tangan pada lelaki itu. Kyros tersenyum dan lekas menghampiri Camilla.
"Hai Mil...!" Sapa Kyros dan langsung menyalami Camilla.
"Baik Mil...!"
"Syukurlah, senang bisa bertemu denganmu lagi. Duduk Ky, kau mau pesan apa??? " Camilla menyerahkan buuku menu kepada Kyros kemudian memanggil pelayan.
Kyros memesan kopi dan juga sandwich. Pelayanan mencatat pesanan lalu pergi.
"Kau ada di Washington sejak kapan Mil? Kau datang untuk hal penting atau sekedar jalan-jalan saja??? " Tanya Kyros.
Camilla tersenyum. "Aku datang sejak lusa kemarin Ky karena aku mendapat panggilan untuk test dan interview dari salah satu perusahaan yang ada disini, hasilnya langsung di umumkan, aku di Terima..."
"Kau di Terima??? Wow congratulation Mil... Btw di perusahaan apa???"
Camilla pun menyebut nama perusahaan yang akan menjadi tempatnya bekerja. Dan Kyros mengapresiasi nya karena perusahaan itu adalah perusahaan besar dan cukup terkenal disini.
Camilla terus menghiasi wajahnya dengan senyuman, dia merasa senang sekali bisa melihat Kyros dan bertemu dengan lelaki yang sangat di sukainya itu. Sejauh ini dia masih mengharapkan Kyros bisa lebih dekat dengannya, karena sampai sekarang Kyros masih belum peka juga dengannya padahal dia sering mencoba mencari perhatian pada lelaki itu. Bahkan Camilla dengan sengaja mencari pekerjaan di Washington agar bisa dekat dengan Kyros, berharap suatu saat nanti dia dan Kyros bisa menjalin hubungan. Sudah banyak hal yang ingin Camilla lakukan agar Kyros bisa tertarik kepadanya,
"Ky... Aku ingin meminta bantuanmu???" Ucap Camilla.
"Meminta bantuanku?? Bantuan apa Mil??? "
"Eh aku kan akan bekerja disini, bisakah kau membantuku mencari tempat tinggal, mencari apartemen yang bagus dan harganya tidak terlalu mahal, aku belum begitu mengenal Washington, kau yang lebih lama tinggal disini, jadi jika tidak keberatan aku minta bantuanmu, bagaimana Ky??? Kau mau tidak???" Tanya Camilla.