
Kyra dan Kyros duduk di rooftop mereka menikmati suasana malam yang baru saja tiba. Langit terlihat cerah dan satu persatu bintang mulai menampakkan dirinya dilangit, menambah keindahan malam ini. Kyros sudah merasa cukup beristirahat, dan memilih duduk santai bersama adiknya yang sudah sangat lama tidak dia lakukan. Ada banyak hal yang ingin Kyros bicarakan dengan Kyra.
"Apa kesibukanmu di kantor saat ini Ra?? Kudengar Apap sudah mengangkatmu jadi direktur di salah satu anak cabang perusahaan???"
Kyra menoleh dan tersenyum. "Itu tugas yang berat tapi aku berusaha melakukan yang terbaik, harusnya kau yang ada di posisiku" Gumam Kyra.
"Kau tahu kan Ra, bahwa passion ku bukan dalam hal itu! Tapi kau pantas mendapatkannya karena kerja kerasmu, Apap memilihmu bukan karena kau putrinya tapi karena dia merasa kau sudah mampu melakukannya, kita harus bersyukur memiliki orang tua yang selalu mendukung setiap langkah kita dan mereka tidak memaksakan kehendaknya agar kita berdua bisa jadi yang mereka mau, tetapi mereka membiarkan kita melakukan apa yang kita inginkan. Dan aku yakin kau melakukan ini semua adalah keinginamu sendiri tanpa paksaan dari Apap, karena kau menyukainya, benar kan???"
Kyra mengangguk dan kembali tersenyum. "Tentu saja aku melakukannya karena keinginanku sendiri, kau pasti tahu alasanku yang sebenarnya kenapa aku ingin belajar tentang ilmu bisnis sejak dulu, ya karena aku melihat bahwa selain sukses, Apap juga terlihat sangatlah keren, fotonya sering terpampang dimajalah bisnis dan itu membuatnya semakin terlihat luar biasa, aku selalu bangga kepadanya itu sebabnya aku ingin sekali seperti dia"
"Kau juga pasti nanti akan seperti Apap, bisa jadi lebih darinya" Kyros menimpali lagi ucapan Kyra untuk lebih memotivasi adiknya itu.
"Untuk sekelas pengusaha dan sebagai seorang Ayah, kurasa Apap kitalah yang terhebat, dan semua kehebatannya diturunkan padamu juga kepadaku, jadi tidak akan ada yang bisa menandinginya" Ucap Kyra dengan penuh kebanggaan.
Kyra merasa bersyukur dan membenarkan ucapan Kyros bahwa kedua orang tua mereka adalah orang tua yang sangat baik dan pengertian. Aditya dan Cahya tidak pernah sekalipun melarang dia dan Kyros melakukan hal yang mereka berdua sukai, selagi itu positif dan mengandung kebaikan, tentu Amam dan Apapnya itu akan mendukung. Kyra terkadang sedih ketika melihat beberapa temannya harus melakukan apa yang orang tua mereka inginkan yang jauh dari hasrat dan keinginanya sendiri. Seperti ketika mereka menyukai memasak dan ingin sekolah memasak tetapi keluarga mereka menginginkan mereka melanjutkan bisnis keluarga yang jauh dari passion mereka. Akhirnya mereka terpaksa memilih kuliah dengan jurusan pilihan orangtua mereka, lalu yang terjadi adalah ketidaknyamanan dan perasaan tidak ikhlas yang justru membuat mereka merasa terkekang.
Akan tetapi beruntungnya Kyra dan Kyros tidak memiliki nasib seperti beberapa temannya. Cahya dan Aditya sejak dulu selalu mendukung mereka. Kyra sangat tahu bahwa sebenarnya Apapnya menginginkan agar dia dan Kyros bisa mewarisi bakatnya dalam menjalankan bisnis keluarga, sayangnya Kyros memang tidak berhasrat disana. Kyros lebih menyukai belajar ilmu astronomi dibanding dengan bisnis, meskipun begitu Apapnya tetap mendukung Kyros mewujudkan keinginan dan cita-citanya. Dan jadilah Kyros seperti saat ini, menjadi kebanggaan seluruh keluarga bahkan namanya sudah dikenal banyak orang. Diusia yang masih muda, Kyros sudah meraih apa yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sementara Kyra sendiri sejak dulu sudah berhasrat ingin seperti Apapnya, sukses dengan bisnisnya dan disegani banyak orang karena prestasinya. Kyra sangat ingin seperti itu walaupun tentu tidaklah mudah bisa menjadi seperti Apapnya karena semua butuh usaha dan kerja keras yang super ekstra.
Ponsel Kyra tiba-tiba bergetar di atas meja dan ada sebuah pesan masuk. Kyra membukanya dan itu adalah pesan dari securitynya.
..."Non Kyra, Ibu dan Bapak sudah sampai, mereka baru saja turun dari mobil"...
Kyra tersenyum membaca pesan itu, karena tadi dia memang yang meminta kepada security rumahnya agar memberitahunya jika kedua orangtuanya sudah datang. Kyra langsung melompat dari kursi yang dia duduki. "Ky...! Amam dan Apap sudah sampai, masuklah ke kamarmu, aku akan turun sekarang!"
Kyros mengangguk lalu ikut beranjak dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya, sementara Kyra berlari masuk ke dalam untuk menemui kedua orangtuanya.
Kyra keluar dari lift dilantai 2 lalu kembali berlari menuju tangga dan turun dengan tangga ke lantai 1.
"Malam Mam, Pap??? Kalian baru sampai??? Mana Oma dan Opa???" Tanya Kyra yang langsung memeluk Cahya.
"Mereka masih ada urusan dan akan kembali nanti!" Jawab Cahya.
"Owh....! Aku menunggu kalian untuk makan malam, tapi kalian cukup lama! Aku berpikir kalian sudah makan diluar padahal aku sudah cape-cape memasak. Dan sekaarang aku lapar sekali!" Gumam Kyra sambil mengelus perutnya.
Cahya dan Aditya saling berpandangan sambil tersenyum. Aditya kemudian mengusap kepala Kyra dengan lembut. "Maaf sayang...! Tadi kami terjebak macet, tentu saja kita akan makan malam bersama karena kau sudah memasak makanan yang pastinya lezat, tapi beri kami waktu untuk mandi dan berganti pakaian!" Ujar Aditya.
"Tapi jangan lama-lama...! Nanti panggil aku dikamar kalau sudah selesai"
"Iya!" Jawab Cahya.
Mereka bertiga pun naik ke kamar masing-masing.
★★★
Setelah selesai bersih-bersih, Cahya memanggil Kyra di kamarnya dan mengajak putrinya itu untuk turun dan makan malam bersama. Kyra pun mengiyakan kemudian mengirimi Kyros pesan agar bisa bersiap sebelum kejutan dimulai.
Aditya, Cahya dan Kyra pergi ke ruang makan bersama. Saat hendak duduk Cahya terkejut karena semua makanan yang ada di depannya adalah makanan kesukaan dari Kyros. "Kyra sayang??? Kau memasak makan malam sebanyak ini??? Tidak biasanya???" Tanya Cahya dengan penuh keheranan, karena biasanya untuk makan malam, putrinya itu hanya akan makan makanan ringan saja, seperti steak atau pan seared salmon dan sejenisnya kemudian menghindari makan nasi. Tetapi malam ini Kyra justru menyajikan makanan komplit seperti nasi, sup ikan serta aneka gorengan dari ikan dan udang, juga ada sambal sebagai pelengkapnya, semua itu tidak lain adalah kesukaan Kyros.
Kyra tersenyum, menarik kursi dan duduk. "Sekali-kali Mam kita makan malam dengan yang berat-berat hehehe. Umhhh Amam dan Apap tidak suka ya???" Kyra memasang wajah sedih.
"Tidak... Mana mungkin Amam tidak suka, kau sudah membuatnya dengan susah payah!" Cahya juga duduk di kursi makan, disusul Aditya.
Cahya kemudian membalik piring yang ada di depannya juga yang ada di depan Aditya. Dan mulai mengambilkan Aditya nasi terlebih dulu. "Semua masakan yang dibuat oleh putriku aku sangat menyukainya, dia memasak penuh dengan cinta jadi rasanya akan selalu istimewa, hanya saja semua makanan ini mengingatkan Amam pada Ky, andai saja dia ada disini, semua ini pasti akan habis dilahapnya!"
"Tentu saja aku akan melahapnya sampai habis, karena aku ada disini...!" Sahut Kyros tiba-tiba.
Suara itu tentu saja membuat Cahya dan Aditya langsung menoleh. Senyum mereka tersungging, setelah melihat Kyros sedang berjalan menuruni tangga. Cahya dan Aditya langsung berdiri dan masih tidak menyangka jika putra kebanggaannya itu ada disini. Kyros melangkah pelan dan Cahya memeluk Kyros dengan erat. Airmatanya oecah menumpahkan seluruh kebahagiaan serta kerinduannya pada putranya.
"Kapan kau kembali??? Kenapa tidak memberitahu kami? Kami akan menjemputmu!" Gumam Cahya.
"Aku kembali siang tadi Mam..! Dan Kyra yang menjemputku, jika aku memberitahu kalian tentu saja itu bukan kejutan namanya???" Kyros melepaskan pelukan Amamnya dan menyeka airmatanya. "Cmon Mam! Kenapa kau malah menangis!"
"Kau dan Kyra anak durhaka, hal sebesar ini dan kalian tidak memberitahu kami"
Kyros tersenyum. "Aku sudah katakan bahwa ini adalah surprise, dan semua ini adalah rencanaku, Kyra hanya mengeksekusinya" Kyros kemudian memeluk Cahya lagi dan Aditya juga terlihat bahagia sekali hingga ikut bergabung memeluk istri dan putranya.
"Kau harusnya melibatkanku juga Ky..! Agar kejutan ini menjadi lebih seru!" Gumam Aditya dan langsung disambut pukulan Cahya di dadanya. Kyros pun terkekeh mendengar ucapan Apapnya.
Mereka kemudian kembali ke meja makan dan mulai menyantap makan malam bersama. Cahya tidak berhenti memarahi Kyra karena putrinya itu sudah berani sekali membohonginya. Aditya juga tidak berhenti mengungkapkan kebahagiaannya dan kebanggaannya pada apa yang sudah dicapai oleh Kyros.
"Yah....! Apap pilih kasi, hanya Ky saja yang dipuji, aku tidak...!!!" Gumam Kyra.
"Tentu saja tidak, Kyra juga adalah putri kebanggaanku, dia cerdas, cantik dan selalu berprestasi, calon CEO Hs Enterprise di masa depan...! Kau pasti nanti akan mengalahkan kakakmu... Lihat saja!!" Ucap Aditya.
Semua orang pun tertawa. Tak lama Camilla pun turun dan meminta maaf karena tadi dia tertidur karena terlalu lelah. Kedatangan Camilla juga mengejutkan Cahya dan Aditya. Kyros pun menjelaskan perihal kedatangan Camilla kesini. Kemudian Aditya mengajak mereka untuk segera makan malam.
Cahya tidak bisa lagi mengungkapkan kebahagiaannya atas kepulangan Kyros kesini. Bahkan terlalu bahagia, Cahya sampai menyuapi Kyros sampai habis. Kyra dan Aditya serta Camilla hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu. Pemandangan dari ungkapan kebahagiaan seorang ibu yang selama bertahun-tahun terpisah dari putranya. Dan Kyros juga terlihat manja tidak seperti kesehariannya yang cool dan cuek serta serius. 10 tahun hidup di luar negeri membuat Kyros juga selalu merasakan kerinduan yang luar biasa pada orangtuanya terutama Amamnya. Kyra sudah tahu itu, Kyros akan bermanja-manja kepada Apapnya terutama Amanya ketika dia pulang ke rumah, jadi Kyra tidak pernah merasa di nomor duakan dan mengerti betul apa yang sedang dirasakan oleh kakaknya dan kedua orangtuanya.
Setelah makan malam selesai, Kyros pergi ke kamar Cahya dan Aditya. Dia menghabiskan malam dengan mengobrol berbagai hal dengan mereka. Sebenarnya Kyros menunggu Oma Opa nya pulang tetapi Aditya mengatakan jika mereka akan pulang terlambat, dan lebih baik Kyros mengejutkan mereka esok hari saja. Karena kelelahan baru jam 8 lebih Kyros sudah mengantuk sekali, di pesawat dia memang tidak bisa tidur dengan nyaman, ya meskipun dia ada di kelas bisnis tetapi tetap saja tidak akan pernah senyaman tidur dirumah.
"Aku ingin tidur disini bersama kalian?? Boleh kan???" Tanya Kyros.
"Tentu saja boleh, kalau kau mau Apap juga bisa memanggil Kyra agar bergabung, tempat tidur ini terlalu luas bisa muat berempat" Ujar Aditya.
Kyros tertawa. "Tidak... Tidak... Jika Kyra ikut bergabung, aku tidak bisa leluasa memeluk kalian berdua!"
Seperti anak kecil, Kyros akhirnya tidur dan Cahya yang duduk bersandar di tempat tidur pun dengan lembut menepuk-nepuk kening Kyros sampai putranya itu benar-benar tertidur pulas.
Aditya menutup laptopnya dan duduk di sisi ranjang, tersenyum bahagia menatap Anaknya yang terlelap. "Dia selalu jadi Ky kecil kita jika pulang, meskipun sekarang sudah dewasa dia tidak malu untuk mengungkapkan perasaannya pada kita terutama padamu, dia selalu senang jika kau menidurkannya" Gumam Aditya.
"Ky ku tidak akan pernah berubah meskipun dia sudah sukses dan membuat kita bangga, dia tetap kesayangan kita semua!" Cahya mencium kening Kyros lalu mengatur posisi untuk tidur dan menarik selimut.
★★★★★★
Keesokan harinya.....
Kyros memberi kejutan pada Oma dan Opanya ketika sarapan, kejutan yang sama seperti kemarin. Suasana sarapan menjadi lebih ceria dan hangat dengan kehadiran Kyros ditengah-tengah mereka.
Setelah sarapan, Kyros memilih menghabiskan waktu bersama keluarganya daripada harus keluar untuk jalan-jalan. Kyros bagaikan perangko yang terus menempel pada Cahya. Obrolan serta canda tawa itu pun berakhir karena Cahya harus menerima telepon. Bersama Camilla dan Kyra ke rooftop untuk bergabung denga Kyros sebelum siang nanti Camilla pergi mengunjungi saudaranya.
Gienka turun dari mobilnya dan menenteng sesuatu yang dititipkan oleh Mamanya untuk Kyros. Gienka menekan bel dan pintu ternyata dibuka oleh Oma Kyra. Gienka pun dipersilahkan untuk masuk.
"Mama membawa sesuatu untuk Ky, jadi memintaku untuk mengantarnya kesini Oma!" Ucap Gienka.
"Elea itu, selalu saja begitu, ya sudah kau naik saja ke atas, Kyros dan Kyra ada di rooftop, Oma baru saja dari sana"
Gienka tersenyum kemudian mengangguk dan melangkah pelan menuju lift untuk ke atas.
Kyra beranjak dari kursinya dan berdiri. Kyros pun menahannya dan menanyakan kemanakan adiknya itu akan pergi. Kyra menjawab jika dia ingin ke kamar mandi karena perutnya sakit. Bergegaslah Kyra berlari masuk ke kamar Kyros. Sementara Kyros dan Camilla kembali melanjutkan obrolan mereka.
Kyros tampak serius membahas kesibukannya ketika di luar angkasa dan Camilla menopang dagunya dengan telapak tangannya sambil tersenyum dan tampak serius mendengarkan Kyros berbicara. Sementara itu angin bertiup sedikit kencang sehingga membuat daun-daun terlepas dari dahannya. Dan ada satu daun kecil yang terbang dan menempel di rambut Camilla. Kyros dengan cepat mengambil daun itu dari sana.
Tak disangka di balik pintu penghubung antara rooftop dengan ruang keluarga, ada Gienka yang berdiri disana dan menyaksikan bagaimana kemesraan antara Kyros dan Camilla. Terlihat Camilla tersenyum menatap Kyros, kemudian bagaimana lelaki itu menggerakkan tangannya di rambut Camilla. Dan setelah itu mereka berdua tertawa bersama dan tampak bahagia sekali. Pemandangan itu tentu saja melukai hati Gienka. Inilah ketakutannya tadi ketika hendak pergi kesini, pemandangan seperti ini yang ingin Gienka hindari. Dengan pedih, Gienka menutup matanya lalu memundurkan langkahnya dan berbalik untuk pergi dari tempat ini.
******
Setelah membalikkan badannya, Gienka membuka matanya dan terkejut ketika melihat Cahya berada tepat di depannya. Cahya tersenyum kepadanya membuat Gienka juga berbalik membalas senyum.
"Gienka sayang...!!! Kau ada disini???"
"Ah iya aunty!" Gienka kembali mencoba untuk tersenyum dan diam-diam mengatur napasnya, dia masih terkejut sekali melihat Cahya.
"Kok berbalik arah? Mau kemana? Itu Ky ada disana, Kyra juga!" Cahya melangkah maju dan menggerutkan keningnya. "Loh... Kyra kemana? Kok tidak ada ya?" Cahya berbalik bertanya.
"Itu dia aunty, aku mau mencari Kyra!" Sahut Gienka kemudian.
"Ayo kesana...! Kau pasti juga ingin bergabung bersama mereka, Kyra mungkin sedang ke kamarnya" Cahya menarik Gienka dan membawanya ke Kyros dan Camilla berada.
Kyros dan Camilla menoleh ketika mendapati Gienka datang. Gienka pun menyapa keduanya dan menahan kesedihannya, berusaha kuat. Kyros berdiri, menarikkan sebuah kursi kemudian mempersilahkan Gienka duduk. Cahya pun menanyakan keberadaan Kyra pada Kyros, dan putranya itu mengatakan jika saat ini Kyra ada di kamar mandi. Cahya lalu meninggalkan ketiganya untuk membuatkan minuman.
"Maafkan aku jika kedatanganku mengganggu waktu kalian berdua!" Gumam Gienka.
"Mengganggu??? Tentu saja tidak Gie, tadi kami bertiga tetapi perut Kyra sakit jadi dia ke kamar mandi. Kau kemarin pergi begitu saja padahal aku ingin berbicara padamu!"
"Aku ada urusan mendesak kemarin, maaf Ky!" Gumam Gienka berbohong.
Gienka bukan sedang ada urusan melainkan pulang ke rumah. Sampai dikamarnya dia langsung menjatuhkan dirinya diatas tempat tidur dan menangis cukup lama. Tangisannya itu bahkan membuat matanya sembab. Kesedihan yang dirasakannya kemarin sangatlah menyiksanya, bahkan ditambah dengan kejadian yang baru saja dilihatnya, membuat Gienka semakin terluka.
Untuk menutupi kesedihannya, Gienka meletakkan paperbag yang dipegangnya ke atas meja, memberikannya pada Kyros. Itu adalah pudding cokelat buatan Elea karena Kyros sangat menyukainya.
"Pudding cokelat buatan Mamamu memang yang terbaik, thanks ya Gie...!" Kyros membuka paperbag itu dan mengeluarkannya.
Dengan lahap dia memakannya sambil memuji kelezatan pudding itu. Gienka hanya menimpali dengan senyuman tipis. Kyros menawarkan pudding itu pada Camilla. Sampai akhirnya Kyra keluar dari kamar Kyros dan menyapa Gienka lalu duduk dan bergabung. Tak lama Cahya juga datang mengantar jus.
Mereka berempat mengobrol, dan Gienka mencoba untuk menahan dirinya tetap berusaha berbaur dengan Kyra dan Kyros. Gienka hanya menimpali sesekali. Sementara Kyra merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu, Gienka tidak biasanya seperti ini. Sejak kemarin entah kenapa sikap Gienka berubah, padahal Gienka selalu ceria dan menjadi pusat perhatian karena ketika berbicara dengan orang dia sesekalu menyelingi dengan candaan.
Kyra menyentuh jemari Gienka dan memandangnya. "Are you okay???" Tanya Kyra.
Gienka tersenyum. "Im okay...!" jawabnya pelan.
Sampai akhirnya Camilla melihat jam tangannya dan mengatakan pada Kyra bahwa sepertinya sekarang mereka harus berangkat ke rumah saudaranya. Ya, Kyra sudah berjanji akan mengantar Camilla mengunjungi keluarganya dan sore atau malam nanti baru akan kembali kesini. Kyra dan Camilla pun beranjaj lalu berpamitan pada Kyros dan Gienka, meminta maaf karena mereka harus pergi.
Saat ini tinggallah Kyros dan Gienka di rooftop. Matahari mulai tinggi dan panasnya sudah mulai terasa, Kyros mengambil remote dan menekan tombolnya sehingga perlahan atap otomatis bergerak sehingga sinar matahari bisa tertutupi. Kyros dan Gienka akhirnya tidak lagi terkena panas matahari.
Kyros melempar senyumnya pada Gienka. "Apa kabar Gie?? Apa kau baik-baik saja??? Tidak biasanya kau banyak diam seperti ini???"
"Aku baik Ky, eh sepertinya aku harus pulang, Kyra tidak ada disini, aku jadi mersa tidak enak...!!" Gienka pun beranjak dari kursi tetapi Kyros dengan cepat meraih pergelangan tangannya.
"Tunggu Gie, kau kenapa buru-buru sekali, duduk dan ayo kita mengobrol, sudah lama kan kita tidak duduk dan mengobrol berdua" Ujar Kyros membuat Gienka kembali duduk di kursi.
Kyros tersenyum dan menatap Gienka dalam-dalam. "Saat aku menghubungi Kyra dan kau yang mengangkatnya, aku sangat senang karena bisa mendengar suaramu lagi, hanya saja saat itu kondisi sedang tidak memungkinkan karena Kyra sakit, dan aku panik juga!"
"Iya! Sebenarnya saat itu aku juga panik bercampur kesal dengan diriku sendiri, karena aku yang mengajak Kyra pergi tetapi aku tidak menjaganya"
"Kau hanya mengatakan padaku bahwa hubungan Kyra dan Zayan sudah berakhir karena Zayan berselingkuh dengan perempuan lain, lalu kejadian yang menimpa Kyra adalah perbuatan dari kekasih baru Zayan, sebenarnya apa yang terjadi Gie?? Aku ingin kau menceritakan semuanya padaku!!"
Cerita itupun mengalir dari mulut Gienka, bagaimana awal mula hubungan antara Zayan dan Kyra berakhir. Dimulai ketika Kyra merasa bahwa semakin hari Zayan semakin terlihat jauh darinya, dan jarang sekali mengirim pesan ataupun menelepon, padahal sebelumnamya itu sering dilakukan. Kemudian Zayan tiba-tiba mengirim pesan singkat pada Kyra dan memutuskan hubungan mereka begitu saja tanpa penjelasan apapun. Merasa aneh Kyra pun mencoba mencaritahu dan akhirnya menemukan fakta bahwa Zayan selama ini sudah bermain api di belakangnya.
"Sebenarnya kejadian di pesta itu aku tidak tahu pastinya, karena yang menyaksikan itu hanya Kyra, perempuan bernama Jelena serta temanku bernama Axel, dan Axel yang akhirnya mengatakan semuanya padaku, karena kau pasti tahu betul bagaimana sikap Kyra, dia selalu memilih diam dan tidak melawan, dari cerita Axel, Jelena mengatai Kyra bahwa Kyra itu tidak bisa menyenangkan Zayan karena Kyra selalu menolak Zayan ketika lelaki itu meminta Kyra menyerahkan tubuhnya, itu sebabnya Zayan lebih memilih Jelena dan mejinggalkan Kyra, singkatnya seperti itu Ky!" Ujar Kyra.
Wajah Kyros langsung terlihat marah. "Kurang ajar Zayan!!! Aku akan membuat perhitungan padanya nanti, awas saja...! Oh iya Gie, mumpung aku disini sekali-kali bawalah pasanganmu, aku juga ingin mengenalnya"
Gienka tersenyum. Kemudian menggerutu di dalam hatinya, mencemooh dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa mendapatkan pasangan sementara laki-laki yang selama ini sudah ditunggunya justru datang dengan membawa perempuan lain. Semua kerunduannya dan harapannya itu langsung luntur seketika dan hanya menyisahkan kesakitan serta luka saja. Pucuk pengharapannya selama ini seolah pupus begitu saja, dan jika mengingat semuanya, Gienka merasa dirinya sangatlah bodoh karena terus berharap tanpa diketahui oleh yang diharaokannya itu.
"Aku tidak pernah memiliki pasangan Ky, hatiku hanya selalu dipenuhi dengan cinta pertamaku, berharap dia suatu saat bisa aku miliki, setiap detik setiap waktu aku tidak pernah berhenti memikirkannya, dia yang selalu ada dihatiku, ketika aku menutup mata bayangannya yang selaku melintas di pikiranku, aku memiliki pengharapan yang begitu besar kepada cinta pertamaku itu tetapi aku tidak akan pernah bisa mewujudkan keinginanku, dia sudah dimiliki oleh orang lain!" Ujar Gienka.
"Kenapa kau tidak mengatakan kepadanya Gie??? Seharusnya kau melakukan itu???"
"Aku sudah ingin mengatakannya, tetapi niatku itu sudah di dului oleh fakta bahwa dia sudah milik orang lain, lalu aku bisa apa sekarang? Selain harus melupakan cinta pertamaku itu, pengharapan ku sudah hilang katika aku melihat semua yang terjadi antara mereka berdua di depan mataku" Gienka melihat jam tangannya. "Aku harus pergi Ky, aku sedang ditunggu oleh adikku, kami akan berbelanja! Aku pergi dulu ya?" Gienka kembali berdiri lalu meninghalkan Kyros begitu saja.