I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 299



Beberapa hari kemudian.......


Gienka keluar dari kamar Kyra bersama Cahya. Hari ini Kyra dan Axel akan pulang untuk pertama kali sebagai suami istri, dan Gienka memutuskan untuk memberikan kejutan kepada mereka berdua dengan menghias kamar mereka dengan berbagai bunga. Kamar itu terlihat sangat indah sekali. Kyra sebelumnya pernah melakukan hal yang sama saat dulu Gienka menikah dengan Kyros sehingga Gienka juga ingin memberikan kejutan yang sama.


Besok mereka berempat juga akan berangkat untuk berbulan madu ke negara Yunani. Sehingga hari ini Kyra dan Axel akan pulang lebih dulu ke Jakarta. Gienka dan Kyros sudah pulang kemarin dan tadi malam mereka menginap di rumah Elea, dan sebelum acara pernikahan Kyra dan Axel, Gienka sudah lebih dulu menginap di rumah Ariel. Dan pagi tadi setelah dari rumah Elea, Gienka kembali ke rumah Kyros untuk mempersiapkan ini semua. Gienka di bantu oleh Cahya dan Oma Kyros untuk menghias kamar pengantin Kyra.


"Kau sudah menyiapkan barang-barangmu???" Tanya Cahya.


"Sudah Mam, aku kembali membawa banyak barang.. Hehehe.. "


Cahya tersenyum. "Tidak masalah, semua barang kesayanganmu kan ada disini..! Besok nikmati liburan dan bulan madu kalian dengan baik meskipun hanya tiga hari... Buat moment yang indah yang akan kalian kenang selama nya.. Dulu Amam dan Apap juga hanya bulan madu selama tiga hari, itu karena Apap mu sangat sibuk sekali, juga karena kami mendapatkan hadiah honeymoon gratis dari Oma dan Opa kalian.. Sam seperti Kyros, Apapmu sangat sibuk hingga tidak ada waktu mengajak Amam pergi.. "


Gienka terkekeh. "Amam tidak memprotes Apap???"


Cahya menggelengkan kepala nya. "Tidak sayang, karena Amam tahu bahwa Apap mu sangat sibuk sekali dan pekerjaan kantor juga tidak bisa di tinggalkan.. Sama seperti dirimu yang tidak pernah protes pada Kyros karena kau tahu bagaimana kesibukan suami mu yang punya tanggung jawab besar pada tempatnya bekerja.. "


Gienka kembali tersenyum. "Iya Mam, aku tidak pernah memprotes Ky, karena bagiku yang terpenting ketika dia di rumah, dia tetap memberikan waktu nya dengan baik, meskipun kadang dia bekerja hingga larut, tetapi dia tahu waktu dan tempat untuk tetap bisa membagi waktunya padaku dengan baik... Amam dan Apap akhirnya pergi bulan madu berapa bulan setelah menikah???" Tanya Gienka lagi.


"Sekitar satu bulan setelah menikah, lebih cepat daripada kau dan Kyros... "


"Ini sedikit terlambat tapi lebih baik daripada tidak pergi sama sekali... Hehehe.. "


"Itu memang benar..,. Jadi manfaatkan itu dengan baik, meskipun selama ini kalian juga bisa berbulan madu di rumah saja tetapi tentu pergi keluar, melihat pemandangan bagus, akan terasa sangat berbeda... Apap mu sendiri sering mengatakan pada Amam bahwa dia juga ingin memberi hadiah padamu dan Kyros pergi ke suatu tempat untuk bulan madu, tetapi Apap mu tidak bisa melakukannya karena terbentur dengan jadwal kerja suami mu, dia tahu bukan perkara mudah mengurus cuti nya, tetapi pada akhirnya suami mu mengambil keputusan besar untuk datang kesini menghadiri pernikahan Kyra sehingga dia benar-benar bisa mengambil libur, dan kebetulan kakak memberi hadiah pada kalian berempat untuk pergi... Jadi nikmati 3 hari itu dengan sangat baik.. "


"Iya Mam..." Jawab Gienka. Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan dia mendapatkan pesan dari Kyros jika sebentar lagi dia akan sampai bersama dengan Kyra dan Axel. Kyros pergi sendiri menjemput mereka di bandara. Kyros menanyakan apakah oersiapannya sudah siap. Dan Gienka menjawab jika semua sudah siap.


"Ky mengirim pesan jika sebentar lagi akan sampai.. Dan bertanya apakah persiapan sudah selesai. " Ujar Gienka memberitahu Cahya.


"Baguslah jika mereka sudah akan sampai, Amam akan ke ruang kerja Apap dulu, kau minta pada mbak Tina agar segera menyiapkan minumannya... "


"Iya Mam..."


Cahya pun pergi ke ruang kerja Aditya, untuk memanggil suami nya dan menyambut Kyra serta Axel. Cahya juga akan memanggil mertua nya.


****


Beberapa saat kemudian.....


Kyros mengemudikan mobil dengan kecepatan pelan, saat sudah memasuki area perumahan tempatnya dan keluarga nya tinggal. Ketika sudah dekat dengan rumahnya tiba-tiba Kyros menghentikan mobilnya.


"Kenapa berhenti Ky???" Tanya Kyra yang duduk di belakang.


"Itu bukannya Om Theo???" Kyros menunjukkan ke depan ketika melihat Theo baru saja keluar dari sebuah taksi dan sedang berdiri di depan gerbang rumahnya.


Kyra dan Axel pun ikut memperhatikannya. "Iya, itu Om Theo... Kenapa dia datang lagi ke rumah kita???? Ayo jalan, dia pasti ingin bertemu Apap.. " Ucap Kyra dan Kyros kembali menjalankan mobilnya.


"Om Theo...!!!" Panggil Kyros sambil menurunkan kaca mobilnya. Pria itu tersenyum pada Kyros. Dan Kyros menekan klakson mobilnya agar security membuka gerbang untuk mereka bisa masuk.


setelah gerbang di buka, Kyros membawa mobilnya masuk dan juga menyuruh Theo masuk juga. Kyra, Axel dan Kyros turun dari mobil dan menyalami Theo. "Apa kabar om???" tanya Kyros.


"Sangat baik Ky... Kalian dari mana???"


"Oh kami dari bandara, saya baru saja menjemput Kyra dan Axel..." Jawab Kyros.


Theo tersenyum. memandangi Kyra dan juga Axel. "Selamat untuk pernikahan kalian ya??? Maaf om tidak bisa hadir, padahal Orang tua kalian sudah memberikan undangan.." Ucap Theo menyalami Kyra dan Axel.


"Tidak apa-apa om, kami tahu Om pasti sibuk mengurus acara doa untuk Celia... Maaf juga kami tidak bisa hadir.. " Ujar Kyra.


"Tidak masalah, kalian juga pasti sibuk dengan persiapan pernikahan kalian... Om datang kesini selain ingin mengucapkan selamat kepada pernikahan kalian, juga ingin memberi hadiah pernikahan, ambillah ini.. " Theo menyodorkan kotak yang terbungkus rapi dan berpita pada Axel.


"Pemberian hadiah juga bagian dari kebahagiaan yang ingin Om berikan pada kalian.. Oh iya Om datang juga untuk bertemu dengan Aditya dan Cahya, apa mereka ada di rumah???"Tanya Theo.


" Oh ada, Apap dan Amam ada di dalam, mari masuk..!"ajak Kyros. Theo mengangguk dan ikut masuk bersama Kyra dan Axel.


Saat masuk ternyata Aditya, Cahya dan Gienka ada di depan pintu dan terkejut melihat ada Theo bersama dengan anak mereka. "Theo...??? Kau datang bersama mereka???" Tanya Aditya.


"Ah tidak Pap, saat kami datang Om Theo ada di depan gerbang, jadi sekalian saja kami mengajaknya masuk.. Om Theo juga membawa hadiah untukku dan Axel.. " Jawab Kyra.


"Om Theo ingin bertemu dengan Apap dan Amam.. " Sahut Kyros.


"Ayo masuk-masuk, kami ingin menyambut Kyra dan Axel tadi.. " Aditya mempersilahkan Theo masuk.


"Maaf jika kedatanganku mengganggu kalian semua.. "


"Tidak sama sekali... Terima kasih kau akhirnya datang dan memberi ucapan selamat serta hadiah untuk Kyra dan Axel, duduk lah..!!" Aditya duduk di sofa.


"Terima kasih... " Theo duduk di sofa begitu juga dengan Kyra, Axel, Kyros dan Cahya. Sementara Gienka pergi ke dapur untuk membuat minuman dan mengambil cemilan.


"Aku minta maaf Dit, tidak bisa hadir di pernikahan Kyra..!" gumam Theo.


"Tidak apa, lebih penting kau mengurus acara doa untuk Celia, dan kami juga minta maaf, saat acara 7 harian kemarin tidak bisa hadir dan aku hanya mewakilkan adikku saja.. Aku tiba-tiba ada acara mendadak di luar kota sehingga sepulang dari Bali langsung ke luar kota bersama Cahya, padahal kami sudah jadwalkan untuk menghadiri doa untuk Celia.. Maaf.. "


"Aku sangat mengerti sekali, Adri dan Chika sudah menyampaikan nya padaku kemarin, dan Terima kasih atas segala bantuannya selama ini, menempatkan Celia di rumah sakit yang terbaik, juga mencari dokter serta psikiater juga, kau juga sudah membiayai semua biaya pengobatan Celia di rumah sakit, juga memberi pengacara yang paling bagus disini untuk membantu Celia mendapatkan keadilan, aku tidak tahu harus bagaimana membalas semua kebaikan kalian kepadaku dan Celia, padahal kami telah melakukan banyak kesalahan di masa lalu, dan jika di ingat aku sangat malu sekali atas apa yang dulu aku pernah lakukan kepada keluarga kalian... Sangat malu sekali.." Theo menunduk dengan sedih.


"Mungkin ini adalah karma untukku yang dulu sudah membunuh calon anak kalian, sekarang Tuhan menghukumku dengan cara mengambil nyawa anakku..." Lanjut Theo lagi.


"Heii.... Kenapa kau berkata seperti itu???? Semua orang punya masalalu nya masing-masing, ada yang buruk dan ada yang baik, kami semua pun bukan orang yang suci dan punya banyak kesalahan, akan tetapi sejauh ini kitaasih di beri kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi setiap hari nya.. Aku membantumu karena aku melihat bahwa kau telah benar-benar menjadi orang yang jauh lebih baik daripada sebelumnya, kau begitu mencintai Celia, semua itu membuatku sangat kagum denganmu..!" Ujar Aditya.


"Masalalu dan hubungan kita memang begitu buruk, tetapi aku dan keluarga ku mencoba ikhlas dengan apa yang kami alami, itu sudah takdir yang di gariskan oleh Tuhan, begitu juga dengan apa yang terjadi pada Celia kemarin.. Kelahiran, jodoh, dan maut itu rahasia Tuhan yang sudah di tuliskan saat kita masih di dalam kandungan, jadi sudah ada takdirnya.. Jangan menganggap apa yang terjadi adalah karma, tidak semua seperti itu, aku dan keluargaku juga sudah memaafkan segala nya.. Jadi aku harap kau tidak lagi berpikir seperti itu... " Lanjut Aditya lagi.


"Benar Theo... Jangan kau punya pemikiran seperti itu, sekarang yang harus kita lakukan adalah mendoakan Celia agar dia bisa beristirahat dengan tenang disisi Tuhan.. " Sahut Cahya.


Theo tersenyum. "Iya Ca, dan sebenarnya kedatanganku kesini untuk memberikan dan menitipkan sesuatu pada kalian.. "


"Menitipkan apa???" Tanya Aditya dengan cepat.


Theo tampak mengambil sesuatu di dalam tas yang dia bawa. Dia terlihat mengambil sebuah kertas dan memberikannya pada Cahya. Cahya mengambil itu dan dia terkejut karena ternyata itu adalah sebuah cek dengan nominalnya yang sangat besar. Nilainya sekitar 350juta. "Ini Cek??? Untuk apa???" Tanya Cahya dan memberikannya pada Aditya.


Theo melemparkan senyum. "Aku tahu kalau kau mengurus sebuah yayasan dan panti asuhan serta rumah singgah, aku ingin cek itu bisa kau berikan kepada yayasan, panti asuhan dan rumah singgah mu..."


"Ini besar sekali Theo... " Ucap Aditya.


"Itu adalah uang tabunganku yang selama ini aku simpan untuk masa depan Celia... Kalian pasti tahu jika selama ini aku bekerja untuk putriku, agar dia bisa hidup dengan layak, mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang bagus nanti nya, sehingga setiap bulan aku menyisihkan sedikit gaji ku untuknya... Tetapi sekarang Celia sudah pergi lebih dulu, dan aku tidak tahu mau aku gunakan untuk apa uang sebanyak itu, jadi aku rasa jika di sumbangkan akan lebih bermanfaat, aku ingin uang itu disumbangkan atas nama Celia, dan aku meminta agar anak-anak di panti asuhan ataupun rumah singgah bisa ikut mendoakan Celia nanti... Kalian bisa kan menyampaikan itu pada anak-anak???" Tanya Theo.


Mendengar itu, semua orang pun terkejut dan terharu atas langkah yang di ambil Theo. Cahya menatap Aditya yang di sebelahnya. Dan suaminya itu tersenyum pada nya sambil mengangguk. "Tentu saja Theo, aku akan meminta pengurus panti dan rumah singgah agar setiap hari saat anak-anak selesai sholat agar mendoakan Celia.." Jawab Cahya.


"Kenapa kau menitipkan nya pada kami??? Kau bisa memberikannya secara langsung kepada mereka... Aku dan Cahya akan mengantarmu... Lebih baik jika kau sendiri yang memberikan ini dan meminta secara langsung pada anak-anak... Kami akan mengantarmu.."


"Tidak perlu Dit, aku percaya pada kalian.. "


"Ayo tidak apa, aku dan Cahya akan mengantau bertemu pengurus dan anak-anak yang tinggal disana.. Apa kau ingin pergi sekarang???"


Theo menggeleng. "Tidak.. Sekarang kalian ada acara keluarga yaitu menyambut Kyra dan Axel, aku tidak mau mengganggu.. "


Aditya tersenyum. "Itu benar sekali, tetapi kau harus menyerahkan itu sendiri kepada mereka nanti, kalau begitu kapan kau ada waktu??? Aku dan Cahya akan dengan senang hati mengantarmu.. "


"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika lusa???" Tanya Theo. Aditya dan Cahya mengangguk setuju. Lusa mereka akan mengantar Theo. Mereka berdua tidak menangkap jika Theo akan memberikan uang sebanyak itu untuk sesuatu yang bernilai besar. Memilih memberikan kepada anak-anak yatim piatu dan kurang mampu yang ada di rumah singgah dan panti asuhan. Aditya benar-benar merasa bangga dengan sikap yang di ambil Theo. Ini juga akan berguna sekali untuk Celia yang saat ini sudah bersama dengan Tuhan.