
Theo membuat sarapan untuk dirinya dan juga Celia. Dia ingin membuat roti bakar karena Celia menyukai itu. Theo juga memiliki beberapa buah nanas yang belum dia makan. Theo menghaluskannya untuk membuat selai untuk di makan dengan roti bakarnya. Dia berharap makanan sederhana buatanna ini di sukai oleh Celia. Ini adalah pertama kali nya Celia menginap di rumahnya. Theo tidak ingin membangunkan putrinya itu, dan membiarkan masih tidur dengan nyaman berharap saat bangun nanti merasa lebih baik dan tidak histeris seperti sebelumnya.
Theo terus berpikir apa yang nanti ingin di bicarakan Celia dengan Axel. Theo berharap sekali Celia tidak memaksakan kehendaknya yang justru bisa mengganggu Axel. Theo juga menyesalkan sikap Cyntia yang begitu protekrif terhadap Celia selama ini. Seolah menjadikan Celia sebagai robot yang harus terus menuruti keinginannya. Theo tidak tahu kapan Cyntia akan bisa merubah sikap egoisnya. Sudah lebih dari 20 tahun tetapi tidak ada yang berubah darinya. Justru tingkahnya semakin menjadi-jadi.
Sebenarnya dulu saat Cyntia di penjara, setiap weekend Theo pergi untuk mengunjungi nya, memberi istrinya semangat dalam menjalani hari dan selepas keluar dari penjara, Theo sudah mulai bisa perlahan membawa Cyntia pada kebaikan, dan Cyntia yang memang sangat mencintai nya pun terlihat menurut, serta perubahan ke arah lebih baik, cukup terlihat. Membuat Theo merasa senang sekali dan berjanji akan terus membimbing dan mengajak Cyntia pada kebaikan. Akan tetapi keinginan Theo belum sepenuhnya terpenuhi karena Mama Cyntia memaksa untuk memisahkannya dengan Cyntia karena saat itu Theo tidak lagi memiliki banyak uang. Orang tua Cyntia sangat gila akan kekayaan dan menilai segala sesuatu hanya dari uang dan harta saja. Theo di paksa menceraikan Cyntia beberapa bulan setelah Cyntia melahirkan. Tidak ada pilihan lain, dengan berat hati Theo akhirnya menceraikannya. Dan Theo juga harus rela meninggalkan Celia yang masih bayi, jauh darinya serta dia tidak pernah di ijinkan untuk menemui Celia selama bertahun-tahun.
Pengaruh kuat orang tua Cyntia terutama Mama nya begitu kuat hingga lama-kelamaan Cyntia kembali menjadi pribadi yang seperti awal lagi hingga saat ini dan semakin menjadi-jadi. Kali ini yang di korbankan oleh Mama Cyntia, bukanlah Cyntia lagi, melainkan Celia. Padahal Theo sangat tahu dan mengerti bahwa putrinya adalah pribadi yang baik tetapi tidak pernah bisa menolak keinginan Mama dan Oma nya. Jika saja Theo berdaya, dia pasti ingin Celia tinggal bersama nya saja sehingga Celia bisa menjalani harinya dengan nyaman tanpa tekanan yang berlebihan.
"Bau nya harum sekali....?? Papa membuat apa???" Celia tiba-tiba munculengagetlan Theo yang sedang mengaduk selai.
Theo menoleh ke belakang, Celia tersenyum menghampiri nya. "Loh kenapa sudah bangun??? Kau istirahat saja, semalam kau pasti tidak tidur dengan nyenyak... "
"Tidurku sudah cukup.. Papa mengaduk apa???" Tanya Celia.
"Papa membuat selai nanas, di kulkas ada nanas, daripada tidak di makan lalu akan busuk, lebih baik di buat selai... Kita sarapan dengan roti bakar selai nanas... Kau suka kan???"
"Tentu saja... Apalagi Papa yang membuatnya... Apa ada yang bisa Celia bantu???" Tanya Celia.
"Kau bisa meletakkan roti nya di pan, Papa sudah mengolesinya dengan margarin... " Jawab Theo.
Celia pun mengambil pan, dan memanaskannya, kemudian memberi pan itu sedikit margarin dan meletakkan satu persatu roti tawar yang juga sudah di olesi margarin oleh Theo.
"Papa... Kita pergi nya naik kereta saja ya biar lebih cepat... " Ucap Celia.
Theo berhenti mengaduk dan menoleh ke arah putrinya yang berdiri di sampingnya. "Kau masih ingin pergi???" Tanya Theo memastikan.
"Iya.... Tentu saja... Masa tidak jadi pergi... Papa di bilang jika Papa tidak bekerja hari ini untuk menemaniku..."
"Memangnya kau tahu tempat dimana Axel tinggal???"
Celia menggeleng. "Aku tidak tahu tetapi kita akan datang ke tempat latihannya saja.. Dia pasti disana.." Celia membalik roti yang di panggangnya.
"Kau yakin akan datang menemui nya disana??? Bagaimana jika kau tidak boleh masuk dan bertemu dengannya???" Tanya Theo lagi.
"Kita tunggu sampai dia selesai latihan.... Aku butuh bicara dengannya Pa, jadi Papa jangan mengkhawatirkan apapun lagi ya???"
"Baiklah...!" Gumam Theo sambil menatap Celia yang sedang mengangkat roti yang di panggangnya dari pan, dan memasukkan roti yang lainnya lagi. Theo tidak bisa menolak keinginan Celia. Dan akan membiarkan putrinya mencari solusi Dan menyelesaikan urusannya, berharap Celia tidak terlalu memaksa kehendaknya nanti pada Axel. Andai Theo tahu kontak terbaru Axel, dia pasti akan mengajak Axel berbicara sendiri.
*****
Sore hari nya.....
Setelah siang tadi sampai, Aditya Dan Kyra langsung berbincang membahas perkembangan klub sepak bola miliknya. Berbagai hal di bahas oleh mereka serta mengecek beberapa laporan. Kyra yang sejak tadi terlihat sibuk, mengingat Kyra memiliki tugas penting yaitu sebagai direktur keuangan untuk mengurus dan mengawasi laporan keuangan klub. Setelah berbincang, Aditya meminta untuk di antar berkeliling Dan juga melihat kesibukan dari pemain yang sedang berlatih. Aditya pun meninggalkan Kyra dan pergi dengan Cahya di temani oleh presiden klub.
Sampai di lapangan tempat latihan. Aditya berdiri mengawasi pemain berlatih sambil berbincang dengan bawahannya itu yang menjabat sebagai presiden club yang bertanggung jawab untuk segala sesuatu yang ada disini. Cahya juga tersenyum memperhatikan para pemain yang berlatih. Terlihat Axel juga sangat berkonsentrasi ketika berlatih. Cahya merasa senang karena akhirnya Kyra mendapatkan laki-laki yang luar biasa seperti Axel. Di balik wajah tegas nya, Axel adalah pribadi yang menyenangkan, Kyra merasa nyaman jika bersama Axel.
Hingga sekitar satu jam kemudian, latihan pun sudah selesai. Para pemain keluar dari lapangan dan mereka mengambil air untuk di minum lalu beristirahat menghilangkan lelah mereka sebelum nanti mereka di ijinkan untuk pulang. Tetapi Axel memilih untuk menghampiri Aditya dan Cahya. Dengan napas yang masih terengah, Axel mengalami calon mertua nya dengan sopan. Axel belun tahu jika Kyra ikut kesini, karena Kyra tidak memberitahu nya.
"Kau berlatih dengan baik... Pertahankan itu... ! " Puji Aditya pada Axel.
"Thanks Om....!!"
"Kau beristirahat saja bersama teman-temannya, pasti kau lelah sekali setelah berlatih... Setelah itu kita makan bersama di restoran terdekat.... Kyra juga ada disini... " Ujar Cahya.
Axel terperangah. "Kyra ada disini??? Dimana dia Tan???"
"Ada di office, sedang mengecek laporan, kau istirahat dulu, kami akan menunggumu dan memberitahu Kyra jika kau sudah selesai. "
***
"Kalian keluar dulu, ajak Axel menunggu di mobil, Apap ingin ke toilet sebentar" Ucap Aditya pada Kyra dan Cahya.
"Iya Pap... Kalau begitu aku dan Aman keluar dulu untuk menemui Axel.. "
"Ya... Hanya sebentar saja, tunggu. " Ucap Aditya lagi. Kyra mengangguk dan mengajak Cahya keluar dari office.
Axel sudah menunggu Kyra di depan office. Kyra langsung memeluk Axel karena sangat merindukan lelaki itu. "Aku merindukanmu... " Ucap Kyra sambil memeluk Axel.
"Iya aku juga... Lepaskan pelukanmu... Ada Amam mu disini... "
"Biarkan saja... Amam juga pasti mengerti kok.. Iya kan Mam???"
Cahya tergelak. "Iya... Yuk kita keluar sekarang, tunggu Apap mu di mobil saja... "
Mereka bertiga berjalan menuju pintu keluar. Kyra berjalan bergandengan tangan dan di peluk oleh Axel. Cahya mengikuti mereka di belakang. Tetapi Cahya berhenti ketika ponselnya berbunyi. Elea ternyata yang menghubunginya, Cahya pun langsung mengangkatnya. Membiarkan Kyra dan Axel berjalan lebih dulu
"Kau kenapa tidak memberitahuku kalau akan kesini???" Tanya Axel.
"Apap yang mengajakku semalam... Aku sengaja tidak memberitahumu untuk mengejutkanmu... Ummhhh kita makan bakso saja bagaimana? mm Bakso yang dulu kita pernah datangi. Enak, Aku suka sekali... Kita makan disana saja ya???" Ajak Kyra
"Makan bakso??? Di tempat yang kemarin??? Tapi tempatnya kecil, bagaimana dengan Om Adit dan Tante Cahya??? Aku merasa tidak enak dengan mereka..."
"Memangnya kenapa??? Apa kau pikir Amam dan Apap ku tidak akan merasa nyaman di tempat seperti itu??? Kau salah besar... Amam dan Apap pecinta bakso, dan kami sering pergi makan Bakso bersama di pinggir jalan.... Dan kau tahu??? Apap juga sangat menyukai masakan padang, dia penggila berat rendang dan juga gulai kikil.. Hahaha..."
"Kau serius???" Tanya Axel tidak percaya.
"Iya... Dulu Amam pernah bercerita dimana dia mengajak Apap ke resto padang, awalnya Apap bingung dan merasa risih, apalagi melihat makanan padang yang bersantan, tetapi Amam mencoba memaksa nya makan, dan Apap seperti kesetanan, dia suka sekali... Hahaha sampai sekarang.... Hahaha"
Axel ikut tertawa mendengar cerita Kyra. Dia sama sekali tidak menyangka jika orang tua Kyra juga adalah pribadi yang sederhana di balik tmkekayaan yang di miliki oleh mereka. Orang tua Kyra seperti orang pada umumnya. Sangat menyenangkan dan bersahaja.
"Axel......!!!!!" Teriak seseorang.
Membuat Kyra dan Axel yang sedang asyik mengobrol dan tertawa, langkah mereka berhenti bersamaan. Seseorang berlari ke arah mereka. Axel pun teroerangah ketika mendapati ternyata itu adalah Celia. Hal yang sama juga di rasakan oleh Kyra. "Perempuan ini lagi...???" Gumam Kyra dalam hati.
Celia langsung menarik tangan kanan Axel hingga membuat Axel tertarik dan pelukan tangan kirinya pada Kyra terlepas. Saat itulah Celia langsung memeluk Axel tanpa memperdulikan Kyra yang ada di sebelah Axel.
"Aku merindukanmu.....!!" Ucap Celia dan mempererat pelukannya. "Aku ingin kau meninggalkan dia, Aku sudah pergi dari rumah dan tidak ada lagi yang bisa menghalangi kita.... Kita harus kembali bersama dan menikah.... Kau hanya untukku...." Lanjut Celia lagi.
Axel berusaha melepaskan pelukan Celia. "Celia... Lepaskan.. Apa yang kau lakukan di sini???" Tanya Axel dan dia berhasil melepaskan pelukan Celia.
"Aku jauh-jauh datang kesini untuk menemui mu, dan memberitahumu jika Aku sudah tidak akan lagi tinggal bersama Mama ku, tidak ada yang akan menghalangi cinta kita, jadi Aku ingin kau kembali denganku, kau tidak boleh menikah dengan siapapun kau hanya milikku..."
"Celia.....!!!!" Theo berlari menghampiri Celia dan menarik tangan Celia. Dia tadi sedang berbicara di telepon dan tidak menyadari Celia jika Celia sudah berlari kesini yang ternyata ada Axel. "Apa yang kau lakukan sayang???? Ada banyak orang... Axel tolong maafkan kelakuan anak om ya???" Ucap Theo seraya menangkupkan kedua telapak tangannya.
Axel terdiam, begitu juga dengan Kyra yang hanya bisa terperangah.
"Apap sudah bilang tunggu di mobil, kenapa malah berhenti di sini???" Aditya muncul dari belakang bersama dengan Cahya. Mendengar suara itu, Axel dan Kyra menoleh ke belakang. "Ada apa?.." Tanya Aditya sambil berjalan mendekati mereka.
"Aditya...???? Cahya..??" Ucap Theo terbata karena terkejut melihat siapa yang ada di belakang Axel.
Aditya melepaskan kacamata hitamnya dan menatap Theo. "Kau...???? Ada perlu apa kesini????" Tanya Aditya dengan tatapan tajam ke arah Celia dan juga Theo seraya berjalan mendekati kedua nya.