I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 172



Maysa bergegas menyusul Ariel, sementara Gienka terlihat bingung bagaimana dia harus bisa membujuk Ariel. Kyros pun mendekati Gienka mengajaknya untuk ikut menyusul Mamanya ke atas. Kyros sendiri sangat takut dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi kondisi ini. Permasalahan ini cukup pelik dan dia juga menyadari bagaimana sifat Ariel yang cukup keras. Tetapi dia sendiri sudah mengambil keputusan untuk menyanggupi keinginan Gienka tentu saja dia juga harus bisa meyakinkan Ariel.


Maysa masuk ke kamarnya dan Ariel terlihat duduk di sofa yang ada disana. Maysa duduk disebelah suaminya itu, menyentuh pundaknya lembut dan memberikan senyumnya.


"Putrimu meminta ijinmu dengan sangat baik kenapa kau justru bersikap seperti ini? Bukankah Kyros adalah anak yang baik, kita juga mengenal keluarganya dengan baik! Ada apa denganmu??" Tanya Maysa.


"Ya aku tahu, aku tidak pernah keberatan Gienka berhubungan dengan siapapun, aku senang jika dia memilih Kyros sebagai kekasihnya, Kyros anak yang baik, tetapi masalahnya kenapa putri kita memutuskan untuk menikah dengan cepat dan kau tadi mendengarnya sendiri bahwa dia akan ikut dengan Kyros ke Amerika, lalu bagaimana dengan kita disini???"


Maysa kembali tersenyum dan menggenggam jemari Ariel, memandangnya dengan sangat dalam. "Tidak hanya Gienka, Geffie mungkin nanti juga akan meninggalkan kita dan ikut suaminya, anak-anak tentu sudah mempunyai jalannya sendiri-sendiri, lalu kenapa kita menghalangi kebahagiaan mereka? Bukankah tugas orangtua adalah mendukung anak-anaknya!"


Sebuah ketukan pintu mengalihkan pembicaraan Ariel dan Maysa. Gienka ditemani Kyros masuk ke dalam kamar dan mendekati orangtuanya. Kyros berdiri sementara Gienka langsung duduk dilantai sambil menggenggam kedua tangan Ariel, menciumnya dan menyandarkan kepalanya di paha Ariel.


"Gie sangat menyayangi Papa, Gie selalu ingat tentang semua nasehat Papa dan bagaimana Papa ingin Gie bisa bahagia! Gie minta maaf jika keputusan ini sangat mengejutkan tetapi Gie sudah merasa yakin dengan hal itu. Gie tidak ingin menjadi anak durhaka, Gie butuh restu Papa!"


Kyros juga melakukan hal yang sama, yaitu duduk berjongkok didepan Ariel. Kyros berusaha membabtu Gienka untuk memberi pengertian serta menjelaskan semuanya. Kyros juga berjanji akan menjaga Gienka dengan baik dan tidak akan pernah menyakitinya. Mengenai keputusan Gienka akan ikut dengannya atau tidak itu murni menjadi keputusan Gienka sendiri dan Kyros tidak akan memaksanya karena dia tahu Gienka juga memiliki tanggung jawab disini. Tetapi apapun itu, Kyros akan berusaha untuk tidak menyakiti Gienka. Itulah janji Kyros pada Ariel.


"Jika Uncle memberi ijin tentu saya akan langsung memberitahu kedua orangtua saya, saya menyanghupi permintaan Gienka karena saya sangat mencintainya dan ingin menghabiskan waktu saya bersama dengan dia, aku sangat berharap Uncle Ariel memberikan ijin dan restu kepada kami berdua!" Ujar Kyros dengan tatapan penuh tekad dan keyakinan yang kuat.


Ariel terdiam lalu dia menoleh ke arah Maysa, dan mendapati istrinya itu menganggukkan kepala. Ariel pun tidak langsung memberikan ijin karena dia juga butuh berdiskusi lebih lanjut dengan keluarganya juga dengan Elea dan Danist. Kemudian meminta Kyros dan Gienka untuk memberi mereka waktu. Gienka tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena ini masalah besar yang harus diselesaikan bersama dengan anggota keluarga yang lain. Gienka pun akhirnya menyerah dan memberi waktu keluarganya untuk berdiskusi.


Tak lama seorang pelayan masuk dan memberitahu jika dibawah sedang ada Elea dan Danist, mereka datang untuk bertemu dengan Ariel. Saat itu juga Gienka sadar bahwa kedua orangtuanya itu pasti datang kesini juga untuk membahas hal ini. Tidak ingin mencampuri urusan keluarga Gienka, Kyros memilih untuk berpamitan pulang saja dan membiarkan keluarga Gienka berdiskusi untuk memutuskan akan bagaimanakah nanti hubungan mereka.


******


Setelah kepergian Kyros. Gienka duduk di sebelah Ariel, sementara Elea dan Danist duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.


Hening......


Ariel masih masang wajah masam dan diam, enggan melihat ke arah putrinya yang sedang menggenggam tangannya. Maysa melihat ke arah Elea dan Danist, memberi kode kepada mereka untuk memulai pembicaraan. Elea menyikut pinggang Danist. Dan Danist pun akhirnya memecah keheningan dan memberitahu Ariel jika tadi Kyros dan Gienka sudah datang ke rumahnya lalu mengatakan segala nya tentang hubungan mereka.


Saat datang Kyros langsung mengutarakan niatnya untuk menikahi Gienka, dan menjelaskan jika Gienka ingin segera di nikahi. Ekspresi terkejut, kesal dan marah juga di rasakan oleh Elea tadi. Segala ketakutan dan juga kekhawatiran tentu Elea bisa merasakannya, apalagi ini mengenai sesuatu yang sangat krusial dan juga tidak main-main, yaitu sebuah pernikahan. Jika orang lain, mungkin Elea tidak akan terlalu memikirkannya, tetapi ini adalah tentang Gienka, putri nya yang sangat dia cintai. Dimana Gienka mengambil keputusan besar karena terburu-buru dan juga karena cinta nya yang terlalu besar pada Kyros.


"Aku tidak tahu kenapa Gienka bisa mengambil keputusan besar ini tanpa memberitahu kita lebih dulu.... Aku merasa dia terlalu buru-buru dan tidak memikirkan berbagai hal yang bisa terjadi nanti ke depannya.... Aku sangat pusing, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.... Sikap keras kepala nya itu yang membuatku tidak habis pikir... " Ujar Elea menjelaskan apa yang sejak tadi bergolak di hati nya, pada Ariel dan Maysa tentang keputusan Gienka.


"Lalu apa keputusanmu???" Tanya Ariel.


"Bagaimana aku bisa memberi keputusan???? Kau yang lebih berhak memutuskan itu, tetapi sebagai seorang ibu, apa yang bisa aku lakukan jika putriku menginginkan hal itu??? Berat tentu saja berat, apalagi kita memiliki riwayat pernikahan yang kurang baik... Aku tidak bermaksud membahas masalalu kita Iel, tetapi aku tahu bagaimana sakitnya pernikahan itu, apalagi hubungan ini baru di mulai... Aku hanya takut jika terlalu dipaksa kan dan buru-buru, semua nya nanti bisa tidak berjalan dengan baik...!" Ucap Elea lagi.


"Ma..... Aku dan Ky kan sudah saling mengenal sejak kami masih bayi, kalian juga sudah mengenalnya dengan sangat baik, lalu apa yang kalian takutkan???" Sela Gienka.


"Yang kami takutkan adalah kau akan meninggalkan kami semua dan sudah pasti kau tidak akan tinggal disini, karena Ky, bukanlah berkewarganegaraan Indonesia, dan pekerjaannya juga akan terus menetap disana, bahkan mungkin selama nya... Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu disana???? Kau jauh dari kami semua, sedangkan disini kami masih bisa memantau mu, memastikan semua keamanan mu... Kenapa kau tidak mengerti juga Gie??? Papa ingin kau melanjutkan semua bisnis keluarga kita, adikmu masih kecil, Friddie masih kuliah, Geffie masih belum lulus sekolah... Kau satu-satu nya harapan Papa sekarang dan nanti juga harus membimbing adik-adikmu...." Ucap Ariel dengan suara meninggi.


"Tapi Gienka kan masih bisa mengurusnya dari jauh Pa, sekarang teknologi kan sudah mempermudah segala nya??? Lagipula segala nya kan masih dalam tanggung jawab Papa Iel serta Papa Dan???" Gienka membantah.


"Bukan masalah bisa menyelesaikannya dari jauh, tetapi kami butuh bantuanmu nanti untuk membimbing adik-adikmu, Papa senang sekali kau akhirnya bisa mewujudkan kebahagiaanmu bersama Ky, Papa tidak akan menghalangi nya, tetapi kalian masih muda, masih memiliki banyak waktu bersama tanpa harus menikah dalam waktu dekat, setidaknya kalian saling mengenal lebih dekat lagi setelah menjadi sepasang kekasih, jika sudah satu tahun atau dua tahun baru setelah itu menikah... Bukan seperti ini cara nya...??" Ariel menimpali lagi.


Gienka menggelengkan kepala nya. "Tidak.....!" Ucapnya. "Aku tidak mau menunggu selama itu, aku hanya ingin menikah sebelum Ky kembali ke Amerika...!"


"Kenapa kau keras kepala sekali????" Teriak Ariel yang membuat Gienka terkejut.


"Iel.... Sudah sudah....!" Sela Danist mencoba menenangkan Adiknya dan agar meredakan suasana yang seperti nya mulai memanas. "Sudah cukup.... Kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin, dan jangan di lingkupi emosi, kau juga harus menahan diri Iel, jangan sampai kemarahanmu justru membuat Gienka sedih, kau selama ini tidak pernah membentak atau memarahi nya kan??? Jadi tahan dirimu, kau juga El... " Danist melirik ke arah Elea yang ada di sebelahnya.


"Gie.... Kau pasti masih ingat dengan semua pesan yang tadi Papa Dan sampaikan padamu kan??? Dan juga segala kekhawatiran Mama mu.... Papa yakin kau mengerti dengan baik segala nya, tetapi jika bisa pikirkanlah lagi sayang??? Lihatlah betapa cemasnya kami semua disini, kami tahu semua tentang Ky, keluarga nya dan lainnya, tetapi semua butuh persiapan yang baik, berilah Ky waktu begitu juga dengan kami..." Danist mencoba memberi pengertian lagi kepada Gienka.


Sementara Gienka menggelengkan kepala nya lagi. "Gienka sudah memikirkannya dengan baik... Gienka tidak mau jika jauh dari Ky, kalian tahu kan bagaimana kehidupan disana??? Gienka tidak mau mengambil resiko..."


"Kalau Ky berani mengkhianatimu, ya kau bisa mencari laki-laki yang lain, kau cantik dan cerdas, siapapun pasti tidak akan menolakmu... " Sahut Ariel.


"Gie mencintai Ky...!! Selama ini hanya Ky yang ada di hati Gie... Ky sangat tampan, cerdas dan luar biasa, sejak dulu banyak sekali yang ingin mendekati nya, tetapi karena dia juga mencintai Gie jadi dia juga memilih untuk sendiri selama ini seperti Gie, dan sekarang kami sudah bersama, Gie tidak mau melepaskannya... "


"Papa Iel....!!!" Seru Gienka. "Kenapa Papa tidak mengerti, Gie ingin menikah dengan Ky, ingin mengurusnya, ingin menjadi istri yang baik, Papa bukannya mendukung tetapi malah tidak menyetujui hubungan kami...??? Aku ingin menikah dengan Ky secepatnya, aku tidak mau tahu pokoknya aku ingin menikah dengan Ky... Titik...!! Jika Kalian tidak setuju, aku akan tetap pergi bersama Ky, aku akan tinggal bersama nya disana... Aku tidak peduli apakah kami sudah menikah atau belum, lagipula disana juga tidak ada larangan untuk tinggal bersama meski belum menikah... "


"Gienka......!!!" Teriak Elea. "Jaga ucapanmu....!!! Berani sekali kau mengatakan hal seperti itu di hadapan kami semua... Apa didikan kami selama ini tidak cukup untuk membuatmu mengerti apa yang baik dan yang buruk???"


"Iya tahu Ma... Itulah kenapa Gie mengatakan ini pada kalian, karena Gie sudah dewasa, Gie sudah bisa memutuskan apa yang menurut Gie baik, Gie sudah yakin bahwa Ky itu laki-laki yang selama ini Gie harapkan.. Gie ingin belajar hidup mandiri dan tidak selalu bergantung pada kalian, Gie ingin merasakan bagaimana memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri.. Gie sudah belajar banyak selama ini dari kalian, Gie bisa mengambil mana yang baik dan yang buruk... Jadi setidaknya kalian juga harus mengerti dengan keinginan Gie yang satu ini??? Please????" Gienka menangkup kan kedua telapak tangannya, memasang wajah memelas berharap ke empat orang tua nya saat ini mau menyetujui keinginannya.


Ariel memalingkan muka, enggan menatap wajah Gienka. Saat ini perasaannya campur aduk. Ariel juga sangat tahu bagaimana sikap Gienka yang keras kepala dan tidak akan pernah mau mendengarkan siapapun jika sudah memutuskan sesuatu. Ada rasa penyesalan di hati Ariel, tahu bahwa dirinya juga adalah orang yang sangat keras kepala dan sifat untuk sekarang menurun pada Gienka. Walaupn Gienka memiliki kemiripan wajah dengan Elea, tetapi tidak dengan sikapnya. Elea yang penuh kelembutan dan lebih sabar, tetapi Gienka justru keras kepala seperti hal nya Ariel dulu. Dan jika Gienka sudah bersikap seperti ini, Ariel seolah sedang di tampar untuk di sadarkan bahwa mungkin inilah yang dulu di rasakan oleh orang-orang disekitarnya saat dulu dia bersikap keras kepala dan tidak mau mendengarkan saran dari orang lain. Ariel benar-vmbenar merasakan betapa kesal dan marahnya dia karena Gienka tidak mau mendengarkan dirinya.


Karena Ariel tidak mau melihat ke arahnya, Gienka beralih menatap Danist dengan mata berkaca-kaca. Seolah berharap Papa nya itu mau membuat yang lainnya mengerti. Sementara Danist juga langsung bisa mengerti dengan tatapan Gienka yang membutuhkan pertolongannya. Sikap tenang, dan bijaksana Danist selalu bisa membuat Ariel luluh. Itulah kenapa Gienka sering memanfaatkan Danist untuk merayu Ariel ketika menginginkan sesuatu.


"Papa Dan.... Please bantu Gie menjelaskan pada Papa Iel dan juga Mama dan Mamay...??? Please....??? Papa Dan tadi sudah bisa melihat keseriusan Ky kan???" Ucap Gienka dengan suara memelas.


Danist menatap Ariel, Maysa dan Elea bergantian.


★★★★★★


Sampai di rumah, Kyros langsung mencari keberadaan Cahya dan Aditya. Dia bertanya kepada asisten rumah tangganya dimana keberadaan mereka. Kyros kemudian diarahkan ke ruang kerja dimana disana ada Aditya, Cahya dan Kyra, mereka bertiga baru saja masuk setelah makan malam. Bergegas Kyros menuju ruangan kerja Apapnya. Benar saja, mereka ada disana, Kyra dan Aditya sedang sibuk dengan laptop masing-masing sedangkan Cahya tengah membaca buku.


"Hai sayang....! Kau sudah pulang? Tapi kemana Gienka? Kyra bilang kalian akan datang berdua?" Tanya Cahya sambil menutup buku yang dibacanya.


"Gienka tidak jadi kesini, tadi aku mengantarnya ke rumah Uncle Ariel!" Jawab Kyros lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Aditya.


"Jadi kau sudah mengantarnya pulang?"


Kyros mengangguk sambil tersenyum. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting pada kalian, tapi kuharap kalian tidak terkejut dan mendengarkanku dengan baik!"


Semua saling berpandangan. Heran dan penasaran itulah yang mereka rasakan saat ini dan mendapati Kyros menunduk hingga tak lama dia mengangkat kepalanya. Setelah itu dengan penuh keyakinan, Kyros mengungkapkan semuanya kepada keluarganya. Dari awal sampai akhir tidak ada yang terlewat sama sekali.


Reaksi terkejut mereka bertiga terlihat sangat jelas terutama Aditya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Kyros memiliki perasaan pada Gienka dan mereka berdua sudah mengambil keputusan besar itu secara sadar. Aditya senang sekali jika putranya memilih Gienka sebagai pasangannya hanya saja dia tidak habis pikir bahwa mereka berdua mengambil keputusan yang membuat semua orang terkejut.


"Jika keluarga Gienka sudah memberi keputusan, Ky ingin kita langsung menemui mereka dan melamar Gienka! Serta mengatur waktu karena Gienka ingin segera, sebelum aku kembali ke Amerika!" Ujar Kyros.


"Ky...! Apap tahu niatmu baik nak, tapi apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu??? Bukankah ini terlalu cepat???" Tanya Aditya.


"Niat baik tidak boleh ditunda kan Pap? Lagipula kenapa Apap khawatir ini terlalu cepat atau tidak??? Bukankah dulu Apap dan Amam juga memutuskan menikah dalam tenggang waktu beberapa hari saja? Dan pernikahan kalian bisa bertahan sampai detik ini, kenapa aku juga tidak bisa melakukannya??" Kyros justru membalik pertanyaan Apapnya.


Aditya terdiam. Tiba-tiba saja dia teringat dengan kisahnya dan Cahya, lalu kali ini hal itu juga terjadi pada anaknya. Ini bagaikan dejavu tetapi bedanya dulu Cahya tidak memiliki rasa cinta padanya saat menikah tetapi kali ini Kyros dan Gienka memilikinya bahkan mereka bertahan dengan perasaan masing-masing selama bertahun-tahun.


"Oke kami akan datang melamar Gienka!" Ucap Cahya kemudian. "Tetapi berjanjilah satu hal pada kami bahwa kau akan menjaga Gienka dengan sebaik-baiknya dan tidak melukai hatinya. Mama Gienka punya trauma dengan kegagalan dalam pernikahannya dulu dan sebagai seorang ibu sudah jelas bahwa dia tidak ingin hal buruk yang menimpanya juga menimpa anaknya! Amam tidak ingin kau melukai hati seorang perempuan apalagi dia mencintaimu, jangan sekali-kali melukai hatinya karena itu akan selamanya diingat olehnya, awas saja jika kau melakukan hal yang mekukai Gienka, kami tidak akan menganggapmu sebagai anak lagi, karena percuma saja jika kau cerdas, ilmumu setinggi langit tetapi kau tidak memakai otak dan perasaanmu dengan baik!"


Kyros tersenyum dan mendekati Cahya lalu memeluk Amamnya itu dan mencium pipinya seraya mengucap janji bahwa dia akan menjaga Gienka denfan baik.


"Ky...! Satu lagi Amam ingatkan padamu, Amam ingin kau memiliki sifat seperti Apapmu yang selalu mementingkan kebahagiaan Amam daripada kebahagiaannya sendiri juga belajarlah bagaimana cara dia mencintai Amam, lakukan seperti itu, dan Amam ingin kau memperlakukan Gienka layaknya ratu, bahagiakan dia itu saja!"


"Ya Mam....! Sekarang kita tinggal menunggu apakah mereka mau menyetujui kami atau tidak...!"


Tak lama setelah itu, ponsel Kyros berbunyi dan nama Gienka ada disana. Kyros membritahu pada keluarganya jika Gienka yang menghubunginya. Kyros tadi sudah meminta Gienka agar kangsung menghubunginya jika sudah ada kelutusan dari keluarganya. Ada perasaan takut dari Kyros akan jawaban dati Gienka tetapi dengan cepat dia mengangkatnya.


"Ya sayang...!" Sahut Kyros lalu menekan tombol speaker agar keluarganya juga bisa mendengar suara Gienka.


"Keluargaku sudah memutuskan bahwa mereka menyetujui pernikahan kita dalam waktu dekat ini, aku harap kau juga sudah memberitahu orangtua atau keluargamu...!"


"Yesss.....!!!" Kyros berteriak lalu melompat-lompat kegirangan.


"Aku sudah memberitahu mereka dan mereka saat ini ada bersamaku, tenang saja kami akan datang untuk menemui kalian, besok kami akan datang!" Ucap Kyros.


Setelah menutup telepon dari Gienka, Kyros masih melompat-lompat kegirangan dan bergantian memeluk Amamnya, Apapnya juga Kyra. Kyros benar-benar bahagia sekali.