
"Kyra....! Ikutlah dengan kami, ada yang ingin Apap bicarakan denganmu...! Dan Ky ajak Axel juga ke ruangan kerja...!" Ucap Aditya.
Kyros mengangguk dan mengajak Axel ke ruangan kerja Apapnya, di belakangnya disusul oleh Kyra juga Aditya. Sementara Cahya memanggil Art untuk membuatkan minum tetapi dihentikan oleh Gienka, karena Gienka lah yang akan membuatkannya. Cahya pun ikut menyusul.
Kyra melangkah pelan, entah apa yang akan dibicarakan oleh kedua orangtuanya bersama dengan Axel juga Kakaknya. Perasaan Kyra menjadi meragu, takut juga bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan dibahas. Melihat Kyra berjalan sangat pelan, Cahya mendekatinya, memberikan senyumnya juga merangkul punggung putrinya itu.
Ketika Kyra masuk, Axel sudah berdiri disamping Kyros yang tengah duduk dengan laptop yang terbuka di depannya.
Sementara Aditya duduk menatap screen proyektor yang ada di dinding, Cahya juga mengajak Kyra untuk duduk disana. Sementara Kyros dan Axel terlihat sedang berdiskusi. Hingga kemudian Gienka juga masuk dengan diikuti oleh pengacara keluarga Sahasya, yang sengaja datang karena semalam Aditya menghubunginya membahas permasalahan yang menimpa Kyra.
Aditya meminta pengacara keluarganya itu untuk duduk dan melihat apa yang dibawa oleh Axel.
Gienka datang dengan membawa beberapa gelas minuman dan dia letakkan di meja lalu ikut duduk disebelah Cahya. Kyros kemudian menyuruh Axel untuk menyalakan proyektornya dan mulai memainkan sebuah video yang menunjukkan aktifitas disebuah lorong. Tak lama seorang perempuan berjalan sedikit terburu-buru untuk memasuki toilet dan langkahnya terhenti karena seorang perempuan lainnya. Melihat itu, Kyra terperangah karena itu tidak lain adalah dirinya dan Jelena.
Menyadari Kyra yang saat ini terkejut, Aditya dan Cahya pun langsung menoleh ke arah Kyra yang ada di tengah-tengah mereka. Tetapi kemudian pandangan mereka beralih lagi ke layar proyektor.
Semua orang yang ada di ruangan itu menyaksikan bagaimana Kyra diperlakukan tidak baik oleh Jelena. Rekaman cctv itu memperlihatlan semuanya dengan sangat jelas. Gienka yang juga baru pertama kali melihatnya juga memejamkan matanya ketika Jelena menginjak tangan Kyra, membayangkan rasa sakitnya saja membuatnya bergidik ngeri, hal yang sama juga dilakukan oleh Cahya, bahkan Cahya juga menitihkan airmatanya, betapa terlukanya dia sebagai seorang ibu melihat putrinya yang selama ini dia limpahi kasih sayang bahkan mencubit pun tidak pernah dia lakukan, tetapi orang lain yang justru melakukannya, hati Cahya benar-benar sakit.
Terakhir adalah ketika Axel datang untuk membantu Kyra. Video selesai, dan Kyros mematikan laptopnya juga meminta Axel agar mematikan proyektor juga. Sementara Kyra hanya bisa terdiam saat semua orang menatapnya dalam diam juga.
"Kyra?? Kau sudah mulai berani membohongi kami ya?" Tanya Aditya yang menatap tajam mata putrinya itu.
"Tidak Pap.... Bukan begitu maksud Kyra....!"
"Lalu...???!? Kenapa hal sebesar ini bisa kau sembunyikan dari kami??? Sekarang Apap tidak ingin mendengar penjelasan apapun darimu, dan Apap minta ambil hasil rekam medismu sekarang juga, jangan menolak atau kami akan semakin marah padamu...! Pergilah...!" Aditya setengah berteriak kepada Kyra membjat putrinya itu langsung berlari keluar untuk mengambil apa yang diinginkan oleh Apapnya.
Kemarahan jelas terlibat sekali diwajah Aditya, sejak semalam dia tidak bisa tidur memikirkan masalah ini dan saat ini dia sudah melihat semuanya. Aditya masih tidak menyangka kenapa bisa Kyra hanya memilih diam dan tidak melawan ketika dkperlakukan seperti itu. Aditya tahu bahwa putrina sangatlah baik dan jika ada masalah dia selalu berusaha tenang menghadapinya tetapi tentu sikap yang ditunjukkan Kyra saat Jelena menyakitinya itu tidaklah benar.
Airmata Cahya tidak berhenti mengalir, dia benar-benar merasa sedih dan terpukul. Hal seperti ini sudah dialami oleh Kyra, tetapi putrinya itu justru membohonginya denga mengatakan hal lain. Cahya sangat kecewa sekali dan baginya Jelena harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya dan tidak akan ada kata maaf darinya dan keluarganya. Gienka memeluk calon mertuanya itu dan mencoba menenangkannya. Gienka bisa merasakan betapa hancur dan sakitnya hati Cahya saat ini.
Kyra pun masuk lagi ke dalam ruangan kerja Apapnya dengan persaan sedih dan ketakutan hingga membuat tangannya bergetar ketika memberikan laporan rekam medisnya kepada Aditya.
Pengacara itu tampak memeriksa laporan medis Kyra, juga meminta rekaman cctv yang tadi diputar oleh Kyros. Sedangkan foto-foto yang dimiliki Gienka juga diminta sebagai kelengkapan bukti yang besok akan dibawa ke kantor polisi.
"Pap.... Aku sudah sembuh dan tidak terjadi apapun denganku, jadi kita tidak perlu membawa masalhnini sampai ke jalur hukum....! Mam, please bujuk Apap agar tidak perlu melakukan ini" Ujar Kyra seraya memasang wajah memelas didepan Cahya.
"Tidak Ra...! Biarkan saja Apapmu melakukan apa yang harus dia lakukan, Amam sangat mendukung langkahnya!" Jawab Cahya dengan suara tegas.
"Tapi Mam.... Lihatlah aku sudah tidak apa-apa...! Ky...! Kenapa kau harus menceritakan ini pada Amam dan Apap...? Lihatlah sekarang yang terjadi...!"
"Kyra....! Berhentilah menyalakan kakakmu atau siapapun!" Cahya berteriak. "Aku selalu mengajarkanmu agar kau bersikap baik kepada semua orang tetapi tidak untuk sebuah penindasan seperti ini...! Aku dan Apapmu membesarkanmu dan Kyros dengan limpahan kasih sayang, memastikan kebahagiaan kalian berdua, Apapmu juga sering mengajarkanmu untuk bisa mengambil sikap ketika ada masalah tetapi justru kau membohongi kami semua hanya karena menuruti kebaikan hatimu, kau akan selalu direndahkan oleh orang lain jika kau selalu diam! Sekarang berhenti menangis dan menyalahkan orang lain, turuti saja semua proses yang akan berjalan ini dan katakan semuanya yang sebenar-benarnya nanti!" Ucap Cahya dengan suara bergetar dan ini pertama kali baginya memarahi Kyra.
Semua hanya bisa terdiam mendengar kemarahan dan kekecewaan dari seorang ibu. Aditya kemudian meminta kepada pengacaranya agar mengurus semua ini sehingga besok bisa langsung diserahkan ke kepolisian.
"Baiklah pak Aditya, semua bukti ini akan kami bawa dan kami akan siapkan semuanya, jika ada bukti tambahan bisa langsung hubungi saya. Sehingga besok kita bisa langsung membawanya! Dan saya juga meminta Tuan Axel dan Nona Gienka bisa bersiap untuk menjadi saksi, sementara nona Kyra saya sangat berharap anda tidak menutupi apapun dan mengatakan semuanya dengan jelas dan rinci sehingga proses pelaporan berjalan dengan lancar dan pelaku bisa diadili!"
"Terima kasih Pak saya ingin anda mengurus ini dengan sangat baik ...! Tetapi besok saya harus pergi ke kedubes untuk mengurus CNI Kyros jadi mungkin kita bisa pergi ke kantor polisi setelah urusan putra saya beres, bagaimana pak???" Tanya Aditya.
"Tentu saja pak Aditya, jika sudah selesai hubungi saja saya, dan kami juga sebenarnya juga butuh waktu mempersiapkan semuanya, baiklah saya permisi dulu...!"
Setelah kepulangan pengacara itu, Aditya meminta kepada Kyra agar nanti bisa benar-benar mengatakan semuanya tanpa harus ada yang ditutupi. Mengenai Jelena, Aditya dan Kyros sudah mengantongi info tentang perempuan itu juga keluarganya.
Sudah pasti Aditya tidak akan melepaskan begitu saja orang-orang yang sudah mengusik keluarganya bahkan sudah berani melukai putri kesayangannya. Aditya tentu saja bisa bersikap baik tetapi dengan berbagai alasan serta pertimbangan yang menurutnya tidak terlalu parah, tetapi tentu saja dia juga bisa bersikap kejam dan sangat kejam tanpa ampun ketika menurutnya itu sudah mewati batas kemanusiaan. Masalah yang dibuat oleh Jelena tentulah bukan hal yang bisa begitu mudah dimaafkan, dan Jelena harus mendapatkan hukuman yang setimpal agar tidak lagi bisa berbuat sesukanya.
Beberapa hari kemudian.....
Kyros, Gienka, Kyra dan Axel saat ini sedang duduk bersantai di salah satu cafe milik keluarga Gienka. Minuman serta camilan baru saja di pesan. Mereka baru sampai dari kantor polisi, Gienka dan Axel datang untuk memberikan kesaksian mereka terkait apa yang dialami Kyra. Pelaporan sudah dilakukan beberapa hari yang lalu, dan mereka tinggal menunggu Jelena di panggil. Sedangkan pengurusan dokumen kenegaraan Kyros dan pendaftaran pernikahannya juga sudah selesai. Semuanya berjalan dengan sangat lancar, dan tentunya Kyros serta Gienka bisa mulai bersantai menunggu hari itu tiba.
Kyra juga sudah melakukan semua yang diminta oleh keluarga nya terkait permasalah dengan Jelena. Kyra mendapat dukungan dan lengertian dari Cahya juga Gienka bagaimana dia saat ini harus mengambil sikap tegas dan tidak lagi bermurah hati kepada perempuan seperti Jelena. Jelena harus dihukum dan diberi efek jera agar tidak lagi bisa bersikap sesuka hatinya. Mengenai keluarga Jelena, Aditya sendiri yang akan mengurusnya.
Kyros memundurkan kursinya dan pergi ke toilet, meninggalkan Gienka, Axel dan Kyra. Langkah Kyros terhenti ketika ponselnya berbunyi dan mendapati nama Camilla disana. "Hai...! Bagaimana liburanmu???" Tanya Kyros.
"Hai Ky....! Liburanku sangat menyenangkan, oh iya bisa kau tebak saat ini aku ada dimana???"
Kyros mengernyit. "Dimana memangnya???"
"Aku sedang dalam perjalanan ke rumahmu Ky....! Besok aku akan kembali ke Amerika itu sebabnya aku sekarang ingin mampir dan menginap semalam lagi dirumahmu? Boleh kan???"
Kyros tertawa. "Tentu saja boleh...! Tapi sekarang aku sedang tidak ada dirumah, dan rumah juga dalam keadaan sepi karena semua orang sedang keluar, ah begini saja aku sekarang ada di GG Cafe letaknya tidak jauh dari rumahku, kau kesini saja nanti kita pulang bersama-sama"
"Umhhh oke baiklah.. Aku kesana sekarang!" Camilla menutup teleponnya lalu menyuruh supir taksi agar membawanya ke Cafe yang disebutkan oleh Kyros tadi.
Camilla sebenarnya bisa saja langsung mencari tiket untuk langsung ke Amerika dan transit sebentar di Jakarta tetapi Camilla lebih memilih untuk ke Jakarta menginap di rumah Kyros, dan baru membeli tiket lagi langsung ke Amerika. Camilla tentu memiliki tujuan kenapa dia melakukan itu, karena dia kemarin belum sempat mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada Kyros, dia masih belum memiliki keyakinan untuk melakukannya dan baru memilikinya sekarang.
Bisa saja Camilla mengatakannya ketika nanti Kyros juga sudah kembali kesana tetapi Camilla memiliki tantangan tersendiri dimana ketika dia mengatakannya sekarang dan Kyros menerimanya sebagai kekasih, Camilla akan kembali dengan perasaan bahagia lalu dia akan merasakan bagaimana memendam rindu kepada orang yang dicintainya yang berada jauh darinya, itulah tantangan yang ingin Camilla hadapi. Mengingat dia juga harus berlatih melakukan itu jika sewaktu-waktu Kyros kembali bertugas di stasiun luar angkasa sehingga dia bisa mengontrol dirinya sendiri.
Camilla sudah tidak sabar untuk mengatakan semuanya pada lelaki itu bagaimana selama ini dia sangat mencintai Kyros. Ketika di Amerika Camilla sering berganti-ganti kekasih, sengaja dia lakukan untuk membuat Kyros cemburu, tetapi itu tidak pernah berhasil. Kyros masih sama saja, terlalu dingin dan cuek bahkan justru Kyros selalu senang jika Camilla memiliki seorang kekasih yang bisa menemaninya pergi kemanapun tanpa harus mengrecokinya. Tentu saja hal itu membuat Camilla kecewa tetapi dia tidak bisa berhenti untuk mendapatkan hati Kyros.
Ditempat lain, Kyros keluar dari toilet dan kembali lagi menemui Gienka dan yang lainnya. Minuman ternyata sudah ada di atas meja, dia pun menikmatinya kemudian memberitahu bahwa tadi Camilla menghubunginya mengatakan bahwa dia ada disini dan akan kembali besok ke Amerika.
"Benarkah???" Tanya Kyra.
"Ya, dia tadi sedang menuju ke rumah tetapi aku bilang bahwa kita tidak ada di rumah sekarang, ya sudah aku menyuruhnya kesini saja! Dan juga dia meminta ijin menginap semalam lagi di rumah kita!" Ucap Kyros dengan santainya tanpa melihat wajah kesal Gienka yang ada disampingnya.
"Dan kau mengijinkannya???" Akhirnya Gienka bersuara membuat Kyros menoleh dan tersenyum.
"Tentu saja, demi kesopanan dan hanya semalam saja kan, besok dia juga sudah kembali"
Gienka diam-diam mendengus kesal dan ingin sekali memaki Kyros, karena bisa-bisanya lelaki itu mengijinkankan Camilla menginap lagi. Gienka benar-benar kesal, kenapa Kyros tidak peka sekali terhadapnya. Bagi Gienka ini sangat menyebalkan sekali.
Beberapa menit kemudian, ponsel Kyros berbunyi dan itu dari Camilla. Kyros pun beranjak dari kursi dan berpamitan untuk menjemput Camilla di depan karena perempuan itu sudah hampir sampai.
Kyros keluar dari cafe dan berdiri menunggu kedatangan Camilla. Hingga akhirnya sebuah taksi berhenti dan Camilla turun dari sana dengan cantiknya, tampak juga supir taksi menurunkan koper milik Camilla. Kyros melangkah mendekat, Camilla tersenyum lalu melakukan cipika cipiki dengan Kyros dan lelaki itu membantunya mengangkat kopernya. Kyros meletakkan koper Camilla di dekat mobilnya tetapi tiba-tiba saja Camilla langsung memeluknya dengan sangat erat. Kyros mengernyit dan menanyakan kenapa Camilla begitu bahagia sekali.
"Ky......!!!! I love you.....! I love you so much Ky....!" Ucap Camilla.
Mendengar itu tentu saja Kyros sangat terkejut dan melepaskan pelukan Camilla. Kyros terdiam bingung harus berkata apa.
Camilla terus tersenyum dengan cantiknya, kemudian memegang kedua tangan Kyros dan menatap lelaki itu dengan tatapan yang begitu dalam. "Ky.... Sudah cukup aku menyimpan semua ini, aku sudah ingin mengatakannya sejak lama tetapi aku tidak pernah mampu, dan setelah berpikir lama aku memang harus benar-benar mengatakannya padamu! Aku sangat mencintaimu, aku sangat berharap kau menerima cintaku ini dan kita bisa melewati hari kita dengan bahagia nanti...!"
Kyros hanya terdiam sementara Camilla kembali memeluknya, menunggu jawaban laki-laki itu. Hingga tiba-tiba...!
"Sayang....! Kenapa kau lama sekali....!"
Kyros menoleh ke belakang dan mendapati Gienka berjalan ke arahnya. Dengan cepat Kyros melepaskan pelukan Camilla. Sementara Camilla dibuat terperangah dengan apa yang baru saja di dengarnya. Gienka memanggil Kyros dengan sebutan Sayang. Kyros hanya bisa melempar senyumnya pada Gienka yang sedang mendekat ke arahnya lalu menelan ludahnya berharap Gienka tidak mendengar semua perkataan Camilla tadi.