I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 35 (Memeluk & Meminta Maaf)



Sepeninggal Aditya dan Cahya, Elea kembali duduk dan terus berdoa untuk kesembuhan Danist. Dia berharap sekali agar Danist bisa segera sadar dan bisa melewati masa kritisnya. Permasalahan anak-anaknya sudah ditangani dengan baik, sehingga benar kata Cahya, bahwa saat ini dia memang harus berfokus pada Danist saja. Tiba-tiba saja Mama Danist memanggilnya dengan suara pelan.


Elea menoleh dan tersenyum kepada mertuanya itu. Mama Danist memegang jemari Elea dan meminta agar Elea tidak menceritakan kepada Danist jika Gienka sempat mengalami shock berat tentang kejadian kemarin dengan alasan agar Danist tidak memikirkan hal yang buruk dan berat. Tetapi sebenarnya bukan itu masalahnya, melainkan Mama Danist takut jika sampai Danist mendengar nama Brianna disebut itu akan menambah luka dan beban Danist nantinya.


Pintu ruang Icu terbuka dari dalam, seorang perawat keluar dari sana dan memanggil Elea. Dengan cepat Elea, Papanya dan Mama Danist berdiri menghampiri perawat itu. Elea berharap ini adalah kabar baik bukan kabar buruk yang akan membuatnya semakin menderita lagi. "Iya sus, bagaimana keadaan suami saya?? Apa dia baik-baik saja???" Tanya Elea dengan cepat.


"Pasien sudah sadar, anda bisa masuk dan melihatnya tetapi tolong jangan ajak dia bicara, karena kondisinya masih lemah, mari silakan" Ucap perawat itu.


Detik itu juga senyum dibibir Elea mengembang. Elea langsung memeluk mama mertuanya seraya mengucapkan syukur. "Ma, Danist sudah sadar....! Terima kasih Tuhan....!"


"Masuklah El, dan lihat kondisi suamimu" Ucap Mama Danist.


Elea kemudian masuk mengikuti perawat itu.


Elea mendekat ke ranjang dimana Danist terbaring disana. Mata lelaki itu berkedip pelan memandang langit-langit ruangan ini. Elea melangkah pelan dan jemarinya menyentuh punggung tangan Danis, membuat lelaki itu melirik ke arahnya. Dibalik masker oksigen yang menutup mulut dan hidungnya, Danist mencoba tersenyum pada Elea, walaupun senyum itu hanya senyum tipis.


"El...!!" Gumam Danist dengan suara yang sangat pelan.


"Sssstttt.....!!!! Jangan bicara apapun, kau masih sangat lemah sekali" Elea duduk disebuah kursi yang ada di sisi ranjang perawatan Danist, dengan lembut Elea mencium tangan suaminya itu.


"Cepatlah sembuh, dan kita bisa pulang....!" Elea berdiri mengusap kening Danist dengan wajah yang sangat sedih.


Sementara Danist mencoba mengumpulkan semua ingatannya bagaimana dia bisa sampai di rumah sakit serta bagaimana dia bisa seperti ini. Memikirkan itu semua membuat kepalanya terasa sakit, tetapi dia ingat sesuatu.


"A....riel....!" Ucap Danist lagi yang langsung membuat Elea membelalakkan matanya.


Elea langsung menyadari jika Danist pasti sedang mengingat kejadian kemarin. Dan itu tidak baik karena kepalanya harus bekerja ekstra untuk mengingat. Danist tidak boleh lagi teringat apapun tentang kemarin.


"Dia baik-baik saja, tidak ada luka satupun ditubuhnya, kau berhasil menyelamatkannya, tetapi kau lupa menyelamatkan dirimu sendiri, sudah aku bilang sudah, jangan lagi pikirkan apapun, jangan membuat otakmu bekerja keras, kau baru saja menjalani operasi, diam, istirahat dan cepatlah sembuh...!"


Danist kembali melemparkan senyumnya pada Elea. sementara Elea merasa kesal, disaat Danist baru saja sadar, suaminya itu justru masih saja menyebut nama Ariel. Padahal sudah sangat jelas bahwa selama ini Ariel sama sekali tidak pernah memperdulikannya, tetapi Danist masih saja bersikap baik kepadanya. Dan Elea berharap dengan dia mengatakan bahwa Ariel baik-baik saja itu bisa membuat Danist tidak lagi harus dipusingkan dengan memikirkan orang seperti Ariel yang tidak tahu diri itu.


Karena dokter hanya memberinya ijin 5 menit saja untuk bertemu Danist, Elea menyuruh agar Danist beristirahat saja sehingga kondisinya bisa membaik, mengingat saat ini Danist masih dalam keadaan belum stabil. Elea mengusap-usap lengan Danist, agar suaminya itu bisa segera kembali beristirahat. Melihat lelaki itu sudah sadar membuat elea merasa bahagia sekali, dan yang pasti semoga ini awal yang baik untuk Danist bisa kembali seperti sedia kala lagi.


★★★★★★★


Beberapa hari kemudian.....


Kondisi Danist semakin membaik, bahkan kemarin dia sudah diperbolehkan untuk pindah ke kamar perawatan biasa. Sebelumnya Danist masih mengeluhkan sakit di kepalanya, tetapi semua itu bisa ditangani dengan baik. Elea juga tidak pulang sama sekali dan hanya mengirim Asi nya untuk Friddie. Gienka tinggal di apartemen Aditya dan Cahya, hal itu membuat Elea merasa tidak khawatir lagi, karena Cahya bilang jika kemarin Brianna datang untuk memastikan kondisi Gienka, dan ternyata anak itu sudah dalam keadaan yang sangat baik sekali.


Bagaimana dengan Ariel???


Ariel kembali menghilang setelah pengusiran Elea yang kedua kalinya di rumah sakit. Ariel tidak menghubungi siapapun, rumahnya juga dalam keadaan kosong beberapa hari terakhir. Ariel butuh waktu sendiri, seperti ketika dulu dia pernah melakukan kesalahan besar kepada Elea dan Danist. Ariel pergi untuk mendapat ketenangan diri dengan hal positif, dan Aditya snagat berharap kali ini Ariel juga melakukan hal yang sama dan kembali dengan kesadaran penuh.


Elea membantu Danist untuk duduk, sebelum menyuapinya untuk makan malam. Elea merasa bahagia sekali, perlahan wajah pucat suaminya itu sudah kembali terlihat segar. Jika kondisinya semakin baik, tentu Danist akan segera bisa pulang ke rumah, walaupun masih butuh waktu lama untuk recovery, mengingat Danist harus istirahat total dan tidak boleh memikirkan hal yang berat.


Setelah memastikan Danist dalam posisi nyaman, Elea mengambil mangkuk berisi bubur dan mulai menyuapkannya pada Danist.


"Aku sangat merindukan Friddie dan Gienka, kau juga pasti merindukan mereka?? Tidakkah kau berniat menyuruh mereka kesini??? Aku sudah tidak ada di ruang ICU kan sekarang??" Ujar Danist.


Elea tersenyum memandangnya. "Baiklah, aku akan menyuruh Mama membawa Friddie kesini, dan akan menghubungi Cahya agar besok setelah menjemput anak-anak dari sekolah, dia bisa membawa Gienka kesini"


"Aku ingin cepat pulih, pulang dan bisa bermain dengan mereka lagi...! Oh iya??? Sudah berhari-hari disini kenapa Ariel tidak pernah datang ya???"


Tangan Elea langsung terhenti dan meletakkan mangkuk di tangannya itu ke meja kemudian menatap Danist dalam diam. "Dia sibuk mungkin, lagipula apa pedulinya dia kepadamu? Sudahlah sayang, kenapa kau selalu menanyakan dan mengkhawatirkan orang seperti dia, apa pernah sekali saja dia memperdulikanmu???"


"El, bagaimanapun dia adikku, aku harus bisa menjaganya, aku ingin kau menghubunginya dan memintanya kesini jika dia tidak sibuk!"


"Habiskan buburmu dan lupakan Ariel, dia tidak akan pernah datang kesini, berhentilah memikirkannya, fokus pada kesembuhanmu, aku tidak akan pernah melakukannya...!" Ucap Elea dengan kesal dan mengambil lagi mangkuk di meja untuk menyuapi Danist lagi.


Setelah menyuapi Danist, Elea memberinya minum setelah itu dia membantu Danist untuk berbaring lagi. Elea berpamitan pada Danist untuk ke kamar mandi sebentar. Danist mulai merasa curiga terhadap Elea, setiap kali dia menanyakan Ariel, istrinya itu selalu saja bersikap aneh, terlihat kesal dan judes. Danist berpikir bahwa sepertinya telah terjadi sesuatu.


Danist melirik ke meja disampingnya dan menemukan ponsel Elea disana. Kondisi sedang sepi, karena Mamanya juga sedang keluar membeli makanan, Elea juga sedang berada di toilet. Bergegas dia berusaha meraih ponsel Elea, setelah mendapatkannya dia mencoba mencari kontak Ariel, tetapi ternyata tidak ada nama Ariel disana. Hingga tiba-tiba ada sebuah panggilan video dari Cahya. Danist mengangkatnya dan terkejut ketika wajah Gienka ada disana.


Mengetahui Danjst yang mengangkat teleponnya, Gienka langsung berteriak "Papa Dan..........!!!!!"


"Hai anak cantik....!!!"


"Papa sedang apa??? Sudah makan? Lihatlah aku sedang makan belsama Kyla dan Ky juga onty Cahya, aku makan ayam goleng, Papa Dan sudah makan??"


Danist tersenyum. "Sudah... Umm Papa Dan kangen sekali dengan Gie, besok Gie bisa kan datang kesini bersama onty Cahya atau uncle Adit???"


Kamera bergeser, Danist tidak bisa melihat wajah Gienka tetapi dia bisa mendengar dengan jelas bahwa putrinya itu sedang berbicara dengan Cahya dan menanyakan apakah Cahya mau mengantarnya ke rumah sakit. Tak lama wajah Gienma kembali menghadap kamera. "Ya.... Onty Cahya mau mengantalku...!" Jawab Gienka.


Senyum Danist kembali tersungging di bibirnya tetapi kemudian dia teringat sesuatu. "Gie sayang...! Besok Gie datangnya sama Papa Iel juga ya? Karena Papa Dan juga kangen dengan Papa Iel, bisa kan minta tolong uncle Adit agar memberitahu Papa Iel untuk datang kesini...???"


"Ya, nanti kalau uncle Adit pulang, aku akan menyuluhnya menelepon Papa Yel"


"Anak pintar, lanjutkan makanmu, Papa Dan harus istirahat sekarang, dan besok kita berjumpa lagi oke???"


"Oke...! I love you Papa Dan....!"


"I love you too anak papa yang cantik ...!"


Danist kemudian menutup panggilan video dari Gienka. Senyumnya kembali mengembang di wajahnya, Danist berharap besok Ariel benar-benar bisa datang untuk menemuinya. Mungkin dengan itu dia bisa memastikan bahwa Ariel benar-benar dalam keadaan baik. Tetapi Danist sendiri tidak mau berharap terlalu tinggi mengingat Ariel juga bisa saja menolak permintaannya, mengingat selama ini hubungan mereka begitu buruk.


"Kau memakai ponselku???" Tanya Elea yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan memergoki Danist sedang meletakkan ponselnya di meja.


"Gienka baru saja berbicara denganku lewat panggilan video, dia berteriak dengan sangat keras saat aku yang mengangkatnya, putri kita manis sekali" Danist terkekeh.


"Gienka???"


"Iya, dia memakai ponsel bu Cahya, dia begitu senang saat aku memintanya untuk datang kesini besok" Danist tiba-tiba menguap dan merasa mulai mengantuk setelah tadi makan dan meminum obat.


Dengan cekatan, Elea menyelimuti Danist, dan membiarkan suaminya itu tidur. Memang tidak butuh waktu lama, karena Danist benar-benar langsung tidur. Dan tidak lama Mama mertuanya datang membawa makanan untuknya. Elea mengambil ponselnya dan mengeceknya daftar panggilannya, dia memang menemukan panggilan video dari Cahya, berarti Danist tidak berbohong.


★★★★★★


Keesokan harinya.....


Danist dan Elea menoleh ke arah pintu ruangan rawat inapnya, dimana disana ada ketukan. Sedetik kemudian pintu itu terdorong pelan dari luar. Senyum Danist tersungging di bibirnya ketika mengetahui siapa yang datang. Ekea langsung memundurkan kursi yang di dudukinya dan berdiri.


"Apakah boleh masuk???" Tanya Ariel.


Elea berjalan mendekati Ariel dengan tatapan penuh kemarahan. "Tidak.....!! Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak lagi datang kesini....! Kenapa kau masih memaksa, pergilah...!"


Ariel diam tetapi dia memilih membalukkan tubuhnya untuk pergi, mungkin apa yang dikatakan Maysa semalam hanyalah keinginan dari Gienka sendiri atau mungkin putrinya itu asal berbicara saja.


"Tunggu Iel....!!"


Teriakan Danist membuat langkah Ariel terhenti, Elea juga langsung menengok ke arah Danist.


"Biarkan dia masuk? Aku yang memintanya kesini..!" Ujar Danist lagi.


"Kau yang memintanya?? Bagaimana bisa kau memintanya datang kesini...!" Tanya Elea keheranan.


"Gienka...! Semalam aku meminta Gienka agar memberitahu Ariel dan menyuruhnya kesini, masuklah Iel...!" Senyum Danist mengembang lagi diwajahnya.


Elea memundurkan langkahnya, dan Ariel perlahan masuk ke ruangan perawatan Danist dengan kepala sedikit menunduk.


"Aku senang kau baik-baik saja, duduklah" Danist tersenyum


"Maafkan aku...! Aku juga sudah membahayakan nyawamu...! Harusnya kau tidak perlu menyelamatkanku...!" Ucap Ariel diselingi dengan isakannya.


"Aku selama ini terlalu egois, selalu saja berkata buruk tentangmu, aku membencimu, tetapi kau sekalipun tidak pernah melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukakan padamu, kau justru melakukan sebaliknya, kau begitu perhatian kepadaku, kenapa kau melakukan itu??? Harusnya kau membenciku...!!"


Tangan kanan Danist mengusap pundak Ariel dengan lembut. Dia bisa mendengar dengan jelas isakan dan tangisan Ariel, menandakan bahwa adiknya itu benar-benar menyesali perbuatannya.


"Bagaimana bisa aku membencimu??? Kau adalah Ayahnya Gienka selain itu kau adalah Adikku, jangan pernah kau berpikir bahwa aku membencimu, aku tentu sangat menyayangimu Iel???"


"Adik??? Aku begitu buruk tetapi kenapa kau bisa menganggapku seperti itu...???"


Danist tersenyum. "Sikap buruk bisa di ubah, tetapi kenyataan bahwa kau Adikku itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun Iel, tidak akan pernah...! Kau akan selamanya menjadi saudarku...!"


"Mamaku telah melakukan kesalahan besar dan sudah menghancurkan kehidupan keluarga kalian, aku juga minta maaf untuk itu"


"Masalalu sudah berlalu, tanpa kau minta maaf, aku dan Mama sudah memaafkan semua kesalahan dari Ayah ataupun Mamamu, mereka sudah tiada, tidak baik jika kita terus membahas kesalahannya karena itu hanya akan menghalangi jalannya disana, sudahlah....!!"


Ariel menyeka air matanya dan tersenyum kepada Danist. "Bolehkah aku memelukmu???" Tanya Ariel.


Danist mengangguk sambil tersenyum lebar. "Tentu saja...!"


Ariel berdiri, membungkukkan tubuhnya dan memeluk Danist seraya menangis dan mengucapkan terima kasih serta terus meminta maaf. Sementara itu, Elea hanya terdiam menyaksikan apa yang ada di depannya. Elea masih tidak bisa menyangka kenapa suaminya bisa begitu mudahnya memaafkan Ariel dan menyayangi Ariel padahal sudah begitu banyak kesalahan yang diperbuat oleh lelaki itu. Tetapi Danist seolah memiliki hati yang begitu luas hingga dengan mudah menerima maaf dari orang yang sudah begitu banyak menyakiti hatinya, dan Elea yakin bahwa tidak semua orang mampu untuk melakukannya.


Danist mengusap lembut punggung Ariel. Dia merasa bahagia sekali, akhirnya apa yang diinginkannya menjadi kenyataan. Ariel datang, dan memeluknya. Bahkan Ariel meminta maaf kepadanya dengan tangisan penuh penyesalan. Danist berharap ini jadi awal yang baik untuk hubungan mereka.


Ariel mengangkat tubuhnya dan memandang Danist dengan penuh keyakinan serta kembali memegang tangan Danist. "Aku janji, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi, aku ingin kita benar-benar bisa menjadi saudara, bolehkah aku memanggilmu kakak??"


"Terserah kau saja, kau juga bisa memanggil namaku saja..." Ujar Danist.


Ariel kembali memeluk Danist, dan entah kenapa saat ini hatinya merasa lega sekali. Seolah semua beban yang ada di pundaknya sudah terlepas. Ariel juga tidak berhenti bersyukur di dalam hati karena Danist mau memaafkannya, bahkan Danist juga menerimanya dengan baik. Dia benar-benar menyesal atas semua perilakunya pada Danist selama ini, bahkan dengan mudahnya lelaki itu juga memaafkan semua kesalahan mendiang Mamanya. Kali ini Ariel tidak akan pernah lagi menyakiti Danist, baik secara perkataan ataupun tindakan, dia sudah mendapatkan keluarga baru, seorang kakak yang begitu baik dan sangat pengertian serta menyayanginya.


Ternyata semua kejadian itu juga disaksikan oleh Aditya yang tengah menggendong Gienka di balik pintu.


Aditya menurunkan Gienka dari gendongannya dan menyuruh anak itu untuk mendekat ke kedua Papanya. Tadi Aditya meminta Gienka agar diam sebentar saat Ariel dan Danist sedang berbicara berdua. Dan anak itu menurut sekali.


"Papa....!!!" Gienka berlari mendekat, panggilan itu membuat Ariel, Elea dan Danist secara bersamaan menoleh.


Ariel berdiri dan langsung mengangkat Gienka kemudian menciuminya. Beberapa hari ini dia sudah meninggalkan putrinya itu untuk menenangkan diri tanpa menerima telepon dari siapapun dan sudah tentu dia sangat merindukannya.


"Papa Yel kemana, kok tidak meneleponku? Apa Papa Yel tidak kangen aku???"


Ariel mencubit pipi Gienka dengan gemas. "Maafkan Papa Iel ya?? Papa sibuk sekali dan tentu saja Papa Iel sangat rindu sekali dengan Gienka yang cantik ini!"


Ariel kemudian membawa Gienka mendekat ke Danist, memegang bocah itu dan membungkukkannya agar bisa mencium pipi Danist. Gienka mulai berceloteh tentang harinya dan apa saja yang dilakukannya dengan Kyra serta Kyros di apartemen Aditya. Danist dan Ariel hanya bisa tersenyum mendengarkannya.


"Kau datang hanya bersama Gienka Dit???" Tanya Elea.


Aditya menggeleng. Dia datang bersama Cahya serta si kembar hanya saja mereka bertiga saat ini sedang menunggu di mobil karena tidak mungkin jika membawa ketiga bocah-bocah itu kesini. Dan hanya Gienka yang dibawanya untuk bertemu Danist.


Aditya juga tidak lupa menanyakan tentang lerkembangan kesehatan Danist pada Elea. Tak lupa Aditya meminta agar Danist tidak perlu memikirkan pekerjaan dan fokus saja terhadap kesehatannya sampai benar-benar sembuh.


Ariel menghampiri Aditya dan mengajak sahabatnya itu untuk bicara diluar ruangan. Dan entah apa yang sedang dibicarakannya dengan Aditya.


Setelah berbicara dengan Ariel, Aditya memanggil Gienka untuk mengajaknya pulang karena sudah ditunggu oleh Cahya dan Kyra Kyros di mobil. Gienka pun mencium Danist lalu bergantian mencium Ariel juga Elea.


"Dadah Mama, Papa Iel, Papa Dan....!!! Gie pulang ke lumah uncle Adit dulu ya..!!"


Danist dan Elea melambaikan tangannya pada Gienka, sementara Ariel keluar untuk mengantar Aditya keluar dari ruangan perawatan Danist.


Sementara itu Ariel meminta ijin pada Elea agar bisa menyuapi Danist sebelum nanti dia harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan selama beberapa hari ke depan. Walaupun masih kesal pada Ariel, Elea pun mencoba untuk menahannya karena Danist sendiri yang sudah memutuskan untuk menerima Ariel dan memaafkan semua kesalahannya, membuat Elea pada akhirnya harus ikut menerima itu juga.


Elea memberikan makan siang Danist pada Ariel, dan laki-laki itu perlahan mulai menyendok nasi, sayur dan lauk kemudian menyuapkannya pada Danist. Senyum bahagia seolah tidak luntur dari wajah Danist sejak tadi. Bahkan dia masih tidak menyangka jika akhirnya semua penantiannya selama ini pada Ariel sudah terwujud.


★★★★★★★


2 Minggu kemudian....


Danist akhirnya sudah boleh dibawa pulang karena kondisinya semakin membaik. Ariel, tentu saja dia benar-benar telah merubah dirinya dengan baik. Setiap hari sepulang dari kantor dia selalu ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Danist dan ikut merawatnya walau hanya datang beberapa menit saja karena membawa Gienka jadi tidak bisa terlalu lama di rumah sakit tetapi dia selalu rutin datang setiap hari. Itu dilakukan Ariel untuk menebus kesalahan yang pernah dilakukannya pada Danist. Sejak saat itu Ariel benar-benar menjadi pribadi yang baik dan sangat menghormati Danist.


Meski bermasalah dengan Danist, Ariel sama sekali tidak melupakan tugasnya untuk menjadi ayah yang baik untuk Gienka. Itu dilakukannya dengan baik saat Gienka masih bayi hingga saat ini. Dan ketika Ariel sudah berbaikan dengan Danist, Ariel juga mulai mencintai dan menyayangi Friddie, anak dari Danist dan Elea. Tidak ada sekat lagi diantara Ariel dan keluarga Danist dan Elea, semua menjadi sangat baik, bahkan orang-orang terdekat mereka seperti Aditya dan lainnya juga merasa terharu sekali dengan hal itu.


Selain dengan Danist, tentu Ariel juga memperbaiki hubungan dengan Mama Danist, dimana Ariel juga sempat membenci wanita itu karena mengira Mama Danist adalah juga bagian dari orang-orang yang sudah menghancurkan di masalalu, tetapi faktanya justru Mama Danist lah korban sesungguhnya dari rentetan kejadian masa lalu yang berhubungan dengan almarhum Ayah Ariel. Kisah masalalu yang begitu rumit dan menyesakkan dada, tetapi semua berakhir baik karena semua bisa saling memaafkan dan menganggap bahwa itu semua adalah bagian dari takdir yang sudah di gariskan Tuhan. Dan itu juga harus bisa diambil sisi baiknya dan di huang sisi buruknya. Kini Ariel dan juga Danist serta keluarganya bersatu menjadi keluarga yang saling menyayangi dan menghormati. Bahkan Ariel juga dengan penuh pengharapan sempat meminta agar diijinkan memanggil Mama Danist dengan panggilan Mama, dan meminta agar Mama Danist juga mau menganggapnya sebagai putranya. Ariel sangat merindukan kehadiran sosok ibu untuk bisa mencurahkan perasaannya. Hati Mama Danist yang begitu luas, membuatnya tidak bisa menolak permintaan Ariel. Mama Danist juga sudah memaafkan seluruh masalalunya dengan Ayah Ariel juga sudah memaafkan kesalahan Ariel sebelumnya, dan tidak masalah jika Ariel memanggilnya dengan Panggilan Mama.


****


Ariel membawa Gienka pulang dari apartemen Aditya saat sore hari, tadi dia tidak tega melihat kebahagiaan putrinya saat bermain bersama Kyra. Dan sebenarnya Gienka menolak untuk pulang tetapi karena hari sudah sore mau tidak mau Ariel memaksanya agar mau pulang.


Ketika sampai di depan rumah, terlihat Elea sedang menggendong Friddie. Gienka turun dari mobil dan berlari menghampiri adik dan Mamanya, serta mendaratkan ciuman untuk mereka berdua.


"El, berikan Friddie padaku, dan mandikan Gienka, dimana kakak???" Tanya Ariel sambil mengambil Friddie dari gendongan Elea.


"Dia ada di atas, kau kesana saja, aku akan membawa Gienka ke kamar"


Ariel mengangguk lalu membawa Friddie menaiki tangga. Ariel memenuhi semua janjinya, dia juga sudah mulai memperhatikan Friddie, mencurahkan kasih sayangnya pada bayi itu seperti dia mencurahkan kasih sayangnya pada Gienka. Ariel juga mencoba lebih dekat dengan Mama Danist, mencoba memulai memperbaiki hubungan dengan keluarga Elea.


Ariel tersenyum. "Lupakan tentang hal itu, bagaimana? Kau beneran tidak mau pindah ke rumah Ayah???" Setidaknya untuk sementara sampai kondisimu benar-benar baik..!"


"Tidak Iel, lebih baik kau saja, itu rumah orangtuamu, pasti banyak kenangan kalian disana!"


"Oh iya, aku kemarin sudah menghubungi pengacara untuk mengurus lagi pembagian aset Ayah, aku ingin kita berdua membaginya. Ya seperti awal sebelum Ayah menulis wasiatnya, 50:50, aku sadar betul Ayah melakukan itu untuk kita berdua, jadi aku tidak mau egois, bahkan mungkin kau bisa memiliki lebih besar daripadaku"


Danist meletakkan buku yang di pegangnya ke atas meja dan menoleh ke arah Ariel, menatap adiknya itu dengan tatapan melembut. "Kenapa membaginya lagi? Itu sudah wasiat dari Ayah, urus saja semuanya karena aku yakin kau bisa mengatasinya, kau sangat cerdas dan kompeten, uruslah dengan baik Iel, jangan kecewakan Ayah lagi, kau kebanggaannya, semua itu pasti sudah dia pikirkan matang-matang"


"Tidak kak, kau juga punya hak disana, ayolah bekerja sama denganku, Ayah pasti akan lebih bahagia jika kita berdua melakukannya"


Danist menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Hidupku saat ini sudah lebih dari cukup Iel, impianku sudah terpenuhi, memiliki rumah dari hasil kerja kerasku, bekerja ditempat yang sangat aku sukai dan kerja kerasku juga sudah membuatku mendapatkan semua yang aku inginkan, aku ingin mempertahankan apa yang ada karena itu adalah bagian dari kepuasan hidupku, aku pikir kau lebih mampu untuk menjalankan itu semua, bisnis keluarga kalian begitu besar, dan kecerdasanmu selama ini membuat itu semakin luar biasa di mata orang, semua itu adalah hakmu dan Gienka, aku ingin kau mempersiapkan Gienka dengan baik agar bisa membantumu mengurus perusahaan itu nantinya"


"Tidak.....!!!! Kau harus mengurusnya denganku...! Lusa mungkin berkas sudah beres kau harus menandatanganinya bersamaku"


"Iel....!!!! Aku tidak akan menandatangani apapun karenaaku sudah melakukannya kemarin, tinggal kau saja yang belum tanda tangan di wasiat Ayah, tidak... Aku tidak akan melakukan apapun, karena aku sudah melakukannya di depan Ayah...! Jangan memaksaku, atau aku tidam akan menganggapmu adik lagi, karena kau memaksaku untuk melakukan kehendakmu padahal aku tidak ingin melakukannya!" Danist kemudian beranjak dari sofa dan duduk di kursi rodanya lalu berpamitan untuk beristirahat dikamar. Saat Ariel ingin mengantarnya, Danist menolak dan meminta Ariel duduk saja karena sedang membawa Friddie. Danist memilih berpura-pura pergi dengan wajah sedikit kesal, agar Ariel tidak lagi memaksakan kehendaknya.


★‡★‡★‡ Back Now ★†★‡★‡


"Permasalahan warisan juga menjadi salah satu alasan kenapa Papa Iel mu sebelumnya sangat membenci Papa... Ya, ketika mengingat itu sangat lucu sekali Gie, Papa Iel mu berpikir bahwa Papa ingin menguasai harta peninggalan Opa mu, Opa Andi, atau ayah dari kami berdua..! Butuh waktu lama meyakinkan itu, tetapi pada akhirnya endingnya Papa Dan sendiri tetap tidak mau menerima semua itu...!" Ujar Danist menatap Gienka.


"Lalu???" Tanya Gienka lagi.


"Papa Dan sangat senang dan bahagia sekali dengan pekerjaan Papa dulu di perusahaan milik uncle Aditya mu, Paoa tidak mau pergi dari sana dan meminta agar Papa Iel mu saja yang mengurus perusahaannya dan Perusahaan Opa Andi.. Ariel pun terpaksa menyetujui keinginan Papa, meskipun berat, dan dia memiliki caranya sendir untuk menebus semua kesalahannya...! setiap bulan beberapa persen hasil dari Perusahaan di masukkan ke dalam tabunganmu dan Friddie sebagai bentuk tanggung jawab Papa Iel mu, sampai saat ini itu juga masih berlangsung...!"


"Papa Iel melakukan itu???" Tanya Gienka tidak percaya.


"Ya, Papa Iel mu melakukan semua itu, dia menepati semua janjinya, kau, Friddie dan Geffie punya hak yang sama, tidak ada perbedaan di antara kalian bertiga.... Ariel sangat bijaksana dalam memutuskan sesuatu, terkadang kami semua tidak mengerti dengan jalan pikirannya yang sulit di tebak itu..." Danist menggenggam jemari Gienka Tatapannya penuh dengan kelembutan, kemudian melanjutkan lagi pembicaraannya.


"Tetapi Papa Dan bisa menjamin bahwa Papa Iel mu adalah orang yang luar biasa...! Jadi berhentilah untuk menjudge nya, setiao orang punya masalalunya sendiri-sendiri, ada yang baim dan ada yang buruk, yang baik kita kenang, yang buruk kita lupakan karena sekarang dia sudah menjadi baik..!"


Gienka terdiam. Dia sudah mendengar segalanya tentang masalalu orang tuanya. Seluruh pertanyaannya sudah di jawab dan di jelaskan dengan baik oleh Mamanya Elea, Papanya Ariel juga Papa Danist nya. Cerita itu memang saling berkaitan.


"Iya Gie, sudahlah nak, lupakan kemarahanmu, ini hari ulang tahunmu, dan Papa Iel mu sudah menyiapkan segalanya, Mama harap kau todak merusak semua ini... Datang dan mintalah maaf pada Papa Iel mu itu..." Ucap Elea kemudian sementara Gienka hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun atau bergerak dari tempat duduknya. Gienka masih terlihat bingung, dan masih ada kemarahan di matanya.