I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 196



"Lihatlah Ra....! Kakakmu itu menyebalkan sekali, padahal aku sudah melarangnya untuk mengatakan semuanya pada Papa, tapi...??? Dan sekarang justru Papa akan mencari tempat tinggal baru....! Ya Tuhan....! Belum juga satu minggu, sudah ada masalah seperti ini...!" Ujar Gienka kesal.


Kyra tersenyum, mengusap tangan sahabatnya itu. "Memangnya Uncle Ariel tadi marah padamu???" Tanya Kyra.


"Tidak, Papa tidak marah, hanya saja dia kesal padaku karena aku tidak jujur padanya, dia juga kesal karena aku melarang Ky untuk berbicara dengannya ataupun Mama...! Dan lihatlah, Papa menyuruh kami untuk pindah...!" Ucap Gienka dengan perasaan gusar.


"Jika Uncle Ariel tidak marah itu bagus kan? Artinya Ky bisa meyakinkannya bahwa kau baik-baik saja disini, hal sebesar ini juga tidak baik Gie jika tidak kita ceritakan pada orangtua kita, maybe kau beralasan tidak ingin membuat mereka khawatir, okay itu wajar tapi apa yang sudah dilakukan Camilla sangatlah buruk, berbahaya! Ide yang sangat bagus jika Uncle Ariel menyuruhmu dan Ky pindah dari tempat ini, menjauhkan kalian dari orang toxic seperti Camilla itu sangat baik, kalian akan hidup sangat nyaman nantinya tanpa was-was! Trust me...! Kyros, orangtuamu, Apap dan Amam pasti ingin kau aman juga nyaman...!" Kyra kemudian berdiri dan mengajak Gienka untuk ke kamar, minum obat dan beristirahat.


Setelah membantu Gienka meminum obatnya, Kyra membiarkan sahabatnya itu beristirahat dan tidak ingin mengganggunya. Kyra pergi ke balkon untuk duduk dan menghubungi Axel, karena semalam dia berjanji bahwa akan menghubunginya jika keadaan sudah membaik. Kyra membawa segelas jus semangka juga ponsel serta majalah ke balkon.


Kyra duduk dan mulai mencari kontak Axel, dia langsung menghubunginya.


Di tempat lain, Axel sedang menikmati makan malamnya sendiri di dalam rumah yang di kontraknya. Axel tadi membeli nasi goreng sebagai menu makan malamnya. Dia malas memasak jadi lebih baik membeli saja. Axel duduk di sofa dengan menenteng piring juga menyalakan televisi. Ponselnya berbunyi, Axel mengernyit dan tangannya mencoba meraih ponselnya yang ada di atas meja.


Senyum Axel mengembang ketika menemukan bahwa Kyra yang menghubunginya lewat panggilan video. Axel langsung mengangkatnya. "Hai sayang.... Bagaimana kabarmu??" Sahut Axel kemudian.


"Aku baik, kau sedang makan ya?? Makan apa???" Tanya Kyra.


Axel mengarahkan ponselnya ke piring yang di pegangnya. "Nasi goreng! Aku membelinya, mau bagaimana lagi aku tidak punya istri dan tidak ada yang mengurus diriku...!" Gerutu Axel menggoda Kyra.


"Owhh.... Maka cari saja istri...! Its so simple....!" Timpal Kyra sambil terkekeh.


"Calon istriku sekarang ada di Amerika, dan aku sangat merindukannya, kapan kau kembali?? Aku akan menjemputmu!"


Kyra menggeleng. "Aku tidak tahu Sayang, aku berpikir akan tinggal untuk 3 hari saja tetapi aku mengkhawatirkan Gienka jika dia sendirian saat Ky bekerja...! Dan sepertinya aku harus tinggal lebih lama sampai Uncle Ariel menemukan tempat baru untuk mereka!"


"Tampat baru????" Tanya Axel bingung.


"Iya...! Uncle Ariel menyarankan Ky dan Gie untuk pindah dari apartemen yang sekarang, semua di lakukan untuk kenyamanan dan keamanan Gie....! Kita tidak pernah tahu hal apalagi yang bisa dilakukan oleh Camilla, dia kemarin masih sangat marah sekali...!" Ucap Kyra.


"Berarti Ky sudah memberitahu segalanya pada mertuanya, termasuk pada Amam dan Apap juga???"


"Sepertinya iya! Amam juga sempat mengirimiku pesan tadi memintaku agar menjaga Gie dengan baik, artinya Ky juga sudah memberitahu mereka jika aku berada disini!" Belum selesai berbicara dengan Axel, pandangan Kyra mengarah pada balkon apartemen Camilla dimana ternyata disana ada Camilla yang melihat ke arah dirinya. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena Camilla langsung masuk ke dalam.


Axel memanggil-manggil Kyra, tetapi kekasihnya itu tidak menyahut. "Sayang.....!!! Sayang... Kau kenapa???" Tanya Axel.


Kyra sadar dan kembali fokus lagi ke layar ponselnya. "Ah tidak apa, ya sudah ya? Kau lanjutkan makan malammu, nanti kita bisa berbicaa lagi, aku mencintaimu....!"


"Aku juga mencintaimu, jaga dirimu baik-baik, salam untuk Gienka"


Kyra mengangguk dan tersenyum kemudian menutup panggilan videonya dengan Axel. Kyra meletakkan ponselnya di meja, dan diam termenung memandangi balkon apartemen Camilla. Kyra masih tidak menyangka bahwa Camilla bisa setega itu melakukan kejahatan yang hampir menghilangkan nyawa seseorang. Padahal selama ini dia melihat jika Camilla adalah orang yang baik, dan teman yang cukup menyenangkan. Hanya karena permasalahn sepele, Camilla bisa berbuat senekat itu pada Gienka.


Kyra merasa sangat sedih, kecewa dan marah pada Camilla. Teman yang selama ini sudah dia anggap sebagai saudara ternyata menghancurkan semua keyakinan dan kepercayaannya. Dan Kyra juga yakin bahwa setelah mendengar semua itu, keluarganya juga saat ini pasti merasa hancur sekali, terutama Amamnya yang juga sudah menganggap Camilla sebagai putrinya sendiri tetapi ternyata Camilla justru berbuat jahat seperti itu. Fakta yang ada saat ini membuat Kyra enggan lagi untuk bisa mempercayai Camilla, semua sudah berakhir, dia sudah terlalu kecewa untuk semua ini. Kyra sangat menyayangkan sikap Gienka yang enggan melaporkan Camilla, padahal seharusnya semua kejahatan Camilla tidak bisa begitu saja di maafkan.


Di tempat lain, Ariel, Maysa, Elea juga Danist datang bersama-sama ke kediaman Aditya. Mereka datang untuk membicarakan tentang apa yang terjadi pada Gienka kemarin. Sebagai orangtua tentu mereka tidak bisa tenang memikirkan hal sebesar itu terjadi pada anaknya.


Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Cahya juga Aditya serta kedua orangtua Aditya. Mereka sangat tahu dan mengerti bahwa Ariel pasti tidak akan bisa tenang begitu saja mendengar hal ini, sehingga kedatangan mereka tidak mengejutkan bagi Aditya.


Cahya memeluk Maysa dan Elea, terlihat jelas diwajah keduanya bahwa ada kesedihan disana. Cahya kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Masalah ini begitu besar dan rumit, walaupun Ky meyakinkanku agar tidak marah ataupun emosi, aku bisa melakukannya untuk Gienka, tetapi tetap saja aku tidak bisa tenang! Putriku berada sangat jauh disana, dan Ky juga sibuk bekerja, dia setiap hari pasti sendirian ketika Ky pergi, aku tidak tenang...!" Ucap Ariel membuka pembicaraan.


Aditya tersenyum memahami kekhawatiran yang dirasakan oleh Ariel. "Bukan hanya kau Iel, aku dan Cahya juga merasakan hal yang sama, Gienka bukan hanya menantu tapi dia adalah putriku juga, dia, Kyra Kyros tumbuh bersama dan tidak bisa terpisahkan tentu hal yang terjadi ini sangat mengejutkan kita semua, anak-anak sudah dewasa dan mereka bisa menentukan ke arah mana mereka akan mengambil sikap!" Ujar Aditya.


"Ky melakukan hal yang bagus dengan memberitahu kita meskipun Gienka melarangnya, Ky juga meminta pendapat, serta solusi pada kita, aku terlalu terkejut hingga membuatku belum bisa menentukan sikap mengingat Gienka sangat takut jika hal ini bisa mempengaruhi Camilla atau keluarganya, sepertinya Gienka sudah sangat hafal dengan cara kerja kita berdua menghadapi hal semacam ini...!" Timpal Aditya lagi sambil terkekeh.


Aditya tahu sekali kenapa menantunya itu bersikap demikian, ya pasti Gienka sangat mengerti banyak hal tentangnya juga Ariel. Bagaimana dia dan Ariel mengambul sikap jika ada permasalahan seperti ini. Cara yang mungkin bagi Gienka itu kejam tetapi bagi dia dan Ariel itu cara terbaik untuk membuat seseorang yang angkuh bisa terdiam dan perlahan pasti akan menyadari kesalahannya. Tetapi kali ini, Aditya terhalang oleh keinginan Gienka yang tidak ingin memperpanjang masalah ini, padahal bisa saja Aditya melakukan sesuatu pada Camilla, seperti membekukan visa serta ijin tinggal Camilla disana hanya dengan menghubungi koleganya yang berada di bagian terkait, hanya saja menantunya itu tidak mau hal semacam itu terjadi.


"Kau benar Dit....! Aku sendiri tidak mengerti kenapa putriku bersikap seperti itu, padahal aku sering mengajarinya agar bersikap tegas jika menghadapi sesuatu....! Dan aku tidak ingin hal buruk terjadi lagi baik itu pada Gienka sendiri atau Ky, aku memutuskan agar mereka pindah ke tempat baru, tidak lagi di apartemen itu! Aku sudah menghubungi rekanku yang bekerja di bagian properti yang ada di Washington, aku memintanya agar mencarikan rumah untuk putri serta menantuku, rumah yang nyaman juga nyaman untuk mereka tinggali!" Ujar Ariel dan langsung disambut baik oleh Aditya.


"Good idea...! Aku sebenarnya juga sempat terpikir hal itu sebelum kejadian ini Iel, mengingat Ky tinggal di apartemen yang tidak terlalu luas, hanya ada satu kamar disana, aku takut menantuku tidak nyaman disana! Aku sangat menyukai idemu itu!"


Ariel mengangguk. "Dia akan langsung menghubungiku jika sudah menemukan tempat yang bagus sehungga Ky juga Gienka bisa langsung pindah tanpa menunggu waktu yang lama lagi, aku tentu juga memikirkan tentang pekerjaan Ky, jadi sebisa mungkin rumah itu tidak jauh dari tempat kerja Ky! Oh iya, siapa sebenarnya Camilla itu? Ky bilang dia adalah teman dekat Kyra??" Tanya Ariel.


Cahya kemudian menjelaskan kepada Ariel siapa Camilla dan juga bagaimana dekatnya Camilla denga Kyra dulu saat keduanya menempuh pendidikan di universitas yang sama. Dan saat ini Camilla bekerja sebagai staf bagian perencanaan di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang perhotelan di Wangshinton itu yang menyebabkan Camilla juga tinggal di apartemen yang sama denga Kyros. Itulah informasi yang di dapat Cahya dari cerita Kyra, dan itu tidak lama setelah keduanya lulus sekitar satu tahun yang lalu. Sementara keluarga Camilla tinggal di Seattle.


"Apa kau tahu nama perusahaannya Ca???" Tanya Ariel lagi.


Cahya kemudian mencoba mengingat-ingat nama perusahaan tempat Camilla bekerja, karena saat Kyra bercerita itu sudah cukup lama. Tetapi kemudian Cahya mengingatnya dan memberitahu Ariel.


Mendengar nama perusahaan itu, Ariel langsung refleks mengatakan jika dia mengenal Ceo nya, karena beberapa tahun yang lalu, dia pernah bertemu dalam sebuah forum dimana dihadiri oleh banyak pimpinan perusahaan yang bergerak dibidang perhotelan. Dan dia juga 2 tahun terakhir bekerja sama dengan mereka, bahkan sampai sekarang juga masih sering berkomunikasi. Ariel merasa dia tidak bisa diam begitu saja dengan membiarkan Camilla melenggang dengan mudahnya setelah hampir menghilangkan nyawa putrinya. Meskipun Gienka melarangnya dan Aditya melakukan sesuatu, tetapi ariel tetap saja tidak bisa berdiam diri. Camilla harus mendapatkan hukuman atas segala perbuatannya.


Ariel kemudian menjelaskan pada Aditya tentang rencananya untuk memberi hukuman pada Camilla tetapi meminta agar semua orang yang ada disini tidak menceritakan rencananya pada Kyros maupun Gienka. Ini akan dia lakukan untuk kebaikan Gienka dan Kyros. Mendengar itu Aditya langsung menyetujuinya, sebuah pemikiran ide yang brilian dari Ariel. Cukup kejam tetapi Camilla harus menerima hal itu sebagai hukumannya. Ariel hanya ingin kebahagiaan Gienka, keamanan putrinya sangat penting mengingat Gienka berada jauh darinya saat ini.


"Aku hanya ingin keadilan untuk putriku, kita semua membesarkannya dengan limpahan kasih sayang, tidak oernah menyakitinya tetapi justru orang lain ingin melenyapkan nyawanya! Aku tidak bisa menerima itu, Camilla harus mendapatkan hukuman, dan harus tahu siapa kita sebenarnya! Kita tidak bisa membiarkan nyawa Gienka dipermainkan dengan orang seperti Camilla itu...!" Geram Ariel, sambil mengepalkan tangannya.


"Aku setuju saja jika itu yang terbaik untuk anak-anak kita! Begini saja, bagaimana kalau kita kesana, kita bisa memastikan keadaan Gienka, aku sangat mengkhawatirkannya, kau setuju kan jika kita semua kesana???" Tanya Cahya pada Aditya.


"Ya bagus, kita kesana, bagaimana Iel??" Aditya bertanya pada Ariel.


"Tidak masalah, aku juga sangat penasaran bagaimana wajah gadis yang sudah menyiksa putriku itu? Aku ingin memberinya pelajaran yang setimpal, jadi kapan kita bisa pergi???" Ariel berbalik bertanya pada Aditya.


"Besok atau lusa tidak masalah, aku akan menghubungi pilotku, aku harap dia bisa jadi kita bisa pergi dengan pesawatku!" Ujar Aditya.