I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 294



Sampai di pemakaman, keranda di turunkan secara perlahan. Theo menempatkan Celia di antara makan kedua orang tua nya yang sudah pergi lebih dulu. Berharap mereka akan menjaga Celia nanti. Theo turun ke dalam liang lahat bersama dengan satu orang yang nanti akan membantu untuk menempatkan Celia. Kurang satu orang lagi yang harus membantu kedua nya memegang jenazah Celia.


Kyra memandang ke arah Axel, tersenyum seolah memberi kode agar lelaki itu mau turun dan membantu Theo. Kyra berharap Axel mau melakukannya sebagai penghormatan terakhir kepada Celia. Bagaimanapun Axel pernah merajut kebahagiaan dengan Celia selama bertahun-tahun, dan Celia juga orang yang sangat baik. Perpisahan mereka terjadi bukan di karenakan ego atau kesalahan masing-masing, melainkan karena keadaan yang mengharuskan mereka untuk berpisah, sehingga tidak pernah ada sakit hati ataupun dendam di hati mereka berdua.


Axel pun mengerti maksud dari Kyra. "Pap... Boleh aku turun???" Tanya Axel pada Aditya yang ada di sebelahnya.


Aditya menoleh dan melempar senyum. "Tentu saja... Celia berhak mendapatkan perlakuan baikmu untuk terakhir kalinya.. " Gumam Aditya.


Axel tersenyum dan dia kemudian turun ke dalam liang lahat untuk membantu Theo. Mereka di arahkan oleh seorang pemuka agama untuk menurunkan jenazah Celia. Perlahan hingga membaringkan Celia di tempat peristirahatan terakhir nya. Theo kemudian di minta mengumandangkan adzan untuk terakhir kalinya untuk Celia. Ini jadi yang pertama dan terakhir bagi Theo, karena saat Celia lahir dulu, dia tidak ada kesempatan melakukan kewajibannya itu, dan sekarang justru dia harus melakukannya saat Celia sudah tiada.


Dengan menahan tangis, dan suaranya bergetar, akhirnya Theo mengumandangkan adzan di dalam liang lahat putri tercinta nya. Beberapa kali suara Theo tertelan, Axel yang ada di sampingnya memegang pundak Theo untuk menguatkan pria itu. Dia sangat mengerti bagaimana perasaan Theo saat ini. Sudah banyak hal yang Theo siapkan untuk Celia tetapi semua itu sekarang harus terkubur dengan jasaad Celia.


Axel tiba-tiba teringat akan sosok Celia saat bersama nya dulu. Celia yang selalu ceria, manja dan perhatian. Celia tidak pernah mengeluh ketika sedang bermasalah dengan Mama nya. Celia selalu mengatakan jika Papa nya selalu mengajarinya untuk menghormati orang yang lebih tua dan tidak boleh melawan Mama nya. Itulah yang membuat pribadi Celia baik, meskipun dia sering sekali di marahi oleh Oma dan Mama nya. Dia tetap dalam pendiriannya dan tidak pernah membantah kedua orang itu. Saat ini Celia sudah tiada, Axel akan mengenangnya sebagai orang yang sangat baik.


***


Proses pemakaman Celia sudah hampir selesai. Semua orang menundukkan kepala, mendahkan tangan untuk mendoakan Celia, tetapi tiba-tiba orang teralihkan dengan suara seseorang yang memanggil nama Celia dari kejauhan.


"Celia.....!!!!"


"Ah ya ampun, kenapa penjahat ini bisa datang kesini..???" Gumam Randy pada Aditya dan Ariel yang ada di sebelahnya.


"Dia sepertinya dapat ijin dari pengadilan, lihatlah tangannya di borgol dengan seorang petugas pengadilan, dan polisi juga bersama nya.. " Sahut Ariel.


Ya, itu adalah suara Cyntia. Dia mendapatkan ijin dari pengadilan untuk menghadiri pemakaman Celia setelah di bantu oleh pengacara nya dan melalui proses yang cukup panjang hingga akhirnya sampai disini. Semua orang yang hadir pun terkejut dengan kedatangan Cyntia. Termasuk Theo. Wajah lelaki itu berubah dari sedih menjadi penuh kemarahan melihat Cyntia datang. Wanita itu adalah penyebab dari semua ini. Cyntia yang sudah membuat Celia seperti ini dan mengakhiri hidupnya sendiri tanpa Celia sadari.


Cyntia berlari dan langsung duduk di tanah memeluk nisan Celia. "Celia.......!!!!! Kenapa kau meninggalkan Mama....???? Kenapa Celia....!!!" Teriak Cyntia dan terisak di depan pusara Celia. Semua orang hanya terdiam. "Celia..... Jangan tinggalkan Mama naakkk......???"


Melihat itu, Theo mendekati Cyntia dan dengan kasar menarik Cyntia menjauh dari malam Celia. "Pergilah..... Dan jangan jual airmata mu disini...!" Seru Theo. "Tidak ada gunanya nya, karena ketidakpedulian mu, aku harus kehilangan putriku.... Kau memang ibu yang tidak berguna... " Ucap Theo sambil menahan kemarahannya.


"Jika dia memang putri mu kenapa kau menyiksa nya??? Kenapa kau terus menyakiti nya???? Kenapa kau melakukan semua ini????" Tanya Theo dengan berteriak tepat di depan wajah Cyntia. "Bahkan seekor induk singa akan melindungi anak-anak nya dengan baik, bukan membunuh mereka...!!!! Bahkan sampai di detik terakhirnya kau tidak pernah sekalipun meminta maaf kepadanya dan menyesali perbuatanmu... Ibu macam apa kau ini...???? Ibu macam apa..????"


"Karena itu bukan kesalahanku, kau yang bersalah kenapa kau tidak memberitahu ku jika Celia bersama mu...!!"


"Dia berhak menentukan mana yang menurutnya baik, dia ikut denganmu aku pun tidak pernah mempermasalahkannya, aku biarkan karena aku yakin kau bisa menjaga nya dengan baik! Tapi apa yang kau lakukan...!!!??? Kau membuatnya tertekan setiap waktu, dia bertahan karena dia menghormatimu sebagai ibu nya, tapi kau tidak pernah sadar bahwa hidup putrimu seperti di neraka..!"


Cyntia memalingkan wajahnya enggan menatap Theo tetapi kemudian dia justru memandang ke arah Axel. Tatapannya menajam dan dia melangkahi malam Celia penuh dengan kemarahan menghampiri Axel.


Tanpa di duga, Cyntia mendorong Axel dengan satu tangannya membuat Axel memundurkan langkahnya. "Dia lah penyebab semua ini.... Si bodoh inilah yang sudah membuat putriku meninggal...!!" Teriak Cyntia pada Axel. Cyntia menarik kerah pakaian Axel dengan penuh kemarahan.


"Jika saja kau tidak menolak ajakan putriku untuk kembali, dia pasti tidak akan berakhir seperti ini... Kau yang sudah meracuni pikiran Celia, sehingga dia cinta mati kepadamu tapi dasar manusia angkuh, dan tamak, kau menolak putriku dan memilih perempuan kaya raya agar kau bisa menghabiskan harta keluarga nya untuk kepentingan mu sendiri.... Kau yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini, Celia meninggal karena mu, kau harus di hukum Axel.....!!!" Cyntia mengangkat tangannya dan bersiapenampar Axel tetapi dengan cepat tangannya di tahan oleh seseorang. Cyntia melihat ke belakang dan menemukan Theo ternyata yang menahannya.


Lelaki itu memandang dengan pandangan nanar, penuh luka bercampur kemarahan. "Berhentilah menyalahkan orang lain atas perbuatanmu...!" Ucap Theo. "Berhentilaaaahhhhhh....... Jangan membuatku semakin muak melihat dan menghadapi kegilaan mu...!!"


Theo mendekati Cyntia dan menghempaskan lengan Cyntia dengan kasar. "Kau selalu menyalahkan Axel atas semua yang terjadi, tetapi sekali pun kau tidak pernah merenungi semua yang terjadi?? Kau adalah sumber dari semua bencana ini.. Sejak awal kau tahu bahwa Celia dan Axel saling mencintai, hanya karena Axel bukan dari keluarga kaya, kau dengan kegilaan mu bersama dengan Mama mu mulai menghancurkan kebahagiaan mereka berdua, kau memisahkan mereka dengan menghina harga diri Axel dan keluarga nya, keluarga siapapun yang di hina pasti mereka akan marah, dan mengambil keputusan besar meskipun hati mereka hancur, kau memisahkan mereka, kau tidak merestui hubungan mereka, dan dengan angkuhnya kau berseloroh akan mendapatkan laki-laki yang kaya raya untuk Celia, tapi kau tidak berpikir apakah hal itu bisa membuat Celia bahagia atau tidak...??"


"Aku sudah mendatangi nya dan meminta dia kembali lagi dengan Celia, karena aku menyadari bahwa Celia sangat mencintai nya tetapi dia menolaknya.. " Sela Cyntia.


"Kau terlambat mendatangi nya karena dia sudah menemukan perempuan lain dan dia sangat mencintai nya... Lagipula aku tidak yakin bahwa kau meminta nya kembali dengan Celia adalah karena kau menyadari cinta Celia pada Axel yang begitu besar.. Kau meminta Axel kembali dengan Celia karena kau tahu bahwa saat ini Axel memiliki banyak uang, terkenal karena prestasi nya, yang dulu tidak Axel miliki saat bersama Celia??? Benar bukan tebakanku ini???" Tanya Theo.


"Itulah busuknya dirimu Cyntia.... Kau selalu saja berpikir tentang materi untuk memuaskan naluri mu, selalu memandang orang dari status sosialnya dan kekayaannya, kau akan menghormati mereka ketika mereka memiliki segala nya, akan tetapi jika mereka tidak memiliki harta, kau akan menghancurkan harga diri mereka sampai yang paling terbawah..! Seharusnya kau sadar kenapa Axel menolak kembali Celia, selain karena dia sudah memiliki Kyra, juga karena dia bisa melihat berapa tidak bermoral nya dirimu dan berapa kau tidak tahu diri sebagai manusia, kau menghina begitu kejam lalu mengemis kepada nya, tidak ada penyesalan dan ketulusan dalam setiap ucapanmu, orang lain pun akan muak denganmu..." Lanjut Theo lagi, dia masih mencoba menahan kemarahannya. "Sekarang pergilah dari tempat ini, dan jalani hukuman mu dengan baik, semoga kau mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu, dan bayangan Celia akan selalu menghantuimu karena kaulah penyebab dari kematiannya, pergi dan jangan rusak acara pemakaman putriku dengan tangisan buaya mu, dia tidak membutuhkan itu darimu.. Pergilah sebelum aku membunuhmu disini... Persetan dengan hukum, aku sudah kehilangan putriku karena kau, maka aku bisa saja membunuhmu saat ini juga tetapi aku menghargai putriku yang sudah terbaring di bawah tanah..."Ucap Theo.


Kemudian Theo menangkup kan kedua tangannya memandang kepada petugas pengadilan. " Pak...!! Bu..!!! Saya mohon bawa pergi wanita ibIis ini, kembalikan dia ke sel nya, sebelum batas kesabaran saya habis.... Saya tidak ingin putri saya sedih melihat kekacauan yang di lakukan ibu nya lagi di acara pemakamannya... Tolong bawa dia pergi dari sini.. " Ucap Theo dengan berlinang airmata. Petugas yang membawa Cyntia pun mengajak Cyntia untuk pergi, tetapi Cyntia menolak hingga membuat mereka harus menyeret Cyntia dari tempat itu.


Dan acara di lanjutkan dan pemujaan agama kembali memimpin doa sebelum mereka juga meninggalkan tempat pemakaman ini. Theo tidak bisa menahan airmata nya. Aditya menepuk pundak Theo untuk menguatkan lelaki itu. Dia bisa memahami bagaimana hancurnya hati seorang melihat putrinya pergi dengan cara yang menyesakkan dada. Apalagi Theo punya banyak harapan pada Celia.