
"Lalu, setelah perpisahan kalian selama dua tahun itu, Mamay kan menikah lalu berpisah juga dengan mantan suaminya, Bagaimana Papa Iel mendekatinya lagi???" Tanya Gienka.
Ariel terkekeh. "Papa adalah orang yang paling gengsi di dunia ini hahaha, keras kepala, gengsi yang sangat tinggi, malu mengakui kesalahan itulah Papa dulu...! Tetapi Papa tidak bisa membohongi diri Papa jika Papa masih mencintai Mamay mu..! Dan Gie kecil Papa ini dulu membongkar rahadia terbesar Papa pada Uncle Randy dan Aditya nya... Hahaha"
"Aku????" Gienka mengernyit. "Memangnya rahasia apa yang aku katakan pada Uncle Randy dan Uncle Adit???" Tanya Gienka lagi.
★‡★‡ Back to 14 Years Ago ★‡★‡★‡
Ariel datang untuk bertemu Aditya dengan membawa surat perjanjian jual beli apartemennya. Ariel tidak datang sendiri melainkan bersama dengan Randy juga Gienka yang tadi dia jemput disekolahnya. Gienka berlari ke sudut ruangan Aditya dimana disana ada area bermain milik Kyra dan Kyros.
Ariel langsung duduk di depan meja Aditya dan memberikan surat perjanjian itu padanya. Aditya mengambilnya dan membacanya dengan teliti sebelum menandatanganinya. Sementara Randy sibuk mencari minuman di dalam chiller yang ada di ruangan Aditya.
"Jadi kau pindah kapan??? Biar aku bisa mencari orang untuk membantu kepindahanmu dan orangtuamu"
"Mama dan Papa akan langsung pindah setelah kembali dari pernikahan Adri dan Chika di Bali, sedangkan aku mungkin beberapa hari setelahnya, kami hanya pergi membawa pakaian dan beberapa barang saja jadi tidak perlu bantuan, kecuali untuk memindahkan sementara furnitur-furnitur serta barang lainnya ke gudang yang ada di belakang kantor ini, kebetulan saat ini sudah dikosongkan, jadi kurasa lebih aman"
"Oke aku mengerti, aku akan mengurus untuk pemindahan barang dan furniturmu, dan renovasi rumahmu akan kupastikan selesai dalam 6 bulan paling lama"
"Thx Iel, kuserahkan semua padamu" Aditya kemudian menandatangani surat-surat itu.
Ariel juga memanggil Randy untuk ikut tanda tangan sebagai saksi. Setelah itu Aditya menunggu Maysa untuk membawa cek yang akan diberikan kepada Ariel sebagai bukti pembayarannya. Dan saat ini Maysa masih belum kembali dari tugas yang diberikan Aditya untuk menyalin dokumen-dokumen.
Randy menyerahkan sekaleng minuman soda di depan Ariel, tetapi Ariel menolaknya karena dia tidak mau meminum soda. Randy mencemooh sikap Ariel yang tidak tahu terima kasih karena sudah di ambilkan, kemudian dengan kesal menyuruhnya agar mengambil sendiri minuman yang diinginkannya.
"Kau payah sekali Ran!" Gumam Ariel kemudian memundurkan kursi yang didudukinya dan berjalan menuju mini bar yang ada di ruangan Aditya itu dan mencari brendi.
Sebuah ketukan pintu mengalihkan Aditya dan Randy, Maysa masuk membawa berkas yang sudah di salinnya dan juga cek yang diminta oleh Aditya tadi. Ariel hanya diam dan melirik ke arah Maysa yang sedang berbicara dengan Aditya.
Maysa mengingatkan Aditya lagi jika besok atasannya itu memiliki schedule untuk meeting dengan klien jepang. Aditya menganggukkan kepalanya, tetapi Aditya melirik ke jam dinding di depannya.
"May, apa kau tidak ke sidangmu lagi?? Ini sudah siang, biasanya kau sudah bersiap untuk pergi??" Tanya Aditya.
"Sidang saya sudah selesai minggu lalu pak dan sudah ada keputusannya" Jawab Maysa.
"Oh sudah selesai, baiklah kalau begitu, pesankan makan siang untuk kami bertiga, dan ambilkan kue untuk Gienka"
Maysa mengangguk dan mengucapkan permisi kepada Aditya lalu keluar dari ruangan itu.
"Sidang apa yang sedang dijalani Maysa??? Apa dia kuliah lagi???" Tanya Randy.
"Bukan...! Setiap seminggu sekali Maysa meminta ijinku untuk masuk setengah hari karena dia harus menghadiri sidang perceraiannya"
"Perceraian??? Dia bercerai??" Seru Randy.
Ariel diam menuang brendi ke sebuah gelas, berpura-pura tidak peduli dengan bahasan Aditya dan Randy tentang Maysa tetapi dia diam-diam menyimaknya.
"Iya, dia diceraikan oleh suaminya, biasalah jika rumah tangga terlalu direcoki oleh orangtua endingnya tidak pernah akan bagus, mertuanya menginginkan cucu tetapi sayangnya Maysa tidak bisa memberikannya, maka itu jalan satu-satunya" Ujar Aditya.
"Ciiihhh..... Masih ada juga yang seperti itu, padahal wajah suami Maysa juga tidak terlalu tampan, tetapi orangtuanya bersikap seburuk itu pada menantunya, menjijikkan...!" Gumam Randy.
Aditya melirik ke arah Ariel dan memergoki sahabatnya itu sedang sibuk menyimak pembicaraannya dengan Randy. Aditya tersenyum. Jika saja Ariel dulu tidak mencapakkan Maysa mungkin saat ini baik Ariel atau Maysa akan bahagia dalam sebuah pernikahan, tetapi itu juga tidak bisa menjamin karena mungkin saja Ariel juga akan menuntut Maysa agar memiliki anak, mengingat dulu Ariel juga melakukannya saat bersama Elea.
Randy heran melihat Aditya tersenyum sendiri, tetapi kemudian dia mengarahkan pandangannya ke Ariel yang masih berdiri di depan meja bar. Randy ikut tersenyum, menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Ariel saat ini.
"Iel....!!!! Apa kau tidak memiliki niat mendekati Maysa lagi? Menikahlah lagi sebelum kau menjadi duda lapuk!" Ucap Randy dengan nada menggoda.
"Diamlah kau...!" Gerutu Ariel tahu bahwa sahabatnya sedang mengejeknya.
"Masalalu sudah berlalu Iel, lupakan saja, kau juga mintalah maaf pada Maysa, selama ini kau tidak pernah melakukannya kan??? Kesalahan bukan padanya, jadi tidak ada salahnya kau melakukannya" Timpal Randy lagi
Ariel tidak menanggapi Randy dan malah asyik menikmati brendi yang ada di dalam gelas yang dia pegang.
"Gienka....!!!" Teriak Randy kemudian menggerakkan tangannya agar Gienka mau mendekat kepadanya.
Gienka berlari dan menghampiri Randy. "Ada apa Uncle??"
Saat itu juga, Maysa kembali datang ke ruangan Aditya dengan membawa beberapa potong kue cokelat di piring. Maysa tersenyum saat melihat mata Gienka tidak berkedip melihat kue yang di pegangnya. Maysa menyentuh rambut Gienka dan mengusap lembut pipi tembem bocah itu seraya memberikan kue yang dipegangnya. "Kue cokelat manis untuk anak yang tidak kalah manisnya" Gumam Maysa.
"Telima kasih, kau cantik sepelti Mamaku dan baik hati" Ucap Gienka yang kemudian disusul dengan sebuah kecupan di pipi Maysa. "Emmmm aku pelnah melihat fotomu dilumah Papa Yel, di laci kamalnya, papa Yel sedang mencium pipimu dan kau telsenyum, tetapi kenapa aku tidak pelnah melihatmu ada di lumah papa Yel?" Gumam Gienka dengan polosnya.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Gienka, termasuk Ariel. Dia tidak menyangka jika Gienka bisa menemukan foto itu. Dia memang masih menyimpan fotnya dengan Maysa karena sebenarnya dia diam-diam masih memiliki perasaan pada Maysa. Berakhirnya hubungannya dengan Maysa dulu sangat buruk dan tidak di sangka oleh Ariel sendiri tetapi dia tahu bahwa dia tidak boleh dan tidak bisa bersama Maysa karena perempuan itu ternyata adalah putri dari mantan selingkuhan Ayah Ariel yang sudah membuat Almarhumah Mama Ariel meninggal.
Maysa hanya tersenyum malu menatap Gienka, sedangkan Gienka memutar badannya dan memandang Randy.
"Tadi Uncle memanggilku, ada apa??"
"Ah iya uncle lupa, umhhh tadi kau bilang bahwa tante Maysa cantik dan baik hati seperti mamamu, dan juga kau pernah melihat fotonya bersama Papa Yel mu, apa kau setuju jika tante Maysa tinggal dirumah papa Yelmu, jadi Gie bisa bermain dengannya dan setiap hari Gie bisa makan kue lezat seperti ini"
Dengan polosnya Gienka menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, tante bisa tinggal dilumah papa Yel, bisa membantunya memasak dan menemaniku membuat teh untuk Papa Yel, sepelti yang dilakukan Mamaku untuk Papa Dan! Tante cantik kapan tante mau ke lumah papa Yel?"
Aditya dan Randy terkekeh, sementara wajah Maysa berubah menjadi memerah. Disudut lain, Ariel tampak menahan kekesalannya pada Randy. Maysa dengan cepat mengucapkan permisi dan meninggalkan ruangan Aditya. Sepeninggal Maysa, Aditya dan Randy melepaskan tawa mereka. Ariel ingin sekali menghajar dan mengumpat Randy tetapi dia tidak bisa melakukannya saat ada Gienka didekatnya. Randy memang sangat keterlaluan memanfaatkan kepolosan Gienka untuk mengerjainya dan membuatmya malu di depan Maysa.
Gienka membawa kue ke pojokan ruangan Aditya dan duduk di kursi kecil yang ada disana kemudian memakannya. Sementara Ariel dengan kesal menghampiri Randy yang duduk di sofa.
"Kau benar-benar keterlaluan Ran, memanfaatkan Gienka yang polos untuk mempermalukanku" Gerutu Ariel.
"Astaga, bukan aku yang mempermalukanmu, putrimu sendiri yang mengatakan jika kau ternyata menyimpan fotomu dan Maysa, hahaha aku mana tahu....!!!"
"Kau yang memancingnya, aku sudah pasti akan menghajarmu jika saja tidak ada Gienka disini"
"Elleh...!!! Mumpung kesempatan sedang terbuka lebar, aku tahu kau masih mencintai Maysa, lupakan masalalu dan kejar masa depan, lagipula apa susahnya meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kau sakiti? Hilangkan gengsimu Iel, katakan maaf pada Danist dan Mamanya juga dengan Maysa, mereka sama sekali tidak bersalah, mereka bertiga orang baik, kau hanya akan semakin merasa hampa jika terus seperti ini" Ucap Randy.
Aditya berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menghampiri kedua sahabatnya yang ada di sofa. Aditya duduk dan melipat tangan menatap Ariel.
"Randy benar Iel, buang jauh-jauh gengsimu, putrimu akan semakin dewasa, suatu saat dia juga pasti akan bertanya tentang hubunganmu dengan Danist, lagipula Danist sangat baik, dia pasti akan memaafkanmu, peluk dia dan bersatulah untuk Gienka, kau pasti sangat tahu jika dia juga begitu menyayangi Gienka, kenyataan bahwa kau adiknya itu tidak bisa berubah sampai kapanpun, aku yakin tante Irma juga akan senang melihat semua itu, kau dan Danist saling menyayangi, mengingat dulu dia sangat menyesal atas perbuatannya"
Aditya dan Randy hanya mengehela napasnya dan saling memandang. Ariel selalu saja bersikap seperti itu saat mereka mencoba mengingatkan sahabatnya itu.
###
Beeberapa hari kemudian di pernikahan Adik sepupu Aditya yaitu Adri dengan Adik Cahya yaitu Chika di sebuah villa mewah milik keluarga Aditya di Bali.
Ariel berdiri sendiri menatap matahari terbenam sambil memegang gelas berisi champagne yang tinggal sedikit. Ariel memejamkan matanya, dan tiba-tiba terpikirkan tentang Maysa. Sekilas tadi dia melihat perempuan itu, Maysa terlihat begitu cantik dengan gaun merah yang dipakainya, kecantikannya tidak berubah meski bertahun-tahun sudah berlalu dan dia juga sudah pernah menikah. Maysa tetap sama, mungkin karena perempuan itu belum memiliki anak jadi kecantikannya tidak banyak berubah, dan menyadari juka saat ini Maysa sudah berpisah dari suaminya, tetapi dia tidak tahu alasan mereka berpisah kenapa. Jika saja dulu dia jadi melamar Maysa, mungkin saat ini dia dan Maysa akan berbahagia bersama. Gienka juga terlihat sangat menyukai Maysa.
Ariel menggelengkan kepalanya dan menyadarkan khayalannya tentang Maysa. Kemudian Ariel membuka matanya dan hendak meminum lagi Champagne nya tetapi kemudian dia menyadari isi gelas yang dipegangnya hanya sisa sedikit. "Ah tinggal sedikit, padahal suasana sedang bagus untuk menikmatinya sambil memandang laut dengan hiasan jingga diatasnya" Gumam Ariel.
Ariel membalikkan tubuhnya dan memanggil pelayan yang sedang berkeliling membawa nampan berisi wine di gelas. Pelayan itu mendekati Ariel, kemudian Ariel mengambil segelas wine berwarna merah maroon itu. Ariel kembali membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan menikmati sunset. Tetapi dari kejauhan tiba-tiba dia melihat seseorang sedang berdiri di tepi pantai dengan sandalnya yang dilepas dan dipegang. Tidak salah lagi itu adalah Maysa. Perempuan itu berdiri sendirian menghadap ke arah barat, menyisahkan siluet yang sangat indah, beberapa helai rambut Maysa diterpa angin membuatnya sedikit menyibaknya lalu tersenyum.
"Dia semakin cantik!!!" Gumam Ariel.
Sedetik kemudian Ariel tetersadar bahwa sejak tadi dia terlalu berlebihan memuji dan mengagumi Maysa. Kisah mereka sudah berakhir sejak lama dan tidak akan pernah lagi bisa kembali. Masalalu yang menyakitkan membuat Ariel tidak bisa menerima Maysa sebgai rekan hidupnya. Jalan mereka berbeda, tidak akan pernah bisa bersatu. Ariel pun kembali ke tengah-tengah pesta, dia sejak tadi memilih sendiri dan melupakan Gienka.
******
Malam tiba, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan pesta. Ariel menggendong Gienka yang mulai mengantuk. Putrinya itu terlalu bersemangat sejak tadi dan tidak berhenti berlarian hingga akhirnya sekarang dia merasa kelelahan dan mengantuk sekali. Ariel berpamitan untuk segera kembali ke hotel pada Aditya dan Cahya juga pada Adri dan Chika, mengucapkan selamat untuk pernikahan mereka. Setelahnya, Ariel membawa Gienka keluar.
Ariel membuka pintu mobilnya, memasukkan Gienka kemudian memasang seat belt pada putrinya itu, merendahkan sedikit joknya agar Gienka merasa lebih nyaman dan menutup kembali, lalu berjalan ke sisi kanan mobilnya.
Saat bersamaan, Maysa keluar dari dalam gerbang villa Aditya, dan dia tidak sengaja melihat ke arah Ariel yang berjalan di depan sebuah mobil. Lelaki itu dulu telah bisa meluluhkan hatinya, perhatian yang diberikan Ariel, cinta kasihnya masih begitu melekat diingatannya, hanya saja cara Ariel mengakhiri hubungan mereka sampai saat ini masih meninggalkan luka yang begitu mendalam. Tetapi perlahan dia bisa memahami bagaimana perasaan Ariel saat itu, dan mencoba memakluminya. Ariel hanya korban dari buruknya perilaku Ayahnya juga dengan Mamanya yang sungguh keterlaluan. Mungkin jika dia ada diposisi Ariel, tentu dia juga tidak akan mau menjalin hubungan dengan anak dari mantan selingkuhan orangtuanya, hanya saja cara Ariel saat itu terlalu kasar saat mengakhiri hubungan mereka. Maysa tahu bahwa Ariel pasti merasa tidak melakukan kesalahan, hingga lelaki itu tidak pernah sekalipun meminta maaf kepadanya, tetapi tidak apa, Maysa sudah memaafkannya kemudian tetap menjalani kehidupannya tanpa Ariel dan memutuskan menikah dengan laki-laki lain.
Sebenarnya dia berusaha menjalani pernikahannya dengan baik dan mencoba menjadi istri yang bertanggung jawab, hanya saja semua tidak berjalan seperti seharusnya, karena orangtua suaminya selalu ikut campur dengan urusan rumah tangganya, membuat situasi yang harusnya baik-baik saja menjadi penuh ketegangan setiap harinya dan selalu menuntutnya agar bisa segera memiliki anak. Saat itu dia sudah berusaha sebisa mungkin, dan mendatangi dokter kandungan, sayangnya dokter memvonisnya tidak akan bisa memiliki anak. Ucapan dokter terlalu berlebihan hingga membuatnya down saat itu dan menangis ditempat, bahkan dia tidak lagi ingat apa saja yang dikatakan dokter saat itu karena sibuk menangis, yang kemudian membuatnya memilih meninggalkan ruangan itu. Dan pada waktu itu dia datang bersama suaminya, saat sampai dirumah, suaminya itu memberitahu keadaannya yang sebenarnya pada orangtuanya sehingga membuat mereka murka dan mengusirnya.
Selang beberapa hari, dia menerima surat gugatan cerai dari suaminya, dan beginilah nasibnya sekarang. Keberuntungan seolah tidak pernah berpihak kepadanya, setiap hubungan yang coba dia jalani selalu berakhir buruk. Ketika dia mendapatkan Ariel yang begitu perhatian padanya, hubungan itu berakhir dengan menyakitkan karena kesalahan yang dilakukan Mamanya dulu. Sebenarnya semua yang dicarinya ada pada Ariel, tetapi itu tidak mungkin lagi di perbaiki. Dan kalaupun dia menikah dengan Ariel, itu juga tidak akan menjamin kebahagiaan, Maysa tahu bagaimana dulu Ariel berpisah dengan mantan istrinya hanya karena urusan anak, mungkin jika dia jadi menikah dengan Ariel dan lelaki itu mengetahui kondisinya, tentu Ariel juga akan tetap meninggalkannya seperti dulu Ariel meninggalkan Elea. Membuat Maysa semakin yakin bahwa kisah asmaranya selamanya akan berakhir buruk, tidak akan pernah ada laki-laki yang mau menjadikannya sebagai istri, karena dia hanyalah perempuan mandul.
Karena terlalu fokus melamun dan tidak hati-hati saat berjalan, Maysa tidak bisa menyeimbangkan langkahnya karena sepatu yang dipakainya memiliki hak yang cukup tinggi, dan akhirnya membuatnya kesleo dan langsung jatuh ke tanah. Bruk.....!
"Aaaaarrrgggghhh...." Teriak Maysa. "Auwhhhh sakit.....!!!"
Ariel yang mendengar teriakan berusaha melihat ke segala arah dan menemukan seorang perempuan sedang duduk ditanah dan mengusap kakinya. Ariel berlari menghampirinya dan duduk berjingkok, saat itu dia menyadari jika ternyata perempuan itu adalah Maysa. "May... Kau kenapa???" Tanya Ariel.
Maysa meringis dan merintih kesakitan. "Kakiku sepertinya terkilir, aaahhh!!"
Ariel menyentuh kaki Maysa dan melepaskan sepatu yang dipakai perempuan itu kemudian memberikan sedikit pijatan membuat Maysa semakin merintih kesakitan, dan meminta agar dia berhenti memijatnya.
"Ayo..! Aku bantu kau berdiri...." Ariel melepaskan sepatu Maysa lagi yang sebelah kemudian merangkul Maysa dan membantu Maysa berdiri. "Aku akan membantumu berjalan...!" Gumam Ariel lagi.
Perlahan Maysa dibantu oleh Ariel berdiri, dan dia mencoba berjalan tetapi dia menjerit lagi karena kakinya terasa sakit sekali.
Ariel terlihat panik. "Kau tadi datang kesini dengan siapa???" Tanya Ariel.
"Auwwhhh....! Aku tadi naik taksi dari hotel pak...!"
"Kau akan kembali ke hotel kan??? Ikutlah denganku saja"
"Tidak perlu pak, aku akan pesan taksi lagi saja, aku tidak bisa merepotkan bapak"
"Aku tidak merasa direpotkan"
Tanpa pikir panjang, Ariel menggendong Maysa dan membawanya ke mobilnya. Maysa merasa terkejut dan tidak bisa berkata-kata. Ariel membuka pintu belakang mobilnya dan mendudukkannya didalam. Ariel menyuruh agar Maysa duduk berselonjor saja, kemudian dia menutup pintu belakang mobil, dan masuk ke dalam mobilnya lalu membawa Maysa dan Gienka ke hotel yang letaknya tidak jauh dari tempat ini. Seluruh tamu undangan yang haadir di pernikahan Chika dan Adri memang di beri fasilitas menginap di hotel yang sudah di sediakan, yaitu salah satu hotel milik Ariel. Itulah kenapa Ariel langsung membawa Maysa ke hotel bersama dengannya.
******
Dan sampailah mereka di hotel, Ariel turun kemudian memanggil staf hotelnya. Dia menyuruh agar bisa membawa Gienka ke kamarnya karena dia harus membawa Maysa yang sedang mengalami cidera kaki. Ariel membuka pintu belakang dan memasukkan setengah tubuhnya lalu kembali mengangkat Maysa. Ariel tidak memperdulikan ucapan Maysa yang mengatakan bahwa dia tidak perlu digendong dan bisa berjalan sendiri. Staf yang menggendong Gienka menekan tombol lift untuk bosnya itu kemudian masuk bersamanya.
Ariel tidak membawa Maysa ke kamar perempuan itu, tetapi justru membawanya ke kamarnya bersamaan dengan Gienka. Ariel bisa melihat kaki Maysa mulai bengkak, dan menyadari bahwa perempuan itu benar-benar terkilir. Ariel menyuruh staffnya itu agar menidurkan Gienka di tempat tidur, kemudian menyuruh lagi agar membawa krim pereda nyeri atau balsem dan juga perban cokelat untuk membalut kaki Maysa. Staf itupun mengangguk dan keluar dari kamar Ariel setelah membaringkan Gienka.
Ariel sendiri meletakkan Maysa di sofa panjang yang ada dikamarnya. Maysa duduk dan masih meringis karena menahan sakit di pergelangan kakinya yang mulai membengkak. Ariel kembali memijit kaki Maysa, gerakannya pelan agar Maysa tidak kesakitan, tetapi dia harus bisa menyelesaikannya saat ini juga, karena jika tidak, bengkak di kaki Maysa akan semakin membesar dan esok hari perempuan itu pasti akan lebih kesakitan. Dengan antisipasi dan hati-hati, Ariel memutar kaki Maysa dan terdengar bunyi kreteeek disusul dengan jeritan keras dari Maysa.
"Aaaaaarrrrrggghhhhh......!!!"
Ariel tersenyum. "Sebentar lagi bengkaknya akan kempes karena aliran darahnya akan kembali normal, duduk diamlah disini, aku akan mengambil air hangat untuk mengompres kakimu sambil menunggu perban dan balsemnya datang"
Ariel kemudiam berjalan meninggalkan Maysa dan menuju dapur. Tak lama Ariel kembali lagi membawa nampan berisi semangkuk air hangat dan segelas air putih. "Minumlah air ini dulu" Ucap Ariel dan memberikan gelas itu pada Maysa.
"Terima kasih"
Ariel kembali tersenyum, kemudian mencelupkan handuk kecil ke dalam mangkuk berisi air hangat itu dan memerasnya, lalu mengompreskannya pada kaki Maysa.
"Ah tidak perlu, biarkan aku sendiri yang mengompresnya" Ucao Maysa.
"Tidak apa, kau duduklah dengan nyaman, serahkan semuanya padaku dan kau akan baik-baik saja" Ariel meletakkan handuk itu di kaki Maysa yang terkilir dan terdengar ketukan pintu. Ariel berdiri dan membukanya karena itu pasti staf hotel yang tadi dia suruh untuk mengambil balsem dan perban.
Maysa menatap punggung Ariel, menyadari jika lelaki itu masih menyimpan kebaikan dan perhatian didalam hatinya. Seolah dia lupa bahwa mereka dulu sempat mengalami masa yang sangat menyesakkan dada. Ariel kembali lagi dengan perban dan krim penghilang nyeri sendiri di tangannya dan duduk di sofa.
Setelah kaki Maysa di kompres dengan air hangat, Ariel mengambil handuk kering dan perlahan mengeringkan kaki Maysa dari air yang masih menempel di kaki perempuan itu. Kemudian Ariel menekan untuk mengeluarkan krim itu dari tempatnya, dan dengan lembut mengusapkannya ke pergelangan kaki Maysa. Setelahnya Ariel menunggu sebentar sampai krim itu mengering sebelum membalutkan perban cokelat itu di kaki Maysa.
Sementara Maysa hanya diam dan memandang Ariel dengan tatapan yang begitu dalam. Lelaki ini pernah menghiasi hatinya dan memberinya kebahagiaan walaupun hanya sesaat. Kebaikan dan perhatiannya masih sama seperti dulu, dan Ariel selalu terlihat tampan dibalik penampilannya yang dingin, bahkan senyumnya juga masih sangat manis dan menenangkan hati.
Ariel selesai membalutkan perban di kaki Maysa, kemudian mengangkat kepalanya dan menemukan Maysa sedang tersenyum ke arahnya tetapi sepertinya Maysa tidak menyadari. Ariel membalas senyum Maysa dan tiba-tiba teringat akan masalalu mereka, kebahagian itu juga bagaimana dia dulu meninggalkan Maysa, dan sampai saat ini dia belum pernah meminta maaf kepada perempuan ini, padahal kesalahan jelas bukan terletak pada Maysa, tetapi kekejamannya dulu pasti telah meninggalkan luka.
"May... Maysa...." Panggilan Ariel itu akhirnya menyadarkan Maysa dari lamunannya.
"Ah iya...!" Jawab Maysa.
"Sudah selesai, bagaimana apa kau masih merasa kesakitan???" Tanya Ariel.
"Sudah mendingan, terima kasih" Ucap Maysa.
Ariel tersenyum kemudian berdiri dan duduk berjongkok di bawah Maysa yang duduk di lantai, kemudian Ariel meraih jemari Maysa dan mendongakkan kepalanya dengan sedih. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu May!"