
"Itulah sedikit kisah yang bisa Mama bagikan untukmu, kau pasti sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana Papamu bisa mengetahui segalanya tentang kehamilan Mama!" Ujar Elea.
Matanya yang lembut menatap putrinya dengan penuh cinta. Elea memegang jemari Gienka. "Gienka sayang...! Semua permasalahan Mama dengan Papamu sudah berakhir sejak bertahun-tahun yang lalu ketika kau masih kecil, kami mengakhirinya dengan baik, kemudian saling berjanji untuk kebahagiaanmu, tidak ada yang lain. Kami harus memikirkan segala hal yang baik untuk masa depanmu, saling memaafkan dan bersama-sama mengurusmu, sekarang kau juga sudah mengetahui segala jadi jangan pernah lagi berpikir hal buruk tentang Papamu, oke???"
"Benar apa yang di katakan oleh Mamamu sayang, tidak ada di dunia ini orang tua yang buruk, kami semua sangat dan terlalu menyayangimu hingga segala yang buruk kami tepiskan agar bisa menjadikanmu seseorang yang baik dan tidak pernah merasa kekurangan cinta dari kami, sekeras apapun hati Papa Iel mu, dia akan terluka sekali melihat kau marah kepadanya...! Maafkan segala kesalahannya di masa lalu, dia sudah berubah dan kau bisa lihat sendiri cintanya kepadamu, bahkan lebih dari cinta ang kami berikan padamu....!" Ucap Danist.
Sebagai seorang ayah sambung, Danist juga sangat mencintai Gienka layaknya dia mencintai Friddie, putranya bersama Elea atau adik Gienka. Tetapi sebesar apapun cinta yanv diberikan olehnya dan Elea kepada Gienka, itu sangat jauh dibandingkan cinta yang diberikan oleh Ariel. Adiknya itu sangat luar biasa dalam hal memberi kasih sayang kepada Gienka, seolah Ariel benar-benar ingin menepati janjinya dan juga menebus kesalahannya di masa lalu pada Gienka, dimana Ariel sempat membuat kesalahan kepada Elea, berselingkuh dari Elea dan mengabaikan Elea yang sedang hamil. Tetapi ketika Gienka lahir hingga saat ini, Ariel mencurahkan seluruh cintanya pada Gienka, dan juga pada Geffie putrinya bersama Maysa. Ariel juga tidak pernah membeda-bedakan perhatiannya pada Gienka dan Geffie tetapi juga pada Friddie yang notabennya adalah keponakannya, yaitu anak dari Elea dan Danist.
"Bagaimana kemudian Papa Dan dan Papa Iel dulu bisa berbaikan??? Bukankah Papa Iel dulu selalu menghina Papa Dan??? Padahal kalian bersaudara. Aku juga penasaran dengan kisah itu???" Tanya Gienka lagi.
Danist tersenyum. "Ya kami bersaudara, kami saling membenci satu sama lain, itu terjadi ketika kami tidak saling mengetahui jika kami adalah saudara, kesalahan yang dilakukan oleh almarhum Oma dan Opa mu yang membuat kami tidak saling mengenal, tetapi lupakan itu, kita tidak boleh membahas aib dari orang yang sudah meninggal.. meskipun pada akhirnya kami sudah mengetahui kebenarannya juga saat itu jika kami adalah saudara, akan tetapi dulu Papa Iel mu tetap tidak mau menerimaku sebagai kakaknya, dia masih marah akan beberapa hal sebenarnya, kisah yang panjang tetapi banyak pelajaran yang bisa di ambil dari sana...!"
Elea melempar senyumnya. "Kejadian luar biasa yang merubah segalanya yang akhirnya menjadi seperti sekarang, dan itu juga berkat dirimu sayang...! Dan terjadi ketika kau sudah berusia 4 tahun dan sudah pandai berbicara!" Ungkap Elea sambil membelai rambut panjang putrinya.
"Karena ku??? Memang apa yang aku lakukan dulu???" Tanya Gienka penasaran.
Dan kemudian cerita itu mengalir lagi dari Danist dan disambung juga oleh Elea.
★★Back to 15 Years ago★★
"Mobil Ariel sudah tidak ada diluar??? Padahal tadi ada? Apa dia mengajak Gienka keluar ya???" Elea menghampiri Danist yang sedang memakaikan Friddie pakaian.
"Tidak ada??? Lalu bagaimana?? Apa kita akan meninggalkan Gienka? Papa kan juga ingin bertemu dengan Gienka??" Ujar Danist.
"Itu dia....! Mana tadi aku lupa memberitahunya kalau kita akan mengajak Gienka ke Bandung hari ini"
"Ya sudah kau hubungi saja dia, suruh membawa Gienka pulang" Gumam Danist.
Hari itu Elea dan Danist memang akan pergi ke Bandung untuk bertemu dengan orang tua Elea, terutama Papa Elea yang saat itubmemang sedang pulang setelah bekerja di luar kota. Mereka akan membawa Gienka dan Friddie kesana, sebelum besok Papa Elea kembali lagi ke luar kota. Sayangnya Elea lupa memberitahu Ariel jika dia akan membawa Gienka, tetapi sekarang Ariel sepertinya sedang mengajak Gienka pergi ke luar.
Elea mengambil ponselnya untuk menghubungi Ariel agar segera bisa membawa Gienka kembali. Karena dia dan Danist juga sudah bersiap, tinggal berangkat saja. Saat membuka ponselnya ternyata ada pesan dari Ariel sekitar sejam yang lalu, Ariel meminta ijinnya membawa Gienka pergi ke tempat proyeknya. Sejak tadi memang Elea tidak memegang ponselnya sama sekali jadi dia baru tahu jika Ariel sudah mengiriminya pesan. Setelah membaca pesan itu, Elea memberitahu kepada Danist.
"Kita jemput saja Gienka disana, lagi pula jika harus menunggu Ariel membawanya pulang akan memakan waktu lebih lama" Ujar Danist.
"Ya, kita jemput saja kalau begitu, Gienka tadi juga sudah rapi"
Elea kemudian meminta Danist agar menjaga Friddie lebih dulu, sementara dia akan berganti pakaian dan nanti mereka bisa langsung berangkat menjemput Gienka. Elea sendiri merasa tidak tenang karena Ariel membawa putrinya ke tempat proyek pembangunan. Tempat seperti itu pasti tidaklah nyaman untuk anak kecil dan cukup berbahaya. Jika saja tadi dia membaca pesan itu lebih awal mungkin dia tidak akan mengijinkan Ariel pergi membawa Gienka.
★★★★★★
Danist dan Elea akhirnya sampai juga. Danist menyuruh Elea agar di dalam saja dan dia akan mencari Ariel serta Gienka, mengingat di tempat ini sangat panas juga berdebu, yang bisa membuat Friddie akan merasa tidak nyaman nantinya. Danist keluar dari mobil dan mencoba melihat sekitar untuk mencari keberadaan Ariel dan Gienka.
Danist berjalan dan melihat ke berbagai arah untuk menemukan mobil Ariel atau setidaknya bisa bertemu dengan Ariel. Cuaca sangat panas sekali dan banyak debu juga. Tetapi Danist tidak memiliki pilihan lain selain harus membawa Gienka bersamanya.
Sampai kemudian, dia melihat Ariel turun dari mobilnya. Ariel berjalan ke depan entah mengejar apa. Melihat itu Danist juga bergegas dia mempercepat langkahnya.
Sampai di mobil Ariel, ternyata dia melihat Gienka ada disana.
"Gienka sayang...!!!" Danist memasukkan kepalanya di jendela mobil Ariel yang terbuka memanggil Gienka yang tengah duduk di dalamnya.
Gienka menoleh lalu tersenyum. "Papa Dan...!!"
Danist membuka pintu dan Gienka keluar dari dalam mobil. "Papa Dan mau menjemput Gienka, Mama dan adik Friddie sedang menunggu di mobil, itu Papa Iel mau kemana???" Tanya Danist.
"Papa Iel mau mengambil bolaku disana"
Danist melihat bola berwarna merah milik Gienka memang ada disana. Tidak terlalu jauh hanya berjarak kurang dari 10 meter saja. Ariel tampak santai berjalan sambil memainkan ponselnya hingga sampailah dia disana. Tetapi kemudian pandangan Danist fokus ke bangunan yang ada diantara Ariel yang sedang membungkuk mengambil bola Gienka. Bangunan itu akan runtuh dan bisa menimpa Ariel. Danist melepaskan genggaman tangannya pada tangan Gienka, dan berlari cepat untuk memberitahu Ariel agar segera pergi.
"Iel......!!! Awas.....!!!!" Teriak Danist sambil berlari.
Ariel berdiri dan menengok ke belakang ke arah sumber suara yang memanggilnya. Ariel masih belum ngeh, dan dahinya berkerut melihat Danist berlari kearahnya, tetapi Ariel justru kembali lagi membungkukkan badannya untuk mengambil bola Gienka. Beberapa detik kemudian, Danist mendorong tubuh Ariel dengan kasar ke depan, membuat Ariel maju tetapi langsung tersungkur ke tanah.
Brruuuuukkk........!!!! Tembok itu runtuh dan langsung menimpa Danist.
"Aaarrrgghhh....!!!"
Tembok itu runtuh tetapi sedetik kemudian Danist merasa semua perlahan menjadi gelap. Tetapi masih bisa mendengar suara Ariel memanggil namanya.
"Danist....!!!??? Astaga......!!!" Ariel dengan cepat berusaha mengangkat reruntuhan tembok itu dengan panik. Ariel berteriak meminta pertolongan, dan Danist mulai hilaang kesadarannya.
Di sisi lain, Elea gelisah karena Danist tidak kunjung kembali.
"Danist kenapa lama sekali....!" Gumam Elea.
Elea membuka pintu mobil dan keluar dari sana bersama dengan Friddie yang sedang tidur. Elea berjalan ke arah yang sama dimana tadi Danist meninggalkannya. Cuaca memang cukup panas, tetapi Elea memutuskan untuk keluar saja. Entah Danist sudah berhasil bertemu Ariel atau tidak, atau mungkin suaminya itu malah tersesat.
Perlahan Elea berjalan memasuki area itu. Sayup-sayup terdengar suara tangisan anak kecil yang sangat dia kenal, sudah jelas itu adalah suara tangisan dari Gienka. Elea mencari suara itu dan menemukan seorang laki-laki sedang menggendong anak kecil. Dari bajunya itu memang baju Gienka, Elea pun mendekatinya.
Lelaki itupun menoleh ke Elea, sementara Gienka menghentikan tangisannya dan menoleh le Elea. "Mama...!!!" Ucapnya sambil menarik ingusnya. Lelaki itu menurunkan Gienka, dan dengan cepat bocah itu memeluk Elea.
"Mama...!! Papa Dan...!" Ucap Gienka lagi.
Elea mengernyit dan tidak mau basa-basi lagi. "Maaf pak....!! Ini anak saya kenapa menangis...!??" Tanya Elea pada lelaki itu.
"Oh ini bu, disana ada laki-laki yang tertimpa reruntuhan bangunan, dan pak Ariel sedang menolongnya kemudian menyuruh saya membawa putrinya menjauh"
Gienka menarik-narik baju Elea dan terus menangis, membuat Elea duduk berjongkok dan menatap anaknya itu. "Papa Dan...! Temboknya jatuh... Papa Dan ada di bawahnya!"
"Apa.....!!!!!" Seru Elea dengan sangat terkejut
Detik itu juga Elea baru mengerti jangan-jangan yang dimaksud oleh lelaki ini adalah Danist. Elea berdiri, kemudian memberikan Friddie pada lelaki itu, menitipkan kedua anaknya padanya. Dan bergegas berlari untuk melihat keadaan Danist. Bersamaan dengan itu, ada bunyi sirine ambulance yang datang.
Elea melihat ada banyak orang yang berkumpul, dan yakin bahwa pasti Danist ada disana. Elea mempercepat larinya dan ketika dekat, dia menyingkirkan orang-orang itu. Menemukan Ariel sedang menangis memanggil nama Danist, dan Danist terbaring disana.
"Danist....!!!!" Teriak Elea. "Bagiamana ini bisa terjadi....!???"
Ariel belum sempat menjawab pertanyaan Elea, mobil ambulance sudah mundur bersmaan dengan petugas keluar dari dalam mobil dan menyuruh orang-orang menjauh agar mereka bisa segera memberi pertolongan pada Danist.
Elea dan Ariel berdiri dan memundurkan langkah mereka. Petugas itu segera menolong Danist, mengangkatnya dan lamgsung memasukkan Danist ke ambulance. Elea semakin histeris saat melihat ada banyak darah yang keluar dari tubuh Danist, terutama bagian kepalanya dan tidak ada gerakan dari Danist. Detik itu juga Elea pingsan, beruntungnya Ariel menyadari dan langsung menangkap tubuh Elea.
★★★★★★
Kurang dari sepuluh menit, ambulance sudah sampai di rumah sakit, karena memang tempat itu tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Ariel turun dari mobilnya dan membuka pintu belakang mobil dimana Elea masih belum juga sadarkan diri. Ketika hendak mengangkat Elea, saat itu juga Elea akhirnya tersadar. Perempuan itu kembali menangis menatap Ariel.
"Danist mana Iel...??" Tanya Elea.
"Baru saja dibawa masuk El??? Kau tidak apa-apa???" Tanya Ariel.
Elea menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan badan Ariel kemudian keluar dan berlari menuju ruang Instalasi Gawat Darurat. Ariel menutup pintu mobilnya dan menyusul Elea. Mereka berdua tidak boleh masuk dan terpaksa menunggu diluar.
Elea terus menangis, membuat Ariel juga bingung dan tidak bisa berkata-kata lagi. Dan Ariel mulai mengingat semua kejadiannya, lalu bagaimana Danist tadi mendorongnya begitu keras hingga membuatnya tersungkur lalu kemudian Danist tertimpa reruntuhan itu. Danist menyelamatkannya, lelaki itu menyelamtkannya dan mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk menyelamatkannya.
"Astaga.....!!!" Ucap Ariel, dia menyadari jika dia sudah meninggalkan Gienka di tempat itu.
Ariel hendak berdiri dan meninggalkan Elea untuk menjemput Gienka tetapi kemudian seorang perawat keluar dari ruangan itu. Ariel dan Elea langsung berdiri.
"Bagaimana keadaan suami saya sus???" Tanya Elea dengan cepat.
"Kondisinya cukup parah dan dia banyak kehilangan darah, tetapi kami sedang berupaya yang terbaik, dan kami ingin memberitahu jika stok golongan darah O hanya sisa dua kantong saja, dan kami rasa kami masih membutuhkan tambahan darah lagi, mungkin ada dari keluarga yang memiliki darah O dan siap untuk di ambil???"
"Darahku O, kalian bisa mengambil sebanyak yang kalian mau, tetapi aku mohon selamatkan kakakku!!" Ucap Ariel.
"Baik pak, mari ikut saya, saya harus melakukan pemeriksaan kepada bapak lebih dulu"
Ariel mengangguk dan menyuruh Elea untuk tetap tenang dan tidak panik. Ariel juga meminta ijin sebentar kepada suster, karena dia harus menghubungi seseorang. Ariel tidak bisa meninggalkan rumah sakit, juga tidak bisa menyuruh orang untuk mengantar Gienka kesini. Dia harus meminta tolong orang lain agar bisa mengurus atau membawa Gienka pulang. Ariel mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ya Iel??? Ini aku Cahya, maaf Adit sedang tidur!!" Jawab Cahya.
"Cahya....!!! Maaf aku mengganggu kalian, tetapi aku harus mengatakan sesuatu padamu dan jika bisa tolonglah aku...!" Sahut Ariel.
"Minta tolong??? Apa terjadi sesuatu???"
"Danist mengalami kecelakaan, aku dan Elea ada disini, tetapi masalahnya aku tidak bisa meninggalkan rumah sakit, sementara karena panik aku meninggalkan Gienka, bisakah kau menjemput dan membawa Gienka ke rumahmu"
"Kecelakaan???? Dimana??? Dan bagaimana bisa..!!!"
"Ceritanya panjang Ca, aku mohon kau bisa menjemput Gienka lebih dulu di...!"
Belum selesai berbicara, pundak Ariel disentuh oleh seseorang. Ariel menoleh dan menemukan Elea. "Aku juga meninggalkan Friddie disana" Gumam Elea.
"Apa..!??? Jadi kau juga membawa Friddie, astaga...!" Ariel terkejut mendengar pernyataan Elea. "Ca... Cahya, ternyata disana juga ada Friddie, jika bisa cepatlah jemput anak-anak" Pinta Ariel dengan suara panik.
"Astaga.... Oke oke aku akan menjemput mereka, dimana tempatnya???"
Ariel kemudian memberi tahu alamat proyeknya dan sebelum menutup teleponnya dia meminta agar Cahya bisa datang cepat dan segera menjemput kedua anak itu. Setelah menghubungi Cahya, Ariel berganti menghubungi mandor proyeknya agar memastikan keamanan Gienka dan Friddie, karena nanti akan ada yang menjemput mereka berdua disana.
Sementara itu, dokter sedang berusaha melakukan penanganan yang terbaik untuk Danist. Luka Danist cukup parah baik itu dikepala, tangan serta ada beberapa tulangnya yang mengalami keretakan. Dan yang paling parah adalah bagian kepalanya, menandakan bahwa sesuatu yang begitu berat telah menimpanya dengan keras. Keadaan ini cukup sulit, tetapi mereka akan berusaha semaksimal mungkin.
Sementara diluar ruangan, Elea terus menangis dan tidak berhenti berdoa berharap agar suaminya bisa diselamatkan. Elea sangat takut sekali begitu tadi melihat ada banyak darah yang keluar dari kepala suaminya itu dan dia masib tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa bisa Danist mengalami hal itu. Mungkin saat Ariel kembali nanti, dia akan menanyakannya. Saat ini yang paling penting adalah keselamatan Danist. Elea juga tidak bisa menghubungi siapapun saat ini, mengingat ponselnya tadi tertinggal di dalam mobil.
"Please God.....!!! Selamatkan suamiku.... Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya...." Gumam Elea dengan wajah bercucuran oleh airmatnya.