I LOVEd YOU Since 18

I LOVEd YOU Since 18
Eps 191



"Apakah yang dikatakan Kyra itu benar???" Tanya Aditya.


Axel mencoba tersenyum lagi. "Benar om, tadi kami memang bertemu dengan mantanku Celia disana, dan sedikit terjadi ketegangan antara aku dan Celia, itu sebabnya Kyra sedikit jengkel dan aku merasa tidak tenang itu sebabnya aku putuskan untuk kesini, mengenai Mama Celia, aku berani bersumpah aku tidak tahu jika dia pernah bermasalah dengan keluarga ini! Aku juga terkejut Kyra mengatakan hal itu barusan!" Jawab Axel.


"Lalu apa yang terjadi tadi? Oke, aku sebenarnya tidak ada urusan dengan permasalahanmu Kyra dan mantan kekasihmu itu, karena itu urusan anak muda, tetapi jika menyangkut wanita bernama Cyntia itu, aku tentu saja tidak bisa tenang...! Jadi katakan apa yang terjadi tadi...!?" Tanya Aditya pada Axel.


Cahya kemudian menyuruh agar suaminya juga Axel untuk duduk di bangku yang ada di taman depan rumah mereka. Cahya sendiri juga merasa tidak tenang jika ini menyangkut Cyntia, bahkan fakta yang ada ternyata Axel adalah mantan kekasih putri dari Cyntia. Sebenarnya mengenai Cyntia dan juga Theo, dulu Cahya dan Aditya sempat mendengar bahwa keduanya sudah bercerai tak lama setelah Cyntia keluar dari penjara lalu hamil anak Theo. Entah apa yang terjadi sehingga keduanya berpisah, dan dari yang Cahya atau Aditya dengar adalah karena orangtua Cyntia yang memaksanya disebabkan karena Theo tidak lagi memegang bisnis akibat bisnis keluarganya kolabs setelah tragedi penculikannya dulu dan mengakibatkan dia keguguran, Theo di penjara dan Aditya memutus semua hubungan kerja dengan perusahaan keluarga Theo. Dan juga fakta bahwa Theo hanya bekerja sebagai karyawan di sebuah toko kue setelah keluar dari penjara juga cukup mengejutkannya dan Aditya. Tetapi pasca kejadian penculikan Kyros dulu, Cahya juga mendapat informasi bahwa Theo selalu meluangkan waktunya untuk menjenguk Cyntia di penjara, Theo melakukan kewajibannya dengan baik sebagai seorang suami dan tidak menelantarkan Cyntia seperti dulu.


Kabar bahwa Theo bercerai dengan Cyntia sesaat setelah Cyntia melahirkan itu juga cukup mengejutkannya dan Aditya. Lagi dan lagi, orangtua Cyntia yang keras kepala itu kembali dibutakan oleh harta dan kekuasaan sehingga hanya bisa melihat status orang dari pangkat, jabatan serta harta saja. Setelah itu Theo kembali menghilang, begitu juga dengan Cyntia dan keluarganya. Terakhir Aditya bercerita padanya bahwa Cyntia menikah dengan salah seorang direktur sebuah perusahaan yang tidak terlalu besar, dan lucunya Cyntia dijadikan istri kedua. Itu saja yang Cahya tahu mengenai mereka.


Aditya dan Axel duduk di sebuah bangku yang ada disamping taman. Karena sudah sore, sinar matahari juga sudah tertutup oleh tembok besar yang mengelilingi rumah itu. "Well, katakan apa yang terjadi tadi antara kau dan Mantan kekasihmu itu, sehingga Kyra terlihat marah atau kesal kepadamu? Katakan dengan jelas dan jujur...!" pinta Aditya.


"Apa yang dikatakan Kyra tadi benar, Celia memintaku agar kembali lagi dengannya begitu juga dengan Mamanya, yaitu tante Cyntia, dia juga mengatakan hal yang sama, memintaku kembali pada Celia! Tetapi tentu saja aku menolaknya, aku sudah tidak lagi mencintai Celia atau mengharapkannya, dulu keluarga Celia sudah menolakku dan mengusirku dari rumah karena aku tidak sepadan dengan mereka! Mungkin om dan tante juga sudah tahu sedikit kisahku dari Gienka bahwa aku pernah ditolak oleh keluarga kekasihku, dan itu adalah keluarga Celia!" Ujar Axel.


Aditya langsung mengernyit. Dia tahu tentang permasalahan yang dihadapi oleh Axel sebelumnya dati Gienka, karena menantunya itu menceritakan semua tentang Axel kepadanya juga kepada anggota keluarganya yang lain. Bagaimana dulu Axel sudah mendapat perlakuan buruk dari keluarga mantan kekasihnya akibat Axel bukan calon menantu yang mereka inginkan. Axel dikatakan jauh sekali dari tipe menantu ideal yang mereka harapkan. Bagi Aditya itu adalah sebuah pemikiran yang sangat kuno dijaman sekarang ini, padahal tidak semua orang yang bukan pengusaha bisa mendapatkan kesuksesan bahkan bisa dikatakan banyak sekali pekerjaan yang menghasilkan pendapatan lebih besar daripada pengusaha. Dan ternyata Axel diperlakukan seperti itu oleh keluarga mantan kekasihnya yang tak lain adalah keluarga besar dari Cyntia.


"Shiiitt.....! Ternyata mereka masih belum berubah juga, masih serakah seperti dulu!" Gumam Aditya. "Dan sekarang mereka memintamu kembali lagi dengan Celia??? Kenapa mereka berubah pikiran? Apa itu karena sekarang kau sudah sukses dan memiliki nama besar, sehingga membuat mereka bersikap seperti itu???" Tanya Aditya lagi.


Axel tersenyum, karena pemikirannya ternyata juga di pikirkan oleh Aditya. "Maybe Om...! Sebenarnya tadi juga aku berpikir seperti itu, karena aku masih melihat tidak ada ketulusan dari cara bicara tante Cyntia padaku, aku yakin dia berkata seperti itu dan memberikan persetujuannya padaku adalah karena aku yang saat ini berbeda dari dulu, dan aku masih ingat betul bagaimana dia menolakku dulu, semua sumpah serapah dan berbagai nama hewan yang ada dikebun binatang di sebutkan untuk memaki ku dan kedua orangtuaku, aku tidak pendendam hanya saja semua itu masih jelas di ingatanku!"


"Aku pikir mereka bisa berubah tetapi ternyata tidak! Memuakkan sekali...! Lalu apa yang kau katakan pada mereka tadi?? Sampai Celia menangis???" Tanya Aditya lagi.


Axel menghela napasnya. "Dari Celia aku bisa melihat bahwa dia memang masih mengharapkanku, mengingat perpisahan kami juga dipaksakan oleh keadaan, tetapi kalau dari diriku aku jelas menolaknya, aku tidak akan bisa hidup dengan nyaman bersama Celia yang dikelilingi oleh orang-orang toxic seperti keluarganya, aku yakin rumah tanggaku tidak akan bisa berjalan dengan baik seperti apa yang dialami orangtua Celia sebelumnya! Aku juga sudah memiliki jalan yang baru, aku saat ini hanya ingin membahagiakan orangtuaku dan juga Kyra, aku ingin membuktikan bahwa aku layak untuk Kyra, itu saja Om! Jadi tadi aku menolak keinginan Celia dan Mamanya yang memintaku kembali, aku tidak ingin tersakiti untuk kedua kalinya! Cukup kemarin jadi pelajaran bagi hidupku!"


Axel melempar senyumnya pada Aditya juga Cahya, berharap mereka berdua bisa melihat keyakinannya juga ketulusannya pada Putrinya. Karena Axel sama sekali tidak pernah sekalipun berniat untuk kembali dengan Celia. Luka yang ditinggalkan keluarga Celia begitu menyakiti dirinya, dan selain itu Axel juga menuruti keinginan orangtuanya untuk tidak lagi berhubungan dengan Celia. Terlebih saat ini Kyra sudah mengisi seluruh hatinya, Kyra juga sudah mendapatkan tempat yang sangat baik di hati orangtuanya. Kecantikan Kyra, kelembutan serta kebaikan hatinya membuat kedua orangtua Axel senang. Kyra dan keluargamya bisa menunjukkan bahwa tidak semua orang kaya itu memiliki sikap angkuh dan semena-mena. Dan Axel juga sudah mendapatkan tempat baik di hati keluarga Kyra.


Aditya dan Cahya saling berpandangan. Mereka bisa melihat ketulusan dan betapa dewasanya Axel dalam menyikapi permasalahan yang ada. Axel sudah memutuskan hal yang sangat baik kepada Celia dan keluarganya. Orang seperti mereka memang harus dibalas dengan cara semacam itu agar tidak bisa berbuat seenaknya. Menghina orang lain, merendahkannya seolah sudah menjadi kebiasaan dari mereka karena mereka hidup hanya memikirkan harta, jabatan dan pangkat saja, padahal tidak selamanya hidup hanya tentang hal itu. Dan mereka seharusnya bisa belajar dari apa yang dulu sudah mereka alami, bukan malah semakin menjadi-jadi seperti ini dan tetap saja melakukan kesalahan yang sama pada orang yang mereka anggap levelnya jauh dibawah mereka. Axel bisa jadi bukti bahwa penghinaan yang pernah dialaminya justru membuatnya bangkit dan perlahan membuktikan bahwa dia tidak seburuk yang mereka pikir.


Hanya saja kali ini, Aditya dan Cahya menjadi khawatir tentang hubungan Axel dan Kyra. Mengingat betapa buruknya tabiat Cyntia jika keinginannya tidak terpenuhi. Aditya yakin sekali jika Cyntia bisa saja melakukan hal yang buruk dan berakibat pada hubungan putrinya dan Axel. Banyak hal bodoh, nekat dan konyol yang pernah dilakukan wanita itu sebelumnya, dan dari cerita Axel dia bisa menyimpulkan bahwa tidak ada hal baik yang berubah dari Cyntia dan keluarganya.


"Axel...!" Suara Aditya pelan tetapi Axel langsung meresponnya.


"Ya Om...!"


"Aku percaya dengan semua niatmu pada Kyra, aku sama sekali tidak meragukannya, hanya saja sekarang kalian menghadapi hal yang cukup sulit, ya kau sudah mengatakan menolak keingina dari Celia ataupun Cyntia, tapi aku tidak yakin bahwa Cyntia akan membiarkanmu melenggang dengan mudah bersama putriku, karena aku sangat tahu betapa brengseknya sikap Cyntia dan keluarganya!" Ucap Aditya dengan tatapan menajam pada Axel.


Aditya menghela napasnya kemudian memegang bahu kanan Axel.


"Penolakanmu tidak akan membuat mereka menyerah, itu justru mengancam hubunganmu dengan Kyra! Keluargaku sudah mengalami banyak hal besar bahkan kami juga kehilangan calon anak pertama kami, dan juga hampir kehilangan Kyros dulu karena ulah Cyntia, mereka pendendam dan tidak mudah menyerah sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan, jahat atau buruk ide mereka, itu tidak akan membuat mereka peduli! Aku dan Amamnya Kyra hanya mengkhawatirkan hal semacam itu dari mereka, aku harap kau mengerti maksudku ini!"


Axel mengangguk. Tentu saja dia mengerti, orangtua Kyra pasti memiliki ketakutan tentang hal buruk yang mungkin bisa saja terjadi. Sebenarnya dia masih terkejut dengan kebenaran ini bahwa keluarga Celia memiliki kesan serta riwayat yang sangat buruk dengan keluarga Kyra. Dan Axel mungkin juga harus bersiap dengan segala konsekuensi serta kemungkinan yang bisa saja terjadi. Andai saja pertemuannya dengan Celia tadi tidak ada Kyra, mungkin dia bisa menjamin Kyra dalam keadaan baik-baik saja. Tetapi mereka sudah melihat Kyra, dan bisa saja mereka memanfaatkan Kyra untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.


"Kyra secara tidak langsung sudah terlibat dalam permasalahanmu dan mereka, aku hanya ingin mengingatkanmu untuk berhati-hati serta memastikan keselamatan putriku, aku tidak ingin Kyra mengalami hal buruk lagi seperti kemarin, ataupun seperti yang pernah aku dan Apapnya alami dulu, kami sudah kehilangan hal besar dan hampir juga kehilangan lagi, itu sudah meninggalkan hal yang begitu menyesakkan sampai detik ini, jadi aku mohon Axel, jangan sampai mereka berniat buruk pada putriku!" Cahya menyeka airmatanya.


Semua ini kembali lagi membuka luka lama yang sudah hampir dilupakannya selama bertahun-tahun yang lalu. Munculnya Cyntia dan permasalahan Axel dengan mereka, membuat ketakutan tersendiri bagi Cahya mengingat Kyra juga ada dilingkup permasalahan ini. Axel menolak keinginan mereka karena Kyra, yang artinya Kyra menjadi penghalang bagi mereka. Itu pasti membuat mereka juga tidak akan melepaskan Kyra begitu saja. Semua ketakutan Cahya tentang Cyntia adalah hal yang tidak bisa ditepisnya mengingat Cyntia adalah orang yang mudah sekali menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya.


Axel berdiri dan duduk berjongkok di depan Cahya. Dia memegang jemari ibu dari kekasihnya itu, dan menatapnya penuh dengan tekad kuat. "Please tante, percayalah padaku, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga Kyra, aku akan memastikan keamanannya, aku yang akan menjadi yang terdepan melindungi Kyra jika tante Cyntia atau Celia berniat buruk padanya, aku tidak akan pernah melibatkan Kyra dalam permasalahan yang aku hadapi dengan mereka!" Ucap Axel dengan penuh keyakinan.


Kyra datang membawa minuman untuk Axel, tetapi dia bingung melihat Axel duduk berjongkok di depan Amamnya. "Apa yang kau lakukan??" Tanya Kyra pada Axel.


Sementara itu Axel langsung berdiri dan melempar senyumnya pada Kyra. Cahya juga lekas menyeka airmatanya lagi.


"Tidak....! Aku hanya meminta restu Amam saja!" Ujar Axel kemudian mengambil gelas berisi jus dari tangan Kyra seraya mengucapkan terima kasih.


"Kyra sayang, kau pergi mandi sana, dan ambilkan pakaian Ky untuk Axel biar dia juga mandi di kamar tamu, nabti kita makan malam bersama!" Ucap Cahya.


"Ah tidak perlu tante, aku membawa pakaian kok, ada di dalam tas, pakaian ganti setelah latihan sebenarnya, aku akan mengambilnya dan mandi!" Sahut Axel.


"Oke baiklah, kalian pergi bersih-bersih dulu!"


Axel tersenyum lalu mengucao permisi pada Cahya dan Aditya untuk mengambil tasnya yang ada di mobil. Sementara Kyra kembali masuk ke dalam rumah. Aditya memeluk Cahya dan meyakinkan pada istrinya itu agar jangan terlalu khawatir mengenai Kyra, karena tentu dia juga tidak akan tinggal diam untuk mengawasi serta memastikan keamanan putrinya. Aditya mengambil ponselnya dan menghubungi Randy, meminta dikirim bodyguard untuk menjaga Kyra mulai besok. Dia harus segera melakukan hal ini demi keamanan Kyra dan tidak ingin hal buruk yang dulu terjadi bisa kembali terjadi.


★★★★★★


"Good morning sayang....!" Kyros memeluk Gienka dari belakang yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.


Kyros mendaratkan sebuah ciuman di pipi istrinya itu. Ini pagi kedua mereka disini, dan pagi pertama Kyros menikmati sarapannya yang dibuat oleh Gienka sebelum berangkat kerja. Pagi yang sangat istimewa, karena tadi mereka bangun dan memulainya dengan bercinta, hal yang sangat bagus dilakukan untuk menambah semangat suami sebelum bekerja. "Rasanya baru pertama kalinya aku merasa malas untuk berangkat kerja...!" Bisik Kyros di telinga Gienka.


"Kenapa???"


Kyros terus memeluk Gienka dari belakang dan kini kedua jemarinya bermain di dada Gienka, membuat istrinya itu sedikit merintih karena geli. "Karena aku sekarang memiliki istri, jadi aku selalu ingin berada di dekatnya dan bersenang-senang dengannya, kehadiran istriku membuatku malas untuk pergi keluar rumah!"


Gienka melepaskan pelukan Kyros, dan membawa oatmeal buatannya ke meja makan. "Oke begitu ternyata, karena aku disini kau jadi malas bekerja? Harusnya aku tidak ikut denganmj saja, bagaimana aku hisa shopping kalau suamiku tidak bekerja...! Ada-ada saja kau ini, duduk dan habiskan sarapanmu lalu pergilah bekerja dengan baik dan segera pulang!"


Kyros tersenyum dan menarik kursi makan lalu duduk. "Ya aku akan langsung pulang setelah bekerja, aku tidak bisa lama-lama meninggalkanmu, kau terbaik....! Aku mencintaimu...!"


"Aku juga...! Habiskan cepat...! Ini jusnya...! Kau ingin makan malam.apa nanti..!?" Tanya Gienka.


"Apa saja...! Apapun yang kau buat aku akan menghabiskannya!" Gumam Kyros lalu mulai menyendok sarapannya. Gienka juga duduk dan menikmati roti gandumnya.


Sementara itu, Camilla duduk termenung di balkon kamarnya menatap lurus ke depan. Hari ini dia akan membuat perhitungan pada Gienka. Perempuan itu harus mendapatkan akibat dari perbuatannya akhir-akhir ini. Gienka selalu saja bersikap sengaja membuatnya cemburu dengan bermesraan bersama Kyros. Bagi Camilla udah sudah kelewatan. Dia harus bisa memberi Gienka pelajaran untuk semua yang sudah dilakukannya.


"Hari ini kau akan tahu akibat dari ulahmu yang sudah mengusikku, aku akan membuat perhitungan denganmu...!" Gumam Camilla.


Sore tiba, Gienka duduk manis di depan layar laptopnya, dia menyelesaikan beberapa laporan pekerjaannya dan nanti akan mengirimnya pada Papanya. Beruntungnya ada pekerjaan ini sehingga membuatnya tidak merasa bosan. Kyros mengatakan akan kembali malam nanti karena dia sedang banyak pekerjaan juga pertemuan penting. Sedikit menyebalkan karena sebelumnya Kyros sudah berjanji akan pulang cepat, tetapi tentu tidak ada pilihan lain, mengingat Kyros juga cukup lama mengambil cuti kemarin sehingga ada pekerjaan yang belum terselesaikan dengan baik.


Gienka menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara interkomnya berbunyi. Dia mengernyit, siap yang datang, karena sudah pasti itu bukanlah suaminya. Gienka beranjak dan melihat ke monitor interkomnya, ternyata Camilla berdiri disana.


"Mau apa lagi si nenek sihir ini...!?" Gumamnya kesal tetapi kemdian dia membuka pintunya.


"Hai Gie....!" Sapa Camilla.


"Ya...! Ada apa???" Tanya Gienka ketus.


"Ehhh aku mau meminjam bukunya Ky" Camilla kemudian menyebut nama buku itu dan meminta Gienka agar mencarinya di rak buku Kyros karena dia dulu juga pernah meminjamnya tetapi kali ini ada hal penting lagi membuat dia harus kembali meminjam buku itu.


"Tunggu, aku akan mencarinya...!" Ujar Gienka kemudian menyuruh Camilla masuk.


Camilla duduk di sofa, sementara Gienka masuk ke kamarnya dan mencarikan buku yang diinginkan oleh perempuan menyebalkan itu. Ingin sekali Gienka menolaknya tetapi dia ingat pesan dari Kyros bahwa dia harus bersikap baik pada Camilla jika perempuan itu juga bersikap baik. Itu sebabnya dia menerima Camilla sekarang.


Saat Gienka masuk ke kamarnya, Camilla melirik ke seluruh ruangan, dan senyumnya mengembang ketika di meja ada laptop yang terbuka dan disampingnya ada mug berisi capuccino. Segera Camilla mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan mengambil sebutir pil berwarna putih dari sebuah botol. Camilla kemudian memasukkan pil itu ke dalam mug berisi capuccino milik Gienka.


"Pil ini akan langsung bereaksi kurang dari sepuluh menit, dan kau akan merasakan akibat dari perbuatanmu itu, jika beruntung kau hanya akan kesakitan tetapi jika tidak? Kau akan langsung bertemu dengan Tuhan....!" Gumam Camilla dalam hati.


Tak lama setelah itu, Gienka keluar dengan membawa sebuah buku. "Buku ini???" Tanya pada Camilla lalu menyerahkannya.


Camilla tersenyum. "Ya ini, thanks ya...! Oke aku pergi dulu, sekali lagi terima kasih dan jangan lupa bertahu Ky jika aku meminjam bukunya"


Camilla kemudian pergi meninggalkan apartemen Kyros dengan senyumnya yang oenuh dengan kemenangan.


Gienka kembali duduk dan menatap layar laptopnya lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian dia menyesap capuccino nya sampai habis tidak bersisa dan melanjutkan kegiatannya lagi.


Ditempat lain, Elea terbangun dari tidurnya dan berteriak menyebut nama Gienka, membuat Danist terperanjat. "Ada apa???" Tanya Danist.


Dia melihat keringat membasahi wajah istrinya. "Kenapa?? Kau mimpi buruk ya???" Tanya nya lagi pada Elea.


Elea langsung memeluknya dan menangis. "Gienka... Aku bermimpi buruk tentang dia....! Aku melihatnya terkapar dilantai...!"


"Sssshhhh..... Tidak ada apa-apa, itu hanya mimpi karena kau terlalu mengkhawatirkannya....! Tenangkan dirimu, dan minumlah... sudah jam segini, ayo kita shubuh, t"


"Tapi??? Itu seperti nyata...!" Bantah Elea lagi.


"Ada Ky disana, tidak akan terjadi apapun, nanti kita hubungi mereka, ayo...!"


Danist kemudian membantu Elea berdiri dan melaksanakan kewajiban mereka. Elea masih shock, mimpi itu seperti benar-benar nyata. Elea berharap semoga itu hanya mimpi karena benar kata Danist, bahwa itu mungkin hanya efek dari ketakutannya saja.


***


"Ya... Udah habis ya...! Haha!" Gienka terkekeh melihat mug nya sudah kosong. Gienka berdiri dan membawa mug itu ke dapur untuk membuat minuman lagi. Tetapi sampai disana, tiba-tiba kepalanya pusing, pandangannya berputar dan Gienka langsung muntah darah. Belum sempat dia berpikir lebih jauh tentang apa yang terjadi dengan dirinya, Gienka mulai lemas dan kaki serta tangannya tidak bisa bergerak, dia kemudian terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri.